Bima sudah tiba di kantor, pria yang masih terlalu muda itu memegang salah satu perusahaan milik papi Ganendra. Bima segera duduk mengecek jadwal rapat perusahaan hari ini. Tidak hanya itu, Bima sudah disuguhkan setumpuk dokumen yang harus segera ditandatangani.
Perusahaan yang bergerak dibidang industri makanan ringan yang dipanen dari pertanian milik Ganendra sendiri. Seperti kentang, ketila, dan juga umbi-umbian yang kurang diminati oleh masyarakat pun begitu diolah memanjakan lidah bagi kebanyakan orang yang gemar makan cemilan. Sungguh meraup keuntungan yang luar biasa.
Tidak hanya dari pertanian, tetapi perusahaan milik keluarga Bima juga memproduksi makanan kering dari peternakan seperti ikan, ayam, seafood, yang diolah sedemikian rupa hingga menjadi cemilan yang diminati tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di export ke luar negeri.
Papi Ganendra sahabat Daniswara mereka bekerja sama, perusaahan susu, dan makanan itupun maju pesat.
Kita tinggalkan dulu, Bima yang bergijabu dengan pekerjaannya, sekarang kita tengok di kediaman Daniswara.
**************
Ningrum meninggalkan masakan yang belum matang masuk ke dalam kamar. Ia bersandar di pintu menengadah, pikiranya melayang kemana-mana.
Flashback on.
"Jangan Tuan..." pekik Ningrum, ia meronta-ronta ingin lepas dari kungkungan Daniswara yang sudah dikuasai nafsu bejat, karena pengaruh minuman beralkohol. Namun pria yang menjadi tuan mudanya itu justeru menindihnya.
Antara isak tangis Ningrum dan ******* napas Daniswara memecah kesunyian malam. Jika Daniswara merasakan puncak surga dunia tentu tidak untuk Ningrum. Dunia Ningrum benar-benar hancur, kesucian yang ia jaga pun telah ternoda.
Ningrum mendorang tubuh Daniswara yang menindihnya hingga terlentang di ranjang. Dengan merasakan sakit jiwa raga, Ningrum duduk di lantai bersandar ranjang. Apa yang harus Ningrum lakukan saat ini? Minta pertanggungjawaban tuanya jelas tidak mungkin. Nyonya Ajeng yang menjunjung tinggi martabat tentu tidak akan menerima dirinya yang hanya seorang pembantu, dan selama ini nyonya Ajeng selalu menganggap remeh seorang pembantu seperti dirinya. Terlebih tuan mudanya esok hari akan melangsungkan pernikahan.
Ningrum menangis sejadi-jadinya, tubuhnya berguncang hebat. Ningrum sadar sekarang harus cepat keluar dari kamar ini, jika sampai nyonya Ajeng masuk dan memergoki nya habis sudah riwayatnya.
Dengan sekuat tenaga Ningrum bangkit dari duduknya berjalan berpegangan ranjang. Ia merambat di tembok agar segera sampai ke pintu.
Ningrum pun akhirnya sampai di pintu kemudian berusaha membukanya dengan pendar lampu neon yang besar di luar kamar. Ningrum menatap baju yang ia kenakan sudah compang camping kerena di robek paksa oleh Daniswara.
Dengan berjalan tertatih-tatih, Ningrum ke kamar mandi mengguyur tubuhnya. Setelah selesai ia ganti pakaian, lalu membuang pakaian tersebut ke dalam tong sampah.
Ningrum membereskan pakaian di lemari hanya ini yang bisa ia lakukan saat ini. Ningrum kemudian pergi meninggalkan rumah itu.
Flashback off.
Ningrum menumpahkan tangis di dalam kamar, ia tidak menyangka pria yang ia benci dan ia hindari seumur hidup ternyata saat ini berada di kota ini bahkan Ningrum tinggal satu rumah.
Tok tok tok.
"Maaak...buka pintunya Mak" terdengar suara Gendis yang memanggilnya dari luar, Ningrum segera membersihkan air mata sebelum akhirnya membuka pintu.
"Mak kenapa? Kok menangis?" Gendis menatap sendu wajah Ningrum.
"Jangan sok perhatian!" ketus Ningrum menabrak lengan Gendis, lantas kembali ke dapur.
"Emak kenapa ya, kok nangis, apa karena perkataanya Nyonya tadi?" gumam Gendis kemudian menyusul Ningrum ke dapur.
"Masakanya sudah aku selesaikan Mak" Gendis menghampiri Ningrum yang berdiri di depan kompor.
"Siapkan di meja makan, sebentar lagi Non Ratri pulang" titah Ningrum.
"Iya Mak, kalau Mak lagi nggak enak badan... sebaiknya tidur saja, biar Gendis yang menggantikan pekerjaan Mak," tutur Gendis. Namun Ningrum diam seribu bahasa.
Tin tin, tiiin...
Ketika hendak menyajikan makan siang terdengar klakson mobil.
"Bentar ya Mak, Gendis buka pagar dulu" Gendis berlari-lari kecil menuju pagar.
Grendeenng...
Pagar terbuka sang nona muda segera turun dari mobil. Bersamaan dengan itu mobil Daniswara pun juga tiba.
"Papa... tumben pulang siang?" Gayatri segera memeluk sang papa dari depan.
"Iya dong... Papa siang ini mau makan bersama putri Papa" Daniswara tersenyum manis, menyelipkan rambut Gayatri ke atas telinga.
Gendis menatap orang tua dan anak itu merasa terharu, andai saja dia mempunyai seorang ayah, pasti ayahnya akan bersikap seperti itu kepadanya.
Daniswara pun melempar tatapan ke arah Gendis ingin rasanya memeluk gadis itu juga, tapi apalah daya.
"Heh! Pembokat! Bawa tas ini!"
Plok!
Gayatri melempar tas membentur dada Gendis, dengan sigap Gendis menangkapnya.
"Ratri... kamu nggak boleh kasar" papa Daniswara memperingatkan.
"Sejak kapan, Papa jadi membela pembantu sih, aneh semua!" Sungut Gayatri lalu berjalan lebih dulu sambil menghentak-hentakan kakinya.
Papa Daniswara menarik napas berat masih diam di tempat.
"Tuan... mari tas nya saya bawa" Gendis ambil tas dari tangan Daniswara, kemudian berlalu.
"Ndis..." papa menghentikan langkah Gendis.
"Saya Tuan..." Gendis balik badan menatap pria bermata elang itu tampak berwibawa.
"Maafkan Ratri ya" ucapnya pelan.
"Tidak apa-apa Tuan... yang dilakukan Nona sudah benar. Permisi..." Gendis segera belalu jika tidak cepat menyiapkan makan pasti Ningrum akan marah.
Daniswara mematung di tempat, menatap langah Gendis yang terburu-buru hingga masuk ke rumah. Daniswara pun menyusul sudah disambut Banuwati di depan pintu.
"Tumben... Papa pulang siang?" pertanyaan Banuwati pun sama seperti Gayatri.
"Iya, Papa ingin makan siang bareng kalian, sudah lama kita tidak makan siang bersama" papa Daniswara beralasan padahal ia ingin segera melihat wajah Gendis. Selama di kantor Daniswara tidak semangat untuk kerja, ia juga ingin menyelidiki tentang Gendis. Tiba di kamar, Banuwati menyiapkan baju santai untuk suaminya. Namun Danis hari ini tidak seperti biasa lebih banyak diam, Banuwati merasa aneh.
"Papa kenapa?" tanya Banuwati lembut, kala suaminya termenung di jendela menatap keluar.
"Oh tidak, sekarang kita makan yuk" Daniswara segera memulihkan kesadaran, memeluk pundak Banuwati menuruni tangga bersama-sama.
Banuwati segera memarik kursi untuk suaminya, sambil menunggu Gayatri yang masih salin baju, pasutri itu pun berbincang-bincang lebih dulu.
"Pa... Mama bermaksud memindahkan sekolah Gendis ke sekolah Gayatri, Papa bisa bantu tidak?" tanya Banuwati, pindah sekolah dengan waktu yang cepat tentu tidaklah mudah, apa lagi Gendis sudah kelas tiga. Tetapi dengan bantuan suaminya pasti akan lancar.
"Jadi... Mama berniat menyekolahkan Gendis?" tertangkap binar-binar bahagia di mata Daniswara. Sebenarnya ia bermaksud menyampaikan ini pada Banuwati, tetapi entah dengan alasan apa. Namun ternyata degan sendirinya Banuwati justeru mengusulkan.
"Benar Pa, anak itu sepertinya cerdas, anak seperti Gendis itu aset masa depan," Banuwati tersenyum.
"Tidak! Aku tidak setuju!" tolak Gayarti, yang baru saja dari kamar, bersamaan dengan itu Gendis bersama Ningrum sampai di meja makan masing-masing membawa minuman dan buah.
"Loh... kenapa Ratri... dengan begitu, kamu berangkat jadi ada teman, biar sekalian diantar supir." jawab Banuwati. Gendis bersama Ningrum meletakkan nampan di meja makan menajamkan telinga menyimak obrolan.
"Nggak Mau! Apa lagi sampai bareng satu mobil!" Gayatri marah-marah.
"Benar Nyonya... sebaiknya biar Gendis sekolah di sekolah yang lama saja, Non Ratri benar, saya rasa tidak pantas jika anak pembantu berangkat satu mobil bersama majikan," tolak Ningrum panjang lebar.
Sementara Gendis hanya diam memeluk nampan, semua itu tidak lepas dari perhatian Daniswara.
"Diam semua! Saya kepala rumah tangga disini! Biar saya yang memutuskan, Gendis biar sekolah di sekolah yang sama bersama Ratri!" jawab Daniswara mengejutkan semua yang berada di tempat itu.
...BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
alhamdulillah..lumayan danis udh nyadar dikiiit tpinya.../Grin//Grin/
2024-01-15
0
Afternoon Honey
ternyata Gendis anak Daniswara....
2023-06-15
0
Dewi
lanjut
2023-03-20
0