Saking cepatnya berlari, Ranvier tak sengaja menabrak ayah Tomi yang saat itu berdiri di teras depan sambil berbincang dengan warga.
" Ada apa Nak, kok lari-lari...? " tanya ayah Tomi.
" Maaf Pak. Aku kirain udah ditinggal sama Bapak dan Bang Tomi tadi...," sahut Ranvier berbohong.
" Ga mungkin lah. Kan Tomi juga udah bilang kalo Kamu lagi pipis di toilet tadi...," kata ayah Tomi sambil tersenyum.
" Iya Pak...," sahut Ranvier sambil melirik ke belakangnya karena khawatir diikuti oleh hangu Tissa.
" Udah kan, sekarang Kita balik ke masjid untuk sholat Isya ya...," kata ayah Tomi yang diangguki Ranvier.
Tomi pun menghampiri Ranvier dan mengajaknya berjalan lebih dulu. Ranvier pun hanya menurut karena ia memang sedang tak ingin sendiri saat itu. Rasa takut akibat bertemu dengan hantu Tissa membuat bulu kuduknya meremang dan persendian kakinya melemah. Beruntung Ranvier masih kuat berjalan hingga mereka kembali ke rumah orangtua Tomi.
Setelah sholat Isya berjamaah di masjid, keluarga Tomi pun makan malam. Saat itu lah Tomi kembali menanyakan penyebab kematian Tissa.
" Aku masih penasaran sama kematian Tissa Pak. Emang sebenarnya larangan apa sih yang dilanggar sama Tissa. Kenapa dia bisa meninggal...?" tanya Tomi sambil mengunyah makanannya.
" Tissa meninggal karena memang takdir Allah dan bukan semata-mata karena melanggar pantangan. Sebenernya ada beberapa faktor yang menyebabkan Tissa meninggal selain takdir. Tapi karena warga desa masih menganut kepercayaan yang unik, makanya kematian Tissa dianggap tak wajar karena melanggar aturan adat...," sahut ayah Tomi bijak.
" Iya juga sih. Tapi kalo menurut Bapak gimana...?" tanya Tomi.
" Yang Bapak tau Tissa itu meninggal karena penyakit. Banyak yang ga tau kalo sebenarnya Tissa itu mengidap penyakit dalam yaitu kanker paru-paru kronis. Jadi saat pulang ke desa ini Tissa memang sedang dalam proses pemulihan setelah dirawat di Rumah Sakit di kota sana. Mungkin karena kelelahan mempersiapkan pernikahan, Tissa sampe lupa memperhatikan kesehatannya. Dan itu berakibat fatal...," sahut ayah Tomi.
" Apa Badrun dan keluarga mereka ga tau kalo Tissa itu sakit Pak...?" tanya Tomi.
" Keliatannya mereka ga tau karena Tissa ga jujur sama mereka sebelumnya. Makanya saat Tissa sakit dan meninggal mereka jadi shock banget...," sahut ayah Tomi.
" Apalagi Tissa dan Badrun juga sempat melanggar pantangan sebelumnya. Kan desa Kita punya aturan bagi calon pengantin, yaitu dilarang bepergian jauh saat prosesi adat pernikahan belum semua diselesaikan...," sela ibu Tomi.
" Kok bisa-bisanya Tissa melanggar pantangan itu. Gimana ceritanya Bu...?" tanya Tomi penasaran.
" Katanya sih Tissa dan Badrun pergi membeli obatnya Tissa ke kota setelah acara pengajian seperti tadi digelar di rumah Tissa. Dan itu artinya saat itu mereka belum sah menjadi suami istri karena akad nikah belum digelar. Apalagi mereka juga masih harus mengikuti acara adat setelah akad nikah itu. Malam itu mereka pergi berdua aja tanpa ditemani siapa pun. Naik motor dan pergi setelah Maghrib pula. Bisa ditebak kan gimana reaksi warga kampung Kita...," sahut Ibu Tomi.
" Terus Bu, apa mereka mengalami kecelakaan...?" tanya Tomi.
" Mereka pulang selamat tapi udah jauh malam. Pas sampe gerbang desa mereka juga dihadang warga yang khawatir terjadi sesuatu yang buruk sama mereka. Tissa langsung dipisahkan dari Badrun. Tissa diantar warga pulang ke rumah dan disambut kemarahan orangtuanya...," sahut ibu Tomi.
" Banyak kata lah yang diucapkan orangtua Tissa saat itu. Tissa yang mungkin sudah kecapean terpaksa harus duduk dan mendengarkan nasehat dari pemuka adat. Hampir jam tiga pagi Tissa baru boleh masuk ke kamar dan istirahat. Pagi harinya Tissa langsung demam tinggi. Dan semua orang pun panik...," kata ayah Tomi.
" Setelahnya orang mengaitkan demamnya Tissa karena melanggar pantangan...," kata Tomi sambil tersenyum kecut.
" Betul...," sahut kedua orangtua Tomi bersamaan.
" Padahal kalo mau dipikir secara jernih, salah satu penyebab Tissa meninggal juga karena telat minum obat. Kan Ibu bilang tadi Tissa pergi ke kota untuk beli obat. Mungkin obatnya abis dan harus beli di apotik besar yang cuma ada di kota sana. Bisa jadi Tissa udah beberapa hari ga minum obat makanya badannya langsung ngedrop...," kata Tomi.
" Masuk akal sih Tom. Soalnya waktu Ibu bantu-bantu di rumah orangtuanya menjelang hajatan, Ibu sempet ngeliat wajahnya Tissa yang pucat. Bukan pucat biasa karena ga kena matahari ya, ini pucatnya tuh beda. Ya kaya orang sakit gitu. Makanya pas akhirnya Tissa meninggal dunia dan di kamarnya ditemuin banyak resep obat, Ibu sih maklum. Tapi Ibu ga bisa berbuat apa-apa saat warga terlanjur gempar karena merasa Tissa meninggal karena melanggar pantangan itu...," sahut ibu Tomi.
" Kalo Tissa meninggal karena melanggar pantangan, kenapa cuma Tissa yang meninggal Bu. Kan si Badrun juga ikut pergi jauh nganterin Tissa...?" tanya Ranvier tiba-tiba.
" Oh kalo itu sih cuma Bapak yang bisa ngejelasin Nak...," sahut ibu Tomi sambil melirik kearah suaminya.
" Akibat melanggar pantangan yang dilakukan sepasang pengantin hanya akan menimpa satu diantara mereka aja Nak. Ini semacam peringatan untuk pasangannya dan orang lain agar jangan melanggar pantangan karena akan berakibat fatal. Jarang terjadi pengantin yang melanggar pantangan bersama, akan berakhir bersama-sama juga...," sahut ayah Tomi hingga membuat Ranvier mengangguk tanda mengerti.
" Kasian Tissa. Pasti dia sedih dan kecewa banget kalo tau Badrun menikahi wanita lain setelah kematiannya...," kata Tomi sambil menerawang jauh.
" Iya Tom. Apalagi katanya Badrun dan Tissa itu kan memang saling mencintai...," sahut ibu Tomi.
" Seinget Aku sih mereka itu pasangan yang sama-sama cinta pertama. Jadi wajar kalo Badrun sulit melupakan Tissa...," kata Tomi menambahkan.
" Oh gitu ya. Pantesan Badrun sampe kaya orang stress ditinggal Tissa. Jalan kemana-mana sambil nangis dan ngomong sendiri. Untung bisa diobatin. Makanya pas sembuh dia langsung dijodohin sama Linda yang anaknya Pak Wid itu. Walau sedikit berumur tapi Linda itu kan cantik dan anak orang kaya. Ibu yakin Badrun ga bakal nyesal nikah sama Linda...," kata ibu Tomi sambil tersenyum.
" Umur Linda sama Badrun kan ga terpaut jauh Bu, cuma lima tahun aja...," sela ayah Tomi.
" Iya Pak...," sahut ibu Tomi.
" Emangnya Linda mau dijodohin sama Badrun Bu...?" tanya Tomi.
" Mau kok. Mungkin udah capek nyari pasangan tapi ga ketemu yang cocok. Dan pas ngeliat Badrun, eh dia langsung suka dan setuju gitu aja. Badrunnya juga ga nolak dan senyum-senyum aja waktu dijodohin...," sahut ibu Tomi sambil kembali tersenyum.
" Oh gitu. Mudah-mudahan rumah tangga mereka langgeng ya Bu...," kata Tomi.
" Aamiin. Kamu sendiri kapan nikah Tom ?. Mana calon istrimu, kok ga dikenalin sama Bapak dan Ibu sih...?" tanya ibu Tomi.
" Belum ada Bu. Insya Allah kalo udah ada pasti Aku kenalin...," sahut Tomi sambil nyengir.
Jawaban Tomi membuat Ranvier tertawa sedangkan ibu Tomi nampak mengerucutkan bibirnya sambil melengos.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
💎hart👑
ada yang janggal ga sih antara Linda dan Badrun?🤔
2023-03-15
1
Siti komalasari
wah harus kuat kak...semoga gak lama ranvier bisa menguasai ketakutan nya
2023-03-01
0
Irma Tjondroharto
ayo ranvier.. kuatkan dirimu tuk jadi media tissa.. maksud jadi tau tissa mau ngomong apa.. hehe
2023-03-01
2