Pagi ini hari bersejarah bagi Yumna. Untuk pertama kalinya, ia masuk dunia perkuliahan dan mulai masuk ke dalam kelas untuk mengikuti materi mata kuliah yang sudah di jadwalkan selama satu semester ini.
Yumna sudah rapi dengan celana jeans berwarna biru muda dengan kemeja berwarna pink. Rambutnya di kuncir ekor kuda dengan sepatu kets berwarna putih. Ia hanya menggunakan sunscreen dengan bedak tipis dan lipglos aroma strawberry.
Langkah kakinya perlahan menuruni anak tangga dengan tas ransel kecil di punggungnya. Tas ransel bewarna putih hanya berisi satu binder dan satu kotak pinsil terbuat dari kain bergambar hello kitty. Ia masih menunduk sambil membenarkan kemejanya yang terlihat kusut dan kurang rapi.
"Widih Maba nih," ucap Kak Jone dengan suara menggoda adik bungsunya.
Yumna langsung melotot ke arah Jone dan menunjukkan kepalan tangannya seolah ingin meninjunya dari belakang tempat Ayahnya duduk.
"Yumna. Sini duduk sayang," ucap Bunda Sinta pelan.
"Ayah ... Bunda ...." sapa Yumna pada Ayah dan Bundanya lalu mengecup pipi kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang.
"Pagi anak Ayah yang cantik. Masuk pagi? Bareng Ayah yuk? Biar teman kamu pada tahu, kalau punya Ayah ganteng seperti Ayah," ucap Ayah Roby tertawa.
"Mau. Siapa tahu pulangnya bisa di anter sama ayank," ucap Yumna dengan senang.
Yumna meneguk susu putih full cream kesukaannya dan menikmati roti gandum yang telah di panggang di dalam oven.
Jone dan Dafa pun melengos menatap ke arah lain. Mual rasanya mendengar ucapan Yumna yang merasa terlalu percaa diri.
"Heii ... Anak manja. Kamu yakin, Duta bakal ada waktu mengantarkan kamu? Jangankan buat nganterin kamu, buat chat kamu saja pasti ia tak ada waktu," cetus Jone dengan asal.
Yumna mendengus kesal mendengar ucapan Jone. Ia pun langsung menghabiskan susunya dan meraup kasar roti tawar gandum yang sudah di oven itu dengan cepat.
"Jone!! Jangan ganggu adikmu. Habiskan kamu," titah Ayah pada putra sulungnya yang agak nyeleneh.
Jone menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya dengan suapan besar.
"Syukurin!! Emang enak, bleee ...." Yumna menjulurkan lidahnya dengan hati bahagia.
"Yumna sudah. Gak usah di teruskan. Habiskan makanan kalian. Oh ya Dafa, Kamu pulang jam berapa? Kok Ayah dan Bunda sama sekali gak tahu kamu pulang," titah Bunda Sinta dengan suara sedikit nyaring.
"Maaf Bunda," jawab Yumna pelan.
"Kalian ini pagi -pagi paling suka bikin onar saja," ucap Bunda Sinta kesal.
"Jam delapan Bunda. Kemarin di ajakn makan malam berama orang tuana Yuri. maa iya mau di tolak. lagi pula hujan gede banget pake kilat nyamber -nyamber aja. Ngeri banget," jelas Dafa pelan.
Kedua mata Yumna langsung melotot bulat sempurna.
"Apa? Yuri? Yuri sahabat Yumna?" tana Yumna penasaran kepada Dafa yang langung terdiam seperti orang yang sedang kelepasan bicara.
"Memang ada lagi yang namaya Yuri?" tanya Bunda Sinta menggoda.
"Hah? Kok Yumna gak tahu sih? Kapan jadiannya?" tanya Yumna dengan rasa penasaran.
"Siapa yang bilang jadian? Kak Dafa gak bilang sudah jadian kan?" ucap Dafa santai tapi tetap terasa gugup.
Tadi malam memang malam yang tak pernah terbayangkan oleh Dafa. BIsa mengantarkan Yuri secara tidak sengaja. Awalnya hanya iseng. Cuma kagum biasa saja. Tapi setelah mengenal kedua orang tuanya malah makin membuat Dafa semakin ingin serius dengan Yuri. Baru saja ia akan mendekati Yuri dan mengenal lebih jauh, melalui Yumna atau juga melakukan secara langsung dengan komunikasi online. Dafa sudah memiliki nomor Yuri.
"Itu sih? Bisa main ke rumah Yuri? Gimana ceritanya? Yuri juga gak cerita sama Yumna. Cuma tadi malam cuma bilang. Hari ini hari paling membahagiakan. Oh jadi ternyata ini yang membahagiakan," cetus Yumna dengan suara cemprengnya. Terlihat kesal dan kecewa pada Yuri dan Kak Dafa.
"Seharusnya kamu itu berterima kasih sama Kakak, Yumna. Kakak yang membawa pulang motor hello kittymu ke rumah. Makanya Kakak yang anatr Yuri pulang ke rumah. Kasihan juga kan, perempuan, sudah larut, harus pulang naik angkutan?" ucap Kak Dafa membela Yuri.
"Hemmm ... Bisa -bisanya Kak Dafa saja itu sih," ucap Yumna kesal.
Uhuk ... Ayah Roby sengaja terbatuk untuk mengakhiri perdebatan kedua putra putrinya yang tak akan selesai. Dafa yang selalu pintar mencari alasan harus berdebat dengan putrinya yang manja dan selalu kepo urusan kedua kakak kandungnya. Walaaupun begitu mereka tetap saling sayang dan perhatian satu sama lain.
"Sudah selesai Yumna? Mau berangkat sekarang atau nanti?" tanya Ayah Roby pada putri bungsunya.
"Sekarang saja Ayah. Males, sama lelaki modus seeprti Kak Dafa. Hati -hati Kak Jone, ketularan nanti, malah ikutan gak waras," ucap Yumna menggoda Kak Dafa sambil terkekeh lalu berpamitan pada Bunda Sinta.
***
Selama di perjalanan menuju kampus Yumna bersama Ayah Roby. Sebenarnya ada pesan yang ingin di sampaikan Ayah Roby kepada Yumna.
"Gimana rasanya sudah tunangan? Ada bedanya gak?" tanya Ayah Roby dengan wajah serius dan fokus menatap jalan raya sambil menyetir.
Yumna menoleh ke arah Ayah Roby. Tidak biasanya Ayah Roby bertanya soal ini. Ayah Roby biasanya cenderung diam dan sama sekali tidak banyak bicara. Sikapnya memang hanya lebih memanjakan Yumna tanpa embel -embel dan baru kali bertanya soal hubungannya pada Duta. Biasanya Ayah Roby akan bertanya pada Bunda Sinta.
"Ekhemm ... Maksud Ayah gimana? Kok Yumna gak paham," tanya Yumna pelan.
"Bukankah selama ini kamu ingin hubungan kamu dan Duta lebih serius? AYah bisa saja, langsung menikahkan kalian berdua saat ini juga. Tapi kan, tidak semudah itu. Duta masih muda, jenjang karirnya masih sanagt panjang. Begitu juga kamu, yang masih harus banyak belajar dalam segala hal," ucap Ayah Roby.
Yumna mengehla napas panjang. Yumna malah tak pernha berpikir soal itu. Bisa bertunangan saja sudah sangat senang tanpa harus menikah terlebih dahulu. Yuman juga masi ingin kuliah, senang -senang dan mengejar cita -citanya sebagai seorang arsitektur.
"Yumna gak mau menikah muda Ayah. Kak Duta juga tidak akan setuju. Kita berdua punya mimpi masing -masing, Ayah. Yumna tidak pernah keberatan menunggu Kak Duta sampai Kak Duta sukses dan menggapai semua cita -citanya," jelas Yumna pada Ayah Roby.
"Bagus sekali jawaban kamu, Na. Ini adalah jawaban yang Ayah tunggu sejak kemarin. Ayah memang meresti hubungan kamu dengan Duta hanya sebatas tunangan, biar kalian saling memotivasi satu sama lain, saling menyuport dan saling menasehati," ucap Ayah Roby memberikan petuah pada anak gadisya.
"Siap Ayah. Yumna janji tidak akan mengecewakan Ayah, Bunda, Kak Jone dan Kak Dafa serta Kak Duta. Yumna mau belajar sungguh -sungguh dalam segala hal," ucap Yumna pelan.
"Bagus. Ayah tunggu semua janji kamu itu. Lulus cepat dengan nilai cumlaude dan jadi Arsitektur yang terkenal," tegas Ayah Roby.
Yumna mengangguk tegas. Ia sangat termotivasi sekali dengan nasihat Ayah Roby.
Tak terasa, Mobil Ayah juga telah sampai di halaman kampus Yumna. Tak terasa hampir satu jam mereka saling memberikan nasihat dan pujian.
Yumna langsung pamit Ayah Roby untuk segera turun menuju kampusnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments