Acara ospek untuk Maba sudah selesai. Kini giliran sepuluh mahasiswa baru yang tadi twlat menghadap kepada Duta di ruangan khusus. Mereka di beri sanksi dan hukuman ringan sebagai efek jera agar tak melakukan hal yang sama di kemudian hari.
Semua anak maba sudah masuk ke dalam ruangan sedikit kecil di ujung koridor.
Duta di temani Atika di dalam ruangan tersebut. Duta mulai memberikan penjelasan singkat berakgir pada hukuman yang mengharuskan menulis di kertas folio sebanyak sepuluh lembar dengan tulisan seperti ini. SAYA MENYESAL TERLAMBAT.
"Itu tugas kalian untuk besok pagi. Lalu kumpulkan kepada saya secara langsung tanpa di titipkan. Paham?" titah Duta pada semua anak maba itu.
"Paham Kak!!" jawab anak maba itu serentak.
"Sekarang kalian boleh pulang," titah Duta dengan sikap dingin.
Yumna menghembuskan napas lega. Itu sudah aturan main dalam hubungan mereka berdua. Yumna tidak akan mendapatkan perlakuan khusus atau prioritas dari Duta. Jangan harap juga, Duta akan bersikap manis seperti lelaki lain yang bisa terlihat mesra di depan orang banyak.
Yumna keluar dari ruangan itu terakhir. Lukas sudah menunggu Yumna di depan. Lukas sangat lenasaran pada gadis lembut dan cantik seperti Yumna. Pandangan di luar pintu ruangan kecil itu sama sekali tak lepas dari tatapan Duta. Kebetulan pintu ruangan itu di biarkan terbuka lebar.
"Cantik ya? Anak maba yang terakhir itu. Siapa namanya tadi?" tanya Atika lembut. Ia sejak tadi melihat Duta mencuri pandangan menatap lekat wajah Yumna.
Tidak hanya sekali Atika melihat Duta menatap ke arah Yumna. Tadi pagi saat datang, lalu saat Yumna di tegur dan di suruh maju ke depan, lalu saat makan siang dan terakhir sekarang, saat gadis itu akan pulang. Sepertinya Duta ingin bicara sesuatu namun sulit untuk di ungkapkan.
Duta melepas pandangannya pada Yumna lalu beralih menatap Atika yang sudah menumpuk berkas dan bersiap untuk brifing sore sebagai penutupan acara.
Duta hanya tersenyum kecut dan terpaksa tetap tersenyum saat Atika masih mencoba menunggu jawaban Duta.
"Setiap wanita pasti cantik. Mereka punya kelebihan dan pesona tersendiri. Jadi cantik itu rekatif," ucap Duta langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju aula untuk berkumpul dengan panitia lainnya.
Atika hanya diam dan membeku. Duta memang lelaki yang sangat berbeda itu yang membuat Atika menyukai dan kagum pada Duta sejak awal masuk dunia perkuliahan. Duta di kenal baik dan tidak sombong hanya sikapnya memang cuek seolah tak peduli.
Duta mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan singkat pada Yumna.
Hari ini cukup melelahkan sekali. Lulas teman barunya mengajak Yumna ke kantin kampus untuk membeli minuman dingin karena cuaca panas dan hawa yang membuat tenggorokan kering dan selalu haus.
"Kamu mau minuman apa?" tanya Lukas pelan sambil membukakan pintu kulkas minuman yang ada di depannya.
Yumna menatap minuman dingin yang banyak jenisnya itu dan membuatnya bingung harus memilih.
Yumna mengambil satu minuman bersoda ringan dan mengucapkan terima kasih pada Lukas karena harus lebih dulu pulang sudah di hubungi oleh orang rumah. Itu alasan Yumna.
Langkah kaki mungilnya dengan cepat berjalan menuju taman kampus. Taman yang cukup luas dan berada di tengah -tengah kampus dengan air mancur yang indah.
Yumna sudah duduk di salah satu kursi besi taman kampus untuk menunggu Duta, kekasihnya. Baru saja, Duta mengirim lesan pada Yumna untuk menunghunya di taman. Duta akan datang setelah acara brifing panitia di sore itu selesai.
Satu helaan napas dalam di tarik Yumna melalui rongga hidungnya dan di hembuskan pelan merasakan udara yang mulai sejuk. Minuman dingin itu hanya di letakkan di kursi tanpa di minum karena memang Yumna tak menyukai minuman bersoda.
Seperti biasa tubuhnya bersandar dengan nikmat pada sandaran kursi yang membuat punggungnya lebih enakan. Satu pasang earphone sudah menempel di telinga Yumna. Ia membuka satu aplikasi yang menampilkan musik favoritnya. Sambil bernyanyi kecil dan mengangguk -anggukkan kepalanya, kedua matanya di pejamkan untuk lebih menikmati alunan musik dan udara sepoi -sepoi yang menerpa tubuh kecilnya. Rasanya malah makin mengantuk dan ingin tertidur di tempat itu.
Beberapa kali ia melihat waktu di ponselnya. Setengah jam berlalu tapi Duta belum datang juga untuk menemui Yumna. Ini juga bukan kali pertamanya Duta meleset soal waktu karena kesibukannya. Yumna sudah biasa dan bahkan sangat terbiasa dengan keadaan yang begini. Mungkin malah kaget jika melihat Duta datang tepat waktu.
Satu jam berlalu ...
Yumna benar -benar mulai mengantuk. Beberapa kali ia menguap dan kedua matanya terasa sangat perih sekali. Tubuhnya mulai merasakan lelah karena jenuh menunggu.
Kedua earphone Yumna langsung di ambil Duta.
"Yumna ...." bisik Duta di telinga Yumna.
Lima menit yang lalu Duta sudah sampai di taman dan menikmati wajah cantik dan sendu Yumna dari kejauhan. Ada perasaan bersalah karena belum bisa menjadi kekasih yang baik untuk Yumna. Tapi hubungan mereka sudah serius dan susah di ketahui dua pihak keluarga. Mereka merestui hubungan kedua putra putrinya.
Kedua mata Yumna mengerjap pelan menatap awan yang tertutupi wajah Duta tepat berada di atas wajah Yumna.
Deg ...
Jantung Yumna berdegup keras. Ia betul -betul kaget saat melihat wajah tampan kekasihnya ada di atasnya.
"Kak Duta," ucap Yumna lirih. Ia langsunh menegakkan duduknya.
Duta pun tersenyum manis hingga pipi berlesung nampak terlihat. Duta memutari kursi tamna dan duduk di sebelah Yumna. Ia menatap minuman botol bersoda.
"Ini milikmu?" tanya Duta pelan.
"Ekhemm .. Ya. Di belikan oleh Lukas," jawab Yumna sambil melirik ke arah botol plastik yang sudah tak dingin lagi.
"Namanya Lukas? Hati -hati kalau punya teman baru," ucap Duta menasehati. Duta merasakan ada yang aneh pada gerak gerik Lukas.
"Iya Kak," jawab Yumna lembut.
"Kenapa tadi terlambat? Boleh Kakak pinjam ponsel kamu?" tanya Duta singkat.
Yumna hanya mengangguk pasrah dan melepaskan kabel earphone lalu di berikan kepada Duta.
"Tadi malam, Yumna menunggu Kak Duta menelepon. Bukankah biasanya di telepon," ucap Yumna membela diri.
Duta mengutak atik ponsel Yumna. Membuka sandi ponsel itu dan mencari beberapa aplikasi yang menurut Duta mengganggu waktu tidur Yumna. Duta menghapus semua aplikasi yang biasa di gunakan Yumna untuk menonton marathon drakor dan film lainnya.
"Kenapa harus di tunggu. Kak Duta sibuk Yumna. Kak Duta janji, akhir pekan ini kita jalan," ucap Duta berjanjinpada gadis mungilnya.
"Janji?" tanya Yumna bahagia. Walaupun masih sangat lama sekali. Setidaknya ada harapan bisa bersama.
"Iya. Kita nonton dan makan malam. Lamu pilih saja tempatnya, anak manja," ucap Duta terkekeh.
"Ih ... kok anak manja," cicit Yumna kesal.
"Memang manja. Ini ponselnya. Kakak gak mau ponsel ini di install lagi denagn aplikasi yang tak berguna. Ingat kamu sudah kuliah. Jurusanmu itu berat. Kadi kamu harus fokus sama kuliahmu, Yumna," ucap Duta menasehati.
Yumna hanya mengangguk pasrah. Kali ini ia harus menuruti semua keinginan Duta. Ini adalah kedua kalinya ponselnya di sidak oleh Duta.
Kejadian sama pernah terjadi saat mereka masih duduk di bangku SMA.
Tangan Duta memegang wajah imut Yumna dan menggeser anak rambut ke belakang telinga Yumna.
Yumna menatap ke arah Duta. Duta memang bukan lelaki romantis taoi perlakuannya manis dan bisa mesra di saat tertentu. Moment itu yang membuat Yumna berkesan.
"Kamu pulang ya? Kakak masih ada urusan lagi?" ucap Duta pelan.
"Iya," jawab Yumna pelan.
Ponsel Duta berbunyi dan di angkat. Wajahnya nampak serius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments