Beberapa hari setelahnya, Nick dan Neil melanjutkan perjalanan mereka menuju dataran jauh yang ada di utara. Tidak ada yang istimewa dari perjalan mereka, selain fakta bahwa pada akhirnya, Aerin terus mengikuti kedua pria itu menembus hutan dan melewati beberapa desa kecil dengan penyamaran.
Baik Nick maupun Neil tidak berusaha membahas tentang keputusan Aerin untuk pergi bersama dua pria asing, yang meski memang telah menolongnya, tetapi tetap saja tidak terlalu akrab dengannya. Hingga pada akhirnya, ketika rombongan tiga orang itu memasuki desa terakhir sebelum perbatasan hutan dataran jauh, Neil pun kehilangan kesabarannya.
“Kau benar-benar tidak punya tujuan lain selain mengikuti kami?” sergahnya di tepi sungai Philias yang membentang membatasi wilayah desa dan hutan.
Beberapa orang penduduk desa yang ada di sana menoleh penasaran saat melihat ketiga orang berwajah asing berjalan menyusuri desa menuju ke arah hutan di luar batas wilayah. Desa itu mirip dengan tempat yang pernah diselamatkan Nick. Akan tetapi itu adalah desa yang berbeda. Wilayahnya lebih ke timur dari desa yang pernah ditinggali Nick sebelumnya.
“Kalian bilang terserah aku kalau mau mengikuti kalian atau tidak,” protes Aerin yang kini tubuhnya sudah lebih sehat.
Luka-luka gadis itu sudah sembuh dengan cepat karena dia adalah seorang elf. Secara alami para elf memiliki energi sihir yang bisa memulihkan kondisi tubuh mereka lebih cepat daripada manusia. Penampilannya juga lebih terawat, dengan baju bersih, kasut baru serta rambut ditata sedimikian rupa menjadi untaian rapi yang indah.
Kini ia benar-benar terlihat seperti seorang elf sungguhan. Meski begitu, seorang elf tidak bisa berkeliaran dengan bebas di wilayah manusia. Karena itulah Aerin biasanya menggunakan tudung kepala saat melewati desa.
“Kenapa kau mengartikan kata-kataku dengan cara seperti itu? Maksudku berkata begitu sebelumnya adalah agar kita berpisah jalan saja,” tukas Neil berdecak tak sabar.
Aerin melotot tajam ke arah Neil, dengan bola mata peraknya yang cemerlang. “Aku juga tidak pernah mengganggu kalian sepanjang perjalanan. Apa aku membebani kalian? Tidak, kan. Sekarang, setelah pulih dari luka dan efek dari rantai pengekang, kekuatan sihirku sekarang sudah kembali. Aku punya kemampuan penyembuh yang pasti berguna juga untuk kalian,” sahut gadis elf itu panjang lebar.
“Kami sudah cukup kuat. Jadi kemungkinan kami terluka parah dan butuh disembuhkan itu sangat kecil. Kekuatanmu nyaris tidak berguna di sini,” balas Neil keras.
Beberapa pasang mata penduduk desa yang lewat kini mulai mengamati dengan lebih penasaran. Kedua orang itu terus bertengkar tanpa berusaha mengecilkan suara mereka, membuat semua perhatian terarah pada ketiga orang tersebut.
“Sudah, cukup. Jangan bertengkar lagi. Tidak masalah siapa yang ikut, Neil. Semakin banyak orang, semakin baik. Kita mungkin akan membutuhkan kemampuan Aerin di kemudian hari. Jadi sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan saja. Sikap kalian menarik perhatian orang-orang,” ujar Nick menengahi.
Kedua orang rekannya itu pun akhirnya sadar bahwa mereka tengah diamati oleh para penduduk desa yang sedang berada di pinggir sungai. Neil pun berdeham pelan untuk mengalihkan permbicaraan, sementara Aerin membuang muka sambil melipat tangan.
“Ayo kita menyeberang,” ajak Nick kemudian.
Di hadapan mereka, kini sudah ada seorang nelayan dengan perahu sederhana yang tengah menepi. Nick menghampiri sang nelayan sungai itu untuk meminta bantuan menyeberang ke sisi lain. Sungai Philias memang cukup luas. Lebarnya nyaris menyerupai danau yang membuat sisi seberang tidak terlihat. Sejak Nick melepaskan sumbatan dari mata air, sunga tersebut terus melebar dan memberikan air melimpah bagi para penduduk desa.
“Ka, kalian mau ke sisi seberang?” tanya sang nelayan berambut penuh uban itu tergagap. Keterkejutannya bahkan tidak sirna setelah Nick mencoba menjelaskan tujuan mereka ke dataran jauh di seberang sungai.
“Mustahil! Tempat itu dipenuhi monster, Tuan. Anda tidak bisa sembarangan pergi ke sana. Kalian mungkin akan langsung mati begitu menginjakkan kaki di seberang,” tukas sang nelayan bersikeras memperingatkan.
“Kami akan baik-baik saja. Kebetulan ada hal yang perlu kami lakukan di sana. Saya juga berasal dari dataran jauh, jadi tidak akan ada masalah walau pun kami menyeberang,” bujuk Nick penuh ketabahan.
“Tidak masuk akal! Mana mungkin ada manusia yang berasal dari tempat terkutuk itu. Jangan berbohong padaku, Tuan. Apa yang sebenarnya kalian inginkan?” sergah nelayan itu keras kepala.
Nick menghela napas lelah. Rasanya seperti bicara dengan tembok. Sia-sia saja mengatakan beragam jenis alasan. Pria tua itu sama sekali tidak mau mendengarkan. Di tengah krisis tersebut, Neil pun akhirnya melangkah ke depan Nick dan mengambil alih negosiasi. Ia mengeluarkan sebuah kantong kulit kecil yang bergemerincing saat bergerak. Kantong itu rupanya berisi uang.
“Antarkan saja kami ke seberang, dan kami akan membayarmu dengan layak,” ujar Neil sembari melempar kantong tersebut ke arah sang nelayan. Nelayan itu menangkapnya, memeriksa isinya, dan seketika kedua matanya berbinar-binar. Jelas bukan jumlah yang sedikit.
“Me, meski begitu, aku tidak akan bertanggung jawab kalau kalian terluka. Aku tidak akan menunggu di pinggir sungai dan menyelamatkan kalian kalau ada monster yang muncul,” tukas sang nelayan serius.
“Tidak usah mencemaskan hal yang tidak perlu,” sahut Neil sambil melangkah masuk ke dalam perahu sang nelayan.
Nick dan Aerin pun mengikuti tanpa berkomentar. Akhirnya perjalanan mereka pun bisa dilanjutkan. Rombongan tersebut kini menyeberangi air sungai Philias yang tenang. Sesekali beberapa nelayan lain terlihat menjala ikan di sekitar. Perahu yang ditumpangi Nick dan kawan-kawannya bergerak pelan sambil didayung oleh sang nelayan. Cahaya matahari sore memantul di permukaan sungai, membuatnya terlihat keemasan.
Nick menikmati perjalanan air itu dengan tenang. Selepas di pertengahan sungai, tidak ada lagi perahu-perahu nelayan yang menjala ikan. Perahu mereka sepenuhnya sendirian membelah sungai menuju ke daratan seberang yang dipenuhi hutan rimba mengerikan. Tangan sang nelayan yang memegang dayung tampak gemetaran. Sepertinya ini juga pertama kalinya ia berlayar sampai sejauh ini.
Beruntung mereka akhirnya sampai di seberang tak lama kemudian. Nick, Neil dan Aerin turun dari perahu dengan selamat, sementara sang nelayan buru-buru mendayung perahunya pergi menjauh dari sana.
“Ini pertama kalinya bagiku menjejakkan kaki di luar batas wilayah Tiberias,” gumam Neil sembari mengedarkan pandangannya menatap hutan lebat dengan pepohonan raksasa yang rapat.
Nick tersenyum simpul. “Tempat ini tidak seburuk rumornya. Di sini cukup menyenangkan. Setidaknya tidak ada yang ditindas atau menindas. Para monster di tempat ini makan secukupnya, dan tidak berambisi untuk menguasai seluruh wilayah dengan menyengsarakan spesies lain,” ucap Nick menyimpan ironi.
Neil mengamati junjungannya dengan takjub. “Kau benar. manusia-manusia kotor itu bahkan lebh buruk dari monster,” ucapnya kemudian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments