Keseruan kakak dan adik itu tidak terasa hingga tiba di depan sekolah. Namun rupanya Bima melamun hingga melewati sekolah tersebut.
"Berhenti Kak. Yaah... kakak... jadi nggak bisa bareng sama teman aku deh, ke kelasnya" sesal Dara.
Dara menatap Gendis sahabatnya dari kaca mobilnya. Sahabat nya itu sudah turun dari angkut dan menyebrang jalan.
"Alaaah... kamu nanti juga ketemu di kelas! Lebai amat!" Bima menoyor jidat Dara.
"Bukan begitu Kak, maksud aku itu kami bisa jalan bareng ke kelas," jawab Dara, seraya membuka sabuk pengaman.
"Ya sudah... cepat kejar sana, teman kamu juga banyak ini" Bima heran teman-teman adiknya banyak, tetapi mengapa tampak menyesal ketika tidak bisa jalan bareng bersama satu teman.
"Teman aku yang satu ini beda Kak, orang nya asik, kalau diajak bicara nyambung, pintar banget, sudah gitu cantiknyaaaa... luar biasa. Nanti kakak aku kenalin sama Dia ya kak" Dara tersenyum, menatap kakaknya tetapi belum turun juga.
"Cepat turun, katanya ketinggalan" Bima pura-pura kesal, ia tahu kalau adiknya minta tambahan uang saku. Bima kemudian merogoh dompet membukanya ambil satu lembar uang berwarna merah memberikan kepada adiknya.
"Yayy... terimakasih... kakak aku baik sedunia..." Dara bersorak-sorak.
"Aku turun kak," Dara menepuk pundak sang kakak.
"Assalamualaikum..." ucap Dara sembari membuka pintu.
"Waalaikumsalam..." jawab Bima, lalu melanjutkan perjalanan ketika Dara sudah berlalu.
"Gendis" sapa Dara ketika mendapati Gendis sedang membaca buku di teras sekolah sebelum bel masuk.
"Dara" Gendis seketika menutup bukunya.
"Kamu pagi amat datangnya Ndis, pasti belum sarapan, aku traktir yuk" Dara menarik tangan Gendis.
"Nanti kalau istirahat saja Ra, masa pagi-pagi traktir aku sih" tolak Gendis walaupun sebenarnya ia lapar juga.
"Ayo..." Dara sungguh-sungguh, kali ini menarik tangan Gendis lebih kencang. Dua gadis itu pun akhirnya berjalan bergandengan menuju kantin. Tiba di tempat tersebut, mereka membeli sarapan, duduk di kursi panjang di depanya sudah tersedia tahu isi dan teh hangat selayaknya jajanan anak sekolah.
"Nggak apa-apa ini Ra, kamu traktir aku?" Sebelum menggigit tahu, Gendis bertanya lebih dulu.
"Kamu ini Ndis, ya nggak apa-apa lah, memang kenapa? Aku tadi sudah dikasih uang saku sama Mami. Eh... kakak aku kasih juga, hari ini jadi dobel deh," tutur Dara, padahal uang saku tambahanya boleh malak sang kakak.
"Kamu punya kakak Ra, enak kali ya punya kakak," Gendis membayangkan punya saudara, seperti emak nya dan paman Jimin kedua saudara itu saling melengkapi walupun sering timbul perselisihan namun segera bisa cepat diselesaikan.
"Punya Ndis, kakaku cowok selalu aku jahili, tapi orangnya baik, perhatian lagi," puji Dara, sambil terkikik.
"Nanti aku kenalin Ndis, kakak aku tampan loh" ucap Dara kemudian menyeruput teh hangat.
"Mana mau sih Ra, kakak kamu kenalan sama aku yang hanya seorang pembantu," Gendis meneguk teh setelah tahu di tangan habis.
"Kamu nggak boleh berkata begitu Ndis, manusia di hadapan Allah derajatnya sama," Dara menyemangati.
"Hehehe... kata-kata kamu bijak amat seperti bos aku Ra" Gendis ingat kata-kata Banuwati.
"Tapi memang begitu Ndis"
"Yah... andai saja, semua orang bisa berpikir seperti kamu Ra" Gendis merasa kecil sekali setelah bekerja di keluarga Daneswara. Dulu saat masih tinggal bersama paman Jimin, dan bergaul dengan teman-teman sekolah yang dulu, Gendis merasa biasa saja, apa lagi punya teman Ayu yang sederajat dengan diri nya. Ingat Ayu Gendis kangen dengan sahabatnya, tetapi saat ini Gendis sulit membagi waktu untuk sekedar bertemu Ayu.
"Sudah ah, jangan sedih kita ke kelas yuk" ajak Dara.
Mereka ke kelas karena bel sudah berbunyi, pelajaran pun segera dimulai, Gendis menoleh kursi nona mudanya. Rupanya Ratri belum tiba di kelas. Hingga 20 menit kemudian terdengar pintu di ketuk anak paling depan membuka pintu.
"Selamat pagi Pak..." Ratri masuk ke dalam kelas.
"Gayatri... kamu tahu kan, saya paling tidak suka dengan anak yang tidak disipilin, selama jam pelajaran saya, kamu tunggu diluar," tegas pak Irwan.
"Tapi Pak, saya terlambat gara-gara pembantu saya lambat membuatkan saya sarapan," Gayatri menatap angkuh ke arah Gendis. Ia membuat alasan yang tidak masuk akal, menurut pak Irwan.
"Ratri... sebaiknya kamu keluar tunggu sampai jam berikutnya," usir guru.
Dengan perasaan gondok Ratri pun keluar.
"Huuuu..." seru anak-anak, menyoraki Ratri hingga keluar kelas.
*************
Di perusahaan Daniswara group, Daniswara baru tiba di tempat.
"Selamat pagi Tuan..." ucap Wadaana.
"Selamat pagi" jawab Daniswara langsung duduk di ruangan, yang pertama ia lakukan membuka laci. Ambil kaca mata kemudian menyelilipkan di antara kedua sisi telinga. Daniswara segera membuka tumpukan kertas ia baca lembar demi lembar, sambil menandatangani.
Deeŕtt... deerrtt...
Saat sedang serius handphone miliknya bergetar, segera menggeser tombol hijau setelah tahu nama putrinya yang telepon.
"Hallo Pa, hiks hiks" suara tangis Gayatri dari seberang telepon. Mengejutkan Daniswara.
"Ada apa sayang..." Danis menaikan intonasi suara.
"Pa... tolongin Ratri. Ratri nggak boleh masuk kelas" rengek Ratri manja.
"Memang kesalahan apa yang sudah kamu perbuat?" tanya Daniswara, tidak serta merta menelan mentah-mentah laporan Ratri harus jelas dulu apa masalahnya.
"Ratri terlambat Pa, tapi kan cuma sebentar" Ratri membela diri.
"Jadi itu masalahnya, bukankah Papa sudah mengingatkan kamu setiap hari agar kamu bangun pagi, tapi kamu selalu bangun kesiangan, belum lagi minta ini itu, jadi kamu harus menerima konsekuensinya," nasehat Danis panjang lebar
Tut.
Ratri memutuskan sambungan telepon sepihak. Daniswara hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia membiarkan saja tidak berniat menghubungi lagi.
"Selamat pagi Tuan"
"Pagi" Daniswara mengangkat kepala menatap siapa gerangan yang datang ternyata Arga.
"Kamu Ga"
"Tuan Danis, ini hasil tes DNA Gendis" Arga memberikan amplop berwarna putih.
Daniswara menerima amplop dengan tangan gemetar. "Kamu boleh pergi Ga" kata Daniswara sebelum membuka amplop.
"Permisi Tuan," Arga pun keluar ruangan.
Sementara Daniswara membuka amplop perlahan, dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia berharap bahwa Gendis adalah putrinya. Siapa yang tidak ingin mempunyai anak seperti Gendis. Tetapi disisi lain ia takut bagaimana menceritakan masalah ini kepada Banuwati sang istri. Daniswara tidak mau kehilangan dua wanita itu, sama-sama ia sayangi.
"Bismillah..."
Daniswara membuka amplop perlahan setelah terbuka ia buka lagi lipatan.
Deg deg deg
Daaaannn...
"Jedeeerr..." Bak di sambar petir, 99 persen Gendis putri Daniswara. Daniswara menjatuhkan dahinya ke atas meja, berbantalkan tangan. Pria perkasa yang selama ini tidak pernah menangis itu kini menitikkan air mata.
Selama ini ia sudah menterlantarkan Gendis, ironis memang. Selama ini Gayatri hidup dalam kemewahan tetapi sebaliknya, Gendis hidup dalam penderitaan. Tidak hanya itu Gendis juga hidup dalam tekanan Ningrum.
"Gendis..." Gumam Daniswara. Pria itu pun akhirnya mengangkat kepalanya dari meja ambil tisue mengusap air mata.
Daniswara mematikan komputer sebelum akhirnya kembali pulang ke rumah.
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Rara Kusumadewi
terus gmn nasib emaknya nanti...semoga istri tua baik jadi bisa rukun dan damai...punya 2 istri..2 anak
2023-09-22
1
Afternoon Honey
akhirnya tahu Gendis anaknya darah dagingnya sendiri....
2023-06-15
1
💞R0$€_22💞
makin seru nih
2023-04-03
0