Dafa menatap Yuri lekat. Pandangan matanya fokus pada dua bola mata hitam dengan bulu mata lentik Yuri. Yuri langsung menunduk. Tak kuasa di tatap seperti itu oleh Kak Dafa, lelaki yang selama ini diam -diam ia sukai.
Yuri hanya mampu bercerita pada Yumna bajwa ia kagum pada Kak Dafa. Sampai suatu hari pernah, Yumna berada di kamar Kak Dafa dan menyambungkan teleponnya pada Yuri. Yumna sengaja karena Yuri rindu suara Kak Dafa. Selucu itu kaum remaja yang baru mengenal cinta.
"Kok nunduk? Memang gak mau tunangan sama Kak Dafa?" tanya Dafa pada Yuri yang semakin membuat jantung Yuri loncat dari organ tubuhnya.
Deg ...
Kenapa ini harus terjadi. Rasanya malu sekali. Tapi suka.
"Kak ... Sudah malam. Takut kemalaman," pinta Yuri pada Kak Dafa.
"Oke ... Oke ... Yuk kita pulang. Kalau gak mau jawab sekarang gak apa -apa. Jawabannya boleh di titipin ke gadis manja atau Kak Dafa tunggu sampai ulang tahun Yumna," ucap Dafa menegaskan.
Yuri tak mampu menjawab. Rasanya ini seperti mimpi di siang bolong. Rasanya ini hanya kamuflase saja. Mereka baru kali ini dekat dan bicara. Selama ini, mereka hanya saling menyapa dan bertegur sapa dan tidak lebih dari itu.
Dafa sudah berada dinatas motor dan menunggu Yuri naik ke atas motor. Yuri bingung, pasalnya ia pakai rok bukan pakai celana bisa naik motor dengan melangkah.
"Kak? Duduknya miring ya," ucap Yuri pelan.
"Ekhemm ... Rumah kamu kan jauh Ri. Gak aman duduk miring. Melangkah saja," ucap Dafa pelan.
Dafa langsung melepas jaketnya dan memberikannya pada Yuri.
"Duduk melangkah ya. Tutup pakai jaket ini?" titah Kak Dafa lembut.
Dafa adalah lelaki penyayang dan peka. Dafa sayang pada Bundanya dan Yumna. Tentu itu modal awal ia pasti sayang pada wanita yang kelak akan menjadi kekasihnya.
Yuri menuruti ucapan Dafa. Ia duduk melangkah dan kedua pahanya yang terekspos pun di tutup dengan jaket besar milik Dafa.
"Terima kasih sudah menurut. Kita pulang sekarang. Jangan lupa pegangan tangan ya," ucap Dafa menasehati.
Keduanya pun melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah Yuri. Yuri memegang ujung kemeja Dafa bagian bawah. Rasanya masih malu dan canggung.
***
Hari semakin larut. Duta dan Atika masih sibuk membahas laporan yang harus selesai dan di laporkan pada Dekan.
"Sudah malam Tik. Kampus juga sudah sepi. Kamu lanjutkan sedikit lagi di kost saja. Aku mau pulang," ucap Duta pelan.
"Ekhemm ... Kita harus kerjakan bersama Ta. Soalnya ini ada yang masih belum aku pahami," ucap Atika beralasan.
Duta menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Ini sudah pukul sebelas malam dan mereka belum makan malam sejak tadi karena terlalu sibuk mengurus laporan untuk besok.
Atika memindahkan file dari komputer ke flash disknya untuk di lanjutkan di kerjakan di kamar kostnya.
"Aku ikut kamu ya, Ta. Sudah malam juga," ucap Atika lembut.
"Ya sudah kita bungkus makanan dulu. Setelah ini kita lanjutkan mengerjakan di kost kamu, Tika. Sambil makan ya biar kita gak sakit," ucap Duta pelan.
Tadi rencananya Duta mau ke rumah Yumna. Tapi, pekerjaannya belum selesai dan harus selesai malam ini juga sesuai instruksi.
Duta dan Atika pergi keluar ruangan dan mengunci ruangan itu. Lalu keduanya pergi menuju mobil Duta.
