Pulang ke rumah.

Setelah mencari Gendis sendiri tidak bertemu Arga menghubungi anak buah tuan Daniswara, agar mencari keberadaan Gendis maupun Gayatri.

"Tuan Danis, kami mohon maaf karena Gendis pun pergi juga" Arga melaporkan kepada bos.

"Ada apa lagi ini?" Daniswara menyugar rambutnya gusar.

Saat ini ia sudah keluar dari kamar tetapi hanya seorang diri, sementara Banuwati masih dirias. Setidaknya ia minta MUA untuk menyamarkan sembab agar tidak terlalu kentara dilihat para tamu saat resepsi Gendis jam 11 nanti.

"Mohon bersabar Tuan, saya sudah mengerahkan anak buah Tuan, agar mencari Gendis" Arga jika kerja tidak menunggu perintah, sudah mempunyai inisiatif sendiri.

"Bagus Arga" pungkas Danis dengan perasaan campur aduk, mau tak mau ia harus ke depan menenui para kerabat yang masih menunggu di depan.

Daniswara menyembunyikan kegundahan hati, mengajak ngobrol para kerabat mengatakan bahwa pengantin wanita tidak bisa hadir karena sedang berhalangan dengan berbagai alasan. Para kerabat dekat pun mengerti akhirnya pulang ke rumah masing-masing, hanya menyisakan dua keluarga. Daniswara menceritakan kepada besan bahwa Gendis pun pergi juga.

"Jadi... Gendis pergi juga Danis?" tanya Ganendra, tidak habis pikir.

"Iya, tapi aku yakin bukan masalah pernikahan ini yang membuat Dia pergi Ndra, sepertinya ada masalah yang lain," Daniswara belum mengetahui penyebab perginya Gendis.

"Lalu bagaimana dengan resepsinya? Apa akan kita lanjutan walaupun tidak ada pengantin wanita?" Sambung Seruni, mengingat undangan yang sudah tersebar.

"Bagaimana Nak Bima?" Daniswara minta pendapat menantunya yang hanya termenung entah apa yang dia pikirkan.

"Sebentar Om, sebenarnya siapa wanita yang saya nikahi? Mengapa namanya tidak sesuai dengan nama yang Om dan Papa ceritakan?" Pertanyaan ini yang sejak tadi ingin Bima tanyakan, karena mengganggu pikirannya.

Ganendra dan juga Daniswara saling pandang.

"Nis, sebaiknya memang kamu ceritakan siapa Gendis. Gendis saat ini sudah menjadi istri Bima dan jangan ada rahasia lagi," saran Ganendra.

"Baiklah" Daniswara menarik napas panjang sebelum akhirnya mencerikan siapa Gendis, tidak ada yang di tutup-tutupi.

Bima, Dara, dan juga Seruni terperangah, namun mereka tetap mendengarkan cerita Danis hingga selesai. Terutama Dara tidak menyangka bahwa sahabatnya mempunyai permasalahan yang pelik.

Bima menatap pria yang sudah menjadi mertuanya itu. Pria yang bawaannya tenang ternyata saat muda juga mencicipi minuman haram dan pada akhirnya wanita lah yang menjadi korban.

"Apa boleh saya lihat foto istri saya seperti apa Om?" Bima tentu ingin melihat wajah istrinya walaupun hanya di foto. Entah wanita itu kena kurap, kadas kudis, atau buruk rupa sekalipun, wanita itu kini sudah menjadi istri dan akan menerima apa adanya.

"Aku punya Kak" potong Dara segera mengeluarkan handphone.

"Kamu?" Bima menoleh adiknya yang sedang membuka galeri.

"Iya Kak, Gendis itu sahabat aku yang sering aku ceritakan ke kakak. Ini fotonya" Dara menunjukan galeri. Saat foto bertiga bersama Gendis, dan Erlang. Foto yang masih mengenakan baju putih abu-abu, saat wisuda SMK, dan saat ospek.

Bima dengan cepat ambil alih handphone dari tangan Dara, menelisik wajah Gendis, dadanya berdegup kencang, perasaan bahagia membuncah. Senyum tipis terukir di bibirnya, tidak Bima sadari, tertangkap keluarga besarnya dan mereka saling pandang.

Allah ternyata mengabulkan doanya setiap hari, jika memang gadis cantik pencuci mobil yang bersikap apa adanya itu akan menjadi istrinya, semoga dipermudah dan kini doanya terkabul sudah. Pantas saja ketika selesai mengucap ijab kabul perasaan hatinya lega, ternyata ini jawabanya.

"Sebaiknya pesta dilanjutkan Om, Pi, walaupun tanpa kami. Bima akan berusaha mencari Gendis saat ini juga, jika bertemu nanti akan saya ajak langsung ke hotel," tegas Bima.

Semua yang berada di situ mengerutkan kening.

"Bima berangkat Mami, Papi, Om, doakan Bima cepat menemukan Gendis," tanpa menunggu jawaban, Bima pun beranjak pergi.

"Loh ada apa ini? Apa Bima sudah mengenal Gendis?" Seruni bertanya pada suaminya.

"Sepertinya Bima menyukai Gendis Ndra" Daniswara tersenyum.

"Sepertinya begitu, kita doakan semoga mereka samawa," doa Ganendra kemudian di amini semua, sambil menatap Bima yang sudah berjalan cepat.

"Kakak" panggil Dara.

Bima yang sudah hendak naik mobil menghentikan langkahnya menoleh ke belakang.

"Semangat..." Dara tersenyum. Bima hanya membalas dengan mengangkat tangan tanda semangat kemudian masuk ke dalam mobil.

"Lansung ke hotel Tuan?" tanya Gito. Yang Gito tahu tuanya saat ini akan resepsi. Tetapi yang membuat Gito bertanya-tanya adalah; mengapa tuanya hanya berangkat seorang diri, tanpa mempelai wanita.

"Tidak... kita akan mencari Gendis" jawab Bima.

Gito menoleh cepat. "Gendis?" Gito seketika ingat pencuci mobil itu bernama Gendis.

"Iya" jawab Bima, pandanganya tidak lepas dari kanan kiri jalan siapa tahu istrinya sedang berjalan di trotoar.

"Aduh Tuan... Jangan macam-macam! Tuan sudah punya istri konglomerat, masa mau cari Ndis, Ndis"

"Jangan banyak ngatur Gito, lakukan saja apa yang saya suruh!" tandas Bima.

"Baik Tuan"

************

Di perkampungan kumuh, Gendis menyusuri gang sempit, tampak anak-anak bermain-main tanpa beban. Gendis ingat ketika kecil ia tidak ada waktu bermain karena pulang sekolah harus membereskan rumah.

Wajar karena Ningrum emaknya harus mencari barang rongsokan yang di jual ke pengepul, untuk sekedar mengisi perut.

"Emaaak..." gumam Gendis mengingat emaknya. Gendis sàat ini dalam perjalanan pulang ia berpikir emaknya pulang ke rumah.

Tanganya menjinjing dua sisi kebaya agar tidak ke injak dan pada akhirnya kotor karena melewati jalanan yang menggenang karena becek. Gendis tidak perduli menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar rumahnya. Wajar, karena ia mengenakan kebaya pengantin mewah pula.

"Gendis..." Gendis menghentikan langkahnya ketika mendengar wanita yang di kenalnya memanggil dari belakang.

"Gendis... alhamdulillah, akhinya aku bisa bertemu kamu" entah angin apa yang mengerakkan Ayu datang kemari.

"Ndis, kamu..." Ayu baru menyadari tampilan gendis, kemudian menatap wajah sahabtnya seperti lelah karena banyak menangis.

"Ayu... hiks hiks hiks" seketika Gendis memeluk sahabatnya. Selama ini hanya Ayu yang selalu ia jadikan teman curhat. Ayu mengusap punggung Gendis dalam pelukanya, hingga beberapa saat kemudian Gendis melepas pelukanya.

"Ndis... kamu kenapa? Terus kenapa kamu berpakaian seperti ini?" cecar Ayu.

"Kita ke rumah aku Yu, nanti aku ceritakan" lirih Gendis lalu pulang ke rumah bersama Ayu, yang tidak jauh lagi dari tempat itu.

"Maaakk..." panggil Gendis setelah membuka kunci rumah. Namun keadaan rumah sangat sepi bahkan tidak ada tanda-tanda emaknya pulang. Keadaan rumah berdebu karena sudah sekitar 8 bulan tidak ia tinggali.

"Bukanya Tante Ningrum bekerja sama kamu Ndis?" Ayu bingung melihat Gendis mencari Ningrum ke kamar Gendis, kamar Ningrum sendiri, dan yang terakhir kamar almarhum paman Jimin.

"Iya Yu, tapi emak pergi dari rumah majikan aku Yu. Emak aku kemana Yu..." Gendis menjatuhkan bokongnya di kasur lepek, air matanya yang sudah kering kembali tumpah.

"Sabar Ndis..." Ayu merangkul pundak Gendis. Entah apa persoalan yang menimpa sahabatnya hingga Gendis menjadi seperti ini, Ayu hanya bisa menenangkan.

...Bersambung....

Terpopuler

Comments

Naynina 123

Naynina 123

bima bilek : anjay crush gue gue nikahin😆😆

2023-06-21

0

Rahma AR

Rahma AR

semangat

2023-04-01

0

Lee

Lee

Alhamdulillah ya Bima, Allah ngasih jdohnya tdak dsangka²..
ayo skrang cri gendhis

2023-03-05

0

lihat semua
Episodes
1 Gendis.
2 Menjalani dunia baru.
3 Orang di masa yang lalu.
4 Rindu pencuci mobil.
5 Berdebat.
6 Cinta layu sebelum berkembang.
7 Membuka luka lama.
8 Dendam.
9 Kehadiran nenek.
10 Membeli kucing dalam karung.
11 99 persen.
12 Keputusan.
13 Juara Umum.
14 Masa kecil.
15 Masuk kuliah pertama.
16 Beli Cincin.
17 Lari dari pernikahan.
18 Dibohongi bertahun-tahun.
19 Pergi.
20 Pulang ke rumah.
21 Bertemu dia lagi.
22 Pelukan dahsyat.
23 Setengah hari bersamamu.
24 Gibah pagi.
25 Tiba di rumah mewah.
26 Sudah dikepung.
27 Tertunduk malu.
28 Pengkhianat.
29 Main golf.
30 Tidak ingin dilahirkan.
31 Salah sangka
32 Tinggal reruntuhan.
33 Dirundung risau.
34 Meletus.
35 Mulai penyelidikan.
36 Minta mobil.
37 Di gigit kobra.
38 Diary.
39 Buku harian 1
40 Buku harian 2
41 Sesal.
42 Pengakuan senja
43 Rindu pelukanya.
44 Orlap.
45 Menyita kunci mobil.
46 Menyadari.
47 Gadis misterius.
48 Emoji Hati.
49 Kado Untuk Bima.
50 Jam tangan hilang.
51 Temani aku.
52 Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53 Bima Kesal.
54 Pertengkaran.
55 Mengembalikan kado.
56 Huru hara.
57 Kecelakaan.
58 Dua kenyataan pahit.
59 Saat-saat terakhir.
60 Ingin bertemu Nenek.
61 Sanggupkah.
62 Bau wangi.
63 Pria berkumis menghipnotis.
64 Kopi rasa cinta.
65 Gosip perusahaan.
66 Resepsi pernikahan ulang.
67 Masakan rasa cinta.
68 Memecat tidak hormat.
69 Cinta yang salah.
70 Bermain layang-layang.
71 Luka Hati Mak Ningrum.
72 Pengumuman
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Gendis.
2
Menjalani dunia baru.
3
Orang di masa yang lalu.
4
Rindu pencuci mobil.
5
Berdebat.
6
Cinta layu sebelum berkembang.
7
Membuka luka lama.
8
Dendam.
9
Kehadiran nenek.
10
Membeli kucing dalam karung.
11
99 persen.
12
Keputusan.
13
Juara Umum.
14
Masa kecil.
15
Masuk kuliah pertama.
16
Beli Cincin.
17
Lari dari pernikahan.
18
Dibohongi bertahun-tahun.
19
Pergi.
20
Pulang ke rumah.
21
Bertemu dia lagi.
22
Pelukan dahsyat.
23
Setengah hari bersamamu.
24
Gibah pagi.
25
Tiba di rumah mewah.
26
Sudah dikepung.
27
Tertunduk malu.
28
Pengkhianat.
29
Main golf.
30
Tidak ingin dilahirkan.
31
Salah sangka
32
Tinggal reruntuhan.
33
Dirundung risau.
34
Meletus.
35
Mulai penyelidikan.
36
Minta mobil.
37
Di gigit kobra.
38
Diary.
39
Buku harian 1
40
Buku harian 2
41
Sesal.
42
Pengakuan senja
43
Rindu pelukanya.
44
Orlap.
45
Menyita kunci mobil.
46
Menyadari.
47
Gadis misterius.
48
Emoji Hati.
49
Kado Untuk Bima.
50
Jam tangan hilang.
51
Temani aku.
52
Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53
Bima Kesal.
54
Pertengkaran.
55
Mengembalikan kado.
56
Huru hara.
57
Kecelakaan.
58
Dua kenyataan pahit.
59
Saat-saat terakhir.
60
Ingin bertemu Nenek.
61
Sanggupkah.
62
Bau wangi.
63
Pria berkumis menghipnotis.
64
Kopi rasa cinta.
65
Gosip perusahaan.
66
Resepsi pernikahan ulang.
67
Masakan rasa cinta.
68
Memecat tidak hormat.
69
Cinta yang salah.
70
Bermain layang-layang.
71
Luka Hati Mak Ningrum.
72
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!