Keputusan.

Daniswara segera kembali pulang ke rumah diantar supir tentunya. Di dalam mobil ia hanya diam memejamkan mata tetapi pikiranya melayang jauh.

Tiba di depan rumah ia berpapasan dengan nenek Ajeng, yang sudah berpenampilan mewah dan menylempang tas tampak berkelas.

"Mama mau kemana?" tanya Daniswara menangkap gelagat mamanya yang tidak baik.

"Mama mau ke sekolahan Gayatri, enak saja! Cucuku tidak diijinkan masuk!" Omel nenek Ajeng.

"Ma... tolong jangan datang ke sekolah, biarkan saja, Gayatri mandiri Ma, Mama kan tahu, anak itu memang bersalah" cegah Daniswara. Ia tahu jika sampai mama Ajeng ke sekolah pasti akan membuat malu.

"Tidak bisa. Mama harus ke sekolah" nenek Ajeng tidak mau dilarang. "Pir... kita berangkat" ujarnya tanpa memperdulikan Daniswara yang memohon-mohon.

"Saya ikut" Banuwati tiba-tiba datang, mengedipkan mata pada suaminya, memberi isyarat agar suaminya membiarkan nenek Ajeng pergi, Banuwati sebisa mungkin akan mengambil jalan tengah agar suasana tenang di sekolah nanti.

Banuwati sebenarnya ingin bertanya pada suaminya, mengapa pulang kembali padahal baru dua jam yang lalu berangkat ke kantor. Namun Banuwati lebih baik menahanya dulu, setelah pulang dari sekolah nanti baru akan bertanya.

Daniswara mengangguk kepada sang istri, jika nenek bersama Banuwati istri nya yang sejuk itu, bisa memadamkan api. Daniswara menatap kepergian istri dan mama Ajeng hingga tidak terlihat lagi, kemudian ia melangkahkan kaki ke rumah.

Daniswara menarik napas berat mengapa permasalahan akhir-akhir ini membelitnya? Seolah datang tumpang tindih. Jika masalahnya bukan karena anak dari wanita lain, ia sudah pasti akan ceritakan semuanya kepada Banuwati. Hanya Banuwati yang bisa membuat hatinya tenang. Tetapi jika masalahnya seperti ini ia justeru takut untuk bercerita, bagaimana jika istri nya itu membencinya.

Dengan langkah cepat ia segera masuk ke dalam rumah, netranya menangkap wanita di masa lalu yang sedang beres-beres.

"Rum, kenapa kamu tidak mengatakan sejak dulu jika Gendis itu anak saya?!" tanya Daniswara menaikkan intonasi suara.

"Sudah saya bilang, jika Gendis bukan anak Anda" Ningrum mendelik gusar.

"Jangan bohong!" potong Daniswara.

"Saya tidak bohong!" ketus Ningrum.

"Kamu pikir saya ini bodoh Rum! Baca ini!" Danis menyerahkan hasil tes DNA.

Ningrum pun akhirnya membaca kertas berwarna putih itu, kemudian diam tidak mau bersuara.

"Kenapa kamu saat itu tidak mengatakan kepada keluarga saya Rum?!" sesal Danis.

"Hahaha..." Ningrum tertawa di buat-buat. "Seandainya saya katakan saat itu, lalu apa yang akan Anda lakukan Tuan Danis? Membatalkan pernikahan Anda dengan Banuwati, kemudian menikahi saya?! Atau Anda akan menikahi kami berdua?!" Ningrum tersenyum miring.

"Jika saya lakukan itu pun, saya yakin, Anda akan memilih wanita yang sederajat seperti yang Mama Anda inginkan,"

"Apa maksud kamu Rum?" Daniswara memotong pembicaraan Nigrum.

"Perlu Anda ketahui, saya mengandung Gendis selama sembilan Bulan bukan hal yang mudah, saya dikucilkan warga bahkan diusir seperti tikus dari rumah saya sendiri" Ningrum menitikan air mata.

"Apa Anda pernah tahu? Saya harus menanggung perbuatan Anda karena saat itu tunangan saya membatalkan pernikahan kami yang tinggal menghitung hari! Hati saya ini sakit. Sakit sekali Tuan" Ningrum menekan dadanya dengan air mata berderai.

"Maafkan saya Rum, saya melakukan itu diluar kesadaran saya Rum," Danis menekan meja makan raut sesal di wajah.

"Maaf memang mudah Tuan, saat almarhum adik saya menarik paksa mendatangi ibu Anda, tetapi apa yang ibu Anda lakukan?! Dengan tidak punya perasaan ibu Anda mengusir saya dengan kata-kata yang melukai perasaan saya hingga kini,"

"Apa? Jadi... kamu pernah mendatangi saya Rum?" Daniswara terkejut. Menatap mata Ningrum, mata yang tersirat luka yang mendalam.

