Nick tidak lagi melangkah ke depan. Ia berdiri kokoh di tempatnya berada, menatap Ratu Celestia dengan senyuman lembut. Sang ratu pun balas tersenyum puas. Ia mengusap air matanya, lantas mengeluarkan sebutir permata besar berwarna merah menyala dari balik dinding gua.
“Bagus anakku. Kau telah melewati ujian ini dengan baik. Terimalah hadiahmu,” ujar sosok Ratu Celestia itu sembari mengulurkan permata naga berwarna merah.
Nick menyadari keganjilan. Ibu kandungnya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘anakku’. Ratu Celestia selalu menyebutnya ‘putraku’.
“Ibu … Calada?” tanya Nick memastikan.
Sosok Ratu Celestia tampak tersenyum senang. Wujudnya lantas membuyar dan secara perlahan berubah menjadi tubuh manusia Calada.
“Kau sangat jeli, Nick,” puji Calada kemudian. “Selamat, kau berhasil melalui tiga rintangan yang telah kuberikan. Ini adalah permataku. Kau bisa menyerap energi sihirnya setelah keluar dari dimensi ini,” lanjut naga tersebut puas.
Nick akhirnya menerima permata naga tersebut. Meski ukurannya besar, tetapi rupanya sangat ringan ketika dibawa. Ada sensasi hangat yang menggelitik ketika tangannya menyentuh permata tersebut.
“Terima kasih, Ibu. Atas permata ini. Juga karena telah menunjukkan wajah ibu kandungku,” ungkap Nick kemudian.
Calada tersenyum simpul. “Itu adalah bagian dari ujianmu. Sesuai dugaan, kau memang memiliki ketetapan hati yang tidak tergoyahkan,” pujinya.
Nick ikut tersenyum sambil mengusap bekas-bekas air mata yang sempat berlinang di pipinya. “Ibu yang telah mendidikku menjadi seperti ini. Aku berhutang banyak pada ibu,” jawab pemuda itu.
“Bayarlah hutang-hutang itu dengan menjadi raja yang baik. Sejahterakan rakyatmu dan singkirkan kegelapan yang ada di tengah-tengah mereka. Jadilah cahaya untuk orang-orang yang mempercayaimu,” pesan Calada kemudian.
Nick mengangguk paham. Setelah percakapan singkat itu, akhirnya Nick diminta untuk berjalan keluar gua. Sekali lagi pemandangan bergoyang. Kini Nick dilingkupi kegelapan dan tubuhnya berubah lemas. Detik berikutnya, Nick kehilangan kesadaran.
“Nick! Nick! Bagaimana ini? bagaimana kalau dia tidak terbangun untuk selamanya?” Sebuah suara seorang gadis samar-samar terdengar oleh Nick. Itu suara Aerin.
“Dia akan baik-baik saja,” sahut suara lainnya. Neil.
“Tapi ini sudah tiga hari Nick seperti ini. Ibunya juga tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyuruh kita menunggu,” rengek Aerin dengan suara yang terdengar cemas.
“Kalau begitu kita tunggu saja,” jawab Neil, yang meski berusaha tetap tenang, tetapi suaranya menyiratkan keraguan.
Nick pun akhirnya mencoba membuka mata. Kelopak matanya terasa berat dan pedih. Ia perlu mengerjab beberapa kali hingga akhirnya terbiasa dengan cahaya perapian yang remang-remang.
“Nick! Kau sudah sadar!” seru Aerin kegirangan. Tanpa basa-basi gadis elf itu langsung menghambur ke pelukan Nick. “Aku sudah mengerahkan seluruh energi sihir penyembuhku tapi kau tidak juga sadar,” keluhnya sedih.
“Aku baik-baik saja sekarang, Aerin,” jawab Nick dengan suara parau. Ia berusaha menepuk-nepuk punggung Aerin, tetapi tubuhnya masih lemah kekurangan tenaga. Pada akhirnya Nick hanya berhasil menepuk-nepuk lengan Aerin.
“Itu karena Nick baru saja mengambil permata Naga. Orang biasa dan tanpa sihir penyembuhmu, mungki butuh waktu satu bulan untuk sadar setelah masuk ke dalam dimensi jiwa naga,” tukas Neil menanggapi rengekan Aerin.
“Kenapa kau tidak bilang kalau mau mengambil permata naga,” sahut Aerin yang kini mulai terisak dan menangis.
“Sudah, sudah. Biarkan dia beristirahat. Kau membuatnya semakin tidak nyaman,” ujar Neil sembari menarik Aerin agar melepaskan pelukannya dari Nick. “Ngomong-ngomong aku senang akhirnya kau sadar. Selamat datang kembali, Nick,” ucapnya pada Nick.
Nick tersenyum. “Terima kasih teman-teman,” ujarnya tulus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments