Mendengar keputusan Daniswara semua yang di meja makan pun diam. Walaupun Gayatri mengumpat dalam hati, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya papa Daniswara mengancam akan menarik uang jajan yang selalu di transfer setiap bulan oleh Daniswara ke rekening Gayatri.
Acara makan siang pun lagi-lagi tidak dirasakan dengan nikmat oleh mereka, walaupun tetap berlangsung. Acara makan siang selesai mereka membubarkan diri. Siang itu juga Daniswara memerintahkan anak buahnya agar mengurus surat pindah sekolah Gendis.
Sore harinya Gendis sedang menyiram tanaman, tampak mobil berwarna hitam berhenti di depan pagar. Pria yang kira-kira berumur 26 tahun pun turun, kemudian berjalan beniat memencet bel.
Gendis bergegas mematikan kran sebelum akhirnya membuka pagar.
"Selamat sore Tuan... ada yang bisa saya bantu?" tanya Gendis mengangguk sopan.
"Kamu siapa?" tanya pria itu, menatap wajah cantik Gendis seksama.
"Saya pembantu baru disini Tuan," Gendis tersenyum manis.
"Kenalkan, nama saya Argadinata, panggil saja Arga," pria itu menyodorkan telapak tangan langsung disambut ramah oleh Gendis. "Saya Gendis," Gendis memperkenalkan diri.
"Oh... nama kamu Gendis? Pantas... wajahmu maniiiiissss... seperti Gendis, tapi bukan Gendis merah loh... melainkan gendis putih," Arga terkekeh seraya melebarkan kedua sisi tangan.
"Tuan bisa saja. Silahkan masuk tuan" Gendis balik badan ingin segera melanjutkan tugasnya yang belum selesai.
"Tunggu Gendis" Arga menyandak lengan Genis.
"Ada apa Tuan..." Gendis sebenarnya ingin cepat bekerja, jika sampai emaknya tahu ngobrol ketika pekerjaan belum selesai, pasti akan kena damprat.
"Boleh kita tukar nomor hp?" tanya Arga.
"Boleh... tapi saya tidak membawa handphone" jujur Gendis karena handphone miliknya ia simpan di kamar.
"Tapi kamu pasti ingat kan... coba tolong tulis disini," Arga menyodorkan handphone miliknya.
Tidak mau berlama-lama karena akan kerja kembali, Gendis menerima handphone Arga, kemudian mengetik nomor miliknya. Tanpa Gendis sadari Arga mengambil sehelai rambut Gendis kemudian memasukan ke dalam dompet.
"Ini hp milik Anda Tuan... saya permisi" pungkas Gendis meninggalkan Arga, kemudian menyalakan kran kembali.
************
Tiga hari kemudian, Gendis sudah pindah ke sekolah yang baru. Tetapi bukan seperti yang di rencanakan, yakni berangkat bersama Gayatri di antar supir. Gadis cantik itu cukup tahu diri memilih numpang kendaraan umum daripada berangkat bersama nona mudanya yang sudah pasti merasa jijik berdekatan dengannya. Gendis memilih aman saja.
Tiba di tempat, dengan langkah pasti Gendis melangkahkan kaki di sekolah yang baru. Sekolah elite kebanyakan yang sekolah bukan orang sembarangan.
"Hii... kawan-kawan... kenalkan, ini loh... pembokat gw..." Gayatri yang sudah tiba lebih dulu menghadang langkah Gendis bersama kedua temanya. Gayatri tersenyum mengejek, boleh papa nya memasukkan Gendis ke sekolah ini dengan lancar, namun siap-siap saja Gendis akan menerima konsekuensinya.
"Hai... kenalkan, nama saya Gendis, pembantu nona Gayatri" jujur Gendis bukan menimpali ejekan Ratri, tetapi justeru menyambut dengan tersenyum ramah, menatap kedua teman Gayatri bergantian.
"Hai..." dua teman Ratri menyambut uluran tangan Gendis.
"Gue Ririn"
"Gue Adel"
Gayatri melihat reaksi kedua temanya merasa kesal. Berniat mencari bolo agar Gendis tidak betah sekolah di sekolah ini. Namun rupanya kedua sahabatnya tidak mau di ajak kompromi. Gayatri tidak menyadari bahwa ia sekolah di tempat ini pun masih baru.
"Saya duluan ya..." Gendis tersenyum, setelah di angguki oleh kedua teman Gayatri. Ia berjalan lebih dulu mencari dimana kelas barunya. Sampai di dalam, Gendis bingung dimana harus meletakkan tas, sebab belum mengetahui kursi yang kosong.
Gendis pun kembali keluar duduk di kursi panjang depan kelas sambil membaca buku.
Kreeet...
Kursi terasa berat sebelah, Gendis menoleh.
"Assalamualaikum..." gadis berhijab mengucap salam.
"Waalaikumsalam..." Gendis tersenyum.
"Kamu kelas berapa? Kok aku baru lihat kamu?" selidik wanita berhijab.
"Aku murid baru, pindahan dari sekolah xxx. Kenalkan nama saya Gendis," Gendis mengulurkan tangan.
Wanita berhijab menyambut uluran tangan Gendis. "Aku Dara" ujarnya. Mereka pun berbincang akrab, nyambung, hingga terdengar bel masuk, Dara menggandeng tangan Gendis masuk kelas bersama.
Beberapa menit kemudian, guru pun sudah masuk kelas, Gendis diminta oleh guru agar memperkenalkan diri di depan kelas kepada teman-temanya.
"Eh loe! Duduk nya pindah gih" usir anak laki-laki yang paling tampan di kelas itu, kepada temanya di sebelah.
"Eh tega loe!" sungut temanya yang bertubuh krempeng.
"Cepat! Kursi ini untuk duduk bidadari gw yang di depan noh" tunjuknya kepada Gendis yang masih berdiri di depan kelas bersama guru. Pria yang bernama Elang itu percaya diri.
"Gw sumpahin cewek itu nggak mau duduk sama loe!" sungut pria yang bernama Kuswan dan biasa dipanggil Wawan itu menyeringai kemudian pindah kursi paling belakang.
Keadaan kelas menjadi gaduh, merebutkan agar bisa duduk bersama Gendis. Gayatri yang tahu semua itu merasa kesal sendiri.
Dok dok dok.
"Anak-anak... harap tenang, harap tenang" Sang Guru perempuan mengetuk-ngetuk meja dengan penghapus papan tulis.
"Gendis... sekarang kamu pilih, mau duduk bersama siapa?" ibu guru menengahi.
Gendis menatap Dara yang melambaikan tangan ke arahnya. "Saya memilih duduk bersama Dara Bu..." pungkas Gendis.
"Huuuu..." seru anak-anak, terutama yang pria saling meledek.
*************
Malam harinya di rumah mewah, Bima duduk di depan televisi, tetapi bukan menonton tayangan yang diputar. Melainkan mantengin foto seorang gadis yang sedang mencuti mobil. Tempo hari Bima mengabadikan momen tersebut dari belakang, tanpa Gendis tahu.
Bima benar-benar jatuh cinta hingga tidak mampu bangun. Cinta dalam pandangan pertama. Selama lima hari pria yang sudah mapan itu mencari Gendis kemana-mana bahkan bolak balik ke pencucian mobil, tetapi wanita yang belum ia ketahui namanya itu pun hilang entah kemana.
"Kiaaa..." Dara puspa mengejutkan kakaknya yang sedang serius. Gadis berhijab itu memegangi pundak Bima, memergoki sang kakak yang sedang serius memandangi foto seorang wanita. Merasa diabaikan Dara menarik cepat handphone dalam genggaman Bima.
"Dara! Kembalikan handphone kakak!" sungut Bima. Namun Dara tidak memperdulikan justeru menjauh memperbesar foto tampak seorang gadis yang sedang mencuci mobil dari belakang.
"Hahaha... kakak sedang jatuh cinta rupanya. Cieee... cieee..." Dara tertawa lebar.
"Heh! Kembalikan!" Bima berdiri lalu mengejar adiknya. Terjadi kejar-kejaran dua remaja itu hingga menimbulkan suara berisik. Suara berat Bima, dan ketawa Dara, belum lagi kaki mereka menabrak-nabrak kursi, hingga terdengar oleh Ganendra bersama istri.
"Ya ampuuun... kalian ini seperti anak kecil saja" omel mami Seruni, ia baru keluar dari kamar bersama sang suami.
"Papi... Kakak sedang jatuh cinta nih" adu Dara.
"Mulut lemes" Bima berhasil menangkap adiknya lalu menapuk pelan bibir Dara dengan telapak tangan. Baru kemudian merebut handphone.
"Nggak sakit, wle!" Dara melet-melet sambil berlalu ke meja makan ambil air minum.
Bima mengantongi handphone lalu kembali duduk di tempat semula disusul papi Ganendra dan mami Seruni.
"Benar apa yang dikatakan adikmu Bim?" tanya papi Ganendra.
"Yang mana Pi?" Bima tidak mengerti.
"Benar kamu sudah punya pacar?" cecar papi.
"Papi... Dara didengerin," bantah Bima.
"Ingat Bima, Papi sudah berjanji kepada Om Daniswara, kami akan menikahkan kamu dengan putrinya, jadi jangan mempermalukan Papi sama mami kamu" Ganendra tidak mau di bantah.
"Benar apa kata Papi kamu Bim," pungkas mami Seruni.
Bima hanya bisa menarik napas berat, cinta nya kini telah terpatahkan, layu sebelum berkembang.
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
nnti pas berkunjung k rmh danis..bima ketemu deh sama gendis....akhirnya ga jdi berjodoh sama s jutex.gayatri...
2024-01-15
0
Rara Kusumadewi
sabar....gendis jodohmu kok Bima😂
2023-09-22
1
Afternoon Honey
asyik bacanya📖👍
2023-06-15
2