GIDR 15

Rangga berjalan gontai yang di papah oleh rahman menuju mobilnya. Saat ini rangga butuh sinergi untuk menguatkan hatinya. Rahman berharap tak ada dampak buruk pada rangga setelah kejadian ini.

Di kediamannya rangga menatap istrinya yang sudah tak bernafas dan tak berdaya. Rangga tak dapat berbuat apapun selain menatapnya. Tatapan kosong. Dimana kenangan bersama istrinya yang hanyalah sebentar namun mungkin menyakitkan bagi rubi.

Maafkan aku sayang. Aku memang suami yang bodoh. Belum bisa membahagiakanmu walau sebentar saja. Lihatlah diriku yang lemah ini rubi. Tidakkah kamu ingin bertahan hidup bersamaku. Batin rangga. air mata itu meleleh tanpa arah yang jelas. Semuanya berasa hambar sekali.

" Ngga ... Semua mungkin tidak akan sama seperti sebelumnya tapi pasti akan baik-baik saja. Rubi telah memberikan hal terindahnya untuk kalian yaitu putri kalian," Rahman nampak memghibur rangga dengan berbagai hal termasuk dengan kata-katanya saat ini. Rangga hanya terdiam pada posisi yang sama.

" Mas ... Aku menyesal tak membahagiakannya telah membuatnya tak bahagia. Semua salahku dan gadis idiot itu dia juga harus menerima ganjarannya," lirih Rangga. Rahman memegang pundak sahabtnya.

" Tapi ngga ... " ucapan rahman terpotong. Dia tidak ingin mengajak sahabatnya itu berdebat. Karena saat ini dalam masa berkabungnya. Tidak baik jika terlalu banyak bicara.

" Kak ... Aku benar-benar tak bisa berfikir apapun saat ini," ungkap rangga dengan menghela nafas dengan beratnya. Rahman hanya mengelus pundaknya.

Pemakaman Rubi pun dilaksanakan dengan lancar. Rangga hanya menatap pusara istrinya dengan hati yang hancur. Saat ini bahkan dia tak memiliki kesempatan untuk kembali membahagiakannya. Pupus sudah harapannya untuk membuat istrinya lebih bahagia dari sebelumnya.

Di tempat lain ...

" Kak .... Kumohon selamatkan dokter rubi. Aku tidak menyakitinya aku hanya menolongnya!" Seru nasya sambil menangis. Fatimah mengelus-elus pundak Nasya dengan sabar.

" Dek dengarkan mbak. Tidak akan terjadi apapun percayalah," jawab fatimah dengan sabar.

" Tapi tatapan dokter rangga seakan-akan aku yang menyebabkan istrinya meninggal kak. Padahal lidah ini keluh saat melihat darah-darah itu menempel pada tanganku dan bajuku. Kumohon kak selamat dia," pinta Nasya sambil terus menangis. Fatimah menatap azzam dengan sendu.

" Dek ... Dokter rubi sudah tidak ada. Kami tidak dapat menyelamatkannya. Rahimnya pecah sehingga dia mengalami pendarahan yang hebat. Tapi putrinya selamat. Terima kasih dek kamu sudah menyelamatkan salah satu nyawa. Aku harus mengatakan hal kurang enak padamu tapi kamu harus tahu bahwa dokter rubi sudah tidak ada," jawab fatimah panjang lebar. Seketika nasya langsung berhenti menangis.

Dunianya terasa hambar saat mendengar kabar itu. Yang terngiang-ngiang di telinganya saat ini adalah ucapan terakhir rubi. " Selamatkan anakku!" kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinganya sebelum rubi pingsan saat itu.

" Kak ... Tidak mungkin! Bagaimana keadaan dokter rangga pasti dia akan sangat marah," ucap nasya dengan tatapan bingung. Fatimah memeluknya dengan erat.

" Tenang ... Tenang dulu dek. Kakak bantu berbicara dengannya oke!" seru fatimah. Nasya pun memeluk erat fatimah. Azzam yang melihat hanya menghela nafas berat saat melihat kondisi adiknya.

Di tempat lain ...

Di pusara yang masih basah dan bunga segar yang berada diatasnya rangga masih menatapnya tidak percaya. Baru beberapa jam lalu dia bersama istrinya tapi saat ini bahkan malam ini dan seterusnya rubi sudah tak di sampingnya.

" Kamu menghukumku terlalu berat sayang .. bahkan aku merasa tidak mampu saat ini untuk berdiri di atas kakiku sendiri," tangis Rangga.

Saat dia menatap pusara istrinya farish mendekat. Keadaan farish yang berduka membuat pemuda itu mengatakan hal yang kurang mengenakkan pada kakaknya.

" Saat ini mungkin kamu puas melihatnya tak bernafas kak. Selama ini kamu selalu memasukkan nasya dalam kehidupan kalian. Mungkin inilah yang terbaik bagi rubi daripada dia sakit hati padamu lebih baik dia pergi!" seru dokter farish dengan sangat sinis. Namun rangga tak menggubrisnya. Tapi dalam hatinya dia mengatakan hal-hal yang memang menyalahkan dirinya sendiri. Karena hatinya memikirkan orang lain dia menjadi tidak fokus pada istrinya.

" Kau benar akulah penyebabnya dan perempuan itu!" seru rangga dengan emosi kemudian pergi.

.

.

Jangan lupa like ya. Bunganya dong biar tambah berbunga-bunga. Heheh mksh byak readers.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!