Hanya butuh waktu sebentar untuk tiba di kediaman orangtua Tomi.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Bayu dan semua petani, Ranvier dan Tomi pun turun dari mobil pick up itu. Sedangkan Bayu dan para petani melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman mereka masing-masing.
" Rumah orangtua Abang ya cuma begini Vier. Makanya Abang nanya sama Lo berkali-kali tadi, apa Lo yakin mau nginep di sini...," kata Tomi sambil menatap Ranvier.
Ranvier tersenyum maklum. Ia paham mengapa Tomi khawatir ia menolak menginap. Kondisi rumah orangtua Tomi memang tak sebagus rumahnya di Jakarta. Rumah orangtua Tomi terletak di desa yang masih kental dengan adat istiadatnya. Rumah di sana masih berdinding bambu dan beratap jerami.
Ranvier menepuk punggung Tomi dengan lembut untuk menyatakan kesediaannya.
" Santai aja Bang. Gue ga keberatan kok. Tapi kalo Gue ga betah, bisa kan Lo anterin Gue nyari penginapan...?" tanya Ranvier sambil menaik turunkan alisnya.
" Ck, dasar ABG labil...," gerutu Tomi hingga membuat Ranvier tertawa.
Kedatangan Tomi dan Ranvier disambut dengan suka cita oleh kedua orangtua Tomi. Bahkan Ranvier tak kuasa menahan tawa melihat Tomi merengek di dalam pelukan orangtuanya.
" Maklum lah Nak. Tomi ini kan anak bungsu. Ketiga Kakaknya sudah menikah semua dan tinggal Tomi yang masih membujang...," kata ayah Tomi.
" Iya, gapapa Pak. Saya cuma kaget aja ngeliat Bang Tomi ngerengek kaya anak kecil tadi. Biasanya kan Bang Tomi itu gahar bin sangar, sesuai banget sama penampilannya yang kaya preman itu...," sahut Ranvier di sela tawanya.
" Ga usah lebay deh Vier...," kata Tomi sambil mengurai pelukan dan mengusap wajahnya yang basah itu dengan punggung tangannya.
Kemudian Tomi mengajak Ranvier duduk dan berbincang banyak hal dengan kedua orangtuanya. Tomi juga menceritakan bagaimana antusiasnya Ranvier membantu warga panen sayuran tadi.
Sebelum adzan Maghrib berkumandang, mereka menghentikan obrolan karena ayah Tomi mengajak Tomi dan Ranvier sholat berjamaah di masjid.
" Ayo siap-siap, Kita sholat berjamaah di masjid nanti...!" kata ayah Tomi.
Tomi dan Ranvier mengangguk lalu bergegas membersihkan diri bergantian. Setelahnya Tomi dan Ranvier mengekori ayah Tomi yang berjalan lebih dulu menuju masjid.
Usai sholat Maghrib berjamaah, ayah Tomi mengajak Ranvier dan Tomi berkunjung ke rumah salah satu tetangga yang menggelar pengajian.
" Pengajian dimana Pak...?" tanya Tomi.
" Rumahnya Pak Wid. Anak perempuannya kan akan menikah sama Badrun lusa. Karena anak perempuannya cuma satu, maka Pak Wid bakal menggelar pesta untuk merayakan acara pernikahan anaknya itu. Nah sekarang diadakan pengajian sebagai rangkaian acara pernikahan...," sahut ayah Tomi.
" Wah bakal ada pesta rakyat dong Pak...," sela Ranvier antusias.
" Iya Nak. Kebetulan ya, jadi Kamu bisa sekalian ngeliat pesta adat di sini...," sahut ayah Tomi sambil tersenyum.
" Anaknya Pak Wid yang namanya Linda itu kan Pak...?" tanya Tomi memastikan.
" Betul...," sahut ayah Tomi cepat.
" Linda mau nikah sama Badrun. Bukannya Badrun udah nikah ya sama si Tissa...?" tanya Tomi.
" Oh itu. Bapak lupa bilang kalo Tissa dan Badrun ga jadi menikah. Tissa meninggal dua hari sebelum pernikahan. Dan setelah setahun lebih, akhirnya Badrun menemukan pengganti Tissa dan bisa melupakan tunangannya itu...," sahut ayah Tomi hingga mengejutkan Tomi.
" Tissa meninggal...?" tanya Tomi tak percaya.
" Iya...," sahut sang ayah.
" Kalo boleh tau Tissa meninggal karena apa Pak...?" tanya Tomi.
" Biasa lah Tom, Tissa ga sengaja melanggar pantangan. Mungkin karena lama tinggal di kota, Tisaa jadi meremehkan adat istiadat di desa ini. Seharusnya sih jangan melanggar adat. Kan Tissa akan menikah di sini, jadi ya harus mengikuti aturan yang berlaku di sini dong. Lain cerita kalo dia memang mau menikah di luar kota. Mungkin peraturannya bisa sedikit longgar...," sahut ayah Tomi yang diangguki Tomi.
Ranvier nampak menyimak cerita ayah Tomi dengan seksama. Saat itu lah ia baru mengerti jika desa itu memiliki aturan adat yang tak bisa dilanggar jika tak ingin berakhir dengan kematian.
Ranvier pun masuk ke dalam rumah yang terlihat meriah karena dihias sedemikian rupa. Rumah Pak Wid memang terlihat berbeda dibanding rumah warga desa lainnya.
" Sini Vier, jangan jauh-jauh dari Gue. Biar kalo ada apa-apa Gue bisa bantuin...," ajak Tomi sambil berbisik.
" Iya Bang...," sahut Ranvier sambil duduk merapat di samping Tomi.
" Pak Wid ini orang paling kaya di sini. Rumahnya luas, punya peternakan kuda dan ladangnya banyak. Salah satu ladang yang digarap warga ya ada di tempat Kita panen tadi Vier...," kata Tomi.
" Oh gitu...," sahut Ranvier sambil mengangguk.
Sebelum pengajian dimulai, Pak Wid memberi sedikit kata sambutan selaku tuan rumah. Saat tatap matanya membentur sosok Ranvier ia pun nampak mengerutkan keningnya. Ayah Tomi pun memperkenalkan Ranvier sebagai keponakannya yang tinggal di Jakarta.
" Assalamualaikum Bapak-bapak, kenalkan nama Saya Ranvier...," kata Ranvier dengan santun.
" Wa alaikumsalam. Semoga betah di kampung ini ya Nak...," sahut Pak Wid ramah mewakili semua warga yang tersenyum menyambut kehadiran Ranvier di sana.
" Aamiin, makasih Pak...," kata Ranvier.
" Sama-sama..., " sahut warga bersamaan.
Kemudian pengajian pun dimulai. Saat tengah mengaminkan doa yang dibacakan sang ulama desa, Ranvier kembali melihat penampakan wanita berbaju kuning yang dilihatnya di ladang tadi.
Wanita yang diyakini Ranvier sebagai hantu itu nampak berdiri di halaman rumah sambil menatap ke dalam rumah dengan mata berkaca-kaca. Penampilannya kali ini terlihat lebih menyeramkan dibandingkan saat pertama kali Ranvier melihatnya di ladang. Dan itu membuat Ranvier mendadak ingin pipis.
Menyadari Ranvier yang gelisah Tomi pun menoleh dan bertanya.
" Kenapa Vier...?" tanya Tomi.
" Gapapa Bang. Cuma kebelet pipis...," sahut Ranvier.
" Lo bisa numpang pipis di toilet kalo Lo mau Vier. Apa perlu Gue anterin...?" tanya Tomi.
" Ga usah dianterin Bang, tolong mintain ijin aja sama Pak Wid...," sahut Ranvier yang diangguki Tomi.
Saat pengajian selesai, Tomi pun bergegas mendekat kearah Pak Wid dan meminta ijin untuk ke toilet.
" Silakan Nak, toiletnya di belakang sana ya. Lewat sini boleh, atau kalo malu lewat samping juga boleh...," kata pak Wid dengan ramah.
" Saya lewat samping aja Pak...," sahut Ranvier sambil bergegas melangkah mengikuti Tomi hingga membuat Pak Wid menggelengkan kepala.
" Sayang anak perempuanku cuma satu. Kalo Linda punya adik perempuan pasti bakal Aku nikahin sama anak itu...," gumam Pak Wid sambil tersenyum.
Rupanya Pak Wid memang mengagumi Ranvier. Karena menurutnya, selain tampan Ranvier juga istimewa dengan sikap santunnya itu.
" Gue tunggu di sini ya Vier...," kata Tomi saat tiba di pintu belakang.
" Ga usah Bang, Lo ke depan aja. Ntar ditinggal sama Bapak yang ngirain Kita udah balik duluan lho...," sahut Ranvier.
" Oh iya. Tapi Lo berani kan Vier...?" tanya Tomi.
" Berani Bang. Udah buruan ke depan gih...," sahut Ranvier sambil bergegas masuk ke toilet.
Beberapa saat kemudian Ranvier pun keluar dari toilet. Ia sempat berpapasan dengan para ibu yang sibuk membantu di dapur. Ranvier pun tersenyum lalu pamit undur diri.
Saat melintas di halaman samping rumah Pak Wid, Ranvier kembali melihat penampakan wanita berbaju kuning itu. Kali ini Ranvier benar-benar takut karena wanita itu tak lagi mengenakan caping bambu di kepalanya. Rambutnya yang panjang dan kusut dibiarkan terurai hingga membuat penampilannya mirip kuntilanak.
" Aku Tissa...," kata hantu wanita itu lirih namun terdengar jelas di telinga Ranvier.
Ranvier yang ketakutan pun bergegas lari ke teras depan karena tak sanggup menghadapi hantu Tissa seorang diri.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Nurhayati
aduuh aku kok ya merinding
2023-03-08
1
Siti komalasari
sedikit -sedikit lama-lama jadi berani ya ranvier ayo semangat
2023-03-01
1
neng ade
kenapa dngn arwah Tissa.. kematian jayadi misteri.. semoga Ranvier dpt membantu nya
2023-03-01
2