Dok dok dok
Nenek Ajeng menggedor-gedor pintu kamar Ningrum. "Dasar pembantu malas! Jam segini belum bangun, mau dipecat Dia!" omel nenek Ajeng sambil menunggu di depan pintu kamar Ningrum.
Ceklak.
Pintu terbuka, Ningrum mengerjapkan mata samar-samar menatap wajah yang tidak asing baginya. Ningrum mengucek mata ingin melihat lebih jelas, benarkah ini nyonya Ajeng.
"Heh! Ngapain kamu disini?!" Nenek Ajeng menatap penuh kebencian wajah Ningrum. Pikiran buruk memenuhi kepala nenek Ajeng.
"Permisi Nyonya..." Ningrum melewati nenek, ingin segera ke kamar mandi, pura-pura tidak kenal dengan wanita yang ia benci karena telah menjatuhkan harga dirinya hingga jatuh ke dasar jurang.
"Heh! Saya tanya sama kamu, kamu jangan berlagak pilon!" Nenek Ajeng mengejar Ningrum.
"Maaf Nyonya besar... Saya mau ke kamar mandi," Ningrum memanggil nyonya besar karena nenek Ajeng orang yang gila puji, Ningrum sudah paham.
"Saya mau tanya sekali lagi. Untuk apa kamu tinggal di rumah ini? Mau pura-pura lagi mengaku jika kamu punya anak dari Danis, agar kamu kecipratan hartanya?" Cecar nenek Ajeng, menuduh dengan tidak punya perasaan.
"Atau... kamu mau merebut Danis dari tangan Banuwati? Jika kamu berani melakukan itu, langkahi dulu mayat saya," ancam nenek Ajeng.
"Saya disini kerja Nyonya" Ningrum menahan kesal.
"Huh! Saya sudah paham orang seperti kamu pasti mengincar harta anak saya, alasan kerja hanya kedok! Iya kan?!" tuduh mama Ajeng.
Ningrum merasa sakit hati mendengar tuduhan nenek. Namun Ningrum hanya diam rasanya malas meladeni nenek.
"Maaf Nyonya, saya kebelet" Ningrum tidak seluruhnya berbohong, memang ia sedang menahan.
"Tunggu!" Nenek mencekal tangan Ningrum.
"Emaak..." Gendis tiba-tiba datang sudah memakai seragam sekolah. Gadis itu menangkap tatapan nenek yang tidak bersahabat kepada emak nya. Gendis bertanya-tanya kesalahan apa yang sudah dilakukan emaknya.
Nenek seketika melepas cengkraman Ningrum, perhatianya beralih pada sosok Gendis. Kesempatan itu digunakan Ningrum untuk ke kamar mandi.
"Siapa kamu?" Nenek Ajeng menatap lekat wajah Gendis mengingat ketika Daniswara masih remaja.
"Saya pembantu baru disini Nek, anaknya Emak Ningrum"
Deg.
Nenek terperangah, hatinya bertanya-tanya. Apa benar ini memang anak Denis? Jika bukan kenapa mirip? Oh tidak! Aku tidak mau mempunyai keturunan dari kelas rendahan.
"Permisi Nek..." Gendis mengangguk santun dan akan segera menyelesaikan tugasnya di meja makan sebelum berangkat ke sekolah. Gendis merasa malu juga, karena nenek menatapnya tidak berkedip.
"Tunggu!" Cegah nenek. Ketika Gendis hendak melangkah pergi.
"Saya Nenek" Gendis berhenti.
"Temui cucu saya, lakukan apa yang ia perintah jangan pernah membantahnya" perintah nenek.
"Dan satu lagi! Jangan panggil saya Nenek! Panggil saya Nyonya besar memang kamu cucu saya, enak saja! Memanggil, Nenek!" ketus nenek sebelum akhirnya balik badan segera menemui cucunya sebelum berangkat.
"Baik Nyonya besar" Gendis menatap nenek hingga keluar dari dapur. Gendis kemudian memotong buah meletakkan kedalam wadah hendak disajikan.
Mendengar derit pintu kamar mandi, Gendis menghentikan kegiatannya. "Mamak sudah baikan?" tanya Gendis perhatian.
"Sudah" jawabnya satu kata, sambil mengeringkan telapak kaki di atas keset..
"Mak kayaknya sudah kenal Nenek, sejak lama... Memang Nenek tadi siapa Mak?" Gendis bertanya seraya mencuci pisau bekas memotong buah.
"Nggak usah banyak tanya Ndis, sekarang bawa rotinya keluar, biar buah ini Mak yang membawa" titah Ningrum.
"Iya Mak" Gendis ke meja makan, disana semua sudah berkumpul.
"Kenapa kamu lama sekali? Cepat ikat tali sepatu cucu saya!" Perintah nenek menunjuk sepatu Ratri yang sudah dipakai.
"Baik Nyonya" Gendis segera berjongkok melaksakan perintah nenek, setelah meletakkan roti.
Pasutri menatap Gendis terkejut. Banuwati sebenarnya tidak suka jika nenek memanjakan Ratri, selagi bisa, Banuwati meminta putrinya untuk melakukan sendiri.
Lain yang dipikirkan Banuwati, Daniswara menatap Gendis yang sedang mengikat sepatu hatinya mencelos, ia tidak rela Gendis melakukan itu.
Cetat cetat cetat.
Ningrum datang membawa buah.
"Heh! Pembantu! Saya minta dibuatkan juce, jangan buah di potong-potong terus! Bosan! Ngerti!" Ratri menatap Ningrum tidak suka.
"Baik Non, saya buatkan," Ningrum bergegas ke belakang. Ia ambil blender memotong alpukat segera memblender sebab tidak lama lagi nona muda harus berangkat ke sokolah, hingga Ningrum lupa memberi gula maupun susu.
"Juce nya Non" Ningrum meletakkan gelas panjang kusus untuk wadah juce di depan Ratri.
"Cih! Kamu tidak becus kerja! Juce macam apa ini?!" Ratri menyemburkan juce buah ke wajah Ningrum. Ningrum tidak melawan hanya mengelap dengan telapak tangan.
Banuwati dan juga Daniswara ingin memperingatkan Ratri, namun sudah pasti nenek membela Ratri. Semua yang di meja makan hanya diam.
Sementara Gendis hatinya sakit melihat ibu nya diperlakukan seperti itu. Air bening pun membasahi pipi mulus nya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Daniswara. Gendis tidak tahan kemudian meninggalkan tempat itu. Tidak berniat sarapan, maupun pamit sang ibu, ia ambil tas kemudian berangkat sekolah melalui pintu belakang.
Gendis yang sudah menggendong rangsel sesekali mengusap air mata. Entah sampai kapan Gendis akan kuat menahan perlakuan semena-mena majikanya. Bukan dirinya yang ia pikirkan tetapi perasaan ibunya. Gendis segera menyetop angkutan, kemudian berangkat.
**********
"Kak, tambahin uang jajan dong" kata Dara ketika sudah di dalam mobil berangkat bareng Bima ketika hendak ke kantor.
"Boleh... tapi uang merah dari Mami sini-in" tangan kiri Bima menengadah, sementara tangan kanan memegang stir.
"Iih... sama saja bohong, jangan pelit dong kak, uang kakak kan banyak, terus... buat apa coba," sungut Dara.
"Buat di tabung lah, untuk masa depan, kalau kakak punya istri nanti tidak akan kakak biarkan kerja" Bima senyum-senyum membayangkan gadis pencuci mobil, hidup bahagia bersama anak-anak yang lucu.
"Ciee cieee... sudah membayangkan calon istri anaknya Om Danis..." Dara menggoda.
Bima tidak menimpali ia hanya berdoa dalam hati, jika bertemu dengan gadis pencuci mobil akan memperjuangkan gadis itu, sebelum anaknya om Danis lulus dan akhirnya mereka menikah.
"Oh iya Kak, kakak sudah tahu, cewek yang mau di jodohkan sama kakak itu seperti apa?" Dara walaupun satu kelas dengan Gayatri. Namun tidak tahu jika gadis itu calon istri kakaknya. Sebab di kelas Gayatri cewek angkuh dan pilih-pilih teman, maka Dara tidak begitu mengenal.
"Belum" jawab Bima mengedikan bahu.
"Sebaiknya... kakak selidiki dulu, kalau misalnya anaknya Om Danis itu nakal bagaimana?" Dara memberi gambaran yang buruk.
"Sudah pasrah" Bima tidak semangat.
"Ih, kakak! Kalau sudah punya pacar perjuangkan dong, lagian hari gini kakak mau saja di jodohkan, kalau misalnya anaknya Om Danis tidak sesuai dengan pilihan kakak bagaimana," Dara bingung dengan sikap kakaknya, yang tidak berani menentang perjodohan itu. Karena Dara sendiri pun jika di jodohkan tidak akan menerima.
"Pacar darimana? Kakak belum punya pacar kok" Bima melirik adiknya sekilas.
"Lalu cewek yang di dalam foto itu?" selidik Dara.
Bima pun menceritakan siapa wanita dalam foto.
"Hahaha..." Dara tertawa sambil memegangi perut.
"Cek! Kamu anak cewek ketawa sampai kaya gitu nggak pantas tahu" Bima melengos.
"Lagian... Kakak lucu, itu sama saja kakak membeli kucing dalam karung"
Obrolan berhenti karena mereka sudah tiba di depan sekolah. Bersamaan dengan itu Gendis pun juga turun dari angkutan.
**********
Akankah Bima bertemu pujaan hati??
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Afternoon Honey
lanjutkan 📖
2023-06-15
0
Dewi
next! 😘
2023-03-22
1
auliasiamatir
aku kagum sama author satu ini, novel ciptaanya bagus bagus, aku suka semua nya.
2023-03-04
1