Juara Umum.

Hari ini tibalah saatnya Gendis dan Gayatri akan di wisuda lulus SMK. Daniswara maupun Banuwati sudah bersiap-siap berangkat akan menghadiri acara tersebut.

"Gendis biar diantar emaknya saja Pa, numpang angkutan, bukankah Dia juga dapat undangan." Gayatri menunjuk Ningrum tidak sopan. Lalu melirik Gendis merasa iri karena Gendis tampil lebih cantik dengan kebaya wisuda, dua gadis itu semua di muke up oleh Banuwati memang ia ahlinya.

"Jangan begitu dong Ratri, kali ini tidak ada yang numpang angkutan, kita jalan satu mobil" jawab Daniswara.

"Nenek... Papa tuh..." adu Gayatri memegang lengan sang nenek.

"Heh kamu! Harus menuruti apa kata cucu saya," sinis nenek Ajeng.

"Iya Nek, saya numpang angkutan," Gendis menjawab sopan.

"Sudah berapa kali saya bilang, jangan panggil saya Nenek, karena saya bukan Nenek kamu!" Nenek Ajeng menyebut nama Gendis saja sepertinya anti.

"Sudahlah Ma..." Daniswara geleng-geleng kepala, menatap sang mama yang tidak pernah bisa berbicara lembut.

Sementara Banuwati tidak bisa berbuat apa-apa. Jika menyahut disangka melawan mertua, maka Banuwati memelih diam.

"Baik Nyonya besar, saya tidak akan bareng sama Mama, Papa kok, saya pesan ojek online saja," potong Gendis sebelum nenek berbicara lagi. Gendis lebih baik mengalah tidak ingin merusak suasana hatinya pagi ini karena ia senang bisa menyelesaikan sekolah sampai lulus.

"Tapi Ndis..." Daniswara menatap sendu Gendis yang selalu mengalah kepada Gayatri.

"Ratri... kamu ini bagaimana sih... apa kata orang nanti kalau kamu naik mobil sementara Gendis numpang angkutan, padahal mereka tahu kalau kita ini satu keluarga," tutur Banuwati.

"Mama... aku sudah pesan ojek, sebentar lagi datang" Gendis tidak ingin berdebat lagi.

"Gendis, ojek sudah datang tuh, sebaiknya kamu segera berangkat," Ningrum mendorong-dorong bahu Gendis.

"Iya Mak aku pamit" Gendis mencium punggung tangan Ningrum sebelum mengangkat kebaya hingga menampilkan celana panjanganya, tidak lupa juga, Gendis salim Daniswara dan Banuwati kemudian berlalu.

Daniswara sebenarnya kesal dengan sikap Gayatri tapi mau bagaimana lagi. Mereka akhirnya berangkat juga menyusul ojek.

Karena numpang motor tentu Gendis tiba lebih dulu. Bersamaan dengan itu Dara Puspa pun tiba diantar papi Ganendra dan mami Seruni.

"Gendis..." sapa Dara tersenyum manis. "Ya Allah... kamu cantik sekali sih..." Dara berdecak kagum.

"Ah kamu ini berlebihan Ra, kamu masih kurang cantik memang," sanggah Gendis.

"Kurang lah, aku ingin cantik seperti kamu, oh iya aku kenalin Papi, Mami aku yuk," Dara mengait jari Gendis mereka menghampiri pasutri.

"Mami... Papi... kenalin. Ini loh sahabat aku yang sering aku ceritakan itu" Dara memeluk pundak Gendis.

"Oh... jadi ini Gendis..." mami Seruni tersenyum.

"Nyonya... Tuan..." Gendis menyalami mami Seruni dan papa Ganendra.

"Panggil saja Tante Nak... jangan Tuan sama Nyonya" tolak Seruni.

"Tapi... saya rasa tidak sopan Tante... soalnya saya ini anak pembantu." Gendis merendah.

"Gendis... Gendis... kamu ini lucu" Seruni memegang pundak Gendis. "Memang saya tanya kamu ini anak siapa, yang saya tahu kamu gadis cantik, pintar teman Dara, selalu mengajari Dara mengerjakan tugas yang sulit sekalipun," rupanya Dara memang selalu menceritakan Gendis hingga detail.

"Mi... Pi... kami kumpul kesana dulu ya," ijin Dara.

"Iya sayang..." mami Seruni menatap putrinya yang menggandeng tangan Gendis hingga bergabung di ruangan siswa siswi wisudawan.

"Pi... pembantu Banuwati cantik sekali ya" puji mami Seruni.

"Iya Mi, pembantunya saja berkelas, apalagi putrinya," papi Ganendra manggut-manggut.

"Endra..." sapa Daniswara ia baru tiba menggandeng Gayatri dan juga Banuwati.

"Danis"

"Banuwati..."

Dua keluarga itu pun berjabat tangan.

"Ratri... salim dulu Nak, ini loh calon mertua kamu" titah Banuwati.

Siapa juga yang mau di jodohkan, tunggu saja tanggal mainnya.

"Om... Tante..." Ratri tersenyum terpaksa. Gayatri pun segera bergabung bersama yang lain. Sementara Daniswara duduk di kursi khusus untuk wali murid yang sudah di sediakan oleh pihak gedung.

"Danis... lalu bagaiamana rencana pernikahan anak kita?" Ganendra sebagai pihak pria menanyakan kelanjutan perjodohan putra putri mereka.

"Lebih cepat lebih baik Dra" sahut Daniswara. Sebelum acara dimulai dua pasang pasutri itu pun membicarakan masalah pernikahan Bima dengan Gayatri. Kedua belah pihak sudah setuju, tiga bulan ke depan mereka akan di langka ijab kabul.

Obrolan berhenti kala MC sudah memulai acara wisuda mempersilahkan kepala sekolah memberi sambutan, disusul sambutan yang berikutnya.

Hingga tiba saatnya acara inti para wisudawan di panggil satu persatu naik ke atas panggung memindahkan tali toga.

"Danisha Putri Gayatri..."

Gayatri naik ke atas panggung.

"Dara Puspa Alby"

"Erlangga"

"Wawan kurniawan"

"Adelia Agustina"

"Gendis Sekar Kinasih"

Plok plok plok.

Dengan percaya diri Gendis naik ke atas panggung. Kepala sekolah memindahkan tali toga. Tampilan Gendis membuat semua mata menatapnya kagum.

"Wati, kamu yakin... kalau Gendis itu benar-benar art?" tanya mami Seruni kepada Banuwati yang duduk di sebelah nya.

"Entahlah Un, aku sendiri tidak percaya jika Gendis itu terlahir dari orang biasa," rupanya Banuwati selama ini memperhatikan Gendis, hanya pertanyaan itu tidak terlontar dari mulut nya.

"Aku yakin Wati... jika Gendis itu pasti keturunan Ningrat" Seruni berpendapat.

"Ningrum apa Ningrat?" Banuwati terkekeh disambut tawa Seruni. Pandangan dua wanita itu kembali fokus ke panggung kala MC membacakan para peringkat kelas masing-masing.

"Untuk kelas manajemen perkantoran juara ketiga. "Wawan kurniawan"

"Juara kedua Erlangga"

"Dan juara pertama adalah..." sesaat MC diam.

"Dara Puspa Alby...."

Plok plok plok.

Tepuk tangan meriah dari para siswi maupun orang tua murid. Termasuk Seruni dan Ganendra ia bangga dengan putri kedua nya itu.

"Inilah yang terakhir, dan kita tunggu-tunggu juara umum dari semua jurusan adalaaaah..."

Hening seketika suasana

"Gendis Sekar Kinasih..."

Plok plok plok.

"Aku..." Gendis menatap Dara yang duduk di sebelah nya. Ia tidak pecaya akan juara umum di sekolah ini. Sekolah elite tidak semua orang bisa masuk dengan mudah.

"Selamat Gendis" Dara memeluk sahabatanya.

Di tempat yang berbeda, Daniswara pun menyaksikan putrinya berkaca-kaca. Sejak awal pengumuman juara, dalam hatinya berdoa agar Gayatri mendapat juara. Tetapi tidak ia sangka ternyata anaknya yang terbuang itu yang justeru membanggakan diri nya. Sebagai orang tua tentu Daniswara ingin anaknya mendapatkan yang terbaik, maka tidak tanggung-tanggung memasukkan Gayatri ke sekolah ini belum lagi ke tempat bimbel yang terbaik.

"Art kamu hebat Nis" kata Ganendra menepuk pundak Daniswara mengejutkan lamunan Danis.

"Aku juga tidak menyangka Dra" jawab Danis. Danis belum menceritakan siapa Gendis yang sebenarnya kepada sahabatnya itu.

Acara demi acara telah selesai, kemudian di lanjutkan foto bersama. Para siswa siswi kemudian menemui orang tua masing.

"Selamat sayang..." mami Seruni mencium pipi Dara ketika sedang dalam perjalanan pulang. Seruni bangga putrinya selalu juara kelas sejak SMP dulu.

"Tapi aku masih kurang puas Mi, tidak bisa mendapat juara umum seperti Gendis,"

"Jangan kecil hati, kamu itu sudah luar biasa sayang..." mami Seruni mengusap kepala putrinya yang masih berkerudung.

"Kamu mau hadiah apa?" tanya papi Ganendra, turut nguyek kepala putrinya.

"Doakan saja ya Pi, Dara bisa masuk kampus terbaik di kota ini," permintaan Dara tidak neko-neko.

"Aamiin..." ucap mami papi bersamaan.

"Calon kakak kamu malah nggak dapat peringkat ya" papi Ganendra mengira calon menantunya lebih pandai dari Dara.

"Calon Kakak? Yang mana Pi" Dara menoleh papi nya.

"Gayatri itu calon kakak kamu Ra"

"Gayatri? Oh no!"

...Bersambung....

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

ohh..big nooo..laah...orang jutek..tek...tekk..mga panted jdi kakaknya dara...bagus daraa

2024-01-15

0

Rara Kusumadewi

Rara Kusumadewi

ya iyalah gendis cerdas wong dia bibit unggul... sebelum mencetak Gayatri kan udah tercetak dia....😂😂😂

2023-09-22

1

Dewi

Dewi

lanjut

2023-03-26

0

lihat semua
Episodes
1 Gendis.
2 Menjalani dunia baru.
3 Orang di masa yang lalu.
4 Rindu pencuci mobil.
5 Berdebat.
6 Cinta layu sebelum berkembang.
7 Membuka luka lama.
8 Dendam.
9 Kehadiran nenek.
10 Membeli kucing dalam karung.
11 99 persen.
12 Keputusan.
13 Juara Umum.
14 Masa kecil.
15 Masuk kuliah pertama.
16 Beli Cincin.
17 Lari dari pernikahan.
18 Dibohongi bertahun-tahun.
19 Pergi.
20 Pulang ke rumah.
21 Bertemu dia lagi.
22 Pelukan dahsyat.
23 Setengah hari bersamamu.
24 Gibah pagi.
25 Tiba di rumah mewah.
26 Sudah dikepung.
27 Tertunduk malu.
28 Pengkhianat.
29 Main golf.
30 Tidak ingin dilahirkan.
31 Salah sangka
32 Tinggal reruntuhan.
33 Dirundung risau.
34 Meletus.
35 Mulai penyelidikan.
36 Minta mobil.
37 Di gigit kobra.
38 Diary.
39 Buku harian 1
40 Buku harian 2
41 Sesal.
42 Pengakuan senja
43 Rindu pelukanya.
44 Orlap.
45 Menyita kunci mobil.
46 Menyadari.
47 Gadis misterius.
48 Emoji Hati.
49 Kado Untuk Bima.
50 Jam tangan hilang.
51 Temani aku.
52 Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53 Bima Kesal.
54 Pertengkaran.
55 Mengembalikan kado.
56 Huru hara.
57 Kecelakaan.
58 Dua kenyataan pahit.
59 Saat-saat terakhir.
60 Ingin bertemu Nenek.
61 Sanggupkah.
62 Bau wangi.
63 Pria berkumis menghipnotis.
64 Kopi rasa cinta.
65 Gosip perusahaan.
66 Resepsi pernikahan ulang.
67 Masakan rasa cinta.
68 Memecat tidak hormat.
69 Cinta yang salah.
70 Bermain layang-layang.
71 Luka Hati Mak Ningrum.
72 Pengumuman
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Gendis.
2
Menjalani dunia baru.
3
Orang di masa yang lalu.
4
Rindu pencuci mobil.
5
Berdebat.
6
Cinta layu sebelum berkembang.
7
Membuka luka lama.
8
Dendam.
9
Kehadiran nenek.
10
Membeli kucing dalam karung.
11
99 persen.
12
Keputusan.
13
Juara Umum.
14
Masa kecil.
15
Masuk kuliah pertama.
16
Beli Cincin.
17
Lari dari pernikahan.
18
Dibohongi bertahun-tahun.
19
Pergi.
20
Pulang ke rumah.
21
Bertemu dia lagi.
22
Pelukan dahsyat.
23
Setengah hari bersamamu.
24
Gibah pagi.
25
Tiba di rumah mewah.
26
Sudah dikepung.
27
Tertunduk malu.
28
Pengkhianat.
29
Main golf.
30
Tidak ingin dilahirkan.
31
Salah sangka
32
Tinggal reruntuhan.
33
Dirundung risau.
34
Meletus.
35
Mulai penyelidikan.
36
Minta mobil.
37
Di gigit kobra.
38
Diary.
39
Buku harian 1
40
Buku harian 2
41
Sesal.
42
Pengakuan senja
43
Rindu pelukanya.
44
Orlap.
45
Menyita kunci mobil.
46
Menyadari.
47
Gadis misterius.
48
Emoji Hati.
49
Kado Untuk Bima.
50
Jam tangan hilang.
51
Temani aku.
52
Mbak Kunti di bawah pohon beringin.
53
Bima Kesal.
54
Pertengkaran.
55
Mengembalikan kado.
56
Huru hara.
57
Kecelakaan.
58
Dua kenyataan pahit.
59
Saat-saat terakhir.
60
Ingin bertemu Nenek.
61
Sanggupkah.
62
Bau wangi.
63
Pria berkumis menghipnotis.
64
Kopi rasa cinta.
65
Gosip perusahaan.
66
Resepsi pernikahan ulang.
67
Masakan rasa cinta.
68
Memecat tidak hormat.
69
Cinta yang salah.
70
Bermain layang-layang.
71
Luka Hati Mak Ningrum.
72
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!