Bima dan Wira setelah melihat Jaya Arsha pergi dan masuk kemobil untuk mengobati luka memar pada Lina, Bima kemudian bersila mulai menghirup napas dan menahannya sebentar, kemudian mengeluarkannya; Bima melakukan beberapa kali dan merasakan udara perbukitan yang sejuk.
"Ternyata apa yang dikatakan Kakek benar, energi di Bumi sangatlah tipis bahkan bisa di katakan tidak ada" gumam Bima.
Sedangkan Wira dengan tenangnya mengunyah daging rusa asap, Wira mengeluarkannya dari tas penyimpanan saat Jaya Arsha pergi.
"Sepertinya enak daging rusa asap kang", Bima langsung menyambarnya dari tangan Wira saat akan digigitnya,
Wira hanya mendengus namun tidak marah dia kembali mengeluarkan daging rusa asapnya dan mengunyahnya.
Setelah selesai makan, Wira mulai berbicara; "kemana sebenarnya yang akan kita tuju adik, apa kita mengikuti dulu Jaya Arsha..?"
"Kita ikuti saja kang siapa tahu disana ada petunjuk keberadaan orang tuaku;" Bima menjawab dengan wajah tenangnya.
"Baik, itu memang ide bagus." Wira mengangkat jempolnya.
Beberapa saat kemudian Jaya Arsha kembali, dengan wajah senang; "sekali lagi aku mengucapkan terimakasih, berkat obat ajaib ini lukaku dan istriku sudah sembuh."
"Itu hanya salep biasa" Wira berkata dengan acuh tak acuhnya.
Jaya Arsha hanya tersenyum kecut kemudian berkata kembali; "aku sebagai perwakilan istriku meminta maaf, karena tidak bisa menemaninya mengobrol.!!"
"tidak apa-apa biarkan istrimu beristirahat lagian cuaca diluar dingin dan bisa mempengaruhi anak kalian," ucap Bima dengan tenang kemudian kembali berbicara; "ngomong-ngomong kapan kerabat kang Jaya akan tiba, ini sudah sepuluh menitan menunggu, kalau aku dan kang Wira tidak masalah aku hanya kasihan pada anak kang Jaya apalagi masih bayi, meskipun di dalam mobil udara dingin tetap akan masuk."
"Itu sudah pasti akan datang, aku yakin karena sinyal SOS jelas telah sampai, kita tunggu sebentar lagi;" Jaya Arsha berbicara tangannya menggaruk-garukan kepala diapun bingung padahal sudah menunggu.
"Oke" Bima mengangguk, akhirnya semuanya diam.
Tiba-tiba terdengar suara mobil yang menderu-deru dari kejauhan
"Brumm...brumm.brum.."
"Itu pasti dia kerabatku pasti yang datang," Jaya Arsha langsung kepinggir jalan kepalanya celingak-celinguk untuk melihat dan memastikan yang datang adalah kerabatnya.
Bima dan Wira tetap diam meskipun sudah mendengar suara mobil dari kejauhan.
Hingga akhirnya sebuah mobil bak muncul di hadapan mereka semua, pintu mobil terbuka Abah Rukma langsung bergegas keluar dan berteriak dengan cemas; "bagaimana nak apa kamu tidak apa-apa, memegang bahu Jaya Arsha dengan erat",
"Aku dan Lina tidak apa-apa Abah," Jaya Arsha tersenyum
"Dimana Lina kenapa tidak bersamamu;" Abah Rukma dengan cemas."
"Aku disini Abah," Lina menyahutnya dan berjalan kepada Ayahnya.
"Syukurlah kalian selamat Abah sangat cemas setelah mengetahui dari Pardi, kalian dalam musibah," Abah Rukma berkata sambil memeluk Lina.
"Abah dimana emak kenapa tidak ikut?" Lina melirik ke kiri dan ke kanan
"Ketika kamu sudah pergi, Emak mu di panggil oleh warga karena ada yang mau lahiran, jadi tidak tahu; mungkin sekarang Emak sudah tahu dan pasti sangat khawatir." Abah Rukma menghibur Lina
Lina mengangguk setelah ada penjelasan dari Ayahnya.
Pardi dan ketiga temannya ketika melihat semuanya selamat, hati mereka menjadi tenang juga bahagia, Bima dan Wira juga tersenyum senang.
"Ayo kita kembali pulang." ucap Pardi
"iya sebaiknya kita segera pulang" seorang teman Pardi ikut bicara
"Sebentar Kang Pardi dan juga yang lainnya, ini perkenalkan mereka bedualah yang telah menolongku dan istriku, yang baju putih coklat namanya Bima dan, berbaju hitam kakaknya Bima namanya, Wira." Jaya Arsha berbicara sambil menunjuk satu persatu.
