Menolong Wanita Tua

Bima kemudian menceritakan pertemuannya dengan Jatmiko, namun Bima tidak menceritakan hal yang menurutnya konyol saat membeli bubur ayam; "ternyata yang di sebut bumi tidak sesederhana kelihatannya, masih ada orang yang mengolah teknik pernapasan untuk membentuk tenaga dalam, meskipun hanya sedikit. Begitu kang, dan ini bisa menjadi batu loncatan untuk memperluas dalam pencarian orangtuaku, setelah aku menyembukan dia, setidaknya dia punya utang budi jadi ketika itu terjadi aku akan meminta bantuannya, dan aku yakin orang bernama Jatmiko cukup berpengaruh", kata Bima mengakhiri perkataanya.

"Kamu yakin akan menolongnya..!! lagian orang itu baru saja kamu kenal, meskipun ada niat baik harus di lihat dulu apakah dia orang baik atau tidak. Dan barusan kamu bilang bisa mempermudah pencarian orangtuamu dengan bantuan dia. Itu ide bagus kata Wira , akan tetapi masalah untuk membantu lebik baik pikirkan lagi."

"Aku sudah memikirkannya kang, akang tidak perlu khawatir aku tidak akan langsung menyembuhkan, dan juga sekarang-sekarang ini." Bima meyakinkan saudaranya.

"jadi.. mata Wira sedikit menyipit lalu tersenyum, oke aku setuju. lalu soal kita belajar bagaimana..?"

"Tetap kita lanjut kang." Bima tersenyum.

"Siap", Wira mengangkat jempolnya.

"Tadi kamu meninggalkanku membuatku bosan, jadi bagaimana kalau kita keluar siapa tahu ada hal aneh lainnya seperti yang kamu temui tadi." Wira berbicara kembali pada Bima.

"Iya kang boleh tapi aku mau mandi dulu." kata Bima.

Akhirnya keduanya telah sepakat untuk keluar dan melihat keadaan bumi juga memperluas wawasannya, Bima lalu mandi sedangkan Wira menunggunya di luar. Beberapa saat kemudian Bima udah turun dari lantai atas, lalu menemui Wira.

Saat mereka akan keluar seorang pelayanan menanyakannya; "mau kemana aden berdua ini..?"

"Oh ini bi aku dan kang Wira ingin keluar melihat suasana kota ini di siang hari, kalau nyonya menanyakan kata saja, juga bilang pada tuanmu bila sudah datang;" Ucap Bima.

"Hati-hati jangan terlalu jauh, aden baru saja disini jadi belum mengenal secara keseluruhan kota Mawar ini. Nanti aku sampaikan pada Nyonya dan Tuanku bila menanyakannya." Pelayan mengangguk lalu pergi.

Bima dan Wira kemudian pergi, setengah jam kemudian mereka berdua sampai di pinggir jalan, namun mereka terus berjalan diwajah mereka penuh kekaguman dengan kemajuan teknologi di bumi. Jalan raya yang besar banyaknya kendaraan berlalu lalang, mereka berdua berhenti lalu duduk setelah ada halte diperempatan lampu merah.

Bima dan Wira juga melihat banyak yang menyebrang setelah ada lampu merah, namun ada juga beberapa tempat telah di sediakan jempatan penyebrangan untuk memudahkan mereka. Saat itu lampu merah masih menyala ada seorang wanita tua memakai tongkat sedang menyebrang, pas pertengahan jalan; lampu sudah hijau didepan wanita tua ada mobil akan maju dan tanpa disadari oleh pemilik mobil saat akan maju.. tongkat yang dipegang wanita tua terserempet dan wanita tua berteriak lalu jatuh..

"Aaaaaaaaaa...." tolooong....." tolong...

Pemilik mobil bukannya merasa bersalah atau menolongnya, malah membentak wanita tua itu. "Orang tua cepat bangun jangan halangi jalan mobilku"

"Maaf".. Winita tua itu ketakutan, mencoba berdiri namun tidak bisa karena tongkatnya sudah patah, tatkala tangannya akan menempel di mobil untuk menopang supaya bisa bangun.

pemilik mobil semakin marah lalu kakinya menendang tangan wanita tua, lalu berteriak; "beraninya kamu orang tua menyentuh mobilku."

"gedebuk" , "aduh" suara orang jatuh serta jeritan rasa sakit tedengar ditengah jalan, namun orang-orang yang melihat baik di mobil, maupun dipinggir jalan semuanya cuek, seolah-olah itu kejadian biasa. Dan Ini membuat jalanan macet suara klakson baik motor maupun mobil saling bersahutan.

"Cepat minggir kalian jangan ribut ditengah jalan, membuat macet saja." Seseorang berteriak ditengah-tengah kemacetan.

Pemilik mobil matanya melotot melirik kesana kemari untuk mencari siapa yang berani ikut campur, namun tidak melihatnya. karena sudah marah pemilik mobil membentak kembali wanita tua; "gara-gara kau wanita tua aku terlambat menemui pacarku, juga dimarahi."

Setelah berkata seperti itu pemilik mobil yang ternyata seorang pemuda, berniat menendang kembali, kakinya sudah diangkat lalu melayangkannya, namun sebelum kakinya nyampai sudah ada yang menahannya setelah ditahan, orang itu mendorongnya. Pemuda pemilik mobil terjerembab kebelakang lalu jatuh.

"Gedebuk... Aaahh"

"Siapa kau berani-beraninya ikut campur tangan" mata pemuda melotot.

Ternyata yang menolong wanita tua itu Bima, "Siapa aku... kau tidak layak mengetahuinya." Bima tersenyum sinis.

Wira sementara membantu wanita tua dan membangunkannya kemudian menuntunnya kepinggir jalan menuju halte; "Ayo bu kita kepinggir dulu disini sudah semakin macet" ucap Wira

"Terimakasih nak." wanita tua mengangguk.

Wira terus menuntun wanita tua sampai halte kemudian berkata; "Apa ibu bisa duduk sendiri, kalau tidak bisa biarkan aku membantumu."

"Ibu masih bisa nak terimaksih." wanita tua membalasnya kemudian duduk meskipun mulutnya sedikit meringis karena pinggangnya masih terasa sakit serta tangan kanannya sedikit bengkak akibat dapat tendangan dari pemilik mobil.

"Nak! itu teman kamu kan..? kenapa kamu tidak membantunya; Ibu sudah apa-apa." wanita tua berbicara wajahnya cemas pada Wira, dan tangannya menunjuk ke arah Bima.

"Itu bukan teman tapi saudaraku bu, Akan tetapi ibu tidak perlu khawatir saudaraku yang satu ini sangat kuat." Wira dengan penuh percaya diri.

"Tapi nak..."

"sudah lebih baik ibu lihat saja." Wira menahan perkataan ibu itu dengan telunjuk jari di tempelkan ke bibirnya.

Perempatan jalan semakin macet dan orang-orang semakin banyak yang melihat, ada yang ingin tau apa yang terjadi, ada juga ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya setelah melihat kejadian. Sementara pihak kepolisian belum satupun ada yang datang, mungkin karena waktu jam istirahat.

"Apa yang terjadi kenapa jalanan macet;" seseorang yang baru saja datang bertanya keheranan.

"Apa kamu belum tahu tadi seorang ibu-ibu memakai tongkat menyebrang jalan, namun ditengah jalan lampu sudah hijau, akhirnya ibu itu terserempet mobil dan pemilik mobilnya marah-marah bahkan menendangnya, coba kamu lihat kedua pemuda itulah yang menolongnya." Seseorang dengan bangga menjelaskan kronologinya, sambil menunjuk kearah Bima dan Wira.

"Apa kamu belum tahu siapa aku..?" pemuda itu berteriak lalu berdiri.

"Aku tidak perlu tahu siapa kamu, yang aku tahu kamu bukan manusia." Bima berkata dengan kejam..

"Kau..kau..." pemuda itu menunjuk gemetar karena marah dianggap bukan orang.

"Kenapa.? kamu marah..!! aku jelas lebih marah melihat kelakuanmu seperti bukan orang, jelas-jelas kau yang salah menyerempet ibu itu sampai tongkatnya patah, kenapa kamu malah memarahi dan menendangnya, apa itu yang disebut orang!!" Bima masih tetap dengan nada kejamnya.

"Kalian cepat minggir jangan adu mulut, ini semakin macet.." seseorang berteriak karena kesal.

Bima tidak melirik maupun menengok kebelakang malah berkata; "Kalau sejak awal kalian tahu bila kejadian ini bakal macet, kenapa tidak segera membantu ibu itu. kenapa kalian hanya diam seolah-olah ini sudah menjadi hal biasa..!!"

Setelah mendengar perkataan Bima, kerumunan terdiam, bahkan orang berteriak tadi langsung menundukan kepalanya.

"Dia telah menggores mobilku, lalu lampu sudah hijau, jadi aku pantas memarahinya." pemuda itu mencoba membela diri.

"Ha...ha..ha..ha.."

"Hanya karena mobilmu lecet sedikit dan lampu sudah hijau, jadi kamu bisa semena-mena bertindak, ini adalah negara hukum setiap ada yang mau nyebrang maka mobil harus mematuhi aturan dengan cara berhenti membiarkan orang menyebrang dahulu. Apa kau mengerti..?" Bima tertawa dan seolah-olah dia ngerti hukum.

Pemuda itu mendongak, wajah sudah merah karena marah, alibinya tidak mempan terhadap Bima. lalu pemuda tersebut mengepalkan tangan dan langsung menyerangnya, kepalan tangan dengan lurus melaju hendak memukul wajah Bima.

Bima hanya tersenyum sinis dan tetap diam.

Saat tinju sudah mendekat, Bima hanya mengangkat jari lalu menahannya setelah itu kakinya di angkat langsung menendang kearah perut..

"Buk"

Terdengar suara tendangan, pemuda itu langsung terpental, Bima berpura-pura mundur badan sedikit jongok, tangan kanannya menyentuh aspal lalu mengambil kerikil, tanpa sepengetahuan orang yang melihat, dengan cepat Bima menjentikan kerikil dan tepat mengenai salah satu titik sehingga seluruh urat saraf menjadi lumpuh total juga kemungkinan besar koma selamanya. Kemudian pemuda itu jatuh dan pingsan seketika.

"Hanya sekali tendangan dia...dia.. langsung pingsan!!"

"Hebat.. sungguh hebat"

"Benar apa katamu dia hebat"

Semua kerumunan saling berseru kaget.

"Lihat bu, benarkan saudaraku sangat kuat, hanya sekali tendang dia langsung pingsan." Wira tersenyum bangga ketika berbicara pada wanita tua.

"Tapi ini urusannya bakal panjang nak" kata wanita tua.

"kenapa harus panjang" Wira keheranan.

Wanita tua hanya mengela napas... "Siapa namamu nak..?"

"Aku Wira dan itu adikku Bima, nama Ibu siapa kalau aku boleh tahu;" Wira menjawabnya sambil menunjuk kearah Bima.

"Namaku Lasmi, Wira apa kamu belum tahu siapa orang telah adikmu di buat pingsan." bu Lasmi berwajah tegang karena tahu siapa pemuda yang di buat pingsan oleh Bima.

"Tidak tahu memangnya siapa..? Aku tidak peduli siapapun dia." Wira berkata serius.

"Lebih baik bawa aku kesana sebelum terlambat." Bu Lasmi dengan cemas.

Terpopuler

Comments

Fatkhur Kevin

Fatkhur Kevin

anaknya jatmiko

2023-06-05

10

Rinz

Rinz

hajar

2023-02-25

14

Elis

Elis

bunuh aja

2023-02-25

13

lihat semua
Episodes
1 Dunia Lain
2 Bumi
3 Sang Terpilih
4 Sang Terpilih 2
5 Keluar Dari Desa Misterius
6 Balas Dendam
7 Balas Dendam 2
8 Terlepas Dari Kematian
9 Obat Ajaib
10 Tibanya Rombongan Abah Rukma
11 Keputusan
12 Kebangkitan Bagaspati
13 Kota Mawar
14 Apa Yang Terjadi
15 Jatmiko
16 Joging
17 Menolong Wanita Tua
18 Berurusan Dengan Polisi
19 Surya
20 Keadilan
21 Terbebas Dari Hukuman
22 Kerinduan Seorang Ibu
23 Kejadian Tak Terduga
24 Menggagalkan Rencana
25 Ikut Andil
26 Barang Bukti
27 Menyembuhkan Seorang Anak
28 Makan bersama Warga
29 Menyelesaikan Masalah Kecil
30 Geng Srigala Hitam
31 Tamu Sengit
32 Tamu Sengit 2
33 Terkejut
34 Meminta Maaf
35 Misteri Barang Kuno
36 Kompensasi
37 Kompensasi 2
38 Rencana
39 Ruang Bawah Tanah
40 Penyelamatan Arya Mahesa
41 Guru Dan Murid
42 Perawatan Medis
43 Perawatan Medis 2
44 Taruhan
45 Pertempuran
46 Menyembuhkan Nenek Lastri
47 Penjelasan Diagnosis
48 Reputasi Mulai Menyebar Luas
49 Merasa Lega
50 Mengobati penyakit Kanker 1
51 Mengobati Penyakit Kanker 2
52 Serangan Malam
53 Kelompok Kelalawar Merah
54 Intrik Keluarga Arsha
55 Intrik Keluarga Arsha 2
56 Buat Kesepakatan
57 Berakting
58 Peringatan
59 Tidak Berani Menghentikannya
60 Perubahaan Besar Desa Cisaat
61 Enam Bulan
62 Lelang Tender
63 Kejadian Di Gedung Kosong 1
64 Kejadian Di Gedung Kosong 2
65 Kejadian Di Gedung Kosong 3
66 Lelang 1
67 Lelang 2
68 Paman Terimalah
69 Apa Yang Terjadi
70 Melawan Para Begal
71 Membereskan Semuanya
72 Mengunjungi Rumah Sakit
73 Teknik Akupuntur Tingkat Dewa
74 Pinggiran Hutan Larangan
75 Susunan formasi
76 Jebakan
77 Segel Kontrak
78 Goa Larangan
79 Goa Larangan 2
80 Goa Larangan 3
81 Berbagi Harta Karun
82 Satu Set Pelatihan
83 Sangat Merepotkan
84 Latar Belakang
85 Tidak Percaya
86 Apa Aku Pernah Berbohong Padamu?
87 Cobalah Bernafas
88 Kondisi Luka Dalam
89 Perawatan
90 Perawatan 2
91 Keberuntungan Sidik Permana
92 Tujuh Brewok 1
93 Tujuh Brewok 2
94 Tujuh Brewok 3
95 Tujuh Brewok 4
96 Psikologis
97 Pertaruhan
98 Tidak Akan Menjual Hasil Buruan
99 Kitab Tertinggi
100 Perampokan Di Dalam Bis
101 Perampokan Di Dalam Bis 2
102 Jangan Halangi Jalan
103 Aku Menolak
104 Kalian Boleh Pergi
105 Dasar Bodoh
106 Jangan Mimpi
107 Terkejut
108 Misran Katili
109 Vaola Purwa
110 Apa Layak Disebut Master?
111 Mengalahkan Misran Katili
112 Permintaan
113 Lukisan Desain Rumah
114 Lama Tidak Berjumpa
115 Menagih Utang
116 Kejadian Tak terduga
117 Masih Suci
118 Tanggung Jawab
119 Siapa Gurumu?
120 Pulau Rakata
121 Bima Pawitra Vs 10 orang
122 Bima Pawitra Vs 10 Orang (bag 2)
123 Menyantroni Markas Benta Dan Bento 1
124 Menyantroni Markas Benta Dan Bento 2
125 Menghajar Benta Dan Bento
126 Bayangan Hitam
127 Hancurnya Bayangan Hitam
128 Cermin Dewa
129 Masa Bodoh
130 Terlihat Rapuh
131 Sangat Keren
132 Investigasi
133 Guru Terima Aku
134 Resep Obat Vitalitas
135 Di Atur Oleh Orang Lain
136 Tidak Tahu Malu
137 Pertemuan Dengan Neng Rossi
138 Sidik Permana Jadi Murid
139 Masdar Katili
140 Merah Delima.
141 Sudah Terlambat
142 Seni Rahasia Pemurnian Jiwa
143 Biarkan Aku mencobanya
144 Sepasang Wallet Putih
145 Menantang Array Seribu Revolusi
146 Menantang Array Seribu Revolusi 2
147 Menantang Array Seribu Revolusi 3
148 Menantang Array Seribu Revolusi 4
149 Menantang Array Seribu Revolusi 5
150 Tidak Ada Yang Perlu Di Jawab
151 Berbeda
152 Fahri Abbas
153 Biarkan Semuanya Terjadi Secara Alami
154 Sikap Terpuji
155 Meminta Maaf
156 Bima Pawitra Vs Banjar Segara
157 Bima Pawitra Vs Banjar Segara 2
158 Kemenangan
159 Aku Hanya Ingin Sendirian
160 Kekesalan Mayang Sari
161 Sesombong Itu!
162 Laut Angker
163 Laut Angker 2
164 Lelang Cahaya Mentari
165 Ginseng 1000 Tahun
166 Waktu Yang Tepat Untuk Penawaran
167 Ceritakan Identitas Kalian
168 Berlatih
169 Apakah Itu Nyata?
170 Perbedaan Tingkat Binatang Buas
171 Membunuh Buaya Putih
172 Memasuki Hutan Angker
173 Ular Batu Vs Musang Madu
174 Si Kepala Baja
175 Panen Besar
176 Ibu
177 Menyelamatkan Seorang Anak 1
Episodes

