Dendam.

Percekcokan malam pun terjadi, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan Ningrum meninggalkan Daniswara yang masih terpaku di tempat. Sejahat-jahatnya Ningrum, tidak ingin dipergoki oleh Banuwati, dan akhirnya melukai hati yang berstatus sebagai majikanya itu. Walau bagaimana Banuwati tidak tahu masalah, kecuali jika Daniswara ketika itu jujur menceritakan kepada Banuwati setelah mereka menikah. Ningrum membuka pintu kamar menatap Gendis yang sudah terlelap.

Ia rebahkan tubuhnya di samping putrinya tidur miring memunggungi Gendis. Sakit yang dulu ia rasakan kini kembali kambuh.

Flashback on.

Dini hari Ningrum tiba di rumah setelah di bukakan pintu oleh Jimin sang adik.

"Mbak Rum kenapa?" tanya Jimin, ketika Rum pulang dengan mata sembab dan tidak baik-baik saja terlebih sang kakak pulang dini hari.

"Tidak apa-apa Jim, sebaik nya kamu tidur lagi," lirih Ningrum kemudian ke kamar.

"Mbak... ada apa? Tolong ceritakan, siapa yang sudah menyakiti Mbak, aku tempeleng Dia!" desak Jimin pria pekerja keras itu, sebelum ibu nya meninggal sebagai laki-laki harus bisa melindungi sang kakak.

"Mbak tidak apa-apa Jim, sebaik nya kamu keluar, Mbak mau istirahat," jawab Ningrung memeluk guling tanpa menoleh Jimin.

"Baik Mbak, jika butuh apa-apa dan ingin curhat panggil Jimin ya" Jimin pun keluar setelah di angguki oleh Ningrum. Ningrum mencoba untuk tidur namun bayangan menyakitkan itu tidak mau enyah dari pikiran.

Keesokan harinya dengan menyamar sebagai pria, Ningrum mencoba bangkit walaupun kejadian semalam masih terasa sakit. Namun, ia berniat menyaksikan penikahan seperti apa yang diselenggarakan oleh pria yang sudah merusaknya. Jika Danis pria baik tentu tidak akan tenang dalam pernikahan itu.

Ningrum tiba di depan rumah mempelai wanita menerobos masuk walaupun satpam mencegahnya karena tidak membawa undangan. Namun karena Ningrum mengenakan batik pria, celana bahan, topi, dan masker, ternyata dapat mengecoh satpam.

Sampai di depan pelaminan, Ningrum menatap nanar pria yang tertawa lebar bersanding dengan seorang wanita yang luar biasa cantik. Hati Ningrum benar-benar sakit, segitu bahagianya Daneswara sama sekali tidak ada raut wajah penyesalan sedikitpun.

Ningrum kembali pulang ke rumah dengan membawa kesedihan. Ia menangis kencang rupanya Jimin sang adik sudah tidak ada. Mungkin Jimin sudah berangkat kerja sebagai tenaga proyek yang di gaji mingguan.

***********

Enam bulan kemudian. "Usir Ningrum dari kampung ini dia sudah berbuat Zina," para tetangga Ningrum merasa jijik karena Ningrum perutnya sudah mulai membesar.

"Tolong, maafkan Mbak Rum, ini tidak seperti yang kalian kira," Jimin membela kakak nya yang sedang menangis terisak-isak di teras. Ningrum di lempari telur busuk bahkan sampah. Ini belum seberapa, Ningrum pun terpaksa diputus oleh kekasihnya. Walaupun Ningrum berusaha menyembunyikan kehamilannya toh perutnya tidak bisa berbohong.

"Pergiiii... jika kamu tidak mau mengajak kakak mu pergi, kami akan bakar rumahmu!" suara warga bersahutan mencaci maki Ningrum dan juga Jimin. Hati Ningrum bagai tersayat sembilu, orang yang makan nangka, mengapa justeru diri nya yang kena getahnya. Tangis Ningrum semakin kencang.

"Baiklah-Baiklah, kami akan pergi dari sini, tapi tolong berikan saya waktu setidaknya dua hari, setelah saya mendapat tempat tinggal yang baru kami akan pergi," tegas Jimin.

"Baik, saya beri waktu seperti yang kalian minta, jika tidak kalian tepati, kami tidak akan memberi kalian ampun!" para warga pun membubarkan diri.

"Kenapa kamu usir mereka Jim, biarkan aku mati saja! Biarkan aku mati di bakar sama mereka jim" Ningrum memukul-mukul perutnya sendiri, hidup pun tidak ada gunanya, orang yang ia cintai pun kini pergi meninggalkan dirinya.

"Hentikan Mbak Yu! Hentikan! Jangan membuat dosa lebih banyak lagi, kasihan bayi dalam kandungan Mbak Yu" Jimin mencekal tangan Ningrum.

"Tapi kenapa aku harus menerima sakit seperti ini Jim, apa salah aku Jim?!" Ningrum terus menangis. Jimin membantu kakaknya bangun dari duduk nya yang bersimpuh di lantai teras rumah.

"Sekarang Mbak Yu mandi, terus kita cari kontrakan," Jimin berniat mencari kontrakan dan akan menjual rumah ini mungkin sedikit mengurangi rasa sakit hati kakak nya. Jimin menatap langkah Ningrum yang sedang ke kamar mandi, hati nya tercabik-cabik.

"Tunggu Daniswara, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu," Jimim mengepalkan tangan.

15 menit kemudian Jimin memperhatikan Ningrum sudah keluar dari kamar mandi bau amis telur, dan bau bentek sampah, pun sudah hilang.

"Ayo Mbak kita berangkat" Jimin pun sudah siap. Tanpa menjawab Ningrum mengikuti adiknya. Jimin mengajak Ningrum numpang angkutan, entah mau ke arah mana, Ningrum kali ini hanya diam membisu. Ningrum seperti orang linglung tidak menyadari ternyata Jimin menuju rumah mewah. Jimin membantu Ningrum turun dari angkutan.

"Loh kok, kita kemari Jim, Mbak nggak mau," Ningrum berniat balik badan.

"Mbak harus nurut sama Jimin, tidak usah bicara apapun di dalam nanti, Mbak cukup diam biar aku yang bicara," Jimin menarik lengan Ningrum pelan, masuk ke dalam pagar setelah di bukakan pintu oleh art.

"Bi, Nyonya ada di rumah?" tanya Jimin sopan.

"Ada, sebentar ya... saya panggilkan" bibi pun mempersilahkan Ningrum masuk.

"Duduk dulu Mbak, Mas..." titah bibi kemudian berlalu meninggalkan Ningrum dan juga Jimin yang masih berdiri. Ningrum memberanikan diri melungguhkan bokongnya di sofa empuk. Walaupun selama satu tahun bekerja disini tentu Ningrum tidak berani duduk. Jika melanggar pasti akan di marahi habis-habisan.

"Siapa tamu nya Bi?" tanya nyoya Ajeng yang sedang berjalan keluar.

Merdengan suara pemilk rumah, dada Ningrum deg degan. Jimin menggenggam tangan Ningrum yang basah keringat dingin.

"Tenang Mbak" bisik Jimin. Begitu nyonya berjalan semakin dekat mereka seketika berdiri.

"Ningrum... ada apa kamu datang kemari?" mama Ajeng menatap Gendis dari atas sampai bawah.

"Sa- saya...." Ningrum terbata-bata.

"Nyonya... maafkan kami, jika kami lancang datang kesini, ada hal penting yang akan kami sampaikan" Jimin yang menjawab.

Mama Ajeng melungguhkan bokongnya, di susul Ningrung. Dengan gamblang Jimin menceritakan apa yang menimpa sang kakak.

"Bohong!" Sanggah mama Ajeng dengan wajah berapi-api.

"Anak saya Daniswara orang terhormat. Dia tidak akan mungkin melakulan hal bejat seperti itu!" mama Ajeng menatap nyalang wajah Ningrum. "Enak saja! Kamu melakukannya dengan pria lain, tapi dengan gampangnya kamu minta tanggungjawab! Keluar kamu dari rumah saya!" Usir mama Ajeng.

"Saya berani bersumpah Nyonya... yang dikatakan adik saya memang benar, bayi yang saya kandung ini anak Tuan Danis" Kali ini Ningrung berkata lantang.

"Berani kamu menyebut nama Danis! Saya seret kamu keluar!" tandas mama Ajeng.

"Heh! Dengarkan saya Rum, seandainya apa yang kamu katakan itu benar sekalipun, kami keluarga Daneswara tidak akan menerima bibit rendahan seperti kalian," Ajeng menunjuk wajah Ningrum.

Ningrum seketika berdiri mencium kaki mama Ajeng. "Tolong saya Nyonya... bayi yang saya kandung ini benar anak Tuan Danis,"

"Keluar kalian!" Ajeng menjejak tubuh ningrum hingga terjengkang ke lantai. Ningrung sungguh sakit hati merasakan penolakan ini. Jimin seketika membantu Ningrum untuk bangun yang masih meringkuk di lantai keramik sambil menangis.

"Heh! Dengar! Dengarkan saya! Berani kalian mengusik kebahagiaan rumah tangga Danis, saya tidak akan segan-segan menyeret kalian ke daerah yang belum pernah di jamah manusia." ancam Ajeng tidak main-main.

"Pergi kalian!" bentak mama Ajeng menggelegar.

Ningrung mengepalkan tangan rasanya sakit sekali mendapat perlakuan seperti ini.

"Keluaaaarrr... satpam... seret dua manusia ini!" pekik nya.

"Baik Nyonya Ajeng yang terhormat! Tidak usah panggil satpam saya akan pergi! Tapi catat Nyonya! Suatu saat nanti Anda akan menerima balasan yang setimpal atas perlakuan Anda! Permisi!"

Dengan mengumpulkan sisa tenaganya Ningrum menarik tangan Jimin keluar dari rumah itu menyimpan dendam.

Flashback off.

"Hiks hiks hiks" tangis Ningrung di tengah sepinya malam mengingat derita masa lalu, hingga membangunkan Gendis yang tidur di sebelahnya.

"Mamak..." Gendis bangun dari tidurnya.

"Mamak kenapa?" tanya Gendis dengan suara kas bangun tidur, namun Ningrum tidak menjawab tidur memunggungi Gendis.

"Maak.... maafkan Gendis, jika mamak disini tidak nyaman, justeru menambah penderitaan Emak, sebaiknya kita pergi dari sini Mak, Gendis rela tidak sekolah, biar Gendis kerja yang lain saja, yang penting Mak senang" Gendis menenggelamkan wajahnya di punggung Ningrum.

"Diam Gendis, sebaiknya kamu tidur," jawab Ningrum kali ini lebih lunak, di antara isak tangis.

Terpopuler

Comments

Afternoon Honey

Afternoon Honey

luka lara hati Ningrum 💔

2023-06-15

0

💞R0$€_22💞

💞R0$€_22💞

Perasaan saat itu si lakinya jg baru patah hati, bs kelihatan bahagia ya nikah dijodohkan..biasanya kan dingin datar gitu..😅😅😅😅