Sebelum ke kost Atika, Duta membeli dua bungkus nasi goreng untuk keduanya.
Sesampai di kost Atika. Keduanya langsung masuk ke kamar Atika dengan pintu kamar di buka. Kebetulan kost Atika memnag bebas dua puluh empat jam karena kebanyakan pegawai yang kost di sana. Jadi satu sama lain pada cuek.
"Ta ... Pintunya janagn di buka. Kan ada AC," titah Atika yang ingin ke kamar mandi dan mengganti bajunya.
"Gak enak Tik. Ntar di kira ngapa -ngapain. Biasanya kan juga kalau aku kesini pintu di buka," ucap Duta pelan.
"Udah malem Ta. Gak enak malah. Di kira orang pamer. Udah tutup aja," titah Atika pelan.
Duta mengangguk pelan. Intinya mereka hanya berteman dan tidak ngapa -ngapain.
"Loe makan aja duluan sekalian nyalain komputernya. Gue mau ganti baju dulu, gak enak lengket semua," ucap Atika pelan.
Atika masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Duta dengan cepat menyalakan komputer sambil memasukkan data tadi dan makan nasi goreng.
Lima menit kemudian, Atika keluar dari lamar mandi dengan sengaja memakai pakaian tidur tipis tanpa lengan. Aroma rempah yang segar tercium samapi ke rongga hidung Duta. Bagaimana tidak, kamar kost itu tidak besar dengan AC. Sudah jelas wangi apapun akan mudaj menyebar.
"Gimana? Sudah selesai?" tanya Atika yang sengaja duduk mepet di dekat Duta.
Atika sengaja menguncir rambutnya ke atas dan memperlihatkan lehernya yang putih dan mulus serta wangi.
Duta menyelesaikan makannya dan mulai mengerjakan kembali tanpa peduli pada Atika. Rasanya makin tidak nyaman.
"Dikit lagi Tika," ucap Duta pelan.
Akhirnya selesai juga.
"Selesai!!" teriak Tika keras smabil mengangkat kedua tanganya ke atas dan seketika lampu seluruh kost mati total.
Hanya keheningan dan kesunyian serta suara aneh -aneh terdengar dari kamar lain.
Atika sontak berteriak dengan keras dan memeluk Duta yang ada di sebelahnya.
"Arghhh ... Aku takut Ta. Aku takut gelap," ucap Atika pelan.
"Tenang Tika. Jangan takut. Ada gue juga di sini," ucap Duta pelan berusaha melepaskan pelukan Atika.
"Jangan di lepas Ta. Aku beneran takut," cicit Atika lirih fdan terdengar sesikit manja.
"Ya tapi jangan kayak gini Tika. Gak enak kalau di lihat orang," ucap Duta pelan.
"Ini gelap Ta. Gak ada yang lihat. Pintu kamar juga tertutup. Belum lagi, di kost ini juga kan gak ada yang kenal kamu, Ta," ucap Atika menjelaskan.
"Tapi gak gini juga Tika. Gue gak enak," ucap Duta pelan.
Jujur, Duta itu risih berdekatan dengan perempuan lain yang terkesan intim. Dengan Yumna pun, jarang berdekatan. Yumna juga bukan tipe perempuan yang sengaja ingin di sentuh atau butuh perhatian berlebih.
"Kamu kenapa sih Ta. Kita kan udah deket lama. Kalau aku nyaman sama kamu, itu wajar," ucap Tika pelan.
Deg ...
Degub jantung Duta semakin keras berdetak. Jangan sampai Atika salah paham dengan kedekatannya selama ini.
"Tika jangan begini," tegas Duta semakin kuat ingin melepas pelukan Tika di tubuhnya.
Atika semakin kalap dan semakin terobsebsi memiliki Duta sang Idola kampus. Kepala Atika di tenggelamkan di lehe Duta.
Atika sengaja memakai pakaian tipis tanpa memakai dalaman. Beberapa kali tangan Duta menyentuh bagian yang tak di inginkan. Ini gila dan benar -benar gila.
"Kamu apa -apan sih, Tika," teriak Duta kasar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments