Keesokan harinya....
Rangga dan Rubi sampai di mall untuk belanja keperluan baby. Mereka menikmati memilih perlengkapan bayi yang lucu-lucu.
" mas ... Ini lucu deh," ujar Rubi pada suaminya.
" Ambillah ... Jika suka sayang," jawab rangga. " Sayang ... Mas ke kamar kecil dulu ya!" pamit rangga. Rubi senyum dengan cantiknya.
" Oke sayang," jawab rubi sambil mengecup pipi suaminya. Rangga hanya tersenyum saja saat rubi manja-manja seperti itu.
Rubi yang sudah memilih-milih itu sudah selesai namun rangga tak kunjung kembali. Akhirnya dia ke kasir dulu dan mengirim pesan pada suaminya. Di tunggu di lobi. Namun ketika di depan perlengkapan baby Rubi yqng membawa banyak barang bawaan di tabrak seseorang dari belakang sehingga dia terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
" Aahhhhhh .... !" teriak rubi.
Nasya yang mendengar teriakan seseorang di belakangnya jadi menoleh. Saat ia tahu bahwa itu rubi segera berlari mendekatinya.
" Mbak .... !" teriak rubi.
" Tolong ... Selamatkan anak saya Sya," sebelum pada akhirnya istri rangga itu pingsan.
Nasya pun meminta bantuan pada orang-orang untuk membawanya ke mobil. Nasya buru-buru ke rumah sakit membawa istri rangga itu.
Sedangkan di lobi ...
" Dimana rubi kenapa lama sekali?" ucap rangga monamdar mandir. Akhirnya karena tidak sabar dia pun kembali ke toko itu.
" Mbak tadi istri saya kemana?" tanya rangga pada penjaga toko.
" Sudah keluar pak," jawab mereka.
Rangga yang bingung pun mencoba untuk telpon. Namun yang mengangkat adalah nasya. Rangga pun mulai terlihat panik.
" Kenapa kamu? Mana istriku," tanya rangga dengan nada agak seram
" pak ... Istri anda kecelakaan dia mengalami pendarahan. Aku membawanya ke rumah sakit. Susullah kami!" seru nasya yang kemudian mematikan telponnya.
Bagai tamparan yang tak berasa. Baru saja Rubi baik-baik saja tapi detik ini dia dan bayinya dalam bahaya. Rangga pun segera berlari ke arah parkiran mobil.
Tak ada gambaran bahwa akan seperti ini. Rangga menyesal kenapa dia tadi lama sekali di kamar mandi. Tapi dia heran kenapa istrinya bersama nasya. Muncullah dugaan -dugaan yang tidak baik pada gadis itu.
Sesampainya di rumah sakit ...
" Dimana istriku!" suara bariton rangga menggema di lorong rumah sakit depan UGD. Nasya hanya menunjuk dengan tangan gemetar karena ada darah dalam tangannya.
" kamu apakan istriku hah!?" bentak rangga.
" Pak istri anda kecelakaan saya hanya membantu," jawab nasya dengan terbata-bata.
" Tidak mungkin kebetulan kan?" tanya rangga menilisik. Nasya menghadap ke arah rangga. Dia yang phobia darah tapi memberanikan diri dengan rubi yang saat itu butuh bantuan.
" Jangan mengada -ada anda pak," jawab nasya.
" Pergi dari sini. Sekarang!" bentak rangga pada nasya. Gadis itu pun oergi dan lari dengan tangan gemetar.
" Pandai sekali berbohong. Tangan saja sudah gemetar pasti dia takut di permasalahkan," gerutu rangga sesaat. Kemudian dia panik kembali dengan keadaan istrinya yang tidak baik.
Selang beberapa menit dokter keluar menghampiri rangga ...
" Maafkan kami dokter rangga nyonya tidak dapat kami selamatkan akan tetapi bayi anda selamat meskipum dalam keadaan prematur," jawab dokter SPOG yang kini berada di hadapannya.
Bagaikan di terkam petir di siang bolong. Kabar ini membuat dunianya runtuh tanpa arah. Baru beberapa jam lalu rubi menciumnya saat ini dia sudah pergi begitu saja. Rangga pun masuk ke ruangan. Dia melihat rubi begitu pucat.
" sayang ... Tidakkah kamu kasihan padaku. Katakan padaku apa yang harus kulakukan saat ini. Kasihanilah aku rubi," tangis rangga pecah. Ayah rangga yang masih berdinas di rumah sakit mendekati putranya dan mengelus pundak putranya itu.
" pa ... bangunkan menantumu ini. Dia sudah mempermainkanku. Dia sudah meninggalkanku dalam keadaan yang tak jelas seperti ini," rengek rangga. Pak khan hanya bisa memeluk putranya dalam kehangatannya. Rangga memang harus bersedih pak khan tak melarangnya.
Rubi ketika jatuh mengalami pecah pada rahimnya dan mengakibatkan komplikasi dan pendarahan hebat. Pertolongan rumah sakit pun tak bisa dia lakukan.
Dalam perjalanan pulang ...
" Kenapa darah- darah ini harus menempel pada tubuhku dan bajuku," ujar nasya gemetar. Dia mempercepat laju mobilnya.
Sesampainya di rumah nasya berlari dan menuju kamar mandinya dia bersihkan darah itu. Dengan tangan masih gemetar dia hanya mengingat ucapan rubi selamatkan bayinya.
" Mbak kamu harus selamat. Jelaskan pada suamimu jika aku hanya membantumu," lirih nasya dengan lesu.
.
.
Jangan lupa like biar notif-notif yang masuk menyemangati penulis ya makasihhhh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments