Menjalani dunia baru.

"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Gendis tersenyum manis membuat pemuda tampan itu pun akhirnya membuka kaca mata nya, menatap lekat wajah Gendis.

"Saya cuci mobilnya Tuan..." Gendis menghindari tatapan mata pemuda itu, pergi mengait selang dan perlengkapan untuk mencuci mobil. Gendis menyemprotkan air membasahi mobil sebelum akhirnya melumuri kanebo dengan sampo mobil dengan lincah menggosok mobil.

"Heh! Kamu ini perempuan kok petakilan! Kalau sampai mobil tuan saya lecet, kamu mau tanggung jawab!" sinis supir. Sementara pria yang dipanggil tuan, tidak mau berpaling dari wajah Gendis.

"Tenang Mase... dijamin mobil Tuan Anda, tidak akan kenapa-napa, dan sudah pasti akan saya buat kinclong seperti wajah saya," Gendis tertawa tanpa menatap sang supir. Tanganya sibuk menggosok-gosok bagian depan mobil.

"Nggak! Saya harus lapor bos kamu. Enak saja! Memang tidak ada karyawan laki-laki apa, sampai mempekerjakan wanita yang belum tentu bisa bekerja!" supir terus mengomel. Namun Gendis tidak perduli, ia justeru ambil kursi menggosok mobil bagian atas perlahan agar tidak tergores. Sang pria tampan tersenyum kecil tanpa Gendis sadari.

"Selesai..." Gendis tersenyum menatap hasil kerja kerasnya.

Pria tampan gagah berwibawa berjalan ke arah Gendis. "Ini buat kamu" ucapnya lembut menyodorkan uang merah.

"Terimakasih Tuan... alhamdulillah, Tuan ternyata baik tidak seperti supir Anda itu," Gendis melirik supir yang sedang meneliti mobil barang kali ada yang tergores.

"Apa kamu bilang?!" sungut supir yang kira-kira berumur 20 tahun itu.

"Gito... mari kita berangkat" titah pria tampan itu memperingatkan supirnya yang bernama Sugito agar jangan bersikap kasar.

"Baik Tuan..." Sugito segera membukakan pintu untuk tuan nya setelah masuk, mobil mewah itu pun berlalu.

"Alhamdulillah... rezeki anak sholeh," Gendis membolak balikkan uang merah sebelum akhirnya memasukkan ke dalam saku celana. Gendis kemudian lanjut kerja hingga sore hari, bisa menyelesaikan mencuci mobil sebanyak lima mobil. Satu mobil ia tidak mendapat honor banyak hanya mendapat rp 10 ribu, tetapi Gendis bersyukur.

Sebelum magrib, Gendis pulang ke rumah sambil berjalan ia bernyanyi kecil. Uang 150 ribu akan ia berikan mak nya, 50 ribu, selebihnya akan ia kumpulkan untuk bayaran. Gendis akhirnya tiba di rumah, karena rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat itu.

Sampai di dalam rumah, Gendis mendapati sang ibu sedang menonton televisi.

"Assalamualaikum..." Gendis menyandak telapak tangan Nigrum kemudian menciumnya.

"Waalaikumsallam..."

"Kamu darimana sampai jam segini baru pulang?! Cuma alasan kan? Kamu sekolah? Paling kamu keluyuran!" Ningrum menatap sinis wajah Gendis.

"Mamak... Gendis itu pulang sekolah langsung kerja Mak, lihat ini" Gendis merogoh kantong dan mengeluarkan hasil kerja kerasnya selama 4 jam. Gendis memberikan uang biru untuk mamaknya.

"Kerja apa kamu?!" Ningrum mencabut uang cepat dari tangan Gendis.

"Aku kerja menggantikan paman Jimin Mak" tutur Gendis. Namun, Gendis tidak menceritakan jika ia di sekolah dipanggil wali kelas, karena harus melunasi tunggakan uang sekolah.

"Nggak usah sok-sok-an, kamu! Pakai acara kerja sambil sekolah. Mamak sudah menemui istri Tuan Daniswara, mulai besok pagi kamu harus kerja sama mamak! Titik!" Ningrum tidak mau dibantah.

"Maaak... aku mau kerja di tempat pencucian mobil saja, biar aku bisa tetap sekolah Mak," rengek Gendis air mata nya menggenang di pelupuk.

"Tidak! Jika kamu tidak mau menurut, siap-siap saja kamu akan kehilangan Mak," tegas Ningrum.

"Maksudnya apa Mak?" Gendis berdiri di depan Ningrum yang sudah berniat pergi dari tempat itu.

"Tidak usah banyak tanya, jika kamu ingin Mak kamu ini tetap hidup!" ketus Ningrum sambil berlalu.

Gendis pun akhirnya beranjak ke kamar menjatuhkan tubuhnya di kasur lepek. Ia benamkan wajahnya di atas bantal, tubuhnya bergetar karena tangisnya pecah. Pupus sudah harapannya agar bisa menamatkan sekolah SMK, dan mendapatkan ijasah.

Gendis merasa iri dengan Ayu dan juga teman-teman yang lain, mereka begitu disayangi kedua orang tuanya apa lagi ibu, tapi mengapa semua itu tidak pernah Gendis dapatkan? Gendis tidak ingin apapun hanya ingin sekolah tetapi mengapa sulit sekali. Selama 30 menit Gendis menangis begitu mendengar adzan maghrib ia segera beranjak keluar dari kamar, mandi di kamar mandi dekat dapur kemudian shalat maghrib tentunya.

Setelah selesai magrib Gendis ke dapur membuka kulkas yang di belikan paman beberapa tahun yang lalu mencari apa yang akan dimasak malam ini.

Begitulah Gendis, ia tidak pernah seperti teman-teman yang menikmati masa remaja jalan-jalan dan lain sebagainya. Gadis cantik itu selain sekolah, membantu paman mencuci mobil juga melakukan tugas rumah tangga. Toh Gendis tidak pernah mengeluh.

***********

Pagi hari setelah subuh seperti biasa Gendis akan memasak.

"Selesai memasak, kamu tidak boleh sekolah, siap-siap jam 6 kita harus sudah sampai di kediaman Daniswara," Ningrum mengejutkan Gendis.

"Iya... terserah Mak saja" Gendis sudah tidak mau membantah lagi, semalam ia sudah merenung. Gendis tahu, mak nya tipikal orang yang tidak mau di bantah. Gendis hanya bisa berdoa semoga nyonya Banuwati berhati baik, Gendis akan minta ijin melanjutkan sekolah. Toh ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah setelah subuh dan pulang sekolah.

Setelah menggoreng singkong sisa kemarin, Gendis sarapan bersama Ningrum.

"Jika kita bekerja disana nanti, kita pasti akan makan enak setiap hari Ndis, Mak bosan makan singkong terus" gerutu Ningrum.

Tapi Gendis lebih baik makan singkong terus Mak, daripada harus putus sekolah seperti yang Mak mau.

Selesai sarapan Gendis berangkat ke kediaman tuan Daniswara.

********

Jam setengah tujuh keluarga kaya raya yang baru tinggal di kota ini selama satu bulan sedang berkumpul di meja makan. Tuan Daniswara adalah pengusaha susu hasil produksi dari peternakan sendiri sampai export ke manca negara. Yakni perusahaan Daniswara group. Tentu Daniswara mempuanyai cabang usaha di berbagai kota, hingga sering pindah dari kota satu, ke kota yang lain.

"Bagaimana sekolah kamu yang baru Ratri?" tanya Daniswara kepada Gayatri anak gadis semata wayangnya.

"Biasa saja Pa, tidak ada bedanya dengan sekolah yang lama, tapi kalau pindah-pindah terus begini kan, harus menyesuaikan lagi" jawab Gayatri cemberut.

"Yang sabar Ratri... dengan begitu... kamu kan menjadi banyak teman Nak..." nyonya Banuwati menjawab.

"Permisi Nyonya..." Gendis yang membawa minuman dengan nampan menghentikan perdebatan.

"Siapa kamu?!" ketus Gayatri, tiba-tiba di rumah nya ada wanita cantik melebihi dirinya.

"Ini pembantu kita Ratri, dia seumuran sama kamu, berarti kamu punya teman di rumah ini," tutur Banuwati lembut, ia tersenyum menatap Gendis.

Gendis mengangguk santun lalu meletakkan minuman susu segar dengan rasa berbeda. Putih untuk tuan Daniswara, rasa buah untuk nyonya Banuwati, dan yang terakhir coklat untuk Gayatri.

"Huh teman! Pembantu!" ketus Ratri. Ketika Gendis meletakkan susu di depan nya.

"Ratri... kamu tidak boleh bersikap seperti itu, bukankah Mama sering katakan manusia sama derajatnya di hadapan sang pencipta," nasehat Banuwati bijak.

"Gendis... jangan ambil hati ucapan anak saya ya Nak,"

"Tentu tidak, Nyoya..." jawab Gendis.

Tuan Daniswara tidak menimpali dan juga tidak mau menatap Gendis. Beliau segera menyeruput susu murni hasil produksi dari sapi perah miliknya salah satu usahanya.

Cethat, chetat, chetat.

Suara sandal Ningrum yang berjalan membawa menu sarapan pagi ke meja makan. Wajah Ningrum berubah pucat kala sudah mendekati meja makan.

Praaangg....!!!

Nampan dalam pegangan Ningrum terlepas dari tangan.

******

Nahlo... kenapa ya? Ningrum sampai kaget begitu?

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

Gendis anak majikan yg ditukee

2024-07-08

0

Rara Kusumadewi

Rara Kusumadewi

Gendhis anak majikannya kayaknya

2023-09-22

2

Natha

Natha

Induk singa saja.. tau mana yang terbaik untuk sang anak dan masa depan anaknya.
Mungkin Gendis adalah anak yang tidak diinginkan.. tapi bagaimanapun tetaplah anaknya

2023-08-02

5

lihat semua
Episodes
1 Gendis.
2 Menjalani dunia baru.
3 Orang di masa yang lalu.
4 Rindu pencuci mobil.
5 Berdebat.
6 Cinta layu sebelum berkembang.
7 Membuka luka lama.
8 Dendam.
9 Kehadiran nenek.
10 Membeli kucing dalam karung.
11 99 persen.
12 Keputusan.
13 Juara Umum.
14 Masa kecil.
15 Masuk kuliah pertama.
16 Beli Cincin.
17 Lari dari pernikahan.
18 Dibohongi bertahun-tahun.
19 Pergi.
20 Pulang ke rumah.
21 Bertemu dia lagi.
22 Pelukan dahsyat.
23 Setengah hari bersamamu.
24 Gibah pagi.
25 Tiba di rumah mewah.
26 Sudah dikepung.
27 Tertunduk malu.
28 Pengkhianat.
29 Main golf.
30 Tidak ingin dilahirkan.
31 Salah sangka
32 Tinggal reruntuhan.
33 Dirundung risau.
34 Meletus.
35 Mulai penyelidikan.
36 Minta mobil.
37 Di gigit kobra.
38 Diary.
39 Buku harian 1
40 Buku harian 2
41 Sesal.
42 Pengakuan senja
43 Rindu pelukanya.
44 Orlap.
45 Menyita kunci mobil.
46 Menyadari.
47 Gadis misterius.
48 Emoji Hati.
49 Kado Untuk Bima.
50 Jam tangan hilang.
51 Temani aku.
52 Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53 Bima Kesal.
54 Pertengkaran.
55 Mengembalikan kado.
56 Huru hara.
57 Kecelakaan.
58 Dua kenyataan pahit.
59 Saat-saat terakhir.
60 Ingin bertemu Nenek.
61 Sanggupkah.
62 Bau wangi.
63 Pria berkumis menghipnotis.
64 Kopi rasa cinta.
65 Gosip perusahaan.
66 Resepsi pernikahan ulang.
67 Masakan rasa cinta.
68 Memecat tidak hormat.
69 Cinta yang salah.
70 Bermain layang-layang.
71 Luka Hati Mak Ningrum.
72 Pengumuman
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Gendis.
2
Menjalani dunia baru.
3
Orang di masa yang lalu.
4
Rindu pencuci mobil.
5
Berdebat.
6
Cinta layu sebelum berkembang.
7
Membuka luka lama.
8
Dendam.
9
Kehadiran nenek.
10
Membeli kucing dalam karung.
11
99 persen.
12
Keputusan.
13
Juara Umum.
14
Masa kecil.
15
Masuk kuliah pertama.
16
Beli Cincin.
17
Lari dari pernikahan.
18
Dibohongi bertahun-tahun.
19
Pergi.
20
Pulang ke rumah.
21
Bertemu dia lagi.
22
Pelukan dahsyat.
23
Setengah hari bersamamu.
24
Gibah pagi.
25
Tiba di rumah mewah.
26
Sudah dikepung.
27
Tertunduk malu.
28
Pengkhianat.
29
Main golf.
30
Tidak ingin dilahirkan.
31
Salah sangka
32
Tinggal reruntuhan.
33
Dirundung risau.
34
Meletus.
35
Mulai penyelidikan.
36
Minta mobil.
37
Di gigit kobra.
38
Diary.
39
Buku harian 1
40
Buku harian 2
41
Sesal.
42
Pengakuan senja
43
Rindu pelukanya.
44
Orlap.
45
Menyita kunci mobil.
46
Menyadari.
47
Gadis misterius.
48
Emoji Hati.
49
Kado Untuk Bima.
50
Jam tangan hilang.
51
Temani aku.
52
Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53
Bima Kesal.
54
Pertengkaran.
55
Mengembalikan kado.
56
Huru hara.
57
Kecelakaan.
58
Dua kenyataan pahit.
59
Saat-saat terakhir.
60
Ingin bertemu Nenek.
61
Sanggupkah.
62
Bau wangi.
63
Pria berkumis menghipnotis.
64
Kopi rasa cinta.
65
Gosip perusahaan.
66
Resepsi pernikahan ulang.
67
Masakan rasa cinta.
68
Memecat tidak hormat.
69
Cinta yang salah.
70
Bermain layang-layang.
71
Luka Hati Mak Ningrum.
72
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!