Yumna sudah berjalan menuju di lobby menuju bagian pengumuman untuk melihat ruang kelas yang akan ia tempati pagi ini untuk menerima materi perkuliahan.
Kakinya melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lobby kampus dan terlihat dari seberang jalan dekat taman kampus, mobil Duta memasuki halaman parkir.
Duta keluar dari dalam mobil. Tapi lihat, dia tidak sendiri, ada Atika yang juga ikut turun bersama Duta dari pintu mobil yang lain.
"Dih ... Pagi -pagi sudah bikin cemburu. Yumna gak di jemput, tapi sekertarisnya di jemput. Aneh banget sih," cicit Yumna lemah. Ia tadi begitu bersemangat sekali. Melihat pandangan barusan menjadi hilang semangatnya terbawa pada urusan overthinking.
"Dor!!" suara Yuri begitu kencang dengan tepukan keras di bahu Yumna membuat kaget gadis cantik itu.
Yumna terperanjat kaget dan menoleh ke arah belakang.
"Jantungan Yumna begini caranya!! Tdi pagi Kak Dafa yang bikin Yumna olah raga jantung. Sekarang kamu, Ri," ucap Yumna pelan seolah tak tahu soal kemarin.
Yuri berpura- pura tak mendengar dan berjalan begitu saja meninggalkan Yumna. Ia tahu sebenatr lagi sahabatnya akan memberondong banyak pertanyaan soal kemarin. Tadi pagi, Yuri sempat di chat Kak Dafa, kalau Yumna kesal dan mereka berdua malah berencana membuat gadis cantik itu semakin kesal dan emosi.
"Yuri!! Malah diam lagi!! Ngeselin banget sih," ucap Yumna kesal.
Yumna mengejar Yuri ke arah lobby menuju papan pengumuman untuk melihat jadwal ruangan kelas yang akan mereka pakai.
Perdana masuk dunia perkuliahan membuat Yuri merasa kurang nyaman dengan semua teman baru yang ia lihat. Bayangkan semuanya nampak dewasa mulai dari dandan dan cara berpakaian. Usianya masih belia tapi wajah dan gaya sudah seperti tante -tante usia dua puluhan yang belum dapat jodoh alias perawan tua. Semua ini akan menjadi sarapan dan makanan sehari -hari Yumna. Tapi, mereka bukan level gaya Yumna. Yuman terlalu cuek untuk bergaya menyaingi gadis kampus yang terlalu moderenisasi.
"Kita di lantai tiga ruang lima. Yuk ah," ajak Yuri pada Yumna. Yuri mengajak naik tangga manual saja lebih cepat. Lihat saja di bagian depan lift sudah penuh dengan antrian yang mau naik menuju lantai yang di inginkan.
"Jam berapa ke rumah Yumna? Kok Yumna gak tahu?" tanya Yumna pelan saat menaiki tangga.
"Kamu nanyak? Kamu bertanya -tanya? Kapan aku ke rumah kamu?" ucap Yuri tertawa keras sambil menoleh ke arah belakang menatap Yumna yang tengah bersiap memukul Yuri dengan tas punggungnya.
"Awas kamu. Gak ada restu untuk seorang sahabat. Bodo amat lah," teriak Yumna kesal. Langkah kakinya di hentakkan dengan kencang ke lantai dengan sepatu ketsnya yang masih putih bersih.
"Widih ... Sahabat Yuri mulai mengancam. Menunjukkan taringnya dengan cara tak memberi restu. Restu buat apa sih? Kok aku gak paham ya?" tanya Yuri pura -pura sambil menarik tangan Yumna dan menggandengnya erat.
Yumna hanya melirik sekilas dan mengerucutkan bibirnya yang menandakan ia masih sangat kesal sekali.
"Lagian main selonong boy aja. Kudu minta ijin sama adik bungsu ini," ucap Yumna tertawa keras menggema di selasar lorong menuju ruang lima.
Teriakan itu membuat seluruh orang yang ada di selasar itu menatap Yumna dengan aneh. Gadis beliua dengan gaya sedikit kekanak -kanankan.
"Husss ... Banyak yang lihatin kamu tuh. Mulutnya tolong di kondisikan kalau ketawa. Dari luar kelihatan hello kitty alim banget setelah ngakak malah bar -barnya keluar," cetus Yuri tertawa mengejek.
"Hemmm ... Ejek terus ini adik ipar bukan musuh dalam selimut," cetus Yumna asal.
Kedua matanya terfokus ke arah dua sejoli yang terlihat mesra dan fokus pada berkas yang mereka pegang.
Yuri menyikut lengan Yumna yang sudah melihat kehadiran Duta yang sejak tadi melirik ke arah Yumna. Duta bahkan tahu apa yang baru saja di lakukan gadis kesayangannya itu beru saja hingga semua orang menatap Yumna dengan tatapan aneh.
"Kak Duta tuh," cicit Yuri lirih sambil menatap ke arah Atika yang berjalan di sebelah Duta dengan mesra. Tubuh Atika sengaja menempel pada Duta. tapi Duta berusaha menghindari kontak tubuh itu dengan perlahan.
"Terus? Yumna harus lari dan meluk gitu? Biar semua orang tahu? Soal hubungan Yumna sama Kak Duta? Kak Duta kan gak suka begitu dari dulu. Dia maunya, Yumna di sembunyikan biar tidak di jahili banyak orang karena telah menjadi bagian dari hidup Kak Duta" ucap Yumna lirih. etap saja ada perasaan cemburu, walaupun ia sudah bertunangan. Jangankan bertunangan, menikah saja ada yang pisah dan bercerai," ucap Yumna menjelaskan.
"Gak usah cemburu. Dia cuma sekertaris, dan kamu tunangannya. Beda jauh ya," ucap Yuri mencoba menenangkan hati Yumna yang terasa panas.
"Iya," jawab Yumna pasrah.
Yuri langsung menarik tangan Yumna dan masuk ke dalam ruang lima. Ternyata, Duta juga kuliah di ruang empat. Ruang mereka bersebelahan. Saat melewati ruang Yumna, Duta melirik ke arah Yumna yang sudah duduk di bagian depan bersama Yuri.
***
Kuliah sesi pertama dan kedua sudah selesai. Sudah saatnya perut kedua gadis belia itu minta di isi. Kuliah perdana mereka cukup berkesan. Dosennya cukup baik dan ramah.
Yumna masih membereskan binder dan alat tulisnya lalu di masukkan ke dalam tas punggungnya yang mungil.
Hari bawaan bukunya hanyasedikit. Mulai hari ini, Yumna dan Yuri akan mencari buku paket yang di rekomendasikan oleh dosen sebagai penunjang belajar untuk memahami mata kulaih dasar sebagai seorang arsitektur.
"Makan yuk, Yum," ajak Lukas menghampiri meja Yumna dan Yuri.
Yumna menatap Lukas dan menggendong tas punggungnya sambil menunggu Yuri yang belum selesai merapikan buku dan alat tulisnya. Yuri baru selesai mencatat.
"Yumna mau makan siang sama Yuri. Sudah janjian," jawab Yumna dengan malas. Yumna sengaja menaikkan tangannya di atas meja agar cincin tunangannya juga terlihat di depan Lukas.
"Ya sudah gak apa- apa. Kitya makan bertiga. Gue yang traktir. Kalian berdua mau pesen apa saja, terserah," titah Lukas pad Yumna dan Yuri.
Kedua gadis belia itu saling menatap. Yuri mengangkat bahunya dan itu tandanya terserah Yumna.
"Tapi Yumna cuma makan di kantin aja," ucap Yumna pelan.
"Ya gak apa -apa. Mau di kantin apa di kafe, gue tetep ngikut sama loe. Kalau perlu kita jalan sekarang cari buku paket? Gimana? Seru gak?" tanya Lukas nampak semangat sekali.
"Yumna cuma mau makan. Habis itu mau ke perpustakaan sama Yuri. Iya kan Ri?" tanya Yumna pelan kepada Yuri.
"Iya. Kita mau ke perpustakaan," ucap Yuri santai.
"Yuk ah. umna mau makan. Udah lapar," ucap Yumna pelan.
"Yuk," jawab Yuri kemudian.
Kedua sahabat itu pun berjalan lebih dulu dan Lukas mengikuti dari belakang.
Mereka berjalan melewati ruang empat yang terbuka lebar. Duta menatap ke luar ruangan dan melihat tas Yumna sedang di ganduli oleh Lukas. Hatinya juga terbakar api cemburu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments