Dibohongi bertahun-tahun.

Banuwati masuk ke ruang rias pengantin tanpa mengetuk pintu, menemui Gendis yang sedang dirias. Rencana awal Gendis akan menemani Gayatri sang mempelai namun tanpa Gendis tahu gagal total.

"Mama... Papa..." Gendis menangkap wajah kedua orang tua angkatnya tergambar jelas kesedihan disana.

"Gendis... Papa sama Mama mau bicara Nak" kata Banuwati lembut. Daniswara hanya menganggukkan kepala menatap Gendis. Ada rasa takut. Takut jika Gendis akan menolak rencananya.

"Mbak... boleh saya bicara dengan Gendis sebentar" kata Banuwati kepada MUA.

"Silahkan Nyoya... Tuan..." kedua perias menyingkir untuk sementara tidak mau keppo dengan apa yang mereka bicarakan.

"Mama mau bicara apa?" Gendis merasa ada hal buruk yang akan disampaikan jika dilihat dari raut wajah tegang keduanya.

"Gendis... Sebelum Papa bicara, Papa mau tanya apakah kamu sudah punya kekasih?" Daniswara menatap bola mata bening putrinya yang agak melebar karena terkejut akan pertanyaannya.

"Belum Pa" Gendis menggeleng.

"Ndis... selama ini kamu tahu kan Nak? Kalau Gayatri tidak mau dijodohkan," Daniswara berjongkok di depan Gendis yang dihias belum sempurna.

"Tahu Pa" Gendis menjawab hanya sepatah dua patah kata, ia menyadari bahwa posisi nya di rumah ini hanya anak angkat, tentu Gendis merasa tidak bebas bicara seperti anak kandung pada umumnya. Ia belum mengetahui jika dia memang benar putri Daniswara.

"Sekarang ini Gayatri kabur Ndis" Banuwati menimpali menatap Gendis menahan air matanya jangan sampai jatuh.

"Maksudnya... Ratri tidak mau menikah dengan Tuan Bima?" otak cerdas Gesdis seketika mencerna.

"Betul Ndis, dan Papa minta kamu untuk menggantikan Gayatri Nak" Daniswara berkata diplomatis.

Deg

Gendis yang awalnya menatap Banuwati mengalihkan pandangannya cepat ke arah Danis.

"Menggantkan, berarti aku harus me- menikah Pa, Ma?" tanya Gendis tidak lancar.

Daniswara mengangguk. "Tolong Papa sama Mama Nak, hanya kamu yang bisa menutup rasa malu Papa," Daniswara berharap Gendis akan menjawab. "Ya"

Gendis menatap mata Daniswara, sebenarnya ada rasa sedih di hati Gendis. Betapa tidak... karena pernikahanya kini hanya untuk menutup rasa malu keluarga . Gendis memutar bola mata menatap mama Banuwati terlukis kesedihan diwajah kedua orang tuanya. Gendis merasa iba. Walaupun bagaiamana Banuwati sosok ibu yang baik, tidak membedakan antara Gayatri dan dirinya. Alangkah tidak punya rasa terimakasih jika ia menolak tawaran ini. Pikiran Gendis kemana-mana.

Sesaat ruangan menjadi sunyi senyap larut dalam pikiran masing-masing.

"Gendis mau Ma, Pa" jawab Gendis tanpa ragu.

"Gendis..." Banuwati seketika memeluk tubuh mantan pembantunya.

"Terimakasih Nak" Daniswara tersenyum lega.

"Mbak, lanjutkan merias Gendis" Banuwati memerintahkan perias untuk merias wajah Gendis dan minta salah satu anak buah Daniswara, agar ambil baju pengantin ke kamar Gayatri yang akan digunakan Gendis.

"Mama keluar dulu Nak" kata Banuwati.

"Iya Ma" Gendis hanya bisa menatap kedua orang tua angkatnya yang sedang keluar dari kamar dengan senyum sumringah. Gendis kali ini hanya bisa pasrah, dan berdoa dalam hati. Semoga pria yang akan menjadi suaminya nanti baik dan tanggungjawab. Masalah cinta dan tidak cinta toh selama ini Gendis belum pernah mencintai seseorang walaupun banyak pria yang selalu mengungkapkan perasaan cinta kepada nya.

Sementara Banuwati dan juga Daniswara sudah tiba dimana penghulu sudah menunggu.

Sebelum acara dimulai, Daniswara menemui Ganendra calon besan yang tak lain sahabatnya sendiri. Ia mengajak Ganendra menjauh dari sisi Bima.

"Ada apa Nis?" Ganendra menatap sahabatnya yang sedang tidak baik-baik saja.

"Begini Ndra, aku minta maaf yang akan menjadi istri Bima, bukan Gayatri, tetapi Gendis" Daniswara menceritakan semuanya tentang kepergian Gayatri, dan juga siapa Gendis yang sesungguhnya.

"Jadi... Gendis itu putrimu?" Ganendra terkejut bukan main.

"Jangan kencang-kencang bicaranya Ndra, hal ini tidak ada yang tahu, hanya kamu satu-satunya orang yang aku beri tahu, bahkan istriku pun belum mengetahui." tutur Daniswara, Mereka tidak menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikan dan menajamkan telinga. Namun orang itu mencoba bersikap seperti tidak mengetahui apa-apa.

Ganendra dan juga Daniswara kembali mendekati Bima, ijab kabul pun segera dimulai.

"Bima Kayama Ganendra, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan ananda Gendis Sekar Kinasih, dengan seperangkat perhiasan, tunai"

"Saya terima nikah dan kawinya Gendis Sekar Kinasih dengan mas kawin tersebut tunai" suara Bima lancar seperti jalan tol.

Walapun wanita yang disebut bukan seperti nama yang diberi tahu sebelumnya namun Bima tidak memperdulikan. Tetapi entah mengapa hati Bima kini merasa lega setelah mengucapkan ijab kabul.

"Kok namanya Gendis sih? Bukan Gayatri seperti yang di undangan ini?" bisik-bisik para mak-mak seketika membuka undangan masing-masing.

"Gendis? Gendis Sekar Kinasih? Berarti teman aku ya Mi, anak angkat Om Daniswara. Yes..." Dara pun sedang berbisik dengan mami Seruni.

"Iya ya, kira-kira apa yang terjadi dengan Gayatri?" Mami Seruni masih belum mengetahui.

"Tapi kok yang jadi wali nikah Om Danis, kan nggak boleh Mi, beliau kan hanya orang tua angkat" Dara bingung dibuatnya.

"Hus! Jangan ngegosip terus, itu juga nggak boleh Ra" mami Seruni menasehati.

"Saksi sah?"

"Sah"

Jedeeerr...

Tanpa mendung apa lagi hujan petir menyambar dada seseorang.

Bersamaan dengan sahnya Gendis menjadi istri Bima, seorang wanita yang melihat suaminya telah menjadi wali nikah Gendis hatinya hancur berkeping-keping.

Ia lantas berdiri menjauh dari tempat itu, air matanya terjun bebas. Selama 19 tahun ia merasa dibohongi suaminya. Pernikahan yang selama ini adem ayem ternyata omong kosong. Wanita bertubuh ramping dan cantik itu merasa menjadi orang bodoh, kepercayaannya kepada suami nya yang ia berikan 100 persen ternyata salah.

Benar saja kecurigaanya kepada Ningrum selama bekerja di rumahnya, ia sering memergoki suaminya sering cekcok dengan Ningrum.

Ia adalah Banuwati yang menguping pembicaraan suaminya dengan Ganendra tadi. Kini Banuwati merasa berada dalam titik terendah. Tidak menyangka suaminya jika di depanya bak permata, dan pria paling setia, tetapi cinta dan kasih sayang yang diberikan kepadanya hanya untuk menutupi perselingkuhan. Entah benar selingkuh seperti dugaanya atau ada hal lain yang jelas suaminya sudah tidak jujur.

Dengan perasaan sakit hati Banuwati berjalan cepat ke kamar, sesekali mengusap air matanya.

Sementara Daniswara melihat istrinya tidak ada di tempat, ia pikir Banuwati menjemput Gendis.

"Mana pengantin wanitanya?" tanya penghulu akan memberikan nasehat perkawinan namun sang mempelai wanita belum ada di sisi mempelai pria.

"Sebentar Pak" jawab Daniswara.

"Ana... tolong jemput pengantin putri di ruang rias" titah Daniswara kepada Ana sekretaris nya di kantor yang hadir juga di tempat itu.

"Baik Tuan" Ana ke ruang rias, sementara Daniswara mencari istrinya ke kamar. Ia dorong handle pintu ternyata tidak dikunci. Daniswara mengedarkan pandangan ke kamar namun tidak ada istrinya, kemudian ia ke ballroom.

Netranya menangkap Banuwati yang sedang berdiri menatap keluar rumah.

"Wati... kamu disini?" Daniswara membalik tubuh Istrinya terperangah, mendapati wajah Banuwati yang dibanjiri air bening menghapus muke up yang baru beberapa jam sudah luntur.

"Kamu kenapa?" lirih Danis.

Banuwati menabrak tubuh suaminya masuk ke kamar tidak sepatah kata pun berbicara.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

ribeet yaak

2024-01-15

0

Kornelia Restuana

Kornelia Restuana

lanjut Thor

2023-09-23

0

Natha

Natha

Koreksi Thor..secara syar'i nggak saja Danis sebagai wali.. karena Gendis anak diluar nikah.. maka nasabnya jatuh pada garis Ibu.. harusnya wali hakim

2023-08-02

4

lihat semua
Episodes
1 Gendis.
2 Menjalani dunia baru.
3 Orang di masa yang lalu.
4 Rindu pencuci mobil.
5 Berdebat.
6 Cinta layu sebelum berkembang.
7 Membuka luka lama.
8 Dendam.
9 Kehadiran nenek.
10 Membeli kucing dalam karung.
11 99 persen.
12 Keputusan.
13 Juara Umum.
14 Masa kecil.
15 Masuk kuliah pertama.
16 Beli Cincin.
17 Lari dari pernikahan.
18 Dibohongi bertahun-tahun.
19 Pergi.
20 Pulang ke rumah.
21 Bertemu dia lagi.
22 Pelukan dahsyat.
23 Setengah hari bersamamu.
24 Gibah pagi.
25 Tiba di rumah mewah.
26 Sudah dikepung.
27 Tertunduk malu.
28 Pengkhianat.
29 Main golf.
30 Tidak ingin dilahirkan.
31 Salah sangka
32 Tinggal reruntuhan.
33 Dirundung risau.
34 Meletus.
35 Mulai penyelidikan.
36 Minta mobil.
37 Di gigit kobra.
38 Diary.
39 Buku harian 1
40 Buku harian 2
41 Sesal.
42 Pengakuan senja
43 Rindu pelukanya.
44 Orlap.
45 Menyita kunci mobil.
46 Menyadari.
47 Gadis misterius.
48 Emoji Hati.
49 Kado Untuk Bima.
50 Jam tangan hilang.
51 Temani aku.
52 Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53 Bima Kesal.
54 Pertengkaran.
55 Mengembalikan kado.
56 Huru hara.
57 Kecelakaan.
58 Dua kenyataan pahit.
59 Saat-saat terakhir.
60 Ingin bertemu Nenek.
61 Sanggupkah.
62 Bau wangi.
63 Pria berkumis menghipnotis.
64 Kopi rasa cinta.
65 Gosip perusahaan.
66 Resepsi pernikahan ulang.
67 Masakan rasa cinta.
68 Memecat tidak hormat.
69 Cinta yang salah.
70 Bermain layang-layang.
71 Luka Hati Mak Ningrum.
72 Pengumuman
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Gendis.
2
Menjalani dunia baru.
3
Orang di masa yang lalu.
4
Rindu pencuci mobil.
5
Berdebat.
6
Cinta layu sebelum berkembang.
7
Membuka luka lama.
8
Dendam.
9
Kehadiran nenek.
10
Membeli kucing dalam karung.
11
99 persen.
12
Keputusan.
13
Juara Umum.
14
Masa kecil.
15
Masuk kuliah pertama.
16
Beli Cincin.
17
Lari dari pernikahan.
18
Dibohongi bertahun-tahun.
19
Pergi.
20
Pulang ke rumah.
21
Bertemu dia lagi.
22
Pelukan dahsyat.
23
Setengah hari bersamamu.
24
Gibah pagi.
25
Tiba di rumah mewah.
26
Sudah dikepung.
27
Tertunduk malu.
28
Pengkhianat.
29
Main golf.
30
Tidak ingin dilahirkan.
31
Salah sangka
32
Tinggal reruntuhan.
33
Dirundung risau.
34
Meletus.
35
Mulai penyelidikan.
36
Minta mobil.
37
Di gigit kobra.
38
Diary.
39
Buku harian 1
40
Buku harian 2
41
Sesal.
42
Pengakuan senja
43
Rindu pelukanya.
44
Orlap.
45
Menyita kunci mobil.
46
Menyadari.
47
Gadis misterius.
48
Emoji Hati.
49
Kado Untuk Bima.
50
Jam tangan hilang.
51
Temani aku.
52
Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53
Bima Kesal.
54
Pertengkaran.
55
Mengembalikan kado.
56
Huru hara.
57
Kecelakaan.
58
Dua kenyataan pahit.
59
Saat-saat terakhir.
60
Ingin bertemu Nenek.
61
Sanggupkah.
62
Bau wangi.
63
Pria berkumis menghipnotis.
64
Kopi rasa cinta.
65
Gosip perusahaan.
66
Resepsi pernikahan ulang.
67
Masakan rasa cinta.
68
Memecat tidak hormat.
69
Cinta yang salah.
70
Bermain layang-layang.
71
Luka Hati Mak Ningrum.
72
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!