Tok tok tok
Ana telah tiba di depan kamar rias kemudian mengetuk pintu.
"Masuk" jawab seorang wanita di dalam sana. Ana membuka pintu menyembulkan kepala sedikit. Tatapan Ana menjurus ke arah wanita yang sudah tampil cantik dengan balutan kebaya pengantin dari kota asal gadis itu.
Gadis itu adalah Gendis, menyambut Ana dengan senyuman kas. Walaupun mereka belum saling mengenal.
"Ada apa Mbak?" tanya MUA.
"Nona Gendis sudah di tunggu" jawab Ana membalas senyuman Gendis.
"Di tunggu sebentar Mbak, sedikit lagi" perias masih menyempurnakan tampilan Gendis, kemudian meminta Ana agar duduk.
********
"Wati... tolong katakan, ada apa?" Danis mengejar istrinya ke kamar.
"Jangan pura-pura tidak tahu Pa! Mama kecewa sama kamu!" Banuwati membelakangi suaminya.
Daniswara berputar menatap lekat mata sang istri, tergambar kekecewaan yang dalam di mata Wati.
"Wati..." Daniswara memegang pundak Banuwati. Namun Banuwati menghindar.
"Ada hubungan apa kamu sama Ningrum Pa? Apa yang sudah kamu lakukan di belakang aku?! Hingga kamu mempunyai anak dari Ningrum?!" Banuwati menatap nanar wajah suaminya.
Deg.
Daniswara tercekat lidahnya kelu untuk berucap, seketika pria berahang tegas itu menunduk, takut dengan tatapan Banuwati, bak pedang yang akan di tancapkan ke dadanya.
"KENAPA KAMU DIAM PA? KENAPA?! GENDIS ITU ANAK KAMU DENGAN NINGRUM KAN?! JAWAB PA! JAWAB...!!!" pekik Banuwati. Seumur hidupnya baru kali ini ia berbicara kasar.
"Wati... tenang sayang, aku akan jelaskan semuanya," Daniswara mendekati istinya.
"Kamu jahat Pa, kamu berkhianat! KAMU BERKHIANAT!!!" Banuwati memukul-mukul dada suaminya namun tidak keras. Daniswara merengkuh istrinya dalam pelukan.
Banuwati tidak menolak, ia menangis sejadi-jadinya di dada pria yang ia cintai itu. Tubuh Banuwati berguncang, air matanya membasahi baju Danis. Beberapa saat mereka saling diam hanya terdengar isak tangis Banuwati setelah agak tenang Daniswara menggendong Banuwati mengajaknya duduk di sofa.
"Sekarang dengarkan aku Ma, aku akan menceritakan semuanya, tapi tolong jangan di potong" kata Danis setelah mendudukan Banuwati.
"Aku akui Ma, aku salah, aku minta maaf karena tidak cerita sejak awal sama kamu. Memang benar Gendis itu anak aku dari Ningrung, tetapi jika kamu menuduh aku berselingkuh aku berani bersumpah, sejak aku menikahi kamu 19 tahun yang lalu cinta aku hanya untuk kamu" jujur Daniswara.
Daniswara menceritakan semuanya saat kejadian malam itu tidak ada yang ditutup-tutupi.
Banuwati mendengarkan apa yang diceritakan suaminya tidak bermaksud memotong.
"Tapi kenapa... Papa tidak pernah cerita, padahal kejadian itu sudah bertahun-tahun" Banuwati pun kali ini sudah lebih tenang.
"Ma... aku sebernarnya ingin cerita sejak dulu, tapi aku takut kamu marah. Ya... seperti ini tadi," Daniswara menatap wajah istrinya sudah tidak marah seperti tadi, ia sedikit lega.
Banuwati hanya diam tentu ia percaya akan penuturan suaminya. Bukan Banuwati wanita yang lemah lembut itu jika tidak memaafkan.
"Ma... aku mohon, tolong jangan benci Gendis ya, anak itu hanya korban dari pria yang tidak bermoral seperti aku," Daniswara takut jika Banuwati akan membenci anak yang sudah ia sia-siakan sejak dalam kandungan itu.
"Sudahlah Pa, apapun yang terjadi di masa lalu. Nyatanya Gendis saat ini sudah menjadi anak aku. Aku juga sudah menyayangi Gendis seperti anak aku sendiri"
"Sayang..." Daniswara memeluk Banuwati membenamkan kedalam dada.
Plok plok plok
Suara tepuk tangan membuat pasutri itu mengendurkan pelukanya.
"Mama..." ucap Banuwati.
"Kalian ini keterlaluan! Memang cucuku kemana sampai kalian menyuruh anak pembantu itu menjadi istri Bima!" tandas nenek Ajeng. Sudah masuk tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, nenek justeru marah-marah pula.
"Gayatri kabur Ma, Mama kan tahu bagaimana sifat anak itu. Dia tidak mau dipaksa," Danis yang menjawab, sementara Banuwati menunduk menyembunyikan mata sembabnya.
"Tapi bukan berarti kalian dengan seenaknya menyuruh anak haram itu menggantikan cucuku!"
"Cukup Ma!" potong Daniswara. Hatinya sakit mendengar ucapan nenek Ajeng.
************
Di luar kamar ternyata Gendis mendengarkan keributan itu sejak awal. Jika Banuwati terpukul dengan kejadian ini. Gendis orang yang paling tersakiti. Tidak menyangka ayah yang ia cari selama ini ternyata Daniswara. Tetapi bukan itu masalahnya yang membuat Gendis hancur. Tetapi ternyata ia terlahir dengan cara yang tidak benar.
"Non Gendis... sebaiknya kita segera ke bawah," Ana membujuk Gendis yang sejak tadi menumpahkan air mata.
"Tinggalkan saya Mbak, saya mau sendiri" jawab Gendis di sela-sela isak tangis.
"Non, pengantin pria sudah menunggu," Ana sebenarnya tidak tega menatap pengantin wanita yang harusnya bahagia tetapi justeru menghadapi kenyataan ini. Karena Ana menemani Gendis mau tidak mau mendengar juga keributan di dalam kamar.
"Tolong tinggalkan saya Mbak! Jika Mbak tidak mau pergi, saya yang akan pergi," Gendis memaksakan untuk berdiri.
"Non Gendis..." panggil Ana.
Tetapi Gendis tidak mendengarkan panggilan Ana. Gendis turun ke lantai bawah bukan menemui pengantin pria. Namun yang pernama ia cari adalah emaknya.
"Emaaakk..." Gendis mencari Ningrum ke dapur, tidak ada. Ke kamarnya juga tidak ada. Gendis tahu tidak mungkin emaknya ikut bergabung dengan orang-orang yang sedang berbahagia di halaman depan.
Gendis ingin memeluk tubuh emaknya, derita yang ia rasakan tidak sepucuk kuku hitam yang dirasakan emak.
Pikiran Gendis melayang jauh membayangkan bagaimana emaknya dulu menghadapi cibiran orang-orang kala mengandung dirinya hasil dari perbuatan yang tidak benar. Pantas saja sikap emak selama ini selalu ketus kepadanya ternyata emak tidak mengharapkan dirinya lahir.
"Tidaaak..." Gendis membenamkan wajahnya di atas bantal karena suaranya tidak ingin didengar orang. Dengan berteriak mungkin akan mengurangi rasa sesak di dalam dada Gendis.
Gendis akirnya bangun melanjutkan pencarian emak ke belakang rumah.
"Non Gendis..." terdengar suara Ana, Gendis pun akhirnya pergi meninggalkan rumah itu.
Ana mencari Gendis kesana kemari namun tidak ada kemudian ia kembali ke dalam. Ana berniat mengetuk pintu kamar Tuan Daniswara tetapi mengurungkan diri, sebab di dalam masih terdengar percekcokan antara Danis dan mama Ajeng.
Merasa bingung, Ana kembali ke halaman di tempat itu penghulu sedang ceramah walaupun tidak ada pengantin wanita.
"Arga" lirih Ana mencolek Arga yang sedang fokus mendengarkan ceramah.
"Ada apa?" Arga menoleh.
"Ikut aku" Ana pun beranjak lebih dulu menjauh dari tempat itu. Arga membuntuti.
"Ga pengantin wanitanya kabur juga," kata Ana setengah berbisik.
"Kabur bagaimana?" Arga terkejut.
"Jangan banyak tanya Ga, sekarang apa yang harus kita lakukan" Ana khawatir memikirkan kemana perginya Gendis. Walapun awalnya belum mengenal Gendis. Entah siapapun dia, tetapi Gendis anak yang mudah bergaul dan asik di ajak bicara. Jauh 180 derajat jika dibandingkan dengan Gayatri.
"Sudah lama belum perginya, terus ke arah mana?" cecar Arga.
"Belum lama, kayaknya lewat pintu belakang Ga"
Arga bergegas ke belakang sampai di belakang rumah, Arga berlari mencari Gendis.
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
ya ampiuuum ...jdi tambah ribeet
2024-01-15
0
Rara Kusumadewi
kacau balau
2023-09-22
1
Afternoon Honey
seru... seru... seru...
2023-06-15
0