Pagi tergantikan siang tiga sahabat sudah selesai kuliah. Mereka pun berpisah karena sudah ada tujuan masing-masing.
"Sampai ketemu besok Dara... Erlang... Daaa..." Gendis sudah ditunggu ojek online di depan kampus.
"Daaa..." Jawab Dara dan Erlang bersamaan. Erlang hari ini ada janji dengan kedua orang tuanya. Dara pun sudah berjanji dengan mami Seruni akan mengukur baju.
Sementara Gendis menuju mall berniat membeli kado untuk Gayatri. Entah diterima maupun tidak, sudah risiko, karena hingga saat ini Gayatri masih tidak mau bersikap baik kepadanya.
"Sudah sampai dek" kata tukang ojek.
"Terimakasih Pak," setelah membayar ojek tidak menunggu jawaban, Gendis masuk ke dalam Mall.
**********
"Bima... kamu sudah memesan cincin kawin belum?" tanya mami Seruni. Karena putranya cuek akan pernikahannya yang tinggal menghitung hari, mami pun menyusul ke kantor.
"Belum Mi" jawabnya singkat.
"Bima... jangan kecewakan Mami sama Papi Nak, sekarang jemput Gayatri ke kampus. Ajak ke mall terus kamu suruh pilih cincin yang Dia suka" nasehat seruni lembut.
"Iya Mi... sekarang juga Bima ke mall, tapi sendiri saja," Bima masih belum ingin bertemu calon istrinya.
"Yang benar saja kamu Bima, masa beli cincin kawin kok tidak mengajak calon istrimu, kalau tidak pas bagaimana..." Seruni geleng-geleng kepala.
"Kata Dara postur tubuh Gayatri sama dengan Dara, ya sudah, Bima kira-kira saja, Mi," Bima menjawab santai, seraya membereskan meja kerja.
"Bima... memang kamu tidak mau kenal calon istrimu dulu" mami Seruni sudah sejak tiga bulan yang lalu agar Bima menemui Gayatri tetapi Bima menolak.
"Kenal tidak kenal, baik tidak baik, cantik tidak cantik, toh aku harus menikah dengan Dia juga kan Mi," tergambar jelas raut kecewa di wajah Bima. Namun Bima bukan anak yang suka melawan, walaupun harus mengorbankan kebahagiaan sendiri yang penting kedua orang tuanya senang.
Seruni mendengar penuturan putranya hati nya mencelos, sebenarnya ia tidak tega, tetapi mau apa lagi semua ini sudah direncanakan oleh Ganendra sejak anak-anak masih kecil.
"Bima berangkat Mi" bima mengenakan jaket yang tersampir di kursi kemudian beranjak.
"Hati-hati" pesan Seruni menatap kepergian Bima. Mami Seruni merebahkan tubuhnya di sofa menunggu suaminya selesai rapat.
Sementara Bima sudah sampai parkiran menenui supir. "Antar saya ke mall dekat kampus ya Git," perintahnya kepada Gito.
"Baik Tuan" Gito pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang, tidak lama kemudian mereka sampai tempat yang di tuju. Bima seorang diri masuk ke dalam mall. Pria itu tidak berniat membeli apapun kecuali membeli cincin yang diperintahkan mami.
Pandangannya tertuju dimana etalase berjajar yang berisi perhiasan bermacam-macam model. Ia mempercepat langkahnya bukan karena ia bersemangat karena ingin membeli cincin kawin. Namun masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Bima kemudian menelisik benda di dalam kaca tersebut. Tidak memperdulikan wanita cantik yang sedang berdiri di sampingnya. Gadis itu pun sedang memperhatikan cincin juga.
"Mbak saya mau yang itu," ucap Bima dan wanita itu bersamaan menunjuk model cincin yang sama.
Bima dan wanita itu menoleh bersamaan.
"Kamu..." Bima terperangah.
"Tuan mengenal saya?" wanita itu pun terkejut, ia merasa tidak pernah mengenal pria tinggi dan gagah itu.
"Kamu lupa, 6 bulan yang lalu pernah mencuci mobil saya?" Bima bertanya balik.
Ya. Wanita itu ternyata Gendis.
Gendis mengingat-ingat. "Oh... yang kasih saya uang tip 100 ribu ya" Gendis tersenyum menatap Bima. "Ini Tuan, uang dari Tuan masih ada" Gendis menarik selembar uang yang ia simpan di dompet tersembunyi.
Bima sejak tadi tidak berkedip menatap Gendis. Senyum itu, suara itu, wajah itu, yang selama ini Bima rindukan.
"Hallo! Tuan... kok malah nglihatin saya seperti itu?" Gendis merasa risi diperhatikan.
"Hehehe..." Bima terkekeh aksinya tertangkap lantas mengalihkan pandangan ke etalase.
"Kamu ternyata irit sekali, masa uang sudah 6 bulan yang lalu masih kamu simpan," ujar Bima kembali menoleh Gendis.
"Uang ini bersejarah Tuan... Awalnya mau saya buat bayar spp tapi tidak jadi" jujur Gendis seraya memasukan uang kembali ke dalam dompet.
Lagi-lagi Bima menatap Gendis, mengapa ia bertemu Gendis saat ini? Bukan tiga bulan yang lalu. Bima menarik napas berat, ternyata wanita sempurna ini bukan jodohnya.
"Jadi cincin nya Nona... Tuan?" tanya penjaga toko. Ia sudah kelamaan berdiri tetapi dua orang ini justru asik ngobrol.
"Oh iya, coba cincin yang itu Mbak" Bima menunjuk cincin yang di taksir Gendis. Penjaga toko ambil cincin kemudian memberikan kepada Bima.
"Cincin ini mau kamu ambil?" Bima menunjukan cincin lucu bermata dua.
"Kalau Tuan mau beli tidak apa-apa silahkan saja, kan masih banyak pilihan,"
"Mbak... ini di bungkus ya," titah Bima.
"Baik Tuan" penjaga toko ambil kwitansi harga emas kemudian menulisnya.
"Kamu membeli cincin untuk apa?" selidik Bima.
"Saya mau membeli kado untuk nona muda saya Tuan"
"Nona muda..." Bima mengulangi kata Gendis.
"Iya... saya ini ART Tuan, Nona saya minggu depan mau menikah, saya bermaksud membelikan kado,"
"Waah... kado pernikahan sih jangan emas dong! Yang lain saja," Bima tentu tidak tega harga cincin tadi berkisar dua jutaan.
"Terus apa dong..." sejak tadi Gendis sudah berputar-putar tetapi bingung memilih kado, yang akan diberi kado orang sekaya Gayatri tentu Gendis tidak asal membeli kado.
"Sekarang bantu saya pilih cincin kawin, nanti kamu saya bantu cari kado. Bagaiamana?" Bima memberi penawaran.
"Ya Allah... Tuan mau menikah? Terus calon Tuan mana?" Gendis bingung memilih cincin kawin mengapa tidak bersama calonnya.
"Tidak ikut, sekarang bantu saya memilih"
"Okay... kalau untuk cincin kawin yang model ini Tuan, kalau yang Tuan bungkus tadi cincin untuk santai saja," Gendis menunjuk cincin couple.
"Harusnya calon Tuan diajak terus di coba," saran Gendis.
"Sekarang kamu saja yang mencoba, kalau kamu pas... berarti calon istri saya juga pas," Bima lantas minta diambilkan cincin pilihan Gendis.
"Coba tangan kamu," Bima menyelipkan cincin ke jari manis Gendis.
Deg deg deg.
Jantung Bima berdebar-debar, netranya kembali menatap Gendis. Andai saja wanita di depannya ini yang akan menjadi istri nya. Bima dibuat mati berdiri oleh pesona Gendis.
"Tuan..." Gendis secepatnya menarik tanganya.
"Maaf" Bima tersipu malu. "Cincin ini pas di jari kamu, berarti pas juga di jari calon saya," Bima lantas memesan cincin tersebut. Lalu membayar cincin yang ditaksir Gendis.
"Ini buat kamu untuk kenang-kenangan dari saya, tapi jangan untuk kado ya," Bima memberikan cincin yang sudah dibungkus dengan lambang hati, berwarna merah marun, kemudian meninggalkan tempat itu.
"Tuan... tunggu Tuan..." Gendis mengejar Bima hingga ke halaman mall tidak sadar jika banyak mata yang memperhatikan. Gendis bermaksud mengembalikan cincin namun mobil Bima sudah menjauh.
...Happy reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
hahaaa... udh d panjer duluan gendis
2024-01-15
0
Natha
Yah Bima...
saking senangnya ketemu.. sampai lupa minta no hp Gendis 🤣🤣🤣
2023-08-02
3
Afternoon Honey
senangnya Bima bisa bertemu Gendis lagi 🎉
wah Gendis dapat hadiah cincin 💍💖
2023-06-15
0