Praaannggg...
"Nampan dalam genggaman Ningrum lepas dari tangan. Matanya membelalak kaget ketika menatap pria angkuh yang duduk di kursi sebelah Banuwati, yang tak lain adalah tuan Daniswara. Empat manusia yang berada disitu menoleh cepat termasuk Gendis.
"Ningrum..."
"Mamak..."
Banuwati dan juga Gendis mendekati Ningrum yang masih bengong seperti sapi ompong.
"Kamu kenapa Rum?" tanya Banuwati. Sementara Gendis segera berjongkok memunguti Roti tawar bakar yang akan dijadikan teman minum susu.
"Tidak apa-apa Nyonya... maaf, tangan saya kesemutan, saya akan buatkan yang baru," jawab Ningrum hendak berlalu.
"Ah! Dasar nggak becus kerja! Baru kerja pertama sudah membuat ulah!" Sewot Gayatri.
"Ratri..." Banuwati menatap putrinya agar jangan bersikap kasar terlebih Ningrum orang yang lebih tua.
Sementara Ningrum merasa hatinya sakit mendengar perkataan Gayatri.
"Tidak apa-apa Nyonya... Non Ratri wajib marah, karena saya tidak becus kerja," Ningrum kemudian berlalu kembali ke dapur.
"Aahh... jadi terlambat kalau begini! Minggir!" Gayatri menabrak lengan Ningrum hingga sempoyongan.
"Maaf Non, Non boleh memarahi saya, tapi tolong jangan memarahi Mak saya," Gendis tentu sedih melihat ibu nya dimarahi walaupun perlakuan Ningrum selama ini tidak baik kepadanya.
"Diam kamu Gendis! Jangan ikut campur!" Ningrum justeru tidak suka mendengar Gendis melawan Nona mudanya.
"Ningrum... kamu ini sama anak sendiri kenapa kasar?" tanya Banuwati.
Gayatri mendengus kesal kemudian berjalan ke halaman luas menemui supir, gadis bertampang judes itu berangkat ke sekolah.
Sementara di meja makan suasana masih menegang, tuan Daniswara tidak sepatah katapun berbicara. Ia kemudian meninggalkan susu yang baru diminum seperempat disusul Banuwati, sarapan pagi pun gagal total.
"Pa... kalau masih lapar aku buatkan roti terus dimakan di kamar ya..." kata Banuwati lembut.
"Sudahlah Ma, Papa sudah tidak selera makan" jawab tuan Daniswara kemudian mengenakan pakaian yang sudah disiapkan sang istri. "Sebaiknya memang kamu pecat saja! Pembantu itu Ma, cari yang lain saja!" ketus Daniswara.
"Loh... Papa kenapa sih... kok malah mengurusi pembantu?" Banuwati terkejut mendengar suaminya ikut campur masalah pembantu biasanya suaminya tidak pernah perduli.
"Mama tahu kan! Baru saja kerja sudah membuat keributan di meja makan!"
"Iya-iya... tadi kan Ningrum sudah bilang Pa... tanganya kesemutan, lagian kan Dia sudah minta maaf... Papa jangan-marah dong... nanti darah tinggi nya naik" ujar wanita setengah baya yang cantik dan anggun itu. Seraya memasangkan dasi sang suami.
"Papa berangkat Ma" Daniswara mencium pipi istrinya.
"Iya... hati-hati, Pa.." Banuwati menatap langkah cepat kaki suaminya, sampai keluar dari kamar dan menutup pintu.
Daniswara hendak berangkat ke kantor ketika melewati dapur menghentikan langkahnya, menatap Ningrum. Ningrum menumpahkan tangis meraup wajahnya dengan air wastavel, ia tidak tahu jika tuan Daniswara memperhatikan dirinya.
Daniswara bergegas ke luar tanpa berniat menyapa Ningrum. Sampai di halaman, tuan menatap Gendis yang sedang menyapu halaman. "Gendis..." panggilnya.
"Saya Tuan..." Gendis meletakkan sapu kemudian berjalan cepat menghampiri pria yang masih tampan itu.
"Umur kamu berapa?" selidik tuan menatap lekat wajah Gendis yang menatapnya juga. Pria dan wanita yang berbeda generasi itu saling pandang.
"Umur saya hampir delapan belas tahun Tuan..." Gendis menjawab lembut.
"Loh... berarti kamu sepantar dengan Gayatri, seharusnya kan kamu masih sekolah?"
"Benar Tuan... hari ini saya ijin, jika Nyonya membolehkan saya akan melanjutkan sekolah," Gendis menjawab hati-hati.
"Memang kemana ayah kamu? Kenapa mengijinkan kamu bekerja, saat usia sekolah?" cecar Daniswara.
"Saya tidak tahu siapa Bapak saya Tuan, sejak kecil saya hanya tinggal bersama Mamak dan Paman, tetapi baru seminggu ini Paman saya meninggal." Gendis sedih kala mengingat paman.
Deg.
Dada Daniswara berdegup kencang, ia merasa ingin tahu lebih lanjut siapa Gendis. Dengan langkah berat ia segera menghampiri mobilnya yang sudah ada supir di dalam. Tampak mobil sudah dinyalakan siap berangkat. Mobil pun melaju cepat hingga tiba disalah satu kantor pusat, tempat produksi susu dan juga makanan yang lain.
Daniswara pun berjalan munuju lift menekan tombol nomor lima.
"Selamat pagi Tuan Danis..." sapa Wadaana sekretaris tuan Daniswara, yang biasa dipanggil Ana.
"Selamat pagi" jawabnya dingin sembari masuk ke ruangan. Pria berusia 45 tahun itu pun segera duduk di kursi Ceo kebesaranya, bersandar di kursi goyang memejamkan mata. "Benarkah Gendis adalah anakku? gumamnya.
Flashback on.
Dini hari Daniswara yang biasa dipanggil Danis pulang dalam keadaan mabuk. Ia sedih karena harus memutuskan hubungannya dengan sang pacar yang berasal dari luar negeri. Danis dipaksa menikah dengan wanita yang bernama Banuwati. Dan yang membuat Danis kesal adalah; pernikahannya akan dilakukan esok hari. Padahal Danis baru saja pulang dari luar negeri melanjutkan kuliah s2 disana. Lagi pula Danis belum pernah tahu seperti apa wajah calon istrinya.
"Laura..." rancau Daniswara.
"Tuan muda..."Ningrung terkejut setelah membuka pintu tuan mudanya yang baru di rumah itu selama dua hari jatuh menimpa tubuh Ningrung. Ningrum selaku pembantu rumah tangga di rumah itu belum mengenal tuanya, sebab Daniswara berada diluar negri selama dua tahun, sedangkan Ningrum mulai bekerja di rumah nyonya Ajeng setahun yang lalu.
"Mari Tuan" Ningrum berusaha membantu tuanya memapah tubuh Danis yang sempoyongan mengajaknya ke kamar, menidurkan disana. Setelah menyelesaikan tugasnya Ningrum berniat kembali.
"Laura..." Daniswara menarik tangan Ningrum hingga jatuh ke dada bidang pria yang berbau alkohol menyengat.
"Tuan... jangan..." pekik Ningrum, karena terjadi hal yang tidak diinginkan malam itu.
Keesokan harinya Danis bangun dari tidurnya meraba ranjang di sebelah, mencari Laura. Tetapi ranjang di sebelah tidak ada siapapun. Ia pindai ranjang noda merah telah menempel di kasur.
"Ya ampun... bukankah saat ini aku sudah tidak berada di luar negri? Tentu tidak ada Laura, lalu siapa wanita yang aku tiduri tadi malam? Daniswara berbicara sendiri, mengingat tadi malam telah melakukan hal yang tidak terpuji. Ia menyingkirkan selimut, melemparkan ke sembarang arah.
Puk!
Sebuah ikat rambut berwarna hitam jatuh ke kasur.
"Inikan ikat rambut Ningrum yang dikenakan tadi sore, itu artinya aku telah... tidaaaakkk" pekik Danis di dalam kamar. Pria itu segera beranjak dari kasur mengenakan pakaian kemudian keluar dari kamar.
"Ningrum..." Daniswara mencari Ningrum ke dapur, dan seisi rumah, bahkan sampai memberanikan diri membuka kamar Ningrum, namun tidak ada Ningrum disana.
"Buk. Buk. Buk" Daniswara meninju tembok.
"Anis... kenapa kamu belum mandi? Jam 10 nanti kita harus datang ke mempelai wanita" kata Ajeng mama Daniswara. Saat ini masih jam lima pagi para kerabat belum ada yang datang.
"Ningrum kemana Ma?" tanya Daniswara tidak menyahut perkataan mamanya, justeru menanyakan Ningrum. Tidak perduli tanganya perih karena memar.
"Ningrum? Kenapa kamu mencari Dia?" dahi mama Ajeng berkerut.
"Tidak Ma, aku minta dibuatkan kopi" Daniswara beralasan yang masuk akal.
"Biar Mama yang nyuruh Ningrum, sekarang kamu bersiap-siap," titah mama Ajeng.
"Iya Ma" Daniswara segera mandi dengan tubuh lemas tidak bersemangat. Ia menyesal karena minuman laknat itu telah menghancurkan masa depan Ningrum. Selesai mandi sebelum berpakaian Daniswara kembali ke dapur mamun tetap saja tidak ada Ningrum.
"Mama... Ningrum sudah buat kopi belum?" Daniswara ingin segera bertemu Ningrum dan akan menanyakan apa yang terjadi.
"Ningrum kabur Nis, Mama cek lemarinya kosong, ada apa anak itu! Sedang repot begini malah pergi tidak memberi tahu!" omel mama Ajeng.
Daniswara dan juga mama Ajeng berhenti membahas Ningrum, karena keluarga mama Ajeng satu persatu datang ke rumah itu dan menjadi ramai.
Jam delapan pagi Daniswara bersama keluarga hendak berangkat ke kediaman mempelai wanita. Sebelum berangkat, Daniswara mengerling ke sekeliling rumah, namun Ningrung seperti hilang ditelan bumi. Dua mobil beriringan menuju rumah Banuwati dan pernikahan pun dilaksanakan.
Flashback off.
Daniswara menarik napas sesak, melonggarkan dasi sedikit. Ia yakin, bahwa Gendis adalah putrinya. Ia ambil handphone menghubungi asisten namun tidak diangkat kemudian, menghubungi Wadaana.
"Saya Tuan" belum ada lima menit Wadaana sudah masuk.
"Panggil Arga" titah Daniswara. Argadinata adalah asisten pribadi Daniswara.
"Baik Tuan..." Wadaana mengetuk ruangan Arga yang berada di sebelah ruangan Daniswara, tidak lama kemudian keluar.
"Ada apa An?" tanya pria 26 tahun itu.
"Tuan memanggilmu" Wadaana menjawab lalu mendahului Arga.
Arga segera menutup pintu ruangannya kemudian menghampiri bos. "Saya Tuan" Arga sudah berdiri di depan Daniswara.
"Duduk" perintah Daniswara. Arga segera duduk berhadapan dengan Daniswara menatap wajah bos nya, tergambar jelas bahwa tuanya sedang tidak baik-baik saja.
"Ga, tolong selidiki pembantu di rumah saya, yang bernama Gendis," perintah Daniswara tidak pakai basa basi.
"Baik Tuan"
************
"Nah-nah, benarkah Gendis putri Daniswara? seperti keyakinan pria kaya itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
kalea rizuky
Ningrum wah bahaya Gendis ank dituker tp gayatri jg anak danis
2024-07-08
0
Hera Puspita
mgkin ningrum menukar bayi nya dgn bayi daniswara 🤭🤭, gayatri anak kandung ningrum 🤔🤔
2024-06-05
1
Erina Munir
ya..ampiuun...daniis...makanya jangan mabook....apa2 lri k minuman...anneh...klo mau pelarian k yg bner doong...jdi itulah akibatnyaa...puyyeeng kan looh danis...😜😜😜😜
2024-01-15
1