Nick dan Neil akhirnya sampai di kota. Kota tersebut dipenuhi bangunan-bangunan besar yang indah. Hingar bingar terdengar saat Nick melewati alun-alun. Tampaknya kota tersebut sangat makmur dan damai. Sejak di pintu masuk, hingga ke tengah kota dan seluruh sudut tempat itu, Nick bisa melihat umbul-umbul bendera bergambarkan bunga mawar dengan dua pedang bersilang di belakangnya.
Neil menjelaskan secara singkat bahwa gambar itu merupakan lambang dari Kerajaan Tiberias yang telah digunakan dari generasi ke generasi. Mawar melambangkan keberanian para pahwalan mengharumkan nama bangsa, dan pedang mengartikan perlindungan yang kuat bagi seluruh penduduk Tiberias. Meski pada kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Para penguasa tanah itu menyiksa rakyatnya sendiri tanpa belas kasihan.
“Jangan tertipu oleh penampilan luarnya. Kota ini memang terlihat bagus, tapi yang bisa menikmati kemewahan ini hanyalah para bangsawan dan orang-orang kaya saja. Sebagaian besar penduduk tinggal di wilayah kumuh yang tersembunyi di balik tembok-tembok megah kota. Dan orang-orang yang bekerja pada para bangsawan itu juga tak lebih dari budak dengan gaji sangat kecil,” terang Neil ketika melihat kekaguman Nick akan kota tersebut.
Ekspresi Nick berubah serius. “Perbudakan?” tanyanya kemudian.
“Ah, maaf, aku tidak bermaksud merusak kekagumanmu akan kota ini. Meskipun bukan ibu kota, tapi tempat ini juga cukup besar dan terkenal sejak dulu. Kota ini dibangun sejak masa pemerintahan Raja terdahulu dan menjadi pusat perdagangan dari wilayah-wilayah sekitar. Karena itu Linden, nama kota ini, menjadi salah satu tempat paling indah di kerajaan.
“Namun sejak Raja Tiberias IV digulingkan, perdagangan hanya dimonopoli oleh kaum bangsawan jahat dan orang-orang kaya. Rakyat dipaksa membayar pajak yang tinggi atau mengabdikan diri untuk bekerja dengan bayaran yang kecil.
“Keindahan kota ini rusak. Kawasan kumuh muncul di bawah-bawah tanah. Dan perdangan budak manusia atau makhluk sihir justru marak. Linden hanya cantik di permukaannya, tempat para bangsawan dan orang kaya tinggal. Tapi di balik semua ini, penderitaan rakyat menjadi korbanya,” terang Neil sendu.
“Tunjukkan jalannya,” ujar Nick tiba-tiba.
“Hah?”
“Aku ingin melihat tempat itu. Wajah sebenarnya dari kota ini,” kata Nick serius.
Neil pun akhirnya membawa Nick menuju ke daerah pinggir kota. Mereka melewati pertokoan dan butik-butik mewah penuh gaun dan perhiasan sebelum akhirnya sampai depan sebuah gang gelap. Neil memandu Nick memasuki gang tersebut. Tidak ada lagi aroma wangi kue atau parfum-parfum mahal. Alih-alih bau bacin dan genangan air comberan yang menyambut mereka. Gang itu tampak lengang. Hanya ada satu dua orang berpakaian compang camping yang tergeletak atau duduk lemas di pinggir gang. Orang-orang itu tampak tak berdaya, lusuh dan berbau tidak sedap.
Beberapa anak mengintip sambil bersembunyi di antara pilar kayu-kayu lapuk penyangga rumah reyot yang sepertinya hampir rubuh. Suara rintihan sesekali terdengar dari balik rumah-rumah sederhana itu. Sepertinya ada orang yang sakit keras di dalamnya.
Suasana gang ini benar-benar buruk. Nick tidak menyangka kalau di balik kemegahan kota di luar sana, terdapat penderitaan seekstrim ini. kondisi tempat itu mungkin sama buruknya dengan keadaan desa yang Nick datangi beberapa saat yang lalu.
“Ini,” kata Neil tiba-tiba berhenti di depan sebuah bangunan reyot yang sedikit lebih besar dari sebelumnya. “Ini adalah tempat pelelangan yang terhubung dengan sebuah bangunan mewah di luar sana. Aku mengajakmu masuk melalui pintu belakang, jalan masuk yang digunakan oleh orang-orang kejam itu membawa masuk para budak yang tertangkap,” lanjut Neil menjelaskan.
Neil membuka tudung jubahnya dan melangkah masuk melalui pintu tua berbau lumut. Seorang penjaga bertubuh gempal menghadang jalan mereka. Namun penjaga tersebut lantas mengenali Neil dan mempersilakan kedua orang itu masuk.
“Neil. Sudah lama kau tidak singgah. Apa kau membawa teman?” tanya penjaga gempal itu.
“Aku sedang ada pekerjaan di kota ini. Jadi aku datang untuk melihat-lihat,” jawab Neil ringan.
“Aku mendengar soal anak Duke itu dari orang-orang guild. Apa kau yang bertugas menanganinya?” Sang penjaga gempal kembali bertanya.
“Kau tahu kalau itu adalah informasi rahasia, Jac. Sebaiknya kau tidak ikut campur dan fokus saja pada pekerjaanmu sebagai anjing penjaga,” sahut Neil tajam.
Raut wajah sang penjaga itu berubah masam. Ia tampak kesal karena dikatai anjing oleh Neil. Meski begitu, sang penjaga tersebut sepertinya tidak ingin membuat masalah dengan Neil, sang pembunuh bayaran yang disegani bahkan oleh orang-orang yang bekerja di bawah tanah.
“Masuklah. Kau datang di saat yang tepat. Lelang hari ini akan menampilkan makhluk sihir luar biasa. Kau pasti terkejut,” sahut penjaