Bima keluar dari mall berjalan cepat menuju mobil. "Jalan Git" ujarnya. Ia menoleh Gendis yang berusaha mengejarnya. Namun Bima hanya bisa menatapnya dari kaca mobil.
"Ada apa Tuan... kok terburu-buru?" Gito menatap Bima dari kaca spion, yang sedang menatap kosong ke belakang dimana Gendis berlari mengejar mobilnya, namun sudah tertinggal jauh.
"Kamu tahu nggak Git, saya baru saja bertemu wanita yang saya cari selama ini" Bima menoleh Gito.
"Oalah... terus bagaimana, wanita itu berkata apa?" walaupun ketus kepada Gendis Gito pun sebenarnya penasaran juga dengan gadis itu.
"Nggak bilang apa-apa cuma membantu saya memilih cincin, tapi sayangnya saya lupa tanya namanya Git," sesal Bima, sangking senangnya bertemu Gendis Bima sampai lupa berkenalan.
Tetapi ya sudahlah toh diri nya hanya bisa mengaggumi gadis cantik itu, namun tidak bisa memiliki. Bima membatin.
"Saya pernah mendengar dari temanya saat di pencucian mobil itu kalau tidak salah namanya Ndis-Ndis, gitu Tuan" kata Gito.
"Sudahlah Tuan... Tuan bukanya sudah mau menikah, Ndis-Ndis itu buat saya saja, Dia itu cocok nya sama saya Tuan" Gito terkekeh.
"Sok tahu kamu!" Bima melengos kesal.
"Lah kan, memang Ndis, level nya sama saya Tuan, kami sama-sama susah, sedang Tuan beda kasta, sudah mau menikah pula," tutur Gito mungkin dia sedang nglindur atau bermimpi hanya Gito yang tahu.
**********
Prang... prang...!!!
Di kamar, Gayatri sedang ngamuk melempar barang-barang yang berada di tempat itu, padahal baru tiba dari kampus. Andhi sang kekasih rupanya mendiamkan dirinya sudah seminggu ini, gara-gara Gayatri mau menikah.
"Ini semua gara-gara Papa, kenapa aku tidak diijinkan bahagia, kenapa orang tua hanya bisa memaksa dan terus memaksa? Kenapa?!" Gayatri berteriak-teriak marah nya sampai ubun-ubun.
Suara gaduh itu terdengar di telinga Ningrum. Ningrum segera berlari memasuki kamar Nona nya tanpa mengetuk pintu.
"Non... tenang Non... Non kenapa?" Ningrum menahan tangan Gayatri agar menghentikan aksi brutal nya.
"Diam kamu pembantu! Keluar dari kamar saya!" bentak Ratri, menghempas tangan Ningrum.
"Non jangan usir Bibi... Bibi akan melakukan apapun yang penting Non senang," Ningrum memegang kedua tangan Gayatri.
"Saya nggak butuh bantuan kamu, kalau kamu mau membantu saya lebih baik kamu keluar!" usir Gayatri.
"Baik Non, saya akan keluar, lebih baik Non istirahat, tapi biar saya bereskan ini dulu ya..." Ningrum membereskan kosmetik yang berantakan di lantai sebelum akhirnya keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, Ningrum menatap Gayatri yang sedang menangis memukul-mukul guling. Namun Ningrum tidak berani menghibur, yang ada justeru kena damprat.
Tiba di lantai bawah, Ningrum melihat jam dinding sudah jam 4 sore tetapi Gendis belum tiba.
"Ngelayap kemana tuh anak!" gumam Ningrum kemudian melanjutkan pekerjaan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Tidak lama kemudian, Gendis tiba di rumah menangkap emak nya sedang mengepel lantai. Gendis merasa bersalah gara-gara bingung mencari kado, ia sampai terlambat pulang dan mengabaikan pekerjaan nya.
"Jangan Mak, biar Gendis saja yang ngepel" Gendis meletakakan tentengan dan juga tas yang masih di slempang di pundak, ia letakan di atas meja, kemudian ambil alih kain pel dari tangan Ningrum.
"Kamu darimana sampai sore begini, baru pulang?!" Ningrum melipat tangan di dada, tatapan matanya seperti hari mau siap menerkam.
"Maaf Mak, tadi aku mampir mall cari kado buat Non Ratri," jujur Gendis sambil menggosok lantai.
"Mau kasih kado apa kamu?! Kamu pikir Non mau terima kado murahan pilihan kamu!" ujar Ningrum dengan nada remeh.
"Mak... jangan begitu dong... aku ini sekarang anak Papa Daniswara, walaupun hanya anak angkat, tapi setiap bulan di transfer uang," Gendis merasa sakit hati akan ucapan mak nya. Namun Gendis berusaha untuk menyembunyikan.
"Gendis... Gendis! Jangan mimpi kamu! Kamu pikir Daniswara mengangkat kamu jadi anaknya itu sungguh-sungguh?! Tidak Gendis, sekali pembantu Papa angkat kamu itu akan terus memperlakukan kamu sebagai pembantu"
"Cukup!" suara bariton menghentikan perdebatan. Daniswara tiba di rumah dengan menenteng tas, menatap tajam Ningrum.
"Gendis... sebaiknya kamu istirahat" titah Daniswara.
"Iya Pa" Gendis membawa album foto untuk kado, tas, dan juga perlengkapan mengepel ke belakang.
"Kamu ini keterlaluan Rum! Sikap kamu itu tidak mencerminkan seorang Ibu, mana ada seorang Ibu bersikap seperti itu sama anaknya sendiri, apa kamu pikir itu contoh yang baik?!" sinis Danis.
"Hahaha..." Ningrum tertawa meledek. "Anda tidak salah berbicara kanTuan... Gendis tumbuh menjadi gadis baik itu lantaran didikan siapa? Saya kan? Sebaliknya Anda mendidik putri Anda sendiri hasilnya nol besar, tapi dengan seenaknya Anda menilai bagaimana cara saya mendidik anak," Ningrum menabuh genderang perang.
"Kalau tahu Gendis anak baik, kenapa kamu selalu semena-mena Rum, saya tidak mau Gendis anak saya selalu hidup dalam tekanan wanita seperti kamu, sebaiknya kamu pergi dari rumah saya" usir Daniswara.
"Hahaha... Anda berani mengusir saya, berarti Anda sudah siap kehilangan Gendis. Karena Gendis pasti akan memilih saya yang sudah membesarkannya sejak Dia baru lahir!" Ningrum tersenyum miring.
"Pergi kamu Ningrum! Pergiii...!!!" Bentak Danis dengan mimik wajah menyeramkan.
Gendis yang baru saja keluar dari kamar mandi dapur mendengar keributan segera berlari.
"Jangan Pa, jangan usir emak, kalau emak pergi dari sini, Gendis juga akan pergi Pa" Gendis memeluk Ningrum dari belakang.
Ningrum menyeringai, menatap Danis yang sudah tidak mampu untuk berkata-kata lagi.
Daniswara pun akhirnya masuk ke kamar. Kamar terasa sepi, karena Banuwati sedang ke butik bersama nenek Ajeng.
Daniswara membuka jas kemudian melempar ke sofa sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya di kasur tanpa berniat membersihkan diri dulu.
************
Hari berganti minggu, di halaman Daniswara sudah di sulap dengan dekorasi mewah. Janur kuning sudah melengkung di depan pagar dengan tulisan.
...Akat nikah....
...DANISHA PUTRI GAYATRI...
...&...
...BIMA KAYAMA GANENDRA....
Di dalam kamar Gayatri bersi tegang dengan Ningrum. Ia menolak pernikahan ini, padahal sudah selesai muke up.
"Non... jangan pergi Non, Papa memilihkan jodoh untuk Nona, sudah pasti yang terbaik," Ningrum menahan tas yang sudah berisi pakaian.
"Sudah saya katakan berapa kali! Bibi hanya pembantu disini, jadi jangan ikut campur!" Gayatri merebut tas dari tangan Ningrum.
"Katakan pada Papa, biar anak mu itu yang menggantikan posisi saya menjadi pengantin" kata Gayatri ngawur.
"Tidak bisa begitu Non, Gendis tidak pantas menjadi istri Ningrat, yang cocok itu Nona," Ningrum terus menerus membujuknya.
"Jangan banyak bicara!" pungkas Gayatri, kemudian berlalu.
"Nona... tunggu Nona..."
*********
Sementara di lantai bawah calon pengantin pria sudah hadir, dengan pakaian adat jawa. Baju biru dongker terselip keris di belakang dengan blangkon tampak berwibawa. Di gandeng mami Seruni masuk ke halaman rumah luas, milik Daniswara yang sudah di dekorasai pula. Tampak di dalam para kerabat dekat sudah hadir ingin menjadi saksi ijab kabul yang akan diucapkan oleh Bima.
"Tuan... boleh saya bicara sebentar" bisik Arga sang asisten kepada Daniswara. Tidak menyahut Daniswara mengait lengan Banuwati membuntuti Arga. Arga masuk ke ruang kerja Daniswara.
"Ada apa Ga?" tanya Danis cepat, tertangkap ke kekhawatiran di wajah Danis.
"Non Gayatri kabur Tuan"
"Apa?!" Daniswara mendelik gusar.
"Maafkan kami Tuan, saya sudah mengerahkan anak buah Tuan agar mencari Nona Gayatri, tetapi sayangnya kami tidak bisa menemukan" tutur Arga.
"Astagfirrullah..." Daniswara duduk lemas di kursi meja kerja, memijit pelipisnya sakit kepala tiba-tiba menyerang.
"Papa harus tenang, Papa tidak boleh menyerah, yang harus kita pikirkan sekarang adalah; cari jalan keluar agar pernikahan ini tetap berjalan," Banuwati memegang pundak suaminya berkata lemah lembut.
"Tidak ada jalan keluar yang lain Ma, kecuali kita harus minta Gendis agar menggantikan Gayatri" tegas Daniswara. Daniswara seketika berdiri memegang pundak Banuwati.
"Gendis? Tetapi apa Dia mau Pa?" Banuwati ragu-ragu.
"Kita akan coba Ma, Gendis itu anak penurut mudah-mudahan... Dia akan menerima permintaan kita"
"Baik Pa, kita datangi Gendis ke ruang rias" pasutri itu pun ke kamar Gendis meninggalkan Arga yang hanya membisu.
Tok tok tok
Ceklak.
"Permisi..." Banuwati masuk ke ruang rias, menatap Gendis yang sedang dirias, rencana awal Gendis akan menemani pengantin.
"Mama... Papa..." Gendis terkejut akan kehadiran orang tua angkatnya yang penuh ketegangan di wajah keduanya.
...Happy reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
waduuhh...kebeneran atuhhh...buat bima maah....🤣🤣🤣
2024-01-15
0
Afternoon Honey
wah Gendis jadi pengantin pengganti 😱
2023-06-15
0
💞R0$€_22💞
Kebodohan Gayatri jadi sumber kebahagiaan Gendis..
agak curiga nih sm mak Ningrum, sm anaknya jahat, sm anak majikannya kok kelihatan sayang banget,,jangan2 anaknya dituker nih waktu bayi..Gendis gayatri kan umurnya sama..
2023-04-03
0