Tanpa terasa sudah tiga hari berlalu, di dalam sebuah kamar ada seorang pemuda tampan. Yaitu Bima Pawitra yang sedang bermeditasi akhirnya membuka matanya, secara perlahan-lahan menghirup napas, kemudian membuangnya... "Akhirnya selesai juga, aku sudah menstabilkan kekuatanku, dengan kitab pemberian Kakek dan telah aku pelajari secara sempurna, aku mencoba mengubah tenaga dalam menjadi energi Qi dan berhasil, meskipun baru seribu lingkaran tenaga dalam yang aku ubah tapi ini sungguh luar biasa". He..he..he.. Bima Pawitra bergumam sambil terkekeh-kekeh; karena merasa senang atas keberhasilannya.
Pada Awalnya Bima Pawitra belum bisa mengubah dari tenaga dalam menjadi energi Qi, meskipun dia sudah tahu dari kitab pemberian Kakeknya akan tetapi belum bisa mengubahnya. namun saat menstabilkan kekuatan dan mencoba mempelajari kembali akhirnya bisa mengubah tenaga dalam menjadi energi Qi.
Perlu di ketahui perbandingan antara tenaga dalam, dan Qi adalah; seratus lingkaran tenaga dalam sama dengan satu helai Qi. Bima Pawitra memiliki tenaga dalam sebesar lima ribu lingkaran tenaga dalam, dan dia baru bisa mengubahnya seribu lingkaran tenaga dalam saja, menjadi sepuluh helai energi Qi.
"Aku harus menambah lagi energi Qi di dalam tubuhku, kalau bisa seluruh tenaga dalam milikku dari lima ribu lingkaran tenaga dalam, menjadi energi Qi semua dan Kakek pernah bilang bahwa di bumi hampir tidak ada energi yang bisa di serap menjadi tenaga dalam, itu akan membuatku kesulitan saat tenaga dalamku habis, namun energi Qi tidak akan cepat habis meskipun di gunakan secara berlebihan", pikir Bima Pawitra
Kemudian Bima menutup matanya melanjutkan meditasinya, hanya untuk mengubah tenaga dalam menjadi energi Qi, meskipun sudah tiga hari dia tidak keluar dari kamarnya.
Sementara Bima melanjutkan meditasinya, Kakek Alam dan Wira Bumi sedang menunggunya, karena sudah waktunya dia keluar; akan tetapi yang ditunggu tidak keluar. "Kek kenapa Bima belum keluar padahal menurut kakek sudah saatnya untuk keluar setelah tiga hari menstabilkan kekuatannya" Kata Wira Bumi, memecahkan keheningan ditambah Wira cukup bosan dalam menunggu".
"Tunggu sebentar Kakek akan melihatnya; ucpa Kakek Alam.
Kemudian Kakek Alam menutup matanya dengan menggunakan ilmu penerawangan maka siapapun yang ingin di lihat, meskipun jauh selama masih dalam wilayahnya akan keliatan. Dibenak Kakek Alam; terlihat dengan jelas apa yang di lakukan Bima Pawitra, "ternyata dia masih melanjutkan meditasinya. Tunggu-tunggu.. oh ternyata begitu dia sedang mengubah tenaga dalam menjadi energi Qi, jadi inilah alasanya belum keluar, bagus nak; Kakek akan tetap menunggumu sampai selesai," kata kakek Alam dalam hatinya".
Kakek Alam membuka matanya kembali setelah mengetahui yang telah dilakukan Bima di dalam kamarnya, kemudian berkata; "Wira untuk sementara kita harus tetap menunggu karena tadi apa yang kakek lihat, Bima masih bermeditasi."
"Baik Kek"; Wira Bumi menyahutnya dengan patuh.
Bima Pawitra di dalam Kamarnya, seluruh tubuhnya di selimuti oleh cahaya keemasan, menandakan sedang terjadi perubahan energi; dari tenaga dalam menjadi Qi, lambat laun cahaya keemasan mulai menyusut sampai akhirnya, seluruh cahaya keemasan menghilang dan masuk ketubuh Bima Pawitra.
Meditasipun akhirnya telah selesai.
"Meskipun belum semuanya aku ubah menjadi Qi, akan tetapi ini sudah lebih dari cukup, sisa tenaga dalamku tidak akan aku ubah untuk sementara waktu; karena kepergianku sudah mendesak, mungkin kakek sudah menunggu terlalu lama ," Bima dalam hatinya.
Lalu berdiri dari silanya sambil merentangkan kedua tanganya keatas, Bima mulai melangkah keluar lalu membuka pintu kamarnya; terdengar suara *klik* saat pintu terbuka. Karena rumah Kakek Alam kecil jadi, hanya beberapa langkah sudah ada di ruangan depan; terlihat oleh Bima ada dua orang yang duduk melamun, seperti sedang menunggu seseorang.
Bima berhenti melangkah setelah berada di hadapan Kakek Alam dan Wira Bumi, kemudian Bima berkata sambil menelangkupkan kedua tangannya; "Maafkan Cucumu ini Kek, karena terlambat untuk menyelesaikan meditasiku."
Tiba-tiba suara tawa menggelegar; "ha...ha..ha..ha... ha.. akhirnya kau sudah keluar adik, kakangmu sudah menunggu terlalu lama disini bersama kakekmu." Wira Bumi tawanya yang menggelegar".
"Oh... Kakang Wira! Kamu ada disini juga?" Bima dengan ekspresi wajah yang kaget.
"Sudah-sudah kamu duduk dulu nak," Kakek Alam sambil tersenyum",
"Iya Kek!" Bima menyahutnya lalu duduk.
