Yumna sudah duduk di kursi kayu di lorong koridor. Alas kakinya sudah di lepas dan mulai di pijat oleh Lukas dengan pelan.
"Ini kakimu keseleo. Kalau tidak langsung di pijat bisa bengkak. Ada yang punya balsem?" tanya Lukas pada teman saru kelompoknya.
"Aku bawa," Yuri menjawab dan mengeluarkan sebuah balsem kecil dengan aroma telon yang biasa di pakai oleh bayi.
Lukas menerima balsem dari Yuri dan membuka balsem itu lalu mengoles di area kaki Yumna yang keseleo. Yumna meringis kesakitan saat tangan kekar Lukas mulai memijat dan mengurut kaki Yumna.
"Arghhh ... Sakit!!" teriak Yumna kesakitan suara cemprengnya begitu lepas dan keras terdengar hingga di sepanjang selasar lorong itu.
"Sudah kok. Tahan dulu. Sakitnya sebentar saja, nanti agak enakan pastinya," ucap Lukas pelan.
Semua anggota merasa lega karena memang benar Yumna merasa kakinya terasa agak enteng sudah tidak sesakit tadi.
Makan siang itu terasa hambar bagi Yumna bukan perkara nasi kotaknya yang terjatuh dan tak bisa di makan lagi tapi ia melihat Duta dan Atika lewat begitu saja saat kaki Yumna sedang di pijat oleh Lukas.
"Na makan sama aku aja. Biar aku suapi," tawar Lukas pada Yumna.
Yuri hanya menatap Lukas agak aneh. Bary kenal mau berbagi pakai sok menyuapi segala. Lukas belum kenal Yumna seperti apa.
"Terima kasih. Bukannya menolak, tapi Yumna bawa bekal tadi," ucap Yumna mengeluarkan kotak bekal yang di titipkan Duta pada Yuri untuk dirinya.
Yumna menaruk nalas dalam dan membuka kotak makan itu lalu menikmati sandwich terlezat yang pernah ia makan.
Sebenarnya bukan enak atau tidak enaknya tapi siapa yang membuat dan sepenting apa orang itu di hati kita. Itu yang membuat setiap pemberian orang itu terlihat sangat berarti dan sayang untuk di lewatkan.
Skip ...
Acara ospek hari itu berakhir pukul tiga sore. Yuri dan Yumna sudah berjalan menuju parkiran motor. Kebetulan Yuri tadi pagi hanya di antar Ayahnya jadi sore ini bisa membawa motor milik Yumna dan mengantarkan Yumna ke rumah terlebih dahulu.
"Gak apa -apa kan? Maaf ya kalau ngerepotin kamu, Ri," ucap Yumna pelan.
"Santai aja kali. Besok gue jemput loe lagi?" tanya Yuri pelan.
"Gak usah. Besok biar bareng Kak Jone sama Kak Dafa saja. Motornya kamu pakai saja dulu, Ri," titah Yumna pelan.
"Oke," jawba Yuri sambil membulatkan jarinya hingga terbentuk huruf o pertanda oke.
Yuri sudah membawa Yumna mengarah ke arah rumah Yumna.
Tak berselang lama, kedua gadia belia itu sampai di rumah Yumna dan mereka berpisah setelah Yumna turun dari motor dan kemudian masuk ke dalam rumah.
Ada mobil asing yang parkir di halaman rumah. Pernah lihat tapi lupa punya siapa
"Sore ...." sapa Yumna lembut.
"Sore ... Yumna ...." sapa Bunda Gita. Bunda Gita adalah Bundanya Duta. Bunda Gita berdiri dan memeluk Yumna.
Kedua perempuan berbeda usia itu sudah saling mengenal dan sangat dekat sekali hubungannya. Yumna sudah sering main ke rumah Duta dan menemani Bunda Gita memasak dan tugas Yumna hanya mencicipi sambil menunggu Duta menyelesaikan tugasnya atau menunggu pulang dari rapat organisasinya yang tiba -tiba.
"Bunda sudah lama? Kok rapih banget. Mau kemana?" tanya Yumna pelan smabil mencium punggung tangan Bunda Gita sopan.
Yumna juga menyalami Ayah Yoseph dengan hormat. Jujur saja, Yumna masih gugup kalau bertemu Ayah Yoseph. Ada rasa takut tersendiri.
"Ekhemm ... Memang Duta gak bilang?" tanya Bunda Gita pelan..
"Bilang apa? Hari ini Yumna gak sempat bicara sama Kak Duta," ucap Yumna lembut dan sopan.
"Hari ini kita mau makan bersama di restaurant. Makan malam bersama kedua orang tua kamu dan kakak kamu. Hari pertunangan kamu di ajukan malam ini. Karena besok, Ayah Yoseph akan dinas ke luar kota lagi bersama Bunda," ucap Bunda Gita pelan.
"Serius Bunda? Kak Duta mau lamar Yumna malam ini?" tanya Yumna masih tidak percaya.
"Iya sayang. Ini pakai gaun ini. Kita pergi sekarang umtuk mampir ke salon. Nanti keluarga kamu nenyusul," titah Bunda Gita lembut.
"Iya Na. Ayah Yoseph dan Bunda Gita sudah bicaha pada Ayah dan Bunda perihal keinginan baik Duta. Kamu ikut bersama Bunda Gita dan Ayah Yoseph saja dulu," ucap Bunda Sinta pelan.
"Iya Bunda," jawab Yumna senang.
Sore yang menjelang maghrib. Bunda Gita sudah rapi dengan baju couple bersama suaminya dan Yumna juga sudah cantik dengan balutan gaun berwarna pink muda dengan rambut di cepol sanggul modern. Cantik sekali.
Dua keluarga besar itu sudah duduk di salah satu meja bundar besar di ruang vip yang telah di sewa untuk acara lamaran sekaligus pertunangan antara Duta dan Yumna.
Ayah Robby dan Ayah Yoseph sedang asyik berbjncang dengan tema para bapak yang sedang trending, tidak jauh dari kurs, valas, sepak bola dan soal anak mereka.
Bunda Gita mulai cemas, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam kurang lima menit.
"Coba kamu telepon Duta, Yumna. Sejak sore, chat Bunda tidak di baca sama sekali dan sekarang tidak di angkat," ucap Bunda Gita kesal.
Acara ini di majukan juga atas keinginan Duta. Malah sekarang Duta yang belum hadir.
"Iya Bun. Yumna coba," jawab Yumna lembut.
Yumna langsung membuka ponsel dan mencoba mengirim pesan singkat pada Duta. Pesan itu sudah terkirim tapi sama sekali tak di respon oleh Duta.
Yumna gemas sendiri. Ia mulai menekan tombol hijau untuk segera menghubungi Duta. Namun beberapa deringan telepon dati Yumna juga tak mampu membuat Duta mempriotitaskan Yumna.
"Kita tunggu saja Bunda. Mungkin kalau sudah lapar. Kita makan malam saja duluan tidak apa sambil menunggu Kak Duta," ucap Yumna menyarankan.
"Oke. Ide bagus," jawab Bunda Gita.
Acara di mulai lebih awal. Keluarga Duta di wakili oleh Ayah Yoseph juga telah meminta maaf karena sampai waktunya Duta juga belum hadir dan belum bisa di hubungi.
Keluarga Yumna itu memang telah sepakat menerima lamaran Duta yang di wakilkan oleh AyahByoseph. Sebelumnya Duta sendiri sudah bicara langsung dan itu di anggap sebuah keseriusan. Mengingat hubungan kedua anaknya itu sudah lama sekali dan menjalani hubungan lamaran yang sehat dan saling memotivasi.
Setelah acara lamaran. Kedua keluarga menikmati makanan yang sudah di persiapkan dari restaurant itu.
Yumna makin cemas dan tak mau makan. Ia menatap ke arah luar restaurant, kalau saja mobil Duta masuk ke dalam parkiran. Yumna dengan senang hati akan berlari dan menghampiri lelaki itu.
Skip ...
"Atika kamu jangan mengulur waktu saya. Kamu tahu malam ini saya ada acara keluarga. Tapi kamu malah meminta di bantu pembuatan laporan hari ini. Ini kan tugas kamu," tegas Duta mulai kesal.
Sudah pukul delapan dan sekilas melihat ponselnya yang di silent. Sudah banyak panggilan dari Bundanya dan Yumna. Belum lagi beberapa chat singkat dan soam chat dari Yumna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments