"Jadi kalian berdua baru saja keluar dari desa dan belum tau kemana akan kalian tuju.." Jaya Arsha dengan wajah herannya bertanya pada Bima dan Wira, saat mereka sedang menunggu orang yang akan menjemputnya.
Bima dan Wira hanya "mengangguk."
"Bagaimana kalau kalian nanti ikut denganku ke kota Mawar, dan kalau boleh tahu adik-adik ini lulusan apa? siapa tahu, aku bisa membantu mencari pekerjaan buat kalian." Jaya Arsha melihat pada Bima Dan Wira.
"Aku dan Kang Wira tidak sekolah" ucap Bima.
Jaya Arsha langsung tercengang ketika mendengar perkataan Bima. "Apa kalian tidak berbohong padaku!"
"Tidak" Bima tersenyum.
Jaya Arsha mencoba menelisik kedua wajah penolong itu, apakah berbohong atau tidak; namun tidak menemukan kebohongan, kemudian bertanya kembali karena penasaran; "alasannya..?"
"Di kampung kami tidak ada sekolah", ucap Bima.
"Bagaimana mungkin ini sudah jaman modern, walaupun sangat jauh dari kota setiap kampung dan desa pasti sudah ada sarana pendidikan, meskipun itu hanya sekolah dasar;" Jaya Arsha sedikit berteriak seolah-olah tidak percaya.
"Kami tidak tahu, dengan entengnya Wira berkata; tapi jangan khawatir, meskipun tidak sekolah kami bisa membaca dan menghitung, tahu mana yang benar dan salah."
"Soal bisa membaca dan menghitung itu bukan alasan tidak mau sekolah, karena di jaman ini pendidikan adalah hal utama, setelah mendapatkan ijazah kelulusan maka bisa melamar pekerjaan, kalau beruntung diterima di perusahaan besar. Tapi itu masuk akal juga karena di desa kalian tidak ada sekolah." Jaya Arsha tersenyum kecut
"begitulah" Bima menyahutnya.
"Setelah Kang Jaya tahu bahwa kami tidak sekolah apalagi memiliki Ijazah kelulusan, apa kang Jaya bisa membantu kami mendapatkan pekerjaan" Wira senyam senyum.
Jaya Arsha pura-pura mikir, ibu jarinya menyentuh dagu dan manggut-manggut lalu berkat. "Bisa karena memang dari awal aku memiliki rencana untuk mencarikan pekerjaan kalian, dengan posisi sesuai dengan keahlian kalian, namun aku tidak menyangka ternyata kalian tidak sekolah; akan tetapi tidak perlu khawatir, dipastikan kalian berdua akan mendapatkan pekerjaan."
"Lalu apa diantara kalian berdua bisa stir mobil..?" Jaya Arsha menatap ke arah Bima dan Wira
"Motor saja tidak bisa apalagi mobil, di kampung kami bahkan listrikpun tidak ada, jadi kami tidak ada keahlian apapun." dengan santainya Bima berucap.
"Apaaaa....?"
"kamu tadi bilang listrikpun tidak ada, sungguh aneh desa kalian. Wajar jika tidak bisa stir mobil.. tapi ini motor dan listrikpun tidak ada, sebenarnya kalian itu berasal dari desa mana.!" Jaya Arsha sangat bingung juga kaget."
"Tidak perlu sekaget itu, kami sudah terbiasa hidup seperti ini." kata Bima yang tetap dengan wajah santainya.
"Aku menduga kalian berdua berasal dari suku atau desa terpelosok sehinga tidak tersentuh oleh kemajuan teknologi, setelah aku menganalisa dari pembicaraan tadi, apa aku benar." Jaya Arsha mengangkat alis
"Bisa iya bisa tidak." ucap Wira
"tapi aku masih tidak yakin kalau mereka berasal dari desa terpelosok, karena menurut Abah; tidak ada kampung apalagi desa setelah desa Sinar, sudahlah mungkin mereka punya rahasianya sendiri" begitulah dugaan Jaya Arsha dalam lamunannya.
"Kenapa kamu melamun!!," apa akan tetap mencarikan bekerjaan buat kami, Wira menegurnya.
"Oh iya pas...pasti", Jaya Arsha terperanjat sampai gugup.
Bima Pawitra membuka retsleting tas selempang, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil seukuran jari telunjuk, kemudian menyerahkan ke Jaya Arsha.
"Apa ini?" Jaya Arsha tidak langsung menerimanya.
"Ini hanya salep putih biasa obat ringan, tadi aku lihat istrimu saat aku menyerahkan anak kalian ada beberapa memar, jadi berikan pada istrimu dan oleskan supaya memar-memarnya cepat sembuh, juga bisa mengobati luka yang ada di jidatmu kang." Bima menyerahkan botol berisi salep ke Jaya Arsha.
Setelah mengatahui botol itu hanya salep biasa untuk mengobati luka memar, Jaya Arsha akhirnya menerimanya dan tersenyum kecut karena mendengar kata-kata terakhir dari Bima.
"Olesi dulu luka di jidatmu kang." Bima berbicara sambil senyam senyum."
"Ah iya..iya.." Jaya Arsha kemudian membuka tutup botol, dan langsung tercium aroma obat namun juga wangi, lalu dengan mencelupkan ujung jarinya Jaya Arsha mengoleskan ke jidat yang terluka, terasa dingin saat di oleskan dan yang membuat terkejut lukanya langsung mengering. "Ini...ini...ini luka ku langsung sembuh; Sungguh Obat ajaib." Jaya Arsha kaget juga senang
Jaya Arsha bangkit dari duduknya dan menghampiri istrinya yang sedang menyusui, lalu berkata, "istriku ini ada obat ajaib beruapa salep yang manjur pemberian dari adik Bima, akang sudah mencobanya dan lihat di jidat akang luka sudah mengering."
"Benar luka akang telah sembuh" kata Lina ketika melihat luka suaminya sembuh.
"Akang olesi ya!" ucap Jaya Arsha.
Lina hanya mengangguk, setelah beberapa saat di olesi luka memar yang terlihat bengkak sudah mulai mereda.
"Kang tolong bilangin ke penolong itu! aku tidak bisa ikut menemaninya mengobrol bersama." kata Lina.
Iya akang akan bilang kamu tetap disini jaga anak kita, dan kemungkin kang Pardi akan segera tiba." Jaya Arsha mengelus rambut Lina.
Jaya Arsha kembali ketempat semula setelah berbicara pada istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
ikmaliq
Mantabz 👍
2023-03-19
12
Sutisna
menarik
2023-02-24
12