Yumna sudah selesai mandi dan kini sudah rapi dengan pakaian santainya. Yumna termasuk gadis bertipe rapi dan resik. Ia tidak suka hal -hal berbau kotor dan menjijikkan. Maklum anak manjanya Ayah Robby agak sensitif.
Gadis manja itu duduk di meja belajar dan membuka buku diary nya. Sudah lama sekali rasanya tidak menulis di buku diary ini. Selama ini Yumna sibuk dengan kesenangannya sendiri. Nonton drakor, film series dan baca komik atau cari pernak pernik hello kitty bersama Bunda Sinta saat berbelanja ke Mall.
"Yumna ... Kamu belum sarapan. Sarapan dulu nanti sakit," ucap Bunda Sinta pelan pada anak gadis kesayangannya.
Bunda Sinta meletakkan satu piring berisi roti tawar gandum yang di panggang tanpa di beri apapun.
"Bunda ...." sapa Yumna dan memberikan senyum termanis pada Bundanya. Yumna menutup buku diarynya dan mengajak bicara pada Bundanya. Sudah lama sekali ia tidak cuehat dengan Bundanya. Apalagi sekarang ia sydah memasuki tahapan memiliki hubungan yang lebih serius dengan Duta.
"Makan dulu. Sudah ijin sama Duta? Kamu gak masuk ospek?" tanya Bunda Nur pelan.
Yumna menggelengkan kepalanya pelan. Ia belum memeganh ponselnua dari tadi. Entah di mana ia letakkan tadi dan sepertinya baterai ponsel itu habis dan belum ia cas.
"Yumna kok malah takut saat hubungan ini di seriusin ya, Bun," ucap Yumna pelan.
"Takut gimana? Bukannya kamu malah senang? Ini kan status yang kamu inginkan sejak dulu. Sekarang sudah di wujudkan malah kamu yang takut. Takut apa?" tanya Bunda Sinta pelan.
"Takut aja Bun. Secara Kak Duta itu idola kampus. Sama kayak Kak Jone dan Kak Dafa, mereka banyak yang suka dan banyak yang ngejar-ngejar. Istilah orang hanya menjentikkan satu jarinya saja, maka jari itu dengan mudahnya memilih satu wanita," ucap Yumna pelan.
"Tapi ... Pada kenyataannya? Kedua kakak kamu tidak semudah itu memilih perempuan untuk di jadikan seorang kekasih. Dan kamu sepatutnya bangga karena telah di pilih oleh Duta. Duta anak baik. Bunda kenal Duta bukan sehari atau dua hari kan? Bunda sudah kenal sejak kalian bersama dulu. Kita punya acara keluarga, orang tua Duta selalu Bunda undang, dan mereka hadir," ucap Bunda pelan.
Yumna mengangguk kecil. Ucapan Bunda memang ada benarnya. Kalau Duta memang lelaki baik dan bertanggung jawab.
"Sekarang kamu belajar percaya pada Duta. Kalau pun Duta tidak ada kabar, bukan berarti kamu di lupakan atau di abaikan. Memang Duta sedang banyak pekerjaan baik tugas kampus atau oragnisasinya. Kamu yang seharusnya lebih paham dan mengerti kesibukan Duta. Bukan malah menuntut apapun dari Duta. Belajar jadi gadis mandiri dan tidak selalu bergantung sama laki -laki. Bukan untuk bersaing tapi itu salah sati cara mendukung pasangan kita untuk lebih maju. Ada saatnya berduaan, ada saatnya kamu harus fokus sama ranggung jawab kamu sebagai mahasiswi. Itu baru benar," titah Bunda Sinta menasihati.
"Ya ... Ngapain tunangan kalau begini," ucap Yumna kesal.
"Lho ... Tunangan itu tandanya kamu sudah di pinang dan gak boleh dekat dengan lelaki lain. Tunangan itu satu tanda keseriusan sebelum kalian menikah. Restu dari keluarga juga penting kan?" ucap Bunda Sinta menjelaskan.
Yumna menatap cincin tunangannya yang terlihat indah da manis melingkar di jari manisnya.
"Yumna seneng sih. Kak Duta menepati janji, walaupun masih suka membatalkan sepihak," ucap Yumna kesal.
"Kamu yang sabar. Duta kan juga harus cepat lulus, biar cepat nikahin kamu juga," ucap Bunda Sinta tertawa.
Curhat di pagi hari membuat Yumna semakin paham bagaimana mempunyai hubungan yang baik dan tetap harmonis. Intinya salah satu harus mengalah.
***
Acara ospek di hari terakhir ini sangatlah seru sekali. Yuri merasa kesepian saat tahu Yumna, sahabatnya tidak datang.
Mau tidak mau ia nantk harus datang ke rumah Yumna untuk mengembalikan motor Yumna. Atau di titipkan saja pada Kak Dafa biar Yuri naik taksi saja.
Saat makan siang tiba. Yuri berjalan mencari keberadaan Kak Dafa.
"Kak Dafa," panggil Yuri dengan sopan.
Gadis mungil yang mirip dengan gadis manjanya Dafa di rumah.
"Hei ... Kenapa?" tanya Dafa yang keluar dari sebuah ruangan saat Yuri memanggilnya.
"Kak ... Mau kembalikan kunci motor Yumna. Nanti Yuri naik taksi saja," ucap Yuri pelan.
"Eitsss Jangan. Nanti Kakak anter saja pakai motor gak apa -apa ya?" ucap Dafa santai.
"Gak usah Kak. Nanti malah ngerepotin," ucap Yuri pelan tak enak hati.
"Gak apa -apa. Kamu mau nunggu sampai selesai acaranya?" tanya Dafa pelan.
"Iya kak. Sampai sore. Emang gak apa -apa Kak?" tanya Yuri pelan.
"Gak apa -apa. Santai saja. Kuncibya kamu bawa, nanti kalau mau pulang cari Kakak di sini ya," titah Dafa pada Yuri.
"Iya Kak. Makasih ya Kak," jawab Yuri lembut dan langsung pergi dari tempat itu
Yuri memang se -frekuensi dengan Yumna. Pemalu dan paling risih di lihat lelaki.
"Yuri ... Yumna kemana? Kenapa gak masuk?" tanya Lukas pada Yuri.
"Yuri gak tahu. Chat Yuri saja masih ceklis," jawab Yuri sekenanya.
"Rumah Yumna di mana sih?" tanya Lukas di sela maka siangnya.
"Rahasia. Pawangnya galak. Dia gak pernah terima tamu lawan jenis," ucap Yuri pelan.
"Oh ya? Bagus dong. Harus jadi kekasihnya kalau mau main ke rumahnya. Yumna itu cantik sekali," puji Lukas.
"Gak cuma cantik. Tapi juga pintar," ucap Yuri membocorkam sebuah rahasia.
"Oh ya? Wah ... Luar biasa. Makin kagum," ucap Lukas jujur.
Yuri hanya menatap Lukas sekilas. Lelaki itu sepertinya sedikit aneh dan tidak tulus dalam hal berteman. Seperti ada yang di sembunyikan dan terlalu modus.
***
Acara ospek sudah selesai. Acara yang di tutup dengan nama malam keakraban yang menampilkan pentas seni dari setiap kelompok.
Yuri sudah menunggu Dafa di parkiran motor. Tadi Yuri memnaggil Dafa dan Dafa menyuruhnya menunggu di pintu masuk parkiran.
"Yuri. Maaf ya agak lama. Tadi ada sedikit trouble," ucap Dafa pelan dan masuk ke dalam parkiran uang di ikuti oleh Yuri. Keduanya canggung.
"Gak apa -apa Kak. Yumna sakit Kak?" tanya Yuri pelan.
Ha ... ha ... haa ...
"Iya sakit," jawab Dafa singkat masih terkekeh.
"Sakit? Sakit apa?" tanya Yuri serius.
"Sakit jiwa," Dafa tertawa keras sambil menjawab.
"Hah? Sakit jiwa? Adik sendiri di bikang sakit jiwa," ucap Yuri pelan. Suasana canggung tadi mulai mencair. Dafa yang memang pendiam tapi suka celetuk lucu.
Yuri mulai menanggapi Kak Dafa.
"Iyalah. Sahabat kamu itu kan kemarin sudah tunangan sama Duta," jelas Dafa.
"Hah? Jadi udah tunangan? Kok gak undang Yuri," ucap Yuri kesal.
"Nanti kamu tunangannya sama Kakak saja," cetus Dafa asal.
"Hah? Tunangan sama Kak Dafa?," teriak Yuri.
Yuri melongo. Dafa tertawa keras saat melihat wajah Yuri melongo lucu. Dafa memasangkan Yuri helm di kepalanya.
Yuri makin salah tingkah karena perlakuan manis Kak Dafa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments