Masa kecil.

Ketika anak-anak masing-masing pulang bersama kedua orang tuanya. Gendis bersembunyi di balik tembok. Ia tahu jika papa dan mama angkatnya mencarinya, ingin mengajak pulang bersama. Tetapi Gendis tentu tidak mau ada keributan, lebih baik ia pulang sendiri. Membiarkan Gayatri bersenang-senang bersama mama papa nya.

Puk!

Pundak nya ada yang menepuk dari belakang, seketika Gendis menoleh. "Erlangga..."

"Kamu ngapain ngumpet disitu Ndis?" dahi Erlangga berkerut.

"Seeettt... jangan kencang-kencang ngomongnya Lang," Gendis meletakan kedua jari di bibir.

"Memang ada apa?" Erlang turut menyembulkan kepala. "Lah itu bukanya Gayatri sengklek itu? Ada hubungan apa kamu sama Dia?"

"Dia itu bos aku Lang, jangan mengatai Dia sengklek, coba kalau berani ngomong gitu pas ada Dia, digetok kepalamu" kata Gendis, namun matanya masih menatap mobil Daniswara hingga mobil itu menjauh mungkin lelah mencarinya

"Bos? Maksudnya?" Erlang belum mengetahui siapa Gendis.

"Tepatnya, aku pembantu di rumah Dia, sudah ah! Aku mau pulang," Gendis hendak pergi.

"Tunggu Ndis, dalam rangka perpisahan aku mau traktir kamu makan bakso di warung Pak Agus" Erlang sudah sejak lama hendak mengajak Gendis tetapi Gendis selalu terburu-buru pulang.

"Lain kali saja Lang" tolak Gendis sambil beranjak.

"Ndis... please" Erlang memohon.

Gendis menatap Erlang kasihan juga. "Ya sudah ayo, tapi jangan lama-lama loh"

"Nggak, kalau sudah selesai makan, kita pulang Ndis... memang mau kemana? kecuali kita mencuci piring dulu. Ahaha" seloroh Erlang.

Mereka berjalan ke parkiran motor sambil menunggu Erlang menarik motor, Gendis membuka kebaya, hingga tinggal menyisakan kaos dan celana panjang, kemudian memasukan ke dalam tas.

"Hahaha... kamu jadi lucu Ndis, rambut di sanggul gitu masa pakai kaos," Erlang tertawa menatap Gendis pakaian ternyata cepat merubah tampilan seseorang. Ketika mengenakan kebaya tadi Gendis tampak dewasa, kali ini berubah menjadi anak imut dan menggemaskan.

"Sudah ah! Ayo, dari tadi kamu tertawa melulu" cicit Gendis. Jujur Gendis terhibur ternyata Elang orang yang humoris. Gendis kemudian membonceng Erlang.

"Pegangan Ndis,"

"Sudah penggangan kok," Gendis memegang kedua sisi motor.

"Bukan pegangan itu maksudnya Ndis, tapi pegangan perut" Erlangga terkekeh.

"Sudah ih! Cepat jadi makan bakso nggak? Aku turun nih" Gendis pura-pura mengancam.

"Siap cantik" Erlang menjalankan motornya, hanya sepuluh menit mereka tiba di warung bakso yang sudah terkenal di kota mereka. Erlangga segera memesan bakso dan minuman kemasan dalam botol.

"Ndis... setelah ini kamu akan lanjut kuliah dimana?" tanya Erlang.

"Kuliah?" Gendis mengeryit, andai saja ia bisa kuliah tentu ia akan lanjut, tetapi Gendis sadar siapa dirinya.

"Ndis kok malah Diam..." Erlang menatap Gendis, yang di tatap pikiranya sedang traveling.

"Kuliah itu hanya mimpi bagi aku Lang" Gendis pesimis.

"Kenapa Ndis, apa karena biaya? Kamu kan juara umum, kamu bisa dengan mudah mengajukan beasiswa, jangan sia-siakan kesempatan ini, remaja tidak akan datang dua kali Ndis, kita daftar di universitas negeri di kota ini, Dara juga mau daftar kesana" Erlang menasehati.

"Nanti aku ijin Emak dulu Lang" Gendis menimbang-nimbang nasehat Erlang. Obrolan berhenti karena bakso sudah di hidangkan. Mereka makan sambil diselingi obrolan ringan, satu mangkok bakso jika Erlang habis, tapi Gendis hanya makan setengah nya.

"Lang, terimakasih... kamu sudah traktir aku, menasehati aku, aku pulang dulu ya," Gendis berdiri.

"Aku antar kamu Ndis" Erlang menghabiskan minum kemudian berdiri juga.

"Nggak usah Lang... aku pesan ojek online saja" tolak Gendis.

"Nggak ada penolakan lagi! Ayo" Erlang mengantar Gendis hingga sampai di depan kediaman Daniswara.

***********

"Mak... aku dapat juara umum" Gendis segera menyampaikan kabar gembira ini kepada Ningrum.

"Kamu kemana saja pulang terlambat? Non Gayatri sudah pulang sejak tadi," bukan mengucapkan selamat kepada Gendis Ningrum justeru menanyakan hal lain.

"Tadi aku diajak teman makan bakso dulu Mak, kalau gitu... aku ganti pakaian dulu baru setrika," Gendis pun akhirnya ke kamar. Ia sedih kenapa emaknya tidak senang dengan prestasi yang ia capai.

Gendis duduk di depan cermin mengingat ketika kecil sekitar berumur tujuh tahun.

Flashback on.

Gendis kecil berdiri diluar jendela kelas, memperhatikan anak-anak berpakaian merah putih yang sedang diterangkan pelajaran oleh sang Guru. Ia ingin seperti mereka bisa sekolah, bisa membaca, dan bisa menulis. Tetapi harapan tinggal harapan emak Ningrum tidak mengijinkan ia sekolah. Beginilah hari-hari Gendis, selesai membantu Ningrum bersih-bersih ia mengintip anak-anak yang sedang menuntut ilmu.

"Gendis... kamu disini? Paman cari kemana-mana loh" kata paman Jimin, menghampiri keponakan nya.

"Ya Paman" Gendis segera turun dari kursi panjang.

"Paman... Gendis bisa nulis loh, lihat" Gendis menunjukan buku yang sudah lusuh karena ia bawa-bawa. Buku yang sudah di tulis hurup ejaan dan deretan angka. Rupanya ia tidak hanya menonton tetapi juga mengikuti pelajaran.

1+1\= 2

2+2 \= 4

"Gendis... kamu mau sekolah sayang..." Jimin menatap Gendis sendu.

"Iya Paman... tapi nggak dibolehin sama Emak," Gendis menggeleng bersedih.

"Sekarang juga kita ke kantor yuk" Jimin menuntun sang keponakan yang berusia tujuh tahun itu ke ruang guru.

"Kenapa tidak didaftarkan sejak dulu Mas, sekolah sudah berjalan 6 bulan. Mas yakin... jika keponakan Anda bisa mengikuti pelajaran?" sang guru sangsi.

"Saya bisa Pak Guru"

B-a; ba

T-a; ta

Bata.

Gendis mengeja, untuk memperlihatkan kemampuan nya kepada guru, agar diterima sekolah.

Kepala sekolah menatap Gendis mempunyai semangat yang luar biasa. Kepala sekolah tercengang anak-anak kelas satu di sekolah ini belum ada yang bisa membaca tetapi Gendis mempunyai kemampuan yang luar biasa.

"Baiklah... mulai besok... kamu boleh sekolah tetapi harus pakai seragam ya," titah pak kepsek.

"Yayyy... Gendis sekolah Paman... Gendis sekolah..." Gendis kegirangan semua guru di kantor tersenyum.

"Iya sayang..." Jimin tersenyum lebar. Jimin segera mengurus administrasi tentu karena ini sekolah SD negeri hanya di kenakan biaya suka rela.

Flashback off.

"Paman... andai masih ada Paman..." Gendis segera beranjak kemudian salin baju. Ia segera mengangkat pakaian di loteng yang sudah kering membawanya ke tempat setrika.

"Gendis..." suara bariton mengejutkan Gendis yang hendak strika.

"Papa... Mama... maaf, saya tadi pulang terlambat, soalnya ada yang mengajak makan bakso," tutur Gendis yang ia tahu papa Daniswara dan Banuwati ke kamar setrika mau memarahi dirinya.

"Gendis... jangan dulu setrika, kamu ikut Mama" titah Banuwati.

"Baik Ma" Gendis mencabut kembali kabel, mengikuti papa, mama, ke ruang keluarga.

"Gendis... Papa sama Mama tahu, kamu ternyata berprestasi. Kami bermaksud memasukkan kamu ke universitas negeri Nak," kata Banuwati.

"Benar Papa.... Mama... terimakasih Ma..." Gendis seketika memeluk tubuh Banuwati.

"Benar Ndis, selamat ya Nak, atas kerja keras kamu ternyata hasilnya luar biasa," puji papa Daniswara.

"Tidak! Aku tidak setuju! Enak saja, Gendis yang hanya anak pungut dikuliahkan, sedangkan aku yang anak kandung di paksa menikah! Papa sama Mama tidak adil," Gayatri yang baru saja menuruni tangga mencak-mencak.

"Ratri... bukan begitu maksud kami nak, walaupun kami menikahkan kamu muda, bukan berarti kami tidak akan memasukan kamu ke perguruan tinggi," Banuwati menenangkan.

"Iya Ratri, kamu sekarang menolak menikah dengan Bima, karena kamu belum mengenalnya Nak," Daniswara menimpali. Danis punya alasan yang kuat menikahkan Gayatri dengan cepat, ia mempunyai keyakinan hanya Bima yang mampu mendidik Gayatri agar lebih baik. Kedengarannya egois memang, Daniswara saja gagal mendidik Gayatri tetapi justeru melimpahkan tanggungjawab nya kepada orang lain.

"Baik, aku akan menikah, tetapi bukan dengan pria pilihan Papa, karena aku sudah punya pilihan yang lain,"

...Bersambung....

Terpopuler

Comments

Hana Roichati

Hana Roichati

Baca sambil nangis kak 😭😭

2024-09-05

2

Erina Munir

Erina Munir

baguslaah...nikah aja sama pilihan loh itu gayatri..
kebenerann atuuh....😜😜😜😜

2024-01-15

2

Dewi

Dewi

lanjut kakak 😘

2023-03-26

0

lihat semua
Episodes
1 Gendis.
2 Menjalani dunia baru.
3 Orang di masa yang lalu.
4 Rindu pencuci mobil.
5 Berdebat.
6 Cinta layu sebelum berkembang.
7 Membuka luka lama.
8 Dendam.
9 Kehadiran nenek.
10 Membeli kucing dalam karung.
11 99 persen.
12 Keputusan.
13 Juara Umum.
14 Masa kecil.
15 Masuk kuliah pertama.
16 Beli Cincin.
17 Lari dari pernikahan.
18 Dibohongi bertahun-tahun.
19 Pergi.
20 Pulang ke rumah.
21 Bertemu dia lagi.
22 Pelukan dahsyat.
23 Setengah hari bersamamu.
24 Gibah pagi.
25 Tiba di rumah mewah.
26 Sudah dikepung.
27 Tertunduk malu.
28 Pengkhianat.
29 Main golf.
30 Tidak ingin dilahirkan.
31 Salah sangka
32 Tinggal reruntuhan.
33 Dirundung risau.
34 Meletus.
35 Mulai penyelidikan.
36 Minta mobil.
37 Di gigit kobra.
38 Diary.
39 Buku harian 1
40 Buku harian 2
41 Sesal.
42 Pengakuan senja
43 Rindu pelukanya.
44 Orlap.
45 Menyita kunci mobil.
46 Menyadari.
47 Gadis misterius.
48 Emoji Hati.
49 Kado Untuk Bima.
50 Jam tangan hilang.
51 Temani aku.
52 Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53 Bima Kesal.
54 Pertengkaran.
55 Mengembalikan kado.
56 Huru hara.
57 Kecelakaan.
58 Dua kenyataan pahit.
59 Saat-saat terakhir.
60 Ingin bertemu Nenek.
61 Sanggupkah.
62 Bau wangi.
63 Pria berkumis menghipnotis.
64 Kopi rasa cinta.
65 Gosip perusahaan.
66 Resepsi pernikahan ulang.
67 Masakan rasa cinta.
68 Memecat tidak hormat.
69 Cinta yang salah.
70 Bermain layang-layang.
71 Luka Hati Mak Ningrum.
72 Pengumuman
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Gendis.
2
Menjalani dunia baru.
3
Orang di masa yang lalu.
4
Rindu pencuci mobil.
5
Berdebat.
6
Cinta layu sebelum berkembang.
7
Membuka luka lama.
8
Dendam.
9
Kehadiran nenek.
10
Membeli kucing dalam karung.
11
99 persen.
12
Keputusan.
13
Juara Umum.
14
Masa kecil.
15
Masuk kuliah pertama.
16
Beli Cincin.
17
Lari dari pernikahan.
18
Dibohongi bertahun-tahun.
19
Pergi.
20
Pulang ke rumah.
21
Bertemu dia lagi.
22
Pelukan dahsyat.
23
Setengah hari bersamamu.
24
Gibah pagi.
25
Tiba di rumah mewah.
26
Sudah dikepung.
27
Tertunduk malu.
28
Pengkhianat.
29
Main golf.
30
Tidak ingin dilahirkan.
31
Salah sangka
32
Tinggal reruntuhan.
33
Dirundung risau.
34
Meletus.
35
Mulai penyelidikan.
36
Minta mobil.
37
Di gigit kobra.
38
Diary.
39
Buku harian 1
40
Buku harian 2
41
Sesal.
42
Pengakuan senja
43
Rindu pelukanya.
44
Orlap.
45
Menyita kunci mobil.
46
Menyadari.
47
Gadis misterius.
48
Emoji Hati.
49
Kado Untuk Bima.
50
Jam tangan hilang.
51
Temani aku.
52
Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53
Bima Kesal.
54
Pertengkaran.
55
Mengembalikan kado.
56
Huru hara.
57
Kecelakaan.
58
Dua kenyataan pahit.
59
Saat-saat terakhir.
60
Ingin bertemu Nenek.
61
Sanggupkah.
62
Bau wangi.
63
Pria berkumis menghipnotis.
64
Kopi rasa cinta.
65
Gosip perusahaan.
66
Resepsi pernikahan ulang.
67
Masakan rasa cinta.
68
Memecat tidak hormat.
69
Cinta yang salah.
70
Bermain layang-layang.
71
Luka Hati Mak Ningrum.
72
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!