GIDR 3

Malam ini adalah malam yang indah dan halal bagi rangga untuk menyentuh rubi. Mungkin hatinya tak begitu sangat mencintai rubi. Tapi rasa tanggung jawab yang besar membuat menyayangi gadis itu. Rangga sudah berjanji pada dirinya bahwa rubi adalah wanita yang akan selalu menemani hari-harinya. Rubi pun telah berjanji akan merubah penampilannya yang dianggap terlalu terbuka di depan umum.

Saat rangga keluar dari kamar mandi dengan haNduk yang hanya berkacak pinggang dengan gestur tubuh yang menarik serta rambut basah membuat rubi menutup matanya. Ini kali pertamanya dia menatap rangga secara intens. Rangga menatap istrinya dengan tersenyum.

" Tataplah aku sebanyak yang kamu mau sayang. Aku halal bagi mata indahmu itu," ucap rangga sambil memilih baju tidur yang ingin dia pakai.

" Mas ... Malam ini?" tanya rubi. Rangga menoleh ke arah istrinya.

" Kita lewati dengan apa adanya. Tapi ketika aku memintanya kau sama sekali tak boleh menolak suami tampanmu ini," ucap rangga dengan sangat PD-nya. Rubi mengangguk cepat sejujurnya dia masih takut karena malam itu rangga merobek keperawanannya secara paksa sehingga sakitnya luar biasa. Rangga menatap ada wajah lega di wajah istrinya.

Seusai rangga menyelesaikan ganti bajunya dia kembali ke arah rubi. Gadis itu menatap rangga dengan seksama. Begitupun dengan rangga dia menatap istrinya dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba saja rangga memegang tengkuknya dan mencium bibir ranum serta manis milik rubi. Mereka berdua menikmati kedekatan ini. Rangga yang sedang memeluk rubi meneteskan air matanya. Dia menyelesaikan aktivitasnya.

" Maafkan aku yang sudah menodaimu rubi," ucap rangga. Rubi yang melihat rangga meneteskan air mata mencoba untuk menghapus serta menggelengkan kepala.

" Tidak mas ... Bukan penyesalan yang harus kita lakukan tapi kita harus menjadi lebih baik ke depannya," jawab rubi dengan tersenyum.

Rangga pun segera menarik rubi ke pelukannya. Ia mencium puncak kepala istrinya. Tak ada aktivitas berlebih malam ini. Dia hanya ingin membuat rubi nyaman dulu berada di sampingnya. Malam ini terlewati begitu saja.

Pagi hari di jalanan jakarta menuju kampus ada seorang perempuan berpakaian childish sedang marah-marah di jalan.

" Ayo dong kok macet sini sih! Aku ada pertunjukan modelling yang penting. Huftt," gerutu gadis muda cantik berperawakan sedang tinggi kira-kira hanya 160cm. Nampak dari kejauhan rangga tak sengaja memperhatikan mobilnya dia melambaikan meminta bantuan. rangga yang madih memiliki waktu berhenti untuk mencoba membantunya. Rangga turun dengan santainya.

" Kenapa mobilnya?" tanya rangga dengan flat. Gadis itu tak kunjung menjawab namun menatap rangga intens.

"Bapak yang di rumah sakit ya?" tanya Nasya tanpa sungkan. Sedangkan rangga sudah membeo. Bisa-bisanya dia tak menyadari jika itu adalah gadis yang sama. " Pak help ya!" seru nasya yang membuat rangga tiba-tiba mslas dan pergi meninggalkannya. Nasya tiba-tiba mellow dan memukul kepalanya sendiri. Rangga melihatnya dari spion.

" Nasya kali ini kamu tidak akan lulus materi ini, huft. Lelahhh sudahlah," ujar nasya yang kemudian duduk ngemper di depan mobilnya. Harusnya dia lebih hati-hati untuk hari ini.

Rangga yang masih menatap gadis itu pucat pasi dan tidak tega karena ini tempat sepi. Ia pun kembali memutar mobilnya. Mendekati nasya yang terduduk menutup wajahnya dengan berjongkok.

" Bangunlah! Akan ku antar," seru rangga dengan menatap ke arah gadis itu. Nasya yang merasa ada yang berbicara segera mendongak. Matanya yang suda basah dia usap dan segera berdiri dan menggapai tasnya.

" Makasih pak ... Apapun alasan anda hari ini. Tapi saya sangat berterima kasih karena ini menentukan kelulusansaya pak," ucapnya nerocos terus. Rangga mendengar dengan malas. Namun rangga kaget saat dia memegang kemudi tiba-tiba saja gadis itu memegang tangannya.

" Apa yang kamu lakukan gadis idiot!" seru rangga. Nasya jadi mellow.

" Thank you pak. Kamu bukan siapa-siapa tapi begitu berjasa di setiap aku butuh bantuan," ucap nasya yang kemudian meleoas tangannya dan fokus pada IPADnya.

Sinting, siapa aku baginya. Aku hanya kebetulan selalu bertemu dengannya dalam keadaan kurang beruntung. Batin rangga.

Sesampainya di gedung mewah di tengah kota. Nasya turun dari mobil mewah bak bidadari. Rangga kemudian mengatakan sesuatu.

" Jika lain waktu bertemu ambillah barangmu yang kau tinggalkan," ucap rangga kemudian melesat. Belum sempat nasya membalas ucapannya. Fito Adrianto datang dan merangkul dirinya. Di spion rangga kembali menyaksikan romansa anak muda pada mereka berdua.

" Kenapa bukan cecunguk itu saja yang menjemputnya! Sialan," umpat rangga yang merasa di manfaatkan oleh gadis itu.

" Fito! Sekali lagi kamu seperti ini kupatahkan tanganmu yang paranoid itu. Minggir!" seru nasya sangat kesal.

Nasya pun bergegas memasuki gedung itu dengan berlari. Dia tak akan melewati kesempatan ini. Bapak itu sudah menolongnya. Tidak akan kubiarkan dia sia-sia membantuku. Semoga saat bertemunya kelak aku sudah sukses.

" Sya ... Tadi siapa yang antar. Pasti bukan kakakmu dong?" tanya Dilan. Nasya menggeleng menandakan memang bukan.

"Entah. Yang jelas dia adalah seorang dokter dan pemilik rumah sakit," jawab nasya.

" Namanya?" tsnya Dilan menatap sahabatnya.

" Mana ku tahu lan. Ogah masak perempuan kenalan dulu," jawab Nasya. Dilan langsung menonyor sahabatnya.

" Gila. Gadis oneng. Ucapan terina kasih untuknya neng," ucap dilan pada sahabatnya.

" Sudah ku sampaikan padanya tadi," jawan nasya jujur.

" Eh anak dodol kasih dia sesuatu. Kamu kan anak pengusaha kan janganlah iritlah sya!" seru sahabatnya. Nasya manggut-manggut.

" Besok ku antar ke rumah sakitnya. aku hafal ruangannya," jawab nasya.

" Nah, itu baru pintar. Tapi siapa tahu dia jodohmu sya. Udah ketemu beberapi kali kan," ucap dilan. Nasya menatap tidak percaya pada sahabatnya.

Keriwehan hari ini telah selesai. Rangga pun sudah memesan tiket untuk pergi ke eropa untuk berbulan madu besok pagi. Dia ingin menikmati waktunya bersama rubi.

Di sisi lain nasya menginfat-ingat kata dilan. siapa tahu jodoh. Tapi sebenarnya dia gak tua banget sih. Tapi nasya sudah terlanjur memanggilnya bapak. Tampan sih dokter itu.

" Nasya kakak besok ada rapat intern ke luar kota. Mobilmu belum selesai. Naiklah taxi," ucap sang kakak. Nasya menghembuskan nafas berat.

"Baiklah kak hati-hati," jawab nasya. Azzam kemudian mengacak-acak rambut adiknya.

" Tidurlah ini sudah malam!" seru sang kakak.nasya pun pergi ke kamarnya. Nasya jadi membayangkan bagaimana jika jadi kekasih rangga. Sampai dia tertidur pulas.

Pagi harinya nasya sibuk dengan dapurnya. Dia memasak dengan bahagia dan itu pun karena ulah sahabatnya yang membuat dirinya tertarik pada si bapak dokter. Setelah selesai masak dia bergegas ke rumah sakit.

Sesampainya di depan ruangannya ...

" Nona hari ini dokter rangga sudah selesai praktek. Kembalilah 2 minggu lagi," ucap sang asisten.

" Tapi ... Saya cuma antar ini mas," jawab sang asisten.

" Tapi beliau baru saja keluar dia akan pergi berbulan madu," jawab sang asisten lagi. Nasya yang mendengar jadi shock. Dia menyukai suami orang wah sudah tidak benar.

" Baiklah ... Ini untukmu saja permisi!" seru nasya berlari keluar. Saat di luar di melihat pemandangan yang membuat hatinya jealous parah. Dokter itu memeluk dan meng-kiss perempuan cantik yang mungkin adalah istrinya.

" Kamu sukses membuatku patah hati dokter, Huh," ucap nasya sambil mengelus dadanya yang terasa sakit.

.

.

Pupuk bawangnya mulai deh. Jangan lupa vote like gift rate ya sayang mkshhhh.

Terpopuler

Comments

Danny Muliawati

Danny Muliawati

thor maaf yah ganti dong panggilan idiot kan anak pinter 😍😍

2023-11-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!