"Baik! Aku mau menikah! Tetapi bukan dengan pria pilihan Papa, karena aku sudah punya pilihan sendiri!" tandas Gayatri.
"Ratri... Papa menjodohkan kamu dengan Bima bukan tanpa alasan Nak," papa Daniswara memberikan nasehat panjang lebar.
**********
Dua bulan kemudian Gayatri sudah menerima perjodohan itu, entah sungguh-sungguh atau tidak, tentu papa Daniswara tampak lega.
Kali ini keluarga Daniswara sudah mempersiapkan segalanya menyewa hotel, mengurus ini itu. Karena dua minggu lagi pernikahan akan dilaksanakan.
Tetapi Daniswara bukan lantas tidak memasukkan putrinya ke perguruan tinggi. Berhubung Gayatri tidak bisa masuk universitas negeri karena tidak lolos seleksi pertama. Papa memilih perguruan tinggi swasta yang bagus dan terkenal.
"Kamu yang serius Nak, menikah bukan berarti lantas tidak belajar. Menuntut ilmu itu tidak akan ada batas waktu," nasehat papa Daniswara saat ini sedang mengantarkan Gayatri masuk kuliah pertama.
"Ratri itu sebenarnya sudah malas berpikir Pa, apa lagi Papa nekat menjodohkan aku dengan pria yang tidak aku cintai." sahut Ratri merengut.
"Seharusnya kamu senang Ratri... ketika sudah menikah nanti kamu ada yang memperhatikan, ada yang melindungi, apa lagi sama pria seperti nak Bima"
"Iya... terus Papa banyak waktu untuk memperhatikan anak angkat Papa itu kan!" Gayatri posesif.
"Ratri... kamu dengan Gendis itu anak-anak Papa yang Papa sayangi. Papa tidak membeda-bedakan kalian, karena kamu dengan Gendis bukan sekedar saudara angkat Nak," Daniswara keceplosan.
"Maksud Papa?" potong Gayatri, menoleh Daniswara cepat.
"Maksud Papa... kasih sayang Papa dibagi dua, untuk kamu 50, terus 50 lagi untuk Gendis." Daniswara terkekeh.
"Cek! Papa, lagi serius juga malah nyanyi," sungut Ratri.
"Kok nyanyi? Papa serius kok," kembali terkekeh.
"Au ah!"
Papa dan anak itupun tiba di salah satu kampus ternama, Gayatri segera masuk kampus setelah turun dari mobil. Sementara Danis langsung melanjutkan perjalanan ke perusahaan.
Sebelum masuk kelas, Gayatri menemui sesorang. "Andhi..." panggil Gayatri kepada pria yang sudah senior di kampus tersebut.
"Gayatri... akhirnya... kita bertemu lagi" kata Andhi. Dua manusia berbeda jenis itu lantas berpelukan. Mereka rupanya sudah janjian akan kuliah di tempat ini.
"Kita ke kantin dulu yuk" Andhi mengait jemari Ratri. Ratri menoleh pria di sebelahnya, begitu juga sebaliknya. Dua manusia yang sedang di mabuk cinta itupun saling melempar senyum. Mereka bergandengan tangan yang terayun-ayun hingga tiba di kantin kampus.
Andhi kakak kelas Ratri ketika SMK di kota lain, namun setelah lulus Andhi melanjutkan kuliah di kota ini. Tidak lama kemudian Gayatri menyusul, mereka sering ketemuan tanpa keluarga Daniswara ketahui.
"Mau minum apa sayang?" tanya Andhi.
"Air putih saja An, sebelum berangkat tadi aku sudah minum susu,"
"Okay..." Andhi pun segera ambil dua botol air mineral yang disusun di atas meja, yang satu ia berikan pada Ratri dan satu lagi untuknya.
"Andhi... sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu," Gayatri menatap mata Andhi sendu.
"Ada apa Ratri... serius banget?" Andhi sudah tidak sabar.
"Aku... aku... aku akan dijodohkan dengan anak sahabat Papa An" Gayatri menyahut dengan bibir gemetar.
"Apa?! Terus kamu terima begitu saja Ratri?! Lalu apa artinya hubungan kita yang sudah kita jalani selama dua tahun ini?!" Andhi mendelik gusar.
"Tapi... aku harus bagaimana An, aku tidak bisa menolak begitu saja yang sudah menjadi keputusan Papa sama Mama aku" jujur Ratri.
"Aku kecewa sama kamu Ratri!" Andhi pun meninggalkan Ratri.
"Andhi... tunggu An," Ratri mengejar Andhi, tetapi Andhi sudah masuk kelas.
**********
Di hari yang berbeda, Gendis pun sudah mulai kuliah, ia diterima di universitas negeri. Dengan diantar sang papa ia berangkat kuliah untuk pertama kali .
"Kamu sepertinya senang banget" kata papa Daniswara, melirik Gendis dengan wajah sumringah, Daniswara tersenyum.
"Gendis tuh senaaang.... sekali Pa. Alhamdulillah... aku bisa kuliah, jika ingat masa kecil Gendis. Gendis tidak menyangka akan sampai ke tahap sekarang," Gendis ingat masa kecilnya yang ia lalui dengan kepedihan.
"Loh, memang kenapa dengan masa kecil kamu?" Daniswara ingin tahu banyak tentang masa lalu putrinya.
"Dulu kalau bukan karena almarhum Paman Jimin, mungkin aku menjadi anak buta hurup Pa,"
"Berarti yang menyekolahkan kamu bukan Emak kamu?" selidik Daniswara.
Gendis menggeleng lemah, tidak mungkin juga ia menceritakan keburukan ibu kandungnya kepada Daniswara.
"Gendis... maafkan Papa Nak" Daniswara mengusap kepala putrinya.
"Kok Papa minta maaf, memang apa salah Papa?" Gendis menatap sang papa yang sedang menyetir. Kali ini Danis tidak ingin diantar supir, karena ingin berdua dengan putrinya.
"Tidak..." jawab Daniswara. "Papa menyesal Ndis, kenapa tidak bertemu kamu sejak kecil, setidaknya kamu tidak kesusahan seperti yang sudah kamu lalui," sesal Daniswara.
"Papa ini aneh bagaimana kita bisa bertemu, kan tinggalnya jauh"
"Toh kita akhirnya dipertemukan, Papa bangga punya anak seperti kamu Ndis," Daniswara senyum-senyum. Gendis mengobati kekecewaan nya terhadap Gayatri.
Di dalam mobil menjadi hening, Danis melirik putrinya yang sedang menatap jalanan. Saat ini ia masih belum berani menceritakan bahwa dirinya adalah ayah biologis Gendis. Pria tampan itu takut jika Gendis tahu apa yang diperbuat kepada Ningrum dulu, Gendis akan membenci diri nya. Danis akan menceritakan semuanya kepada Gendis maupun Banuwati Istri nya saat kelak Gendis sudah menikah.
"Sudah sampai pa... terimakasih ya," Gendis mencium punggung tangan papa.
"Gendis, sukses selalu ya Nak," doa Daniswara.
"Aamiin..." jawab Gendis lalu turun dari mobil, kaki jenjangnya melangkah semangat menuju kampus baru nya. Dimana ia akan berjuang meraih sukses.
"Gendis... kita ketemu lagi..." seru Dara bersama Erlang menghadang langkahnya.
"Dara... Erlang..." Gendis memeluk sahabatnya kemudian beralih menyalami Erlang.
"Kamu berangkat sama siapa Ndis?" Dara mengedarkan pandangan, namun tidak ada siapapun.
"Sama Papa, tapi beliau langsung ke kantor," jawab Gendis lantas menatap Erlang. Gendis ingat nasehat Elang ketika baru lulus SMK agar kuliah akhirnya terkabul.
"Apa lihat-lihat!" Erlang pura-pura sinis, tetapi pria itu senang sekali bisa kuliah satu kampus dengan Gendis.
"Ih galak banget!" kuku pudul Gendis mencubit lengan Erlang, ketiganya lantas tertawa. Sebelum jam masuk mereka ngobrol dulu di taman kampus.
"Oh iya Ndis, sengklek kuliah dimana?" tanya Erlang yang dimaksud adalah Gayatri.
"Dia kuliah di universitas swasta, tapi sebentar lagi Dia mau menikah" tutur Gendis.
"Menikah? Ada yang mau juga sama cewek sengklek itu?" Erlang terkejut.
"Ih! Erlang! Kamu itu ngatain Ratri sengklek-sengklek melulu! Biar bagaimana Dia itu saudara aku Lang," omel Gendis.
"Biar bagaiamana Dia itu calon kakak ipar aku" sambung Dara.
"Apa? Jadi... pria yang dijodohkan dengan Ratri itu, kakak kamu?" cecar Gendis. Gendis sungguh tidak menyangka.
"Iya, dan ternyata dunia itu sempit banget, Ndis. Andai saja yang menjadi kakak ipar aku bukan Ratri tapi kamu, alangkah bahagianya aku" jujur Dara.
Plok!
"Ngaco!" Gendis menggeplak bahu Dara.
"Jangan! Gendis itu tulang rusuk aku, kalau sudah lulus nanti aku akan melamarnya. Iya kan Ndis?" kali ini Erlang tidak bergurau.
"Tanya saja, sama rumput yang bergoyang" sahut Gendis sambil berlalu. Erlang terkekeh. Dara dan Erlang segera menyusul.
...Tunggu undangannya 🤣🤣🤣....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
hahaaa...aya2 waee gendiss
2024-01-15
0
Afternoon Honey
📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖
2023-06-15
0
Dewi
lanjut
2023-03-31
0