"Tanyakan saja, kepada Nyonya Ajeng yang terhormat, apa yang sudah beliau katakan kepada saya" Ningrum menutup pembicaraan kemudian pergi meninggalkan Daniswara yang masih terpaku di tempat.

***********

"Ma, kenapa Mama saat itu tidak pernah mengatakan kalau Ningrum mengandung anak saya Ma? Aku kecewa sama Mama," kata Danis saat ini sedang mengajak nenek Ajeng makan diluar untuk membahas tentang ini.

"Jadi... kamu percaya dengan kata-kata wanita miskin yang hanya ingin harta kamu dengan dalih bahwa Dia mengandung anak kamu!" kata mama Ajeng tidak ada penyesalan sedikitpun.

"Mama jangan selalu menganggap remeh persoalan Ma, jika Mama mengatakan semua itu sejak dulu Gendis tidak akan terlantar Ma, setidaknya aku bisa mencukupi kebutuhan Gendis"

"Cukup Danis! Sampai kapanpun Mama tidak akan mengakui Gendis sebagai cucu saya, jika kamu sampai mengatakan hal ini pada Banuwati, jangan harap Banuwati akan memaafkan kamu,"

"Mungkin saat ini Danis memang belum bisa mengatakan ini pada Banuwati Ma, tapi cepat atau lambat aku akan jujur pada Banuwati," Daniswara bertekat.

"Mulai saat ini aku akan mengadopsi Gendis Ma, walaupun aku tidak bisa bersikap selayaknya orang tua, setidaknya Gendis tidak akan hidup dalam kesusahan terus menerus," Daniswara bersungguh-sungguh.

"Jangan Gila kamu Danis, Mama tidak setuju!" Mama Ajeng melotot tajam.

"Dalam hal ini Danis akan melawan Mama, keputusan Danis sudah bulat Ma, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahan yang sudah Danis perbuat."

"Kamu pikir Banuwati akan menyetujui ide gila kamu itu Danis!"

"Danis yakin Ma, Banuwati istri yang baik sudah pasti akan setuju,"

"Terserah kamu Danis, yang jelas Mama akan tetap memperlakukan Gendis seperti pembantu!" pungkas mama Ajeng kemudian pergi meninggalkan putra semata wayanganya.

Malam harinya Daniswara, mengutarakan niat baiknya kepada Banuwati. Pucuk di cinta ulam tiba, Banuwati merasa senang. Karena ia pun punya pemikiran yang sama bahwa akan mengadopsi Gendis.

Setelah makan malam semua dikumpulkan oleh Daniswara di ruang keluarga. Danis mengutarakan keputusannya.

"Tidak! Ratri nggak setuju jika Gendis menjadi saudara aku!" tolak Gayatri menatap sinis wajah Gendis.

"Benar kamu cucuku... nenek setuju dengan pendapatmu," mama Ajeng menyiram api dengan bensin. Netranya melirik Gendis tidak suka.

"Ratri... ini sudah keputusan Mama sama Papa sayang... kasihan kan Gendis, selama ini Dia tidak punya orang tua yang utuh," Banuwati berkata lembut mengusap kepala putrinya.

"Sebaiknya saya memang tidak usah diangkat anak, Nyonya... Tuan... saya di ijinkan sekolah pun sudah sangat senang," Gendis tentu tidak akan menerima kebaikan Daniswara, jika itu akan melukai hati nona mudanya.

"Benar kata Gendis Nyonya... sebaik nya Gendis tidak usah di angkat anak" Ningrum menimpali.

"Keputusan saya sudah bulat, tidak boleh ada yang menentang termasuk Mama, dan kamu Gayatri" Danis berpikir memang sebaiknya Ratri dikasih saudara agar bisa bersikap lebih dewasa dan tidak akan menang sendiri.

Semua lantas diam walaupùn Gayatri dan nenek Ajeng tidak setuju, tetapi mereka tidak berani berucap lagi.

*********

Bulan berganti, 6 bulan sudah Gendis menjadi anak Daneswara dan Banuwati. Mereka tidak membedakan antara Gayatri dan Gendis. Selama itu pula Daneswara menutup rapat masalah ini kepada Banuwati.

Tentu sikap Daniswara dan Banuwati kepada Gendis, membuat Gayatri cemburu dan sikap buruknya semakin menjadi-jadi. Cacian dan hinaan Gayatri pada Gendis, tidak Gendis tanggapi dengan balik menyerang, kecuali jika Gayatri menghina Ningrum. Gendis bisa melawan dengan lantang tidak jarang pertengkaran terjadi, tentu nenek Ajeng selalu membumbuhi dan membuat suasana menjadi rumit.

Gendis pun masih tetap melakukan pekerjaan rumah tangga, walaupun Danis dan Banuwati melarang. Namun Gendis sangat menyangi Ningrum tentu ia tidak ingin emaknya kelelahan.

Hingga tiba saatnya wisuda kelulusan SMK di laksanakan.

