Ranvier mengerjapkan mata untuk menetralisir cahaya menyilaukan yang masuk ke dalam matanya. Sesaat kemudian Ranvier bangkit berdiri sambil mengusap belakang tubuhnya yang terasa sakit akibat terjatuh tadi.
" Sinar apaan tuh, silau banget. Tapi kayanya sinar itu berasal dari benda yang ada di dalam tas Gue...," batin Ranvier sambil menatap lekat tas miliknya yang terbuka.
Setelah menunggu beberapa saat, Ranvier memberanikan diri mendekat kearah tas dan berniat menyentuhnya. Namun saat ujung jemarinya hampir menyentuh tas, ketukan di pintu kamar mengejutkannya.
" Tok... tok... tok...!"
" Mas Ranvier...!" panggil seorang wanita yang dikenali Ranvier sebagai asisten rumah tangga Kakeknya.
" Iya Mbok Rah...!" sahut Ranvier sambil bergegas membuka pintu kamar.
Saat pintu terbuka Ranvier melihat Mbok Rah nampak berdiri dengan wajah bingung. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah tak sabar menunggu sesuatu.
" Ada apa Mbok...?" tanya Ranvier.
" Tuan Randu Mas...," sahut mbok Rah.
" Apa terjadi sesuatu sama Kakek...?" tanya Ranvier tak sabar.
" Tuan Randu jatuh di kamarnya Mas dan sekarang mau dibawa ke Rumah Sakit. Mas Ranvier mau ikut atau ga...?" tanya mbok Rah hingga membuat buat Ranvier terkejut bukan kepalang.
" Ya Allah. Kakek...!" panggil Ranvier histeris lalu bergegas keluar dari kamar.
Ranvier berlari cepat menuruni anak tangga menuju ruang tengah dimana ia melihat beberapa pria tengah berkerumun. Para pria itu menoleh lalu menepi untuk memberi ruang kepada Ranvier dan kakeknya.
Ranvier pun langsung menghambur memeluk sang Kakek yang terbaring lemah di atas sofa. Wajah Kakek Randu tampak pucat. Ia hanya memejamkan mata tanpa merespon panggilan sang cucu.
" Kakek kenapa ?. Kakek sakit apa ?. Bangun Kek, jangan tinggalin Aku...!" kata Ranvier dengan air mata yang menderas di wajahnya.
" Maaf Mas. Sebaiknya Kita bawa Tuan ke Rumah Sakit sekarang...," kata pria bernama Krisna.
" Kenapa ga panggil dokter Ilham ke sini aja Pak Kris...?!" tanya Ranvier.
" Ga bisa Mas. Dokter Ilham lagi dinas keluar kota. Kita ga bisa menunggu lagi. Jadi Kita bawa sekarang aja ya...," kata Krisna cepat.
" Betul Pak. Mobil juga udah siap di depan...," sela Tomi mengingatkan.
" Ok. Kita angkat Tuan Randu sekarang...," kata Krisna yang diangguki Tomi dan rekan-rekannya.
Dengan sigap para pria itu menggotong tubuh Kakek Randu lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Ranvier pun ikut masuk ke dalam mobil mendampingi sang Kakek.
Tak lama kemudian mobil pun melaju cepat meninggalkan kediaman kakek Randu menuju Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=
Ranvier sedang berada di kamar rawat inap sang Kakek. Saat itu Ranvier nampak mengamati sang kakek dalam diam. Ranvier ingat jika beberapa saat yang lalu sang Kakek baru saja mendapat pertolongan medis.
" Kakek Randu hanya kelelahan dan kurang istirahat. Keliatannya Beliau sedang banyak pikiran ya, makanya jadi ngedrop kaya gini...," kata dokter.
" Apa Kakek gapapa dok...?" tanya Ranvier cemas.
" Insya Allah gapapa. Tekanan darahnya naik itu yang menyebabkan beliau pusing dan pingsan tadi. Sebaiknya Kakek Randu istirahat sebentar dan jangan diajak ngobrol dulu ya. Biarkan beliau tidur dan terbangun sendiri nanti...," sahut sang dokter sambil tersenyum.
" Baik, makasih dokter...," kata Ranvier dan Krisna bersamaan.
" Sama-sama. Kalo gitu Saya permisi dulu yaa...," pamit sang dokter sambil melangkah menuju pintu.
" Silakan dok...," sahut Krisna sambil tersenyum.
Setelah menutup pintu, Krisna kembali mendekati Kakek Randu yang terbaring di atas tempat tidur.
" Saya beli kopi dulu sebentar ya Mas. Apa Mas Ranvier mau pesan sesuatu...?" tanya Krisna.
" Aku pesen jus jeruk aja Pak, makasih...," sahut Ranvier.
" Ok, Saya tinggal sebentar ya...," kata Krisna yang diangguki Ranvier.
Setelah Krisna keluar dari ruangan, Ranvier pun melangkah menuju sofa. Ia membaringkan tubuhnya yang lelah itu sambil memikirkan ucapan dokter yang membicarakan kondisi kesehatan sang Kakek.
" Pasti gara-gara mikirin Gue Kakek jadi ngedrop kaya gini...," batin Ranvier sambil menghela nafas panjang.
Sambil menatap langit-langit kamar, ingatan Ranvier pun melayang kembali pada saat masuk ke kediaman Nyai Ranggana.
" Betul juga kata Kakek. Gue kan ga pernah nyebutin nama Gue, darimana mereka tau kalo nama Gue Ranvier ?. Dan kenapa perbedaan waktunya jauh banget ya. Ga sampe sehari semalam di sana tapi udah tiga Minggu waktu di dunia nyata...," gumam Ranvier sambil mengacak rambutnya.
Lamunan Ranvier buyar saat pintu terbuka. Di balik pintu tampak Krisna datang bersama seorang pria bersahaja.
" Silakan Ustadz...," kata Krisna dengan santun.
" Makasih Pak Kris...," sahut sang ustadz sambil tersenyum.
Dari tempat duduknya Ranvier bisa melihat apa yang dilakukan sang ustadz pada Kakeknya. Ranvier pun bangkit lalu mendekati Krisna dan sang ustadz.
" Siapa Pak Kris...?" tanya Ranvier setengah berbisik.
" Ini Ustadz Rahman. Beliau datang untuk menjenguk Tuan. Sebelumnya Tuan sudah menghubungi beliau untuk meminta bantuan menangani Mas Ranvier...," sahut Krisna cepat.
" Apa ada yang salah sama Aku ?. Kenapa harus minta bantuan Ustadz Rahman segala sih...?" tanya Ranvier.
" Sssttt..., jangan berisik Mas...," kata Krisna mengingatkan.
" Iya iya...," sahut Ranvier sambil mendengus kesal.
Setelah mendoakan kakek Randu, ustadz Rahman menoleh kearah Ranvier. Saat tatapan mereka bertemu Ranvier merasakan sesuatu yang berbeda. Karena tak kuat menatap kedua mata ustadz Rahman, Ranvier pun membuang pandangannya kearah lain.
" Oh iya Ustadz, kenalin ini Mas Ranvier. Cucu tunggal Tuan Randu...," kata Krisna.
" Assalamualaikum Ranvier...," sapa ustadz Rahman sambil mengulurkan tangannya.
Ranvier nampak membisu dan tak merespon uluran tangan sang ustadz. Melihat hal itu Ustadz Rahman tersenyum namun Krisna nampak tak enak hati.
" Mas Ranvier...," panggil Krisna sambil menyentuh pundak Ranvier.
" Apa...?" kata Ranvier dengan tatapan bingung.
" Yang sopan dong. Cium tangannya Ustadz Rahman biar ga kualat...," bisik Krisna di telinga Ranvier.
" Kualat kenapa ?. Kan Ustadz itu bukan siapa-siapa Aku...," kata Ranvier.
" Tapi beliau orang yang mumpuni dan berilmu, doanya udah berhasil membantu banyak orang lepas dari beban hidup. Jadi, sebaiknya Mas Ranvier harus sopan kalo ga mau disumpahin jadi kodok...," kata Krisna setengah mengancam.
Ucapan Krisna mengejutkan sekaligus menakutkan untuk Ranvier. Karenanya remaja itu bergegas menyambut uluran tangan sang ustadz walau sedikit enggan.
" Hallo Ustadz, senang bertemu dengan Ustadz...," kata Ranvier sambil menjabat tangan sang ustadz dengan erat.
Ucapan Ranvier membuat Krisna menepuk dahinya. Ia nampak sedikit kesal melihat sikap tak sopan remaja di hadapannya itu. Namun ustadz Rahman hanya tersenyum sambil menyentuh lengan Krisna untuk menenangkannya.
" Gapapa Pak Kris. Ranvier pasti belum tau gimana harus bersikap karena selama ini terlalu dimanja sama Kakeknya...," bisik ustadz Rahman.
" Betul Ustadz, tolong maafin sikap Ranvier ya Ustadz...," pinta Krisna yang diangguki sang ustadz.
Di tempatnya Ranvier nampak mengerutkan keningnya melihat interaksi Krisna dengan ustadz Rahman.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Krisna Adhi
nama gw thor 😁😁😁
2024-08-31
1
🎎 Lestari Handayani 🌹
apa yg sudah dikasih ke ranvier ya
2023-02-23
3
Siti komalasari
semoga kakek baik-baik saja..
2023-02-21
2