Updated 177 Episodes

1
Dunia Lain
2
Bumi
3
Sang Terpilih
4
Sang Terpilih 2
5
Keluar Dari Desa Misterius
6
Balas Dendam
7
Balas Dendam 2
8
Terlepas Dari Kematian
9
Obat Ajaib
10
Tibanya Rombongan Abah Rukma
11
Keputusan
12
Kebangkitan Bagaspati
13
Kota Mawar
14
Apa Yang Terjadi
15
Jatmiko
16
Joging
17
Menolong Wanita Tua
18
Berurusan Dengan Polisi
19
Surya
20
Keadilan
21
Terbebas Dari Hukuman
22
Kerinduan Seorang Ibu
23
Kejadian Tak Terduga
24
Menggagalkan Rencana
25
Ikut Andil
26
Barang Bukti
27
Menyembuhkan Seorang Anak
28
Makan bersama Warga
29
Menyelesaikan Masalah Kecil
30
Geng Srigala Hitam
31
Tamu Sengit
32
Tamu Sengit 2
33
Terkejut
34
Meminta Maaf
35
Misteri Barang Kuno
36
Kompensasi
37
Kompensasi 2
38
Rencana
39
Ruang Bawah Tanah
40
Penyelamatan Arya Mahesa
41
Guru Dan Murid
42
Perawatan Medis
43
Perawatan Medis 2
44
Taruhan
45
Pertempuran
46
Menyembuhkan Nenek Lastri
47
Penjelasan Diagnosis
48
Reputasi Mulai Menyebar Luas
49
Merasa Lega
50
Mengobati penyakit Kanker 1
51
Mengobati Penyakit Kanker 2
52
Serangan Malam
53
Kelompok Kelalawar Merah
54
Intrik Keluarga Arsha
55
Intrik Keluarga Arsha 2
56
Buat Kesepakatan
57
Berakting
58
Peringatan
59
Tidak Berani Menghentikannya
60
Perubahaan Besar Desa Cisaat
61
Enam Bulan
62
Lelang Tender
63
Kejadian Di Gedung Kosong 1
64
Kejadian Di Gedung Kosong 2
65
Kejadian Di Gedung Kosong 3
66
Lelang 1
67
Lelang 2
68
Paman Terimalah
69
Apa Yang Terjadi
70
Melawan Para Begal
71
Membereskan Semuanya
72
Mengunjungi Rumah Sakit
73
Teknik Akupuntur Tingkat Dewa
74
Pinggiran Hutan Larangan
75
Susunan formasi
76
Jebakan
77
Segel Kontrak
78
Goa Larangan
79
Goa Larangan 2
80
Goa Larangan 3
81
Berbagi Harta Karun
82
Satu Set Pelatihan
83
Sangat Merepotkan
84
Latar Belakang
85
Tidak Percaya
86
Apa Aku Pernah Berbohong Padamu?
87
Cobalah Bernafas
88
Kondisi Luka Dalam
89
Perawatan
90
Perawatan 2
91
Keberuntungan Sidik Permana
92
Tujuh Brewok 1
93
Tujuh Brewok 2
94
Tujuh Brewok 3
95
Tujuh Brewok 4
96
Psikologis
97
Pertaruhan
98
Tidak Akan Menjual Hasil Buruan
99
Kitab Tertinggi
100
Perampokan Di Dalam Bis
101
Perampokan Di Dalam Bis 2
102
Jangan Halangi Jalan
103
Aku Menolak
104
Kalian Boleh Pergi
105
Dasar Bodoh
106
Jangan Mimpi
107
Terkejut
108
Misran Katili
109
Vaola Purwa
110
Apa Layak Disebut Master?
111
Mengalahkan Misran Katili
112
Permintaan
113
Lukisan Desain Rumah
114
Lama Tidak Berjumpa
115
Menagih Utang
116
Kejadian Tak terduga
117
Masih Suci
118
Tanggung Jawab
119
Siapa Gurumu?
120
Pulau Rakata
121
Bima Pawitra Vs 10 orang
122
Bima Pawitra Vs 10 Orang (bag 2)
123
Menyantroni Markas Benta Dan Bento 1
124
Menyantroni Markas Benta Dan Bento 2
125
Menghajar Benta Dan Bento
126
Bayangan Hitam
127
Hancurnya Bayangan Hitam
128
Cermin Dewa
129
Masa Bodoh
130
Terlihat Rapuh
131
Sangat Keren
132
Investigasi
133
Guru Terima Aku
134
Resep Obat Vitalitas
135
Di Atur Oleh Orang Lain
136
Tidak Tahu Malu
137
Pertemuan Dengan Neng Rossi
138
Sidik Permana Jadi Murid
139
Masdar Katili
140
Merah Delima.
141
Sudah Terlambat
142
Seni Rahasia Pemurnian Jiwa
143
Biarkan Aku mencobanya
144
Sepasang Wallet Putih
145
Menantang Array Seribu Revolusi
146
Menantang Array Seribu Revolusi 2
147
Menantang Array Seribu Revolusi 3
148
Menantang Array Seribu Revolusi 4
149
Menantang Array Seribu Revolusi 5
150
Tidak Ada Yang Perlu Di Jawab
151
Berbeda
152
Fahri Abbas
153
Biarkan Semuanya Terjadi Secara Alami
154
Sikap Terpuji
155
Meminta Maaf
156
Bima Pawitra Vs Banjar Segara
157
Bima Pawitra Vs Banjar Segara 2
158
Kemenangan
159
Aku Hanya Ingin Sendirian
160
Kekesalan Mayang Sari
161
Sesombong Itu!
162
Laut Angker
163
Laut Angker 2
164
Lelang Cahaya Mentari
165
Ginseng 1000 Tahun
166
Waktu Yang Tepat Untuk Penawaran
167
Ceritakan Identitas Kalian
168
Berlatih
169
Apakah Itu Nyata?
170
Perbedaan Tingkat Binatang Buas
171
Membunuh Buaya Putih
172
Memasuki Hutan Angker
173
Ular Batu Vs Musang Madu
174
Si Kepala Baja
175
Panen Besar
176
Ibu
177
Menyelamatkan Seorang Anak 1

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!