GIDR 14

Nasya ketakutan dengan sendirinya. Dia menangis dalam kamar mandi. Phobia-nya pada darah membuat dirinya tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun pada suami dokter rubi.

" Mbak ... Ku mohon bantulah aku menjelaskan pada suamimu. Tadi dia begitu menyeramkan saat menatapku," tangis nasya dalam diamnya di kamar mandi. Badannya yang masih gemetar mencoba untuk berdiri dan berusaha menggapai handuk kimononya.

Dia mencoba untuk tenang namun tak berhasil. Dia pun naik ke ranjang dan menyelimuti dirinya. kejadian itu terngiang-ngiang di benaknya. Hatinya seperti teriris. Bagaimana sakitnya jatuh seperti itu dalam keadaan hamil. Rasanya kaki nasya lemas. Tapi dia mencoba melawan phobia-nya itu demi menyelamatkan istri dokter rangga itu. Dia merasa dokter rangga sering menolongnya. Dia merasa berhutang budi.

Di rumah sakit ...

" Kak! Apa yang kamu lakukan sampai rubi kecelakaan. Bukankah kamu bersamanya saat pergi!" teriak Farish. Namun rangga yang syok tak menggubris ucapan adiknya. Farish terlihat memukul-mukul tembok dan berlari keluar dari rumah sakit.

" Rubiiii ! Kau berjanji akan bahagia dengan kakakku tapi apa? Kenapa kamu malah pergi dengan cara seperti ini, bagaimana dengan putrimu itu!" teriak farish dengan marah-marah. " kau benar-benar membuatku marah kali ini rubi," ucap farish melemah dan terduduk di taman rumah sakit. Dia nampak terpukul atas kepergian rubi.

Mereka bertiga dalam kondisi sangat terpuruk. Nasya yang ketakutan, rangga yang syok dan terpuruk, farish yang tak terima atas kepergian rubi yang mendadak. Fatimah yang melihat bayi rubi itu jadi iba.

" Kasihan kamu nak ... Dokter rubi seharusnya kamu berjuang untuk sadar putrimu begitu cantik," lirih fatimah saat melihat bayi cantik di hadaapannya itu.

Di rumah nasya.

" Dek ... Dimana?" tanya azzam. Namun nasya tak menjawabnya. Dia berada dalam selimut.

Azzam menghampiri adiknya.

" Sya ... Kamu baik-baik saja?" tanya azzam pada adiknya itu. Nasya tak kunjung menjawab namun selimut yang menutupinya bergerak sedikit. Dengan reflek azzam membukanya. Azzam kaget saat adiknya ketakutan.

" Sya ... Kamu kenapa? Hey ... dik kenapa kakak di sini ayo cerita," pinta azzam dengan khawatir. Nasya langsung duduk dan memeluk kakaknya.

" Kak ... Darah itu menempel pada tanganku. Aku tidak menjatuhkannya aku hanya menolongnya saat terjatuh. Orang yang menabraknya berlari. Ku mohon kak bilang kak fatimah agar membantunya tetap hidup," ucap nasya sambil sesenggukan. Azzam langsung memeluk erat adiknya. Dia tahu saat ini adiknya sedang kambuh phobia-nya. Azzam menelpon fatimah.

" Ya ... mas," jawabnya

" Bisakah membantu adikku menangani phobia-nya ? Aku tidak paham yang dia katakan. Hanya saja dia menyebut namamu," ujar azzam yang ikut dilanda panik.

" tentu ... Aku ke sana sekarang mas," jawab fatimah dengan sigap.

Fatimah yang tak ada piket di rumah sakit segera bergegas meninggalkan rumah sakit untuk menuju rumah azzam. Namun dia sempatkan melihat bayi itu kembali.

" Sehatlah nak," lirihnya yang kemudian pergi.

Ketika fatimah pergi. Rangga mendekati box tempat putrinya di inkubator. Rangga menangis di hadapannya.

" nak ... Ayah bukan orang yang kuat. Ayah tidak mungkin membiarkan orang yang membuat ibumu kehilangan nyawanya hidup dengan tenang. Maafkan ayah nak tidak bisa melindungi kalian," tangis rangga. Lagi-lagi dia terduduk tak sanggup di hadapan ruangan tempat putri kecilnya di rawat.

Kelahirannya membuat rangga sedih tapi menjadikannya seorang ayah. Predikat yang begitu membahagiakan namun menaruh kesedihan mendalam karena kehilangan rubi.

" Rangga ... Kita pulang. Kita kebumikan istrimu. Dia harus mendapatkan tempat yang baik. Dia sudah baik-baik saja nak. Jangan menghukum dirimu seperti ini," pak khan mengingatkan. Putrinya. Putranya harus segera bangkit kembali dia memiliki tanggung jawab besar setelah ini. Yakni merawat putrinya seorang diri.

" Pa ... Jangan," lirih rangga.

" Nak ... Lakukanlah. Kasihanilah istrimu," ucap pak khan. Rangga kembali menangis dalam pelukan ayahnya.

" Ngga ... Bangkitlah!" seru dokter Rahman. "Jika kamu seperti ini kupastikan izdi pum tak akan kembali padamu sebagai sahabat," lanjut dokter rahman. Rangga pun memeluk dokter rahman dan di papah olehnya.

Hanya nama izdi yang bisa membuatnya kembali bangkit. Sahabat dekatnya entah yang sekarang berada dimana.

" Mas ... " lirih rangga.

" Sabarlah temanku," jawab rahman.

.

.

.

Like yaaaaa maksihhhhh dukungannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!