Hari ini adalah visit dokter untuk Nasya. Nampak seorang dokter muda berjalan dengan tegap dengan senyumnya yang ramah terhadap keluarga pasien yang berada di rumah sakit. Kaki jenjang dan kulit putihnya menambah wawasan ketampanannya.
Tap. Tap. Tap
Derap langkah kakinya membuat beberapa orang menoleh. Dokter farish datang bersama asistennya yang cantik jelita. Mereka nampak sebagai pasangan serasi ganteng-ayu. Sesampainya di ruangan nasya.
" Pagi ... Mbak nasya! Bagaimana kabarnya hari ini," seru dokter farish sambil tersenyum ramah pada nasya. Atiku mak ser guys. Dokternya kayak drakor-drakor gitu. Nasya membeo beberapa saat tak menjawab sapaan dokter farish.
" Mbak nasya ... Gimana apa ada yang sakit?" tanya dokter farish sekali lagi.
Ya elah malu-maluin saja. Ngapain bengong kayak orang gak pernah lihat cowok sih. Nasya merutuki hatinya yang kembali pada jiwa anak-anaknya.
" Baik dok. Boleh pulang ya?" tanya balik nasya. Dokter farish langsung mengernyitkan dahinya. Menyatukan alis lalu tersenyum.
" Kok buru-buru ? Masak udah gak betah padahal udah di kunjungi dokter farish loh," guyonan dokter farish kembali di lancarkan untuk menghalau pasien saat diberikan obat melalui infus supaya tak berasa sakit.
" Malas dok ... Pengen kerja lagi. Kalau di sini kan ada dokter meresahkan hati banyak orang," jawab nasya tanpa di filter yang membuat asistennya melongo mendapati dokternya malah di kata-katain. Spontan saja farish terkekeh.
" Mbak nasya bisa saja ... Tapi ngomong2 berarti saya meresahkan hatinya mbak nasya nih," goda dokter farish sambil menata kembali infusnya karena dia sudah memasukkan obat pada cairannya.
" Boleh ya dok? Pulang ... " ucap nasya kembali.
" Bertemulah saya sekali lagi, baru boleh pulang. Saya masih harus visit mbak cantik sampai bertemu lagi," jawaban farish membuat pipi nasya seperti kepiting rebus yang merah. Malunya dikatain balik. Ngapain juga mulutnya itu nerocos aja dari tadi udah kayak kereta apai rusak. Dokter itu pergi dengan tersenyum.
Sya semua dokter sama dia pasti udah punya bini atau pacar. Jangan tergoda lagi oleh senyuman ataupun pertolongan mereka. Batin nasya.
Nasya menatap malas ke arah dokter farish yang sudah berkunjung ke ruangannya. Nasya hari ini ada meet up dengan pemilik kain dari Pakistan. Akhirnya dia melakukan Video Call untuk menyelesaikan agendanya.
" Siang nona Nasya ... " ucap Mr. Taheer.
" Siang Mr. Taheer ... Bagaimana dengan kain yang saya usulkan untuk dress yang saya sampaikan beberapa waktu lalu?" tanya nasya mempersingkat waktu.
" Lebih bagus pake kain sutra mulbery nona menurut saya harganya kisaran 75 sampai 450 per-meter," jawabnya.
" Untuk motif gimana mr.?" tanya Nasya.
" Kita menyesuaikan saja nona. Untuk lingeri pake kain ini juga bagus nona. Katanya nona ingin membuat brand lingeri?" ucap mr. Taheer.
" Fokus ke yang ini dulu mr. Thank you so much by," ucap nasya pada mr. Taheer. Sedari tadi fatimah, dr. Rubi dan dr. Rangga sudah berada di pintu masuk.
" Sudah dek?" tanya fatimah.
" Oh ... kakak masuklah! Sama siapa kak?" tanya nasya. Pandangannya terkunci pada dokter rangga. Rangga juga menatapnya.
" dr. Rangga sama istrinya. Mereka kemarin yang menolongmu," jawab kakak. Akhirnya nasya berusaha tersenyum untuk mereka.
" Silahkan!" seru nasya pada mereka.
Dokter rangga dan dokter rubi menghampiri nasya. Rubi tersenyum dengan cantiknya wajahnya yang terawat membuat nasya minder. Sebenarnya nasya sendiri cantik tapi dia lebih ke natural seperti anak-anak.
" Bagaimana nasya keadaannya?" tanya dokter rubi.
" Baik mbak," nasya tersenyum ramah.
" Katanya mau minta pulang? Mas coba gih periksa keadaannya," ucap rubi membuat rangga mengangguk. Nasya yang melihat jadi berdecih dalam hati saking sayangnya sama istri di suruh nurut aja.
" Gak usah pak. Tadi dokter farish sudah ke sini dia bilang bertemu dengannya untuk yang kedua kali baru boleh pulang," jawabnya sambil tersenyum. Rangga jadi mengernyit.
" Apa hubungannya bertemu dua kali dengan keluar rumah sakit?" tanya rangga. Nasya hanya mengedikkan bahu menyatakan bahwa dia tidak paham. Sedang rubi heran dengan panggilan pak yang disematkan nasya pada suaminya.
" Kok panggil pak nasya?" tanya rubi.
" Kan kayak bapak-bapak mbak. Hehehe," jawab nasya yang membuat rubi tertawa. Nasya sengaja menutupi bahwa dia pernah bertemu dokter rangga 2 kali. Biarkanlah itu hanya kisah hati di masa lalu.
Farish itu apa yang dia katakan. Kenapa dia malah jadi dokter penggoda gitu. Adik tidak beres. Lama di luar negeri otaknya sudah geser. Batin rangga.
Sesekali rangga menatap nasya yang berbincang dengan istrinya. Batinnya merasa bahwa nasya pura-pura tidak mengenalnya. Rangga kemudian beranjak.
" Sayang ... Mas keluar dulu ada keperluan!" seru rangga. Rubi mengiyakan dengan isyarat anggukan pada suaminya. Rangga pun pergi dari sana.
" Farish ke ruangan kakak sekarang!" perintah sang kakak.
" Oke," jawab farish yang kemudian bergegas.
Identitas farish tak pernah di rubah oleh keluarga rangga. Farish adalah putra dari adik kandung pak hutama. Ayah farish meninggal saat farish masih balita dalam sebuah kecelakaan yang merenggut keluarganya termasuk kakaknya. Farish selamat dalam kecelakaan itu. Rangga sudah menganggap adik kandungnya sendiri. Ketika sampai di ruangan.
" Haik kakakku yang keren!" seru farish.
" Farish ... Hentikan kelihaianmu menggoda pasien!" seru rangga dengan tegas.
" Kak .... Mereka yang tertarik bukan farish yang menggoda. Ayolah jangan menerima aduan tidak benar," jawab farish membela.
"apa hubungannya pasien keluar rumah sakit dengan bertemu denganmu sekali lagi?" tanya rangga menatap intens.
" Oh.... Gadis cantik itu. Nasya itu takut akan rumah sakit dan jarum kak. Jafi farish alihkan dengan pembicaraan. Trombositnya turun jadi dia benar-benar harus istirahat," jawab farish menganalisis.
" Ngapain juga harus bertemu denganmu?" tanya rangga menyelidik.
" Kan dokternya kak ... Curiga mulu ah. Jangan-jangan naksir? Ingat udah ada rubi dia sahabatku loh jangan di sakiti," ucap farish mengingatkan sambil terkekeh.
" Eh, dasar anak sialan malah balik menuduh!" seru rangga sambil melempar pulpen di mejanya dan farish menangkapnya dengan sempurna. Tiba-tiba farish terdiam.
" Kak ... Aku merindukan mereka," ujar farish.
" Apa kami tidak cukup membuatmu bahagia?" tanya rangga.
" bukan begitu ... Tapi mereka meninggal di hadapanku kak. Mama memelukku dengan erat dan papa berusaha meminta maaf padaku sedang kakak sudah tidak bergerak. Kenapa seperti itu kak," farish menitikkan air matanya. Rangga mendekat dan memeluk adiknya.
" Doakan mereka farish ... " lirih rangga.
Di tempat lain ...
" Rangga tidaklah mencintaiku nasya semua adalah karena tanggung jawab semata," lirih rubi serasa memiliki adik untuk di ajak curhat. " Dengan perhatian yang seperti ini saja ini udah luar biasa sekali, dia pemuda yang baik. Aku salah menilainya," ucap rubi.
" Eh ... Kakak bumil gak boleh sedih kasihan dedek bayinya," jawab nasya sambil memgelus perut buncit rubi yang berusia 7 bulan. Bayi itu merespon belaian nasya. Nasya jadi tersenyum.
" Sya ... Jika mas rangga mencintaimu maukah kamu menikah dengannya?"pertanyaan rubi membuat nasya membeo. Mana ada istri yang menyuruh suaminya menikah lagi.
Syok rasanya mendengar ucapan mbak rubi yang baik. Nasya tak menjawab namun memeluk istri dokter rangga itu.
" Mbak ... Untuk apa berkata demikian. pak rangga pasti mencintaimu hanya saja orangnya memang demikian," jawab nasya.
.
.
Likeee ya giftnya donggg vote jangan lupa. Mkshhhh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
kisagaaa
koq aku jd bingung ya,,di bab sebelumnya rangg bilang klo rubi hamil muda..lha koq di bab ini tau² ud hamil 7 bulan ? bacanya jd bingung sendiri
2023-06-26
1