"Karena Bima sudah ada disini, sudah saatnya membahas rencananya," ucap Kakek Alam.
"Baik Kek!" Bima dan Wira menyahutnya bersamaan.
Kemudian Kakek Alam berkata kembali; "Untukmu Bima karena sudah menyelesaikan dalam menstabilkan kekuatanmu, jadi sudah saatnya kamu kembali ke duniamu dan menyelesaikan urusan yang ada dibumi, mencari keberadaan orang tuamu, dan kamu akan di temani oleh Wira".
"Baik Kek aku sudah siap! oh jadi di temani oleh kakang Wira boleh juga Kek", Bima menyahut perkataan Kakeknya dan tersenyum.
Sementara Wira Bumi tersenyum juga, dan Kakek Alam hanya menganggukan kepalanya kemudian berkata kembali; "Sebagai bekal perjalanmu nanti kakek sudah menyiapkan segala sesuatunya."
"Ah itu tidak diperlukan Kek," Bima langsung menyela perkataan Kakeknya.
"Kamu ini dengarkan dulu sampai selesai yang akan dikatakan oleh Kakekmu," kata Wira ikut nimbrung..!!"
"Kalian berdua dengarkan baik-baik, dan berhenti saling menyela." ucap Kakek Alam dengan sikap tegasnya;"
Bima dan Wira akhirnya terdiam.
Kemudian Kakek Alam mengangkat kedua tangannya dan meraih lehernya sendiri, ternyata Dia mengambil kalung yang terlilit di lehernya; sebuah kalung berawarna hitam, seperti terbuat dari kain; namun sebenarnya kalung Kakek Alam terbuat dari urat Naga, ditengah kalung ada kotak hitam, atau seperti tas kecil seukuran dua jari orang dewasa, kemudian kakek Alam menyerahkan kalung hitam tersebut pada Bima, lalu berkata; "di dalam tas penyimpanan ini segala kebutuhanmu sudah tersedia, silakan ambilah nak."
Tangan sedikit gemetar Bima meraih kalung hitam dan mengambilnya. "Terimakasih Kek atas pemberian ini", ucap Bima.
"Ya.. periksalah dahulu nak", Kakek Alam mengangguk
Bima Pawitra pun, mulai memeriksa tas penyimpanan; cukup menyentuhnya di tambah sedikit menyalurkan energi Qi, terlihat jelas oleh Bima dengan wajah tercengang, karena didalam tas penyimpanannya ada tumpukan barang yang banyak. "Ini terlalu banyak," pikir Bima.
Kakek Alam tidak menunggu reaksi Cucunya, setelah melihat tas penyimpanan. "Sekarang kalian berdua ganti pakaian, supaya saat kalian berada di bumi tidak mencolok. Pakailah pakaian seperti di bumi, setelah itu kalian akan berangkat," Kakek Alam mengintruksikan kepada Bima dan Wira."
Keduanya langsung menurut, bergegas untuk mengganti pakaiannya.
Terlihat di jalan setapak, ada tiga orang sedang berjalan menuju perbatasan desa, setelah sampai ketiga orang yang ternyata adalah Kakek Alam, Bima Pawitra dan Wira Bumi; berhenti tepat di tengah-tengah dua batu baik sisi kiri maupun kanan, kedua batu tersebut setinggi tiga meter, mirip seperti gapura. Tanpa ada yang berbicara, Kakek Alam menggerakan kedua tangannya keatas; tiba-tiba dua cahaya putih keluar dari telapaknya dan membentur tepat di tengah-tengah antara kedua batu, kemudian muncul riak-riak. Setelah munculnya riak-riak tersebut Kakek Alam berkata; "Cepat kalian segera masuk ke portal, keduanya saling melirik satu sama lain dan langsung meloncat."
"Wuussss".....
Terdengar suara yang bergema memanggil Kakek Alam; "Terimakasih atas segalanya Kek, aku akan menemui Kakek setelah urusanku selesai."
Kakek Alam hanya menganggukan kepalanya. Lalu menghilang.
Didalam jurang ada riak-riak kecil dan muncullah kedua orang pemuda, meraka adalah Bima Pawitra dan Wira Bumi, langsung meluncur kebawah dengan entengnya mendarat ke tanah, namun sesaat kemudian waktu Bima melihat keatas ada sebuah benda kecil yang meluncur kebawah, Bimapun langsung melesat keudara dan meraihnya. Setelah meraihnya wajah Bima terkejut dan muram, karena benda yang di raihnya adalah bayi. "Anak siapa ini kenapa sampai tega-teganya membuangnya dengan cara di lempar kejurang. Sungguh biadab," pikir Bima. Dan ini mengingatkan dirinya sendiri, mungkin seperti inilah yang terjadi; namun untungnya selamat karena di temukan oleh Kakek Alam."
Wira yang melihat Bima melesat keataspun mengikutinya karena penasaran, namun diapun terkejut. "Siapa yang berbuat sekejam ini Bima!" Wira geram."
"Aku tidak tahu Kakang, sebaiknya kita keatas lihat apa yang sebenarnya terjadi." Tanpa menunggu respon dari Wira, Bima langsung melesat ketebing dengan menggunakan ajian kidang kancana.
Wira yang ada di belakang mengikutinya, hanya sepersekian detik kedua pemuda sudah sampai di tepi jalan raya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
Alalbar
Bima cuma tampan doang?? ckck tidak bagus, harus nya seorang pemuda yang sangat tampan🗿.
2023-07-17
1
Sang Pencipta
tanda " ; " apa gunanya ya??
2023-07-02
1
ikmaliq
Mantabz 👍
2023-03-19
14