"Lalu nunggu apa lagi, ayo kita serahkan anak ini pada orang tuanya," ucap Wira
"kita tunggu dulu sebentar kang, apa tadi kakang sudah mendengarnya dengan jelas bahwa lelaki bernama Arga serta kelompoknya akan membunuh sepasang suami istri itu..?" Bima dengan mata tajam menatap kelompok Arga.
"Aku tahu, lalu apa.!" Wira menyahutnya.
"Kita bantu suami istri itu kang" Bima mendengus..
"Kenapa tidak bilang dari tadi adik Bim, Hehe.." Wira cengengesan."
Saat Wira akan melangkah maju Bima menahannya, "tunggu sebentar kang,"
"Hah tadi bilang kita harus bantu tapi kenapa saat aku akan turun membantu malah menahannya," Wira sedikit bingung atas keinginan Bima.
Bima tersenyum; "kita lihat dulu jika kelompok Arga mulai menyerang, barulah kakang boleh membantu."
"Baik," Wira kembali pokus melihat apa yang akan terjadi di antara kelompok Arga dengan sepasang suami istri.
"Apa kamu sudah tahu apa yang dikatakan istrimu itu Jaya, istrimu juga ingin ikut mati..?" Suara dingin Arga menggelegar, Pengawal... "bunuh mereka sekarang juga." teriak Arga.
"Cukup aku sendiri saja membunuh sampah seperti itu," kata salah satu pengawal.
"Kalau begitu silakan kamu bunuh sampah itu," seseorang mengizinkannya.
Akhirnya satu orang melangkah langsung berlari menuju sepasang suami istri untuk di hajar dan dibunuh, kedua tangannya memegang erat tongkat besi dan mengangkatnya tinggi-tingi. Jaya Arsha dan istrinya yang saling berpelukan sudah pasrah, setelah melihat salah satu pengawal Arga berlari dan mengacungkan tongkat besinya; sepasang suami istri itu memejamkan matanya, dalam hati mereka berdoa supaya ada keajaiban.
Sekian menit berikutnya sepasang suami istri tidak merasakan rasa sakit apapun di tubuhnya, membuatnya heran tapi ada sedikit rasa lega. Hanya terdengar suara *Bugh* seperti orang kena pukul dan *Hoek..hek..* seperti orang muntah, walaupun masih ada rasa takut, akan tetapi karena penasaran Jaya Arsha dan istrinya membuka matanya secara perlahan. Setelah dilihat; tepat di depannya berdiri seorang pemuda berpakain serba hitam.
Ternyata Wira lah yang berpakaian serba hitam itu, saat melihat salah satu pengawal Arga berlari dan ingin menghajar Jaya Arsha dan istrinya, Wira langsung melesat dalam sekejap sudah ada di depan orang tersebut dan tangannya langsung menangkap tongkat besi, lalu tangan kiri Wira melakukan pukulan keras mengarah kedada pengawal Arga,
"Bugh"..
Pengawal Arga langsung jatuh tersungkur, tidak bisa mengendalikan tubuhnya karena kaget dan tidak percaya bahwa di detik-detik terakhir saat tongkat besi hanya tinggal beberapa centi lagi memukul kepala sepasang suami istri, entah darimana datangnya muncul seorang pemuda berpakain hitam, langsung menghajarnya dan mulutnya memuntahkan darah,
*Hoek, hek...* lalu pingsan.
"Siapa lagi yang ingin aku hajar datang kemari," Wira dengan angkuhnya berdiri dengan sombong.
Kelompok Arga tercengang, mulut mereka menganga seolah-olah tidak percaya apa yang mereka lihat, karena dengan sekejap salah satu temanya pingsan hanya dengan sekali pukul.
Arga kembali sadar; "Siapa Kau berani-beraninya kamu ikut campur hah..!"
"Siapa aku kamu tidak perlu tahu, yang perlu kalian lakukan pergi dari sini sebelum aku hajar sampai pingsan seperti teman kalian ini." Wira menunjuk kebawah dengan wajah menatap tajam kearah kelompok Arga.
"Bagus-bagus, plok..plok..plok" Arga menepuk-nepuk tanganya lalu berkata; "rupanya ada pahlawan kesiangan, apa kamu belum tahu siapa aku.?"
"Pengawal hajar dia kalian jangan takut, dia hanya sendirian, ayo kepung dia," Arga berteriak kepada pengawalnya,
"Siap Bos," ayo kita serang dia,
kemudian ketujuh pengawal berlari kearah Wira dengan penuh percaya diri, masing-masing ditangannya memegang tongkat besi. Sedangkan Wira hanya tersenyum sinis seolah-olah tidak ada apa-apanya, lalu maju kedepan dengan tangan dilipat kedadanya, beberapa saat kemudian ketujuh pengawal sudah dekat dan semuanya mengepung Wira, tanpa banyak bicara ketujuh pengawal secara bersamaan melayangkan tongkat besi ke arah Wira..
"Sring....sing..wushhh",
"Suara desingan tongkat besi yang melayang begitu jelas, sepersekian detik hanya beberapa senti lagi akan kena ke arah Wira, mendadak ketujuh pengawal langsung terpental, kemudian dengan kecepatannya, Wira meloncat keudara kakinya menendang, tangannyapun tidak diam langsung melakukan pukulan sebelum ketujuh pengawal itu jatuh.
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
"Dessss... pletak.."
Ketujuh pengawal jatuh dan pingsan. Sedangkan Wira masih dalam posisi tidak bergeser."
Arga yang melihat kejadian seperti itu, wajahnya pucat serta badannya bergetar hebat karena takut.
Sementara di posisi Jaya Arsha dan istrinya hanya melongo, seolah-olah tidak percaya apa yang mereka lihat, ternyata sang penolongnya hanyalah seorang pemuda namun memiliki seni beladiri tinggi, tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Hai! kamu yang di sana, namamu Arga kan." Wira menunjuk kearah Arga,
"I..i.iya.." Arga gugup saat berbicara.
"Cepat kemari," Wira membentaknya
"Ti...tii..tidak aku akan pergi dan tidak akan lagi membalas dendam," Arga berbicara sambil mundur.
"Ha..ha...ha.." Wira tertawa melihat Arga yang ketakutan, lalu berkata, "Aku tidak akan membunuh sampah sepertimu, kalau mau pergi bawa sekalin pangawalmu."
Hati Arga sedikit lega setelah mendengar perkataan Wira, "Iya aku akan membawa para pengawalku pergi juga."
Wira berbalik menghadap sepasang suami istri, dengan senyum cerahnya lalu berbicara; "apa kalian tidak apa-apa..?"
Jaya Arsha dan istrinya saling melirik, keduanya menggukan kepala. "Aku dan istri tidak apa-apa, terimakasih atas pertolongan adik. Kenalkan namaku Jaya Arsha dan ini istriku Lina, kalau boleh tahu siapa nama adik ini; Jaya Arsha mengulurkan tangan pada Wira, Wira menjabat tangan Jaya."
"Namaku Wira." Wira menjabat tangan tangan Jaya Arsha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
👌
bagus thor ... cuma penempatan tanda ( " ) msih ada yg salah tempat . jd terkadang bingung di pemutusan percakapan .
2023-07-22
19
ikmaliq
Mantabz 👍
2023-03-19
13
Azzam
maju terus
2023-02-24
14