Bima dan Wira hanya mengangkat tangannya dan tersenyum.
Rombongan Pardipun "mengangguk."
"Sebenarnya apa yang terjadi..?" Abah Rukma penasaran.
"Nanti kita bicarakan dirumah saja Abah", ucap Jaya Arsha.
"Kalau begitu tunggu apalagi ayo kita pulang." kata Abah Rukma.
Pada Akhirnya semuanya naik ke mobil bak, Lina duduk didepan karena membawa anaknya, untuk yang lain semuanya duduk dibelakang termasuk Abah Rukma. sedangkan mobil Jaya Arsha di biarkan begitu saja karena bemper depan rusak parah akibat menambrak tiang listrik.
Mobilpun mulai melaju namun tidak cepat, tidak ada obrolan saat mereka pulang. "oh jadi begini rasanya naik mobil enak juga..!!" pikiran Bima dan Wira sama saat pertama kalinya naik mobil. Tak terasa dua puluh menit kemudian mobil yang di tumpangi mereka akhirnya sampai depan pintu masuk desa Sinar, cahaya lampu sudah menerangi rumah-rumah warga serta jalanan, karena memang waktu sudah malam saat mereka tiba.
Dirumah Abah Rukma ada beberapa orang sedang berkumpul dengan perasaan cemas, bahkan seorang wanita paruh baya bernama emak Warsih istri dari abah Rukma yang baru saja siuman; sedang mondar-mandir kesana-kemari hatinya sangat gelisah.
karena ketika dia pulang kerumah setelah menangani warga yang lahiran, ternyata tidak ada satupun orang dirumah, kemudian bertanya kepada warga sekitar barangkali tahu kemana anak dan suaminya pergi, seorang tetangga memberitahunya bahwa anak dan suaminya telah pergi untuk menjemput Jaya dan Lina karena terjadi musibah kecelakaan dijalan raya, saat kembali ke kota Kembang. Membuat emak Warsih langsung pingsan setelah mendengar penjelasan tetangganya, para tetanggapun langsung membopongnya dan dibawa masuk kerumahnya.
"Bagaimana ini! apa kalian sudah mengutus sesorang untuk menyusulnya," Emak Warsih sangat cemas.
"Sudah Emak, Emak sabar dulu jangan mondar-mandir terus membuat kita juga semakin bingung." ucap seorang warga yang menemani emak Warsih
"Bagaimana mungkin aku tidak cemas jika seperti ini," Emak Warsih gelisah
Beberapa warga yang menunggu hanya menghela napas, merekapun mengerti perasaannya. Karena jika terjadi pada diri mereka masing-masing maka akan seperti Emak Warsih.
"Emak.... Emak... Emak Warsih"
Ada seorang anak muda berlari masuk kedalam rumah, berteriak memanggil Emak Warsih,
"ada apa Udin kamu berteriak-teriak." seorang warga yang menemani Emak Warsih bertanya pada Udin.
"Anu.. mang...!!" Udin tersengal karena napasnya naik turun dengan cepat ketika belari.
"Anu apa cepat katakan jangan bikin cemas orang." si Mang membentak Udin,
"Ini Mang; tadi waktu aku akan menyusul Abah Rukma, dan baru saja mau berangkat; dari kejauhan dipintu gapura aku melihat mobil Abah Rukma sudah datang, jadi sebentar lagi pasti sampai kesini." Ucap Udin
"Kamu benar melihatnya dengan jelas udin," mimik Emak Warsih sedikit berubah.
"Iya mak aku sangat yakin." Udin langsung menyahutnya.
Akhirnya wajah semua orang, apalagi Emak Warsih menjadi gembira hatipun tenang kembali.
"Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi Abah Rukma beserta rombongan sudah tiba, dan terdengar oleh Emak Warsih dan para tetangga, Emak Warsih pun berjalan keluar sedikit tergesa-gesa untuk menemui suami beserta rombongannya, setelah tiba, Emak Warsih melihat dengan jelas beberapa orang yang di khawatirkan selamat, buru-buru memeluk anak kesayangannya yaitu Lina juga menciumi cucu satu-satunya.
Semua Warga melihatnya penuh kegembiraan, kemudian karena Abah Rukma sudah mengetahui kejadian sebenarnya setelah di beritahu oleh menantunya saat di mobil, diapun mulai menceritakan juga siapa penolong anak menantunya dan memperkenalkannya. Setelah mendengarnya baik itu warga apalagi istrinya merasa geram, namun senang juga karena sudah selamat di tolong oleh dua orang pemuda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
Fatkhur Kevin
up
2023-06-05
11
ikmaliq
Mantabz 👍👍
2023-03-19
12
Azzam
semangat👍👍
2023-02-24
12