GIDR 9

Sore hari telah datang. Dimana Nasya sudah bersiap pulang. Dimana dia sudah mengantongi ijin rawat jalan. Ketika dia membereskan perlengkapannya suara derapan kaki melangkah masuk ke ruangan terdengar.

Tap. Tap. Tap

" Sore cantik!" seru dokter farish. Nasya menggeleng tapi tidak dengan fatimah. Dia menatap aneh pada dokter farish.

" Eh ... Gesrek ya otak kamu dokter farish. Sejak kapan jadi tipe-tipe penggoda gini. Jangan macam-macam sama adik saya. Kami sudah cukup mengantongi ijin rawat jalan. Keluarlah!" seru fatimah kesal. Jika suaminya tahu sikap farish bisa kena damprat fatimah karena pernah membelanya. Hadeh memalukan.

" Tunggu dokter fatimah, aku menunggu jawabannya!" ucap dokter farish menegaskan. Nasya yamg merasa kemudian menoleh pada dokter itu.

" Maaf dok ... Saya tidak selera carilah perempuan lain yang bisa kamu ajak pacaran. Masa remajaku sudah terbuang dengan belajar. Saat ini aku ingin menikamati karir di masa muda. Jangan merusak impianku dengan kata-kata bualan anda. Terima kasih," jawab Nasya yang sangat kasar. Dia tidak suka pemuda yang terlalu Pede dan tipe-tipe penggoda sepertinya. Itu sangat memalukan dan merusak harga dirinya. Nasya melesat keluar diikuti fatimah. Farish hanya tersenyum smirk.

" Arogan tapi menarik. Semoga kita bertemu lain waktu," ucap farish dengan perasaan kesal. " Tidak akan kubiarkan kamu mencuri hati kak rangga dan takkan kubiarkan kamu merusak kebahagiaan rubi," ucapnya lagi.

Nasya berjalan cepat. Fatimah pun menyusul ke parkiran.

" Dek! Pelan-pelan dong kan masih sakit," ucap fatimah. Azzam tak bisa menjemput karena dia berada di luar kota.

" Kakakku sayang ... Nasya pulang sendiri. Nasya sehat bahkan lebih sehat. Jadi berhentilah menjadikanku anak kecil," ucapnya dengan kesal. Fatimah tersenyum pada nasya.

" Jadilah segera dewasa! Supaya kakakmu itu tidak terlalu posesif," ucap fatimah sambil menggeleng. " Hati-hati di jalan," ucap fatimah lagi ketika nasya sudah masuk mobil.

" Iya kakak siap," jawab nasya sambil tersenyum.

" Pak ... Bawa dia pulang jangan ke butik. Anak ini harus istirahat!" seru fatimah pada supir suaminya itu. Pak supir pun mengangguk sambil tersenyum. Nasya hanya menggeleng malas.

" Udah ya! By ... " jawab nasya dengan kesal pada mereka.

Mobil itu pun di lajukan ke jalan raya. Fatimah hanya memandanginya dari kejauhan. Saat dia melangkah masuk ponselnya berbunyi.

" Ya ... Sayang ada apa?" tanya fatimah.

" Nasya udah pulang dengan pak Biman?" tanya azzam.

" Sudah baru saja mas," jawab fatimah kemudian.

" Baiklah ... Love you more sayang," ucap azzam. Dia selalu saja bersikap romantis yang membuat fatimah klepek-klepek jiwa dan raganya.

Ketika berada di jalan...

" Pak ke supermarket sebentar ya! Saya mau beli sesuatu," seru nasya.

Pak biman mengangguk dan segera memasuki pelataran supermarket. Gadis itu dengan santainya memasuki area supermarket. Seusai belanja keperluannya ada beberapa orang laki-laki yang usil pada nasya. Area parkir yang luas membuatnya kesulitan meminta bantuan.

" Lepaskan ! Apa yang mau kalian lakukan," ucap nasya dengan menjauhi mereka. Mereka yang bertiga membuat nasya panik. Kondisi nasya yang masih baru keluar rumah sakit membuatnya lemas.

" Gadis cantik gak mungkin dong kita anggurin. Yuk kita ajak dia bersenang-senang!" seru beberapa orang. Namun saat tangan preman itu akan memeluk nasya yang sudah pucat. Ada yanf menarik tangan itu dan mengajak mereka semua bergulat. Nasya yang sudah pucat dan terduduk tak begitu memperhatikan.

" Idiot ... Kamu tidak apa-apa?" tanya rangga. Nasya menatap ke arah sumber suara dia malah tersenyum lalu menutup matanya.

" Dia selalu seperti ini ... Merepotkanku saat bertemu," dengan sigap rangga menggendongnya. Entah dari sejak pertama bertemu dengannya di rumah sakit waktu itu. Rangga selalu saja tidak jika tak membantu. Rangga membawanya ke dalam mobil. Dia menelpon fatimah.

" Ada apa rangga?" tanya fatimah.

" Adikmu tadi di dekati pria-pria sumbang di parkiran supermarket. Jemputlah dia di apartemenku, telpon supirnya. Aku tidak tahu dia dimana," ujar rangga pada fatimah yang ikutan panik. Saat ini dia piket tapi nasya lebih penting.

" Baiklah aku tukar piket dulu ngga," jawabnya sedikit panik.

" Oke ... " Rangga pun melajukan mobilnya menuju apartemen. Dia sesekali menatap ke arah nasya.

" Segeralah menikah idiot ... Supaya kamu tidak merepotkanku seperti ini," ucapnya dengan lirih. Gadis itu nampak pucat karena baru saja keluar dari rumah sakit.

Sesampainya di area apartemennya nasya kembali di gendong oleh suami rubi itu. Rangga terlihat panik. Sesampainya di kamar dia menidurkan nasya dan segera mengeluarkan perlengkapan medisnya.

" Permisi ya idiot ... Aku harus memeriksamu!" lirih rangga dengan hati-hati. Dia memeriksa gadis itu secara detail. Rangga menggelengkan kepalanya.

" Harusnya kamu memperhatikan asupanmu idiot. Lihatkah saat ini keadaanmu menyedihkan sekali. Kenapa kamu selalu ceroboh seperti dulu bukankah saat ini usiamu sdh 20 tahun," monolog rangga sambil menatap wajah kekanakan nasya. Rangga menatap iba pada gadis itu karena tak ada yang menjaganya jika kemana-mana. Dia masih anak yang sama seperti dulu.

" Kemana pemuda tengik itu? Apakah dia bukan pacar idiot?" tanyanya dalam hati.

Beberapa saat kemudian fatimah datang...

" Gimana ngga?" tanya fatimah.

" Dia benar-benar membuat tubuhnya frustasi. Seharusnya dia memakan asupan yang cukup untuk tubuhnya. Lihatlah adikmu yang selalu fokus pada karirnya yang melejit!" seru rangga menunjuk ke arah nasya. Fatimah mendekati adiknya.

" Sya ... Makanya udah kakak bilang menikahlah!" seru fatima dengan lesu. Rangga mengkerut.

" Dia sudah memiliki kekasih ya?" tanya rangga sambil membereskan peralatannya. Fatimah mengedikkan bahunya.

" Lebih tepatnya dia sudah ku kenalkan dengan beberapa dokter tapi dia bilang. Dia benci dokter aku jadu dibuat tidak mengerti," jawab fatimah menjelaskan pada rangga.

" Apa? Ada apa dengan dokter baginya fatimah?" tanya rangga ikut tidak paham. Fatimah menatap rangga yang sedang memasukkan peralatan medisnya.

" Jika aku tahu maka dia tidak akan sendiri saat ini ngga. Tapi dia tak menceritakan apapun. Apa kungkin dia pernah memikili kekasih seorang dokter ya?" tebak fatimah saat berbincang dengan rangga. Pemuda itu juga mengedikkan bahunya.

" Entah ... Adik azzam ini memang sedikit berbeda. Aku bahkan tidak paham pada jalan pikirnya meskipun beberapa kali ketemu," ucapnya dengan tersenyum kecut. Fatimah pun ikut menggeleng dan bernafas panjang.

" Tadi ... Saja saat di tembak dokter farish jawabnnya menyakitkan sampe ulu hati rasanya. Aku yang mendengar jadi pengen tertawa sambil guling-guling. Bagaimana tidak ngga. Dia menjawab sedang tidak selera jangan merusak masa mudaku carilah pacar lain," ucap fayimah menirukan suara nasya tadi pagi. Rangga dibuat melongo tidak jelas. Dia kaget saat tahu farish nekat menyatakan cintanya untuk nasya yang jelas dia tahu farish tak menyukai nasya. Niatnya hanya untuk melindungi rubi. Tapi dia dibikin terkejut oleh jawaban nasya yang membuatnya tambah bingung. Selama ini pesona farish begitu menjulang namun dia di tolak oleh gadis ini. Wah, nasya ini parah dia benar-benar tidak bisa ditebak.

" Luar biasa adikmu itu fatimah," ucap rangga sambil tersenyum miring.

.

.

Sorry baru up ya. Maksihhhh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!