Ranvier nampak menikmati perjalanannya kali ini. Setelah memikirkan semuanya, akhirnya Ranvier memilih pergi ke Nusa Tenggara Barat ditemani Tomi daripada hadir di acara kelulusan yang diselenggarakan di hari yang sama di sekolahnya.
Melihat Ranvier duduk bersandar dengan tenang Tomi pun tersenyum.
" Tidur aja dulu Vier. Ntar kalo udah sampe, Abang kasih tau...," kata Tomi.
" Emang masih jauh Bang...?" tanya Ranvier.
" Lumayan, setengah jam lagi kalo ga ada kendala...," sahut Tomi.
" Kendala apaan...?" tanya Ranvier penasaran.
" Namanya juga lewat hutan. Kendalanya pasti ga jauh-jauh dari pohon tumbang sama binatang buas...," sahut Tomi santai.
" Binatang buas apa Bang...?" tanya Ranvier makin penasaran.
" Harimau, babi hutan atau mony*t...," sahut Tomi sambil menguap.
" Lah, kok malah Lo yang ngantuk Bang...," kata Ranvier sambil tertawa.
" Iya Vier. Gue kan bangun sebelum Subuh tadi. Nyiapin semuanya mendadak gara-gara Tuan Randu nyuruh nemenin Lo yang katanya keukeuh minta liburan...," sahut Tomi kesal namun justru membuat Ranvier tertawa.
" Tapi kan Lo seneng juga Bang. Anggap aja Gue nganterin Lo mudik...," kata Ranvier di sela tawanya.
" Iya sih. Gue beruntung bisa mudik gratis plus bisa jalan-jalan nemenin Lo nanti...," sahut Tomi sambil nyengir.
" Dan untung juga Kita jalan pagi, jadi bisa dapat penerbangan pagi. Bayangin kalo Kita lelet dan terpaksa ambil penerbangan siang, pasti sampe sini udah sore atau bahkan menjelang Maghrib. Itu juga masih harus nyari kendaraan buat nganter ke rumah Lo. Ditambah harus lewatin hutan kaya gini yang Gue yakin pasti serem banget pas malam, kayanya ga banget deh Bang...," kata Ranvier sambil menggedikkan bahunya.
Tak ada sahutan. Rupanya Tomi benar-benar tertidur dan itu membuat Ranvier menggelengkan kepalanya.
Ranvier kembali menatap keluar jendela. Sesekali Ranvier tersenyum saat melihat beberapa kera melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Perlahan Ranvier pun diserang kantuk hingga membuat kedua matanya terpejam.
Namun kedua mata Ranvier yang belum sempurna menutup itu kembali terbuka saat sesuatu mengejutkannya. Ranvier melihat sosok pria mirip orang Eropa melekat erat di jendela bagian luar tepat dimana dia berada. Pria itu menatap Ranvier dengan tatapan menghiba.
Dengan wajah dan kedua telapak tangan yang melekat di jendela membuat Ranvier yakin jika pria itu bukan lah manusia tapi hantu. Karena saat itu bus yang ditumpangi Ranvier sedang melaju cepat di atas jalan raya yang membelah hutan. Rasanya mustahil pria itu menempel erat di jendela tanpa terjatuh padahal tak ada perekat apa pun di sana.
" Toooloonnggg...," kata pria itu lirih hingga membuat bulu kuduk Ranvier meremang.
Ranvier pun mengerjapkan mata dan sedetik kemudian sosok pria itu lenyap begitu saja hingga membuat Ranvier menghela nafas lega. Namun tubuh Ranvier kembali menegang karena saat ia melihat ke depan, ia melihat pria Eropa itu datang mendekat kearahnya.
" Boleh duduk di sini...?" tanya pria itu sambil menunjuk tempat kosong di samping Ranvier.
Ranvier terkejut saat mengetahui kursi yang tadi diduduki Tomi kosong. Karena tak bisa menolak, Ranvier pun mengangguk sambil mengomel dalam hati karena tak mendapati Tomi di sana.
" Kemana sih Bang Tomi, pergi kok ga bilang-bilang...," gerutu Ranvier dalam hati.
" Kenalkan Saya Eugene, Kamu siapa...?" tanya pria Eropa itu sambil mengulurkan tangannya.
Ranvier menoleh kearah pria itu saat mendengar betapa fasihnya pria itu bicara menggunakan bahasa Indonesia. Ranvier masih mematung sambil mengamati pria itu dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Kenapa, apa Saya terlihat aneh...?" tanya Eugene.
" Oh ga, Saya Ranvier...," sahut Ranvier cepat sambil menjabat tangan Eugene erat.
Eugene tersenyum lalu duduk bersandar di sandaran kursi sambil menjulurkan kakinya di lantai bus. Dari tempat duduknya Ranvier bisa melihat jika Eugene tak mengenakan alas kaki. Bagian bawah celana panjangnya koyak hingga memperlihatkan sebagian kulitnya yang berwarna pucat itu.
Namun jantung Ranvier berdetak cepat saat melihat cairan berwarna merah kehitaman mengalir dari balik cel*na panjang Eugene. Tatapan Ranvier pun naik ke atas menyusuri tubuh pria Eropa itu. Ranvier terkejut saat melihat cairan berwarna merah kehitaman itu tak hanya keluar dari balik cel*na panjang tapi juga sudah menbasahi pakaian Eugene.
Dan detak jantung Ranvier seolah berhenti saat tatapannya membentur wajah Eugene. Bagaimana tidak. Saat itu Ranvier melihat wajah Eugene yang hancur seolah tengah menghadap kearahnya dengan kedua mata yang melotot dan mulut menganga.
Detik itu Ranvier tahu jika darah yang membasahi pakaian Eugene berasal dari kepalanya yang hancur itu.
" Astaghfirullah aladziim...! " kata Ranvier lantang sambil memejamkan mata.
" Kenapa Vier ?. Ranvier...!"
Tiba-tiba Ranvier mendengar suara Tomi berada dekat di sampingnya. Ia juga merasakan telapak tangan Tomi menepuk pipinya berkali-kali.
Ranvier pun memberanikan diri untuk membuka mata. Saat itu lah ia melihat wajah Tomi berada tepat di depannya. Ranvier pun mendorong wajah Tomi dengan telapak tangannya agar menjauh.
" Jangan deket-deket Bang. Mulut Lo bau karbit basi...!" kata Ranvier ketus.
Ucapan Ranvier mau tak mau membuat Tomi tertawa. Tomi kembali duduk sambil memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa. Sedangkan Ranvier tampak melengos sebal.
" Tapi bau mulut Gue berhasil bangunin Lo kan Vier...," kata Tomi di sela tawanya.
" Apaan sih Lo Bang. Gue ga tidur kok, jadi ngapain harus dibangunin segala...," sahut Ranvier.
" Masa ?. Tapi Lo tidur plus ngigo juga barusan Vier. Pake ngucap istighfar segala. Padahal kalo dipikir-pikir kenapa Lo istighfar. Kan Kita ada di tempat terbuka yang menyajikan pemandangan alam yang cantik. Harusnya Lo bertasbih atau bertahmid bukannya malah istighfar...," kata Tomi hingga mengejutkan Ranvier.
Ranvier pun menatap ke sekelilingnya dan tersenyum saat melihat gunung menjulang tinggi di kejauhan.
" Itu gunung apaan Bang...?" tanya Ranvier mengalihkan pembicaraan.
" Gunung Rinjani. Sebentar lagi Kita sampe Vier...," sahut Tomi.
" Daritadi Lo juga bilang gitu Bang. Tapi buktinya udah sejam ga nyampe-nyampe juga...," gerutu Ranvier.
" Kan Gue udah bilang kalo ga ada kendala Kita bisa cepet sampe. Tapi Lo tau sendiri, bis ini harus berhenti karena terhalang sesuatu di jalan tadi...," kata Tomi.
" Berhenti, kapan...?" tanya Ranvier tak percaya.
Bukan tanpa alasan Ranvier bertanya demikian, karena ia tak pernah merasa bus itu berhenti sekali pun di dalam perjalanan panjang mereka. Yang ada bus justru melaju cepat sejak tadi.
" Tadi...," sahut Tomi.
" Dimana...?" tanya Ranvier gusar.
" Di tengah hutan. Ada segerombolan sapi hutan melintas. Jumlahnya sampe seratusan kali, makanya bis berhenti lumayan lama tadi. Oh iya Gue lupa. Lo kan tidur ya, jadi ga tau kalo ada rombongan sapi hutan lewat di depan bis tadi...," sahut Tomi hingga membuat Ranvier mengerutkan keningnya.
Ranvier kembali membuka mulut untuk bertanya tapi dia urungkan saat supir memberitahu jika mereka telah tiba di pemberhentian terakhir.
Tomi pun bangkit lalu turun lebih dulu. Sementara itu Ranvier memilih turun paling akhir sambil mengamati situasi dalam bus. Saat itu lah pandangan Ranvier membentur percikan berwarna merah kehitaman di kursi yang tadi diduduki Tomi. Ia mengulurkan jemari tangannya untuk menyentuh cairan itu.
" Darah. Jadi tadi Gue ga mimpi kan...," gumam Ranvier panik lalu bergegas turun dari bus.
Tomi mengulurkan tangannya untuk membantu Ranvier yang terlihat sempoyongan itu.
" Lo kenapa Vier, mab*k perjalanan ?. Udah sampe tujuan kok baru mab*k, daritadi kan gapapa...," kata Tomi sambil mengerutkan keningnya.
" Gue gapapa Bang, kelamaan duduk kaki jadi kesemutan nih...," sahut Ranvier berbohong.
" Oh gitu. Ya udah, sekarang Kita jalan yuk. Deket kok dari sini...," ajak Tomi.
" Jangan bilang deket kalo masih lima kilo dari sini Bang...," kata Ranvier sambil cemberut.
" Ga lah. Kali ini emang beneran deket kok...," sahut Tomi sambil tertawa.
Ranvier pun mengangguk. Namun sebelum melangkah ia kembali menoleh kearah bus. Lagi-lagi Ranvier kembali melihat penampakan Eugene di sana. Pria Eropa itu nampak menyeringai di balik jendela tempat ia dan Tomi duduk tadi.
Kulit wajah Eugene kembali utuh namun dipenuhi darah yang berasal dari luka di mulutnya. Ranvier bergidik ngeri saat melihat luka menganga mulai dari bibir hingga ke telinga Eugene. Dan luka itu membuat rahang bawah Eugene menggantung bebas hampir terlepas.
Ranvier pun memalingkan wajahnya lalu berlari kecil menyusul Tomi yang berjalan lebih dulu.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
💎hart👑
Eugene bikin ngeri aja sih
2023-03-15
2
💎hart👑
ehh... ada ya karbit basi🤣
2023-03-15
2
Nurhayati
Oalah tak kira mau mondok ternyata liburan toh
2023-03-08
2