Di kediaman tuan Daniswara Gendis membersihkan rumah dua lantai, gadis itu seperti tidak pernah mengenal lelah. Selesai menyapu ia pel seluruh lantai hingga kinclong.
Gendis ambil tangga stainless mini dari dalam gudang lalu mengangkat ke ruang tamu.
Kreeek..." ia buka tangga hingga berdiri tegak.
Gendis menggulung celana panjanganya sampai betis, kemudian naik tangga tersebut sambil membawa lap, ember, dan pembersih kaca.
Sampai anak tangga paling atas Gendis membersihkan kaca tanpa menunggu perintah sang majikan.
Nyonya Banuwati yang sedang membaca koran seketika meletakkan di atas meja, begitu mendengar suara derit tangga stainless. Banuwati tersenyum mengamati pembantu baru nya.
"Anak itu rajin, pintar, dan cantik sekali, jika diperhatikan, Gendis seperti bukan anak orang sembarangan" gumam Banuwati.
Kreeet..." Gendis menggeser tangga dari satu kaca ke kaca yang lain, membersihkan hingga kinclong, begitu selesai gadis itu mengembalikan peralatan ke tempatnya, kemudain berniat ke dapur saat ini giliran membantu Ningrum memasak.
"Ndis" panggil Banuwati ketika Gendis melewati nya.
"Saya Nyonya..." Gendis menghentikan langkahnya.
"Duduk Nak, saya mau bicara," kata Banuwati berkata lembut.
"Baik Nyonya" Gendis duduk di lantai.
"Ndis... duduk di atas" Banuwati menepuk kursi di sampingnya.
"Tidak Nyonya... Saya disini saja" tolak Gendis merasa tidak sopan jika duduk bersama majikan.
"Ndis... sini ke atas" titah Banuwati, wanita lemah lembut itu tidak pernah membedakan status sosial walaupun ia wanita yang berpengaruh.
"Terimakasih Nyonya..." dengan langkah ragu-ragu Gendis duduk di kursi berhadapan dengan Banuwati.
"Ndis... kenapa kamu tidak sekolah Nak?" pertanyaan Banuwati ternyata sama dengan tuan Daniswara.
"Saya sebenarnya masih sekolah kelas tiga Nyonya, tapi saya tidak bisa melanjutkan lagi, karena terbentur biaya," lirih Gendis tersirat kesedihan di wajahnya mengingat gambaran masa depan yang curam.
"Kalau begitu... kamu besok mulai sekolah lagi ya" saran Banuwati.
"Benarkah Nyonya... jadi saya boleh sekolah sambil bekerja? terimakasih Nyonya..." Gendis seketika berdiri jongkok dihadapan Banuwati menenggelamkan wajahnya di lutut sang majikan. Ternyata tanpa Gendis minta, Banuwati sudah menawarkan. Sungguh luar biasa baik hati wanita yang seusia dengan emak nya.
"Hehehe... kamu..." Banuwati mengusap kepala pembantunya lembut selayaknya anak sendiri.
"Eemm... saya minta maaf Nyonya... saya sudah lancang memeluk lutut nyoya" Gendis berjalan mundur dengan posisi duduk selayaknya seorang abdi.
"Gendis... jangan berlehihan, anggap saja kalau saya ini ibu kamu," lagi-lagi perkataan Banuwati membuat derajat Gendis melambung setinggi langit.
"Terimakasih Nyonya, mulai besok saya akan bangun pagi mengerjakan semuanya, jika tidak selesai, akan saya kerjakan pulang sekolah." Gendis senang sekali.
"Atur saja Ndis, yang penting pekerjaan beres, dan kamu tidak akan ketinggalan pelajaran," pungkas Banuwati. Keduanya lantas berpisah, nyonya masuk kamar, sementara Gendis berjalan ke dapur. Tidak mereka sadari sepasang mata telah mengintai dan menguping pembicaraan. Ia segera berlari cepat ke dapur melanjutkan pekerjaan.
Gendis sampai di dapur mengamati emak nya yang sedang memasak dari belakang tersenyum lebar. Dengan mengikuti saran emak nya untuk bekerja, tidak hanya menguntungkan drinya bisa melanjutkan sekolah, tetapi ternyata Ningrum mulai berubah mau tidak mau harus memasak padahal selama ini Ningrum tidak pernah melakukan itu.
Gendis kembali melanjutkan langkahnya menuju wastavel kemudian menyandak piring mencucinya.
"Ngomong apa Nyonya tadi sama kamu?" Ningrum pura-pura tidak tahu.
"Oh iya... aku lupa cerita sama Mak, alhamdulillah Mak, aku dibolehin sekolah lagi," Gendis berbinar-binar.
"Kamu ngemis-ngemis! Minta sekolah gitu?! Bukanya sudah Mak katakan tidak usah sekolah!" tandas Ningrum.
"Tidak bisa!" Banuwati tiba-tiba berdiri di belakang Ningrum.
"Nyonya..." sapa Gendis dan juga Ningrum bersamaan, menoleh ke belakang.
"Kamu ini ibu macam apa Rum, jika kamu keberatan membiayai sekolah anakmu sendiri! Jangan khawatir, saya yang akan tanggung semuanya!" Banuwati melipat kedua tangannya di bawah dada. "Yang saya tahu, seluruh ibu di jagat raya ini ingin anaknya lebih baik dari ibunya, termasuk saya, bukan seperti kamu itu!" tandas Banuwati.
"Gendis... ambil sisi baik ibu kamu saja, sikap buruknya seperti ini buang jauh-jauh, mulai besok kamu harus sekolah, jika ibu mu melarang, saya yang akan bertanggungjawab,"
"Baik Nyonya"
Banuwati pun melenggang pergi, meninggalkan dua wanita yang masih diam dalam lamunan masing-masing.
"Ini gara-gara kamu Ndis!" Ningrum mematikan kompor kemudian meninggalkan Gendis.
Gendis menatap langkah emak nya, hingga tidak terlihat, menarik napas berat, sebelum akhirnya membereskan perabot dapur.
************
Di dalam kamar salah satu rumah mewah 11 12 dengan kediaman Daniswara. Seorang pria muda baru selesai mandi. Ia terlambat berangkat ke kantor karena bangun kesiangan. Cepat-cepat ia mengenakan kemeja dan celana bahan, lalu mematut diri di depan cermin.
Tampak wajahnya tidak begitu segar, matanya berkantung karena kurang tidur. Ia lungguhkan bokongnya di kursi depan cermin, bayangan seorang gadis yang bekerja sebagai pencuci mobil itulah yang selalu mengganggu pikiranya.
Begitu rajin, cantik apa adanya, ceria, dan yang lebih membuat pria itu penasaran adalah; mengapa seorang gadis secantik dia sampai bekerja sebagai pencuci mobil. Tentu tidak ada yang salah dengan pekerjaan apapun, tetapi bukankah pekerjaan itu seharusnya dilakukan seorang pria?
Pria itu teringat sesuatu kemudian beranjak keluar dari kamar menuruni tangga.
"Bi... Papi sama Mami sudah berangkat?" tanya pria itu kemudian duduk di kursi meja makan menyeruput susu.
"Sudah Den Bima... tadi Non Dara juga menunggu Aden ingin berangkat bareng, tetapi katanya Aden susah dibangunkan" tutur bibi.
Ya, pria itu ternyata namanya Bima. Bima punya adik yang bernama Dara, saat ini kelas tiga SMK seusia dengan Gendis. Bima ternyata pria yang mobilnya dicuci oleh Gendis kemarin sore.
"Bi, saya berangkat," pamit Pria berusia 24 tahun itu segera beranjak setelah susunya habis.
"Iya Den... hati-hati." Bibi segera membukakan pintu untuk Bima. Bima lantas masuk ke dalam mobil disana sudah ada Gito supir nya.
"Gito, sebelum ke kantor, kita cuci mobil dulu ya," titahnya sambil menggulung lengan kemejanya sedikit.
"Loh, mobil nya masih bersih kok Tuan, baru kemarin sore dicuci, hanya berdebu sedikit, tapi sudah saya bersihkan," jawab Gito panjang lebar.
"Jangan banyak ngomong, lakukan saja!" ketus Bima.
Tidak menjawab lagi Gito menuju pencucian mobil hanya 5 menit sudah tiba di tempat. Dengan cepat Bima turun dari mobil disusul Gito.
"Git, cari wanita yang kemarin mencuci mobil ini, saya suka cara kerjanya," Bima beralasan sambil menunjuk mobil miliknya.
"Walah... wanita rese itu Tuan..." Gito terkejut.
"Jangan menjawab Gito, lakukan saja, kamu nggak nyadar, yang rese itu kamu! Bukan wanita itu," Dengus Bima. Bima memindai sekitar tempat itu, mencari sosok wanita yang membuatnya seperti orang gila, namun tidak ada Gendis di tempat itu.
Gito pun bergegas menemui salah satu pria yang sedang mencuti mobil diikuti Bima. "Mas, kami ingin mobil bos saya dicuci, tapi bos saya mau gadis kemaren itu yang mencucinya" pinta Gito. Sementara Bima sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Gendis.
"Oh... Gendis maksudnya... Dia sift sore Pak," jawab pria yang masih muda itu.
"Katanya sift sore Tuan" Gito menoleh Bima di samping.
"Ya sudah... nanti sore kita kembali," Bima segera berlalu membawa rasa kecewa diikuti Gito.
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
waduuhh...ada yg kepincut nihh
2024-01-15
0
Epijaya
mungkin gendis anak Denis dgn banywati di tukar oleh Ningrum.
2023-04-02
2
Dewi
lanjut kak! 😘
2023-03-18
1