"Papa sama Mama di sekolah tidak boleh dekat-dekat dengan Gendis. Jika di rumah aku mau berbagi Mama sama Papa dengan Gendis, tidak untuk di sekolah," Gayatri membuat aturan.

Saat ini Banuwati dan juga Daniswara akan menghadiri undangan tersebut.

...Bersambung....

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

laguu...luh gayatrii...mau monopoli ajs luuhh...hadeehh...songoong...

2024-01-15

0

Dewi

Dewi

lanjut kak 😘

2023-03-24

0

Rahma AR

Rahma AR

kasian

2023-03-21

0

lihat semua
Episodes
1 Gendis.
2 Menjalani dunia baru.
3 Orang di masa yang lalu.
4 Rindu pencuci mobil.
5 Berdebat.
6 Cinta layu sebelum berkembang.
7 Membuka luka lama.
8 Dendam.
9 Kehadiran nenek.
10 Membeli kucing dalam karung.
11 99 persen.
12 Keputusan.
13 Juara Umum.
14 Masa kecil.
15 Masuk kuliah pertama.
16 Beli Cincin.
17 Lari dari pernikahan.
18 Dibohongi bertahun-tahun.
19 Pergi.
20 Pulang ke rumah.
21 Bertemu dia lagi.
22 Pelukan dahsyat.
23 Setengah hari bersamamu.
24 Gibah pagi.
25 Tiba di rumah mewah.
26 Sudah dikepung.
27 Tertunduk malu.
28 Pengkhianat.
29 Main golf.
30 Tidak ingin dilahirkan.
31 Salah sangka
32 Tinggal reruntuhan.
33 Dirundung risau.
34 Meletus.
35 Mulai penyelidikan.
36 Minta mobil.
37 Di gigit kobra.
38 Diary.
39 Buku harian 1
40 Buku harian 2
41 Sesal.
42 Pengakuan senja
43 Rindu pelukanya.
44 Orlap.
45 Menyita kunci mobil.
46 Menyadari.
47 Gadis misterius.
48 Emoji Hati.
49 Kado Untuk Bima.
50 Jam tangan hilang.
51 Temani aku.
52 Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53 Bima Kesal.
54 Pertengkaran.
55 Mengembalikan kado.
56 Huru hara.
57 Kecelakaan.
58 Dua kenyataan pahit.
59 Saat-saat terakhir.
60 Ingin bertemu Nenek.
61 Sanggupkah.
62 Bau wangi.
63 Pria berkumis menghipnotis.
64 Kopi rasa cinta.
65 Gosip perusahaan.
66 Resepsi pernikahan ulang.
67 Masakan rasa cinta.
68 Memecat tidak hormat.
69 Cinta yang salah.
70 Bermain layang-layang.
71 Luka Hati Mak Ningrum.
72 Pengumuman
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Gendis.
2
Menjalani dunia baru.
3
Orang di masa yang lalu.
4
Rindu pencuci mobil.
5
Berdebat.
6
Cinta layu sebelum berkembang.
7
Membuka luka lama.
8
Dendam.
9
Kehadiran nenek.
10
Membeli kucing dalam karung.
11
99 persen.
12
Keputusan.
13
Juara Umum.
14
Masa kecil.
15
Masuk kuliah pertama.
16
Beli Cincin.
17
Lari dari pernikahan.
18
Dibohongi bertahun-tahun.
19
Pergi.
20
Pulang ke rumah.
21
Bertemu dia lagi.
22
Pelukan dahsyat.
23
Setengah hari bersamamu.
24
Gibah pagi.
25
Tiba di rumah mewah.
26
Sudah dikepung.
27
Tertunduk malu.
28
Pengkhianat.
29
Main golf.
30
Tidak ingin dilahirkan.
31
Salah sangka
32
Tinggal reruntuhan.
33
Dirundung risau.
34
Meletus.
35
Mulai penyelidikan.
36
Minta mobil.
37
Di gigit kobra.
38
Diary.
39
Buku harian 1
40
Buku harian 2
41
Sesal.
42
Pengakuan senja
43
Rindu pelukanya.
44
Orlap.
45
Menyita kunci mobil.
46
Menyadari.
47
Gadis misterius.
48
Emoji Hati.
49
Kado Untuk Bima.
50
Jam tangan hilang.
51
Temani aku.
52
Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53
Bima Kesal.
54
Pertengkaran.
55
Mengembalikan kado.
56
Huru hara.
57
Kecelakaan.
58
Dua kenyataan pahit.
59
Saat-saat terakhir.
60
Ingin bertemu Nenek.
61
Sanggupkah.
62
Bau wangi.
63
Pria berkumis menghipnotis.
64
Kopi rasa cinta.
65
Gosip perusahaan.
66
Resepsi pernikahan ulang.
67
Masakan rasa cinta.
68
Memecat tidak hormat.
69
Cinta yang salah.
70
Bermain layang-layang.
71
Luka Hati Mak Ningrum.
72
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!