2023-04-03

0

Dewi

Dewi

lanjut kak ❤️

2023-03-21

0

lihat semua
Episodes
1 Gendis.
2 Menjalani dunia baru.
3 Orang di masa yang lalu.
4 Rindu pencuci mobil.
5 Berdebat.
6 Cinta layu sebelum berkembang.
7 Membuka luka lama.
8 Dendam.
9 Kehadiran nenek.
10 Membeli kucing dalam karung.
11 99 persen.
12 Keputusan.
13 Juara Umum.
14 Masa kecil.
15 Masuk kuliah pertama.
16 Beli Cincin.
17 Lari dari pernikahan.
18 Dibohongi bertahun-tahun.
19 Pergi.
20 Pulang ke rumah.
21 Bertemu dia lagi.
22 Pelukan dahsyat.
23 Setengah hari bersamamu.
24 Gibah pagi.
25 Tiba di rumah mewah.
26 Sudah dikepung.
27 Tertunduk malu.
28 Pengkhianat.
29 Main golf.
30 Tidak ingin dilahirkan.
31 Salah sangka
32 Tinggal reruntuhan.
33 Dirundung risau.
34 Meletus.
35 Mulai penyelidikan.
36 Minta mobil.
37 Di gigit kobra.
38 Diary.
39 Buku harian 1
40 Buku harian 2
41 Sesal.
42 Pengakuan senja
43 Rindu pelukanya.
44 Orlap.
45 Menyita kunci mobil.
46 Menyadari.
47 Gadis misterius.
48 Emoji Hati.
49 Kado Untuk Bima.
50 Jam tangan hilang.
51 Temani aku.
52 Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53 Bima Kesal.
54 Pertengkaran.
55 Mengembalikan kado.
56 Huru hara.
57 Kecelakaan.
58 Dua kenyataan pahit.
59 Saat-saat terakhir.
60 Ingin bertemu Nenek.
61 Sanggupkah.
62 Bau wangi.
63 Pria berkumis menghipnotis.
64 Kopi rasa cinta.
65 Gosip perusahaan.
66 Resepsi pernikahan ulang.
67 Masakan rasa cinta.
68 Memecat tidak hormat.
69 Cinta yang salah.
70 Bermain layang-layang.
71 Luka Hati Mak Ningrum.
72 Pengumuman
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Gendis.
2
Menjalani dunia baru.
3
Orang di masa yang lalu.
4
Rindu pencuci mobil.
5
Berdebat.
6
Cinta layu sebelum berkembang.
7
Membuka luka lama.
8
Dendam.
9
Kehadiran nenek.
10
Membeli kucing dalam karung.
11
99 persen.
12
Keputusan.
13
Juara Umum.
14
Masa kecil.
15
Masuk kuliah pertama.
16
Beli Cincin.
17
Lari dari pernikahan.
18
Dibohongi bertahun-tahun.
19
Pergi.
20
Pulang ke rumah.
21
Bertemu dia lagi.
22
Pelukan dahsyat.
23
Setengah hari bersamamu.
24
Gibah pagi.
25
Tiba di rumah mewah.
26
Sudah dikepung.
27
Tertunduk malu.
28
Pengkhianat.
29
Main golf.
30
Tidak ingin dilahirkan.
31
Salah sangka
32
Tinggal reruntuhan.
33
Dirundung risau.
34
Meletus.
35
Mulai penyelidikan.
36
Minta mobil.
37
Di gigit kobra.
38
Diary.
39
Buku harian 1
40
Buku harian 2
41
Sesal.
42
Pengakuan senja
43
Rindu pelukanya.
44
Orlap.
45
Menyita kunci mobil.
46
Menyadari.
47
Gadis misterius.
48
Emoji Hati.
49
Kado Untuk Bima.
50
Jam tangan hilang.
51
Temani aku.
52
Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53
Bima Kesal.
54
Pertengkaran.
55
Mengembalikan kado.
56
Huru hara.
57
Kecelakaan.
58
Dua kenyataan pahit.
59
Saat-saat terakhir.
60
Ingin bertemu Nenek.
61
Sanggupkah.
62
Bau wangi.
63
Pria berkumis menghipnotis.
64
Kopi rasa cinta.
65
Gosip perusahaan.
66
Resepsi pernikahan ulang.
67
Masakan rasa cinta.
68
Memecat tidak hormat.
69
Cinta yang salah.
70
Bermain layang-layang.
71
Luka Hati Mak Ningrum.
72
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!