Kehadiran nenek.

Dua wanita yang berbeda usia itu pun saling menumpahkan air mata di dalam kamar. Gendis masih betah merangkul Ningrum dari belakang, walaupun pelukan itu tidak dibalas oleh Ningrum. Toh sudah biasa bagi Gendis, sejak kecil Gendis tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari Ningrum sang ibu.

Ningrum juga jarang bicara kepada Gendis, sekalipun bicara ketika marah dan menyuruh sesuatu. Sebagai anak tentu Gendis ingin merasakan kasih sayang, tetapi ya sudahlah... Gendis bukan gadis yang manja.

Gendis tidak bisa tidur lagi hingga menjelang subuh. Segera ia bangun menuju mesin cuci sambil menggiling pakaian kotor, ia ke dapur mengambil alih pekerjaan Ningrum. Gendis sangat menyayangi Ningrum hanya beliau yang Gendis punya saat ini.

***********

Tidak bedanya dengan dua wanita itu, Daneswara pun semalaman tidak bisa tidur. Ia duduk di ranjang menatap sang istri yang masih melanjutkan mimpi.

Daniswara menyugar rambutnya gusar, apa yang harus ia lakukan kini? Selama ini ia sudah tidak jujur kepada istri nya yang di jodohkan 19 tahun yang lalu itu. Jika ia jujur akankah Banuwati membencinya dan akan meninggalkan diri nya? Oh tidaaak...

Daniswara menarik napas berat. Ia Flashback setelah ijab kabul begitu menatap wajah teduh wanita yang di jodohkan denganya itu mampu menggeser Laura dari hatinya hanya dengan hitungan hari.

Siapa yang akan menolak Banuwati, wanita cantik, anggun, tutur katanya lemah lembut, pintar, dan juga berpendidikan. Selama ini pernikahan mereka adem ayem, jika ada konflik pasti hanya Gayatri penyebabnya.

Namun, jika memang benar Gendis adalah putrinya, Daneswara takut pernikahanya akan menjadi taruhan. Walaupun hasil test DNA yang di lakukan Arga hasilnya belum keluar, Daneswara sudah yakin jika Gendis memang putrinya. Pertama kali melihat Gendis Danis merasa seperti ada ikatan batin yang cukup kuat.

Daniswara turun dari ranjang keluar kamar, ia menuruni tangga berniat ambil minum untuk membasahi tenggorokan nya.

Begitu sampai di dekat dapur netranya memandangi Gendis yang sedang memasak.

"Ndis... kamu sudah bangun..." Daniswara menghampiri Gendis yang sedang membuat sarapan pagi. Sungguh hati Daneswara merasa tidak tega melihat putrinya mengerjakan segala sesuatunya sendiri, terlebih saat ini sedang memasak untuk keluarga.

"Tuan... ada yang ingin Tuan butuhkan? Mau kopi, susu, teh atau... jahe?" cecar Gendis, ia merasa gugup majikanya sampai ke dapur.

"Biar saya buat sendiri Gendis?" Daniswara membuka kitchen set. Ambil cangkir kemudian meletakan di atas meja dapur.

"Kok kamu yang masak? Emak kamu kemana?" selidik Daniswara.

"Emak sedang tidak enak badan Tuan..." jawab Gendis sambil mengaduk-aduk daging untuk isi roti, resep yang diberikan Banuwati kepada Ningrum.

"Nggak enak badan? Mak kamu sakit?" Daniswara terkejut, sebab tadi malam Ningrum tampak sedih sekali.

"Paling masuk angin Tuan... sebelum saya berangkat sekolah nanti, akan saya kerok punggungnya," tutur Gendis beralasan, padahal Gendis berpikir pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ningrum.

"Cih... uhuk-uhuk" Danis memuntahkan susu yang ia cicipi sedikit, tetapi rasanya asin.

"Ada apa Tuan?" Gendis mematikan kompor sebelum akhirnya menghampiri Daniswara.

"Ini susu buatan saya asin Ndis..."

"Ahahaha..."

"Hihihi..."

Mereka berdua tertawa selayaknya bapak dan anak, keduanya merasa senang ingin rasanya merasakan kebersamaan seperti ini, tanpa mereka sadari.

"Maaf Tuan... yang ini garam, kalau yang ini baru gula," Gendis mengangkat dua benda dalam wadah yang ditutup rapi menunjukkan kepada Daniswara.

"Hehehe..." Daniswara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Biar saya yang membuatnya Tuan" Gendis ambil cangkir yang lain ambil susu, gula, dan kopi. Gendis kemudian mengaduknya hingga tidak ada yang menggumpal.

"Kok kamu mengaduknya lama sekali?" Daniswara melirik gadis di samping nya, ada rasa ingin mengusap kepalanya. Namun bukan sebagai pria dan wanita dewasa yang Danis rasakan, melainkan seperti anak dan orang tua.

"Dulu saya selalu membuatkan kopi susu Paman saya Tuan... mengaduk kopi harus lama agar mendapatkan rasa yang enak" jawab Gendis. Mereka ngobrol panjang lebar, diselingi tawa Daniswara tampak bahagia.

"Papa sedang apa?" Banuwati mengejutkan keduanya.

"Oh ini Ma, membuat kopi susu" Danis menunjukan cangkir.

"Buat susu?" Dahi Banuwati berkerut, selama ini suaminya tidak pernah melakukan itu, jangankan membuat susu sendiri, ke dapur saja tidak pernah.

"Iya Ma, tadi aku melihat kamu masih pulas kasihan kan, kalau harus membangunkan kamu," ujarnya sambil berlalu membawa kopi keluar.

"Mamak kamu belum bangun Ndis" tanya Banuwati, pagi ini merasakan hal aneh. Sebab Gendis hanya bekerja sendiri.

"Maaf Nyonya... Emak sedang sakit, biar saya yang mengerjakan tugas Ibu." Gendis khawatir ibunya dimarahi.

"Mak kamu sakit..." kata Banuwati kemudian ke kamar Ningrum, tanpa mengetuk ia membuka pintu kamar sedikit melihat Ningrum meringkuk masih bergulung selimut, Banuwati menutupnya kembali.

"Ndis... jika kamu tidak sempat mencuci dan strika... tidak usah dikerjakan, biar nanti saya telepon laundry ya," pesan Banuwati lembut.

"Saya sudah menggiling cucian Nyonya... mungkin saat ini sudah selesai..." Gendis tersenyum nyonya Banuwati baik sekali tidak seperti putrinya.

"Ya sudah... nanti kalau sekolah, jangan numpang angkutan ya, bareng Gayatri saja,"

"Terimakasih Nyonya,"

Banuwati menyusul suaminya ke ruang keluarga. Sementara Gendis melanjutkan pekerjaan meletakan sarapan di meja makan, menjemur pakaian kemudian mandi.

"Gendiiiss..." pekik Gayatri dari ruang tamu.

"Ratri... kenapa kamu teriak-teriak begitu? Gendis lagi mandi..." tandas Banuwati.

"Aahh... suruh ikat sepatu ini malah lama lagi! Ngapain saja sih dari tadi?!" omel Gayatri tentu Gendis tidak mendengar.

"Ratri! Kamu ini sudah besar, sebentar lagi menikah jangan segala sesuatunya main perintah" Daniswara menasehati.

"Benar kata Papa kamu Ratri... sudah berapa pembantu tidak betah karena ulah kamu" Banuwati menimpali.

"Nai... nai... naiii..." suara nenek yang baru saja tiba diikuti supir yang membawa koper masuk ke dalam.

Daniswara dan juga Banuwati yang sedang duduk santai menyambut kedatangan wanita tua yang tak lain adalah nenek Ajeng.

"Mama dari sana jam berapa?" tanya Banuwati lembut sambil menyandak telapak tangan mertua.

"Tadi habis subuh" jawabnya singkat.

"Nenek... Ratri kesel... pembantu yang baru nyebelin!" adu nya seraya merangkul perut sang nenek.

"Kurangajar sekali pembantu itu! Mana Dia?!" Nenek Ajeng segera ke belakang menuju kamar pembantu.

"Mama... jangan Ma..." cegah Daniswara. Namun nenek Ajeng tidak menggubris.

"Astagfirrullah..." Banuwati menjatuhkan bokongnya dengan kasar. Jika sudah begini keributan pagi ini akan semakin menjadi-jadi. Bukan Banuwati tidak senang dengan kehadiran mertuanya namun, ia tidak bisa bebas menasehati Gayatri.

"Tenang Ma" Daniswara mengusap punggung istri nya.

Sementara Gayatri yang berdiri tidak jauh dari Banuwati, menarik bibir nya ke atas. Jika ada neneknya disini, ia akan ada yang membela, dan tidak ada yang berani berkutik termasuk papa dan mama nya.

Dok dok dok!

Nenek Ajeng menggedor-gedor pintu kamar Ningrum. "Pembantu macam apa! Jam segini masih molor!"

*********

Apa yang akan dilakukan nenek Ajeng? Jika tahu, Ningrum berada di rumah ini? Penasaran?? Ikutin terus. 💪💪💪.

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

shok deh di nenek lampir...ngliat ningrum...

2024-01-15

0

Afternoon Honey

Afternoon Honey

Gendis anak berbakti 🤗💖

2023-06-15

0

Dewi

Dewi

lanjut

2023-03-22

0

lihat semua
Episodes
1 Gendis.
2 Menjalani dunia baru.
3 Orang di masa yang lalu.
4 Rindu pencuci mobil.
5 Berdebat.
6 Cinta layu sebelum berkembang.
7 Membuka luka lama.
8 Dendam.
9 Kehadiran nenek.
10 Membeli kucing dalam karung.
11 99 persen.
12 Keputusan.
13 Juara Umum.
14 Masa kecil.
15 Masuk kuliah pertama.
16 Beli Cincin.
17 Lari dari pernikahan.
18 Dibohongi bertahun-tahun.
19 Pergi.
20 Pulang ke rumah.
21 Bertemu dia lagi.
22 Pelukan dahsyat.
23 Setengah hari bersamamu.
24 Gibah pagi.
25 Tiba di rumah mewah.
26 Sudah dikepung.
27 Tertunduk malu.
28 Pengkhianat.
29 Main golf.
30 Tidak ingin dilahirkan.
31 Salah sangka
32 Tinggal reruntuhan.
33 Dirundung risau.
34 Meletus.
35 Mulai penyelidikan.
36 Minta mobil.
37 Di gigit kobra.
38 Diary.
39 Buku harian 1
40 Buku harian 2
41 Sesal.
42 Pengakuan senja
43 Rindu pelukanya.
44 Orlap.
45 Menyita kunci mobil.
46 Menyadari.
47 Gadis misterius.
48 Emoji Hati.
49 Kado Untuk Bima.
50 Jam tangan hilang.
51 Temani aku.
52 Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53 Bima Kesal.
54 Pertengkaran.
55 Mengembalikan kado.
56 Huru hara.
57 Kecelakaan.
58 Dua kenyataan pahit.
59 Saat-saat terakhir.
60 Ingin bertemu Nenek.
61 Sanggupkah.
62 Bau wangi.
63 Pria berkumis menghipnotis.
64 Kopi rasa cinta.
65 Gosip perusahaan.
66 Resepsi pernikahan ulang.
67 Masakan rasa cinta.
68 Memecat tidak hormat.
69 Cinta yang salah.
70 Bermain layang-layang.
71 Luka Hati Mak Ningrum.
72 Pengumuman
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Gendis.
2
Menjalani dunia baru.
3
Orang di masa yang lalu.
4
Rindu pencuci mobil.
5
Berdebat.
6
Cinta layu sebelum berkembang.
7
Membuka luka lama.
8
Dendam.
9
Kehadiran nenek.
10
Membeli kucing dalam karung.
11
99 persen.
12
Keputusan.
13
Juara Umum.
14
Masa kecil.
15
Masuk kuliah pertama.
16
Beli Cincin.
17
Lari dari pernikahan.
18
Dibohongi bertahun-tahun.
19
Pergi.
20
Pulang ke rumah.
21
Bertemu dia lagi.
22
Pelukan dahsyat.
23
Setengah hari bersamamu.
24
Gibah pagi.
25
Tiba di rumah mewah.
26
Sudah dikepung.
27
Tertunduk malu.
28
Pengkhianat.
29
Main golf.
30
Tidak ingin dilahirkan.
31
Salah sangka
32
Tinggal reruntuhan.
33
Dirundung risau.
34
Meletus.
35
Mulai penyelidikan.
36
Minta mobil.
37
Di gigit kobra.
38
Diary.
39
Buku harian 1
40
Buku harian 2
41
Sesal.
42
Pengakuan senja
43
Rindu pelukanya.
44
Orlap.
45
Menyita kunci mobil.
46
Menyadari.
47
Gadis misterius.
48
Emoji Hati.
49
Kado Untuk Bima.
50
Jam tangan hilang.
51
Temani aku.
52
Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53
Bima Kesal.
54
Pertengkaran.
55
Mengembalikan kado.
56
Huru hara.
57
Kecelakaan.
58
Dua kenyataan pahit.
59
Saat-saat terakhir.
60
Ingin bertemu Nenek.
61
Sanggupkah.
62
Bau wangi.
63
Pria berkumis menghipnotis.
64
Kopi rasa cinta.
65
Gosip perusahaan.
66
Resepsi pernikahan ulang.
67
Masakan rasa cinta.
68
Memecat tidak hormat.
69
Cinta yang salah.
70
Bermain layang-layang.
71
Luka Hati Mak Ningrum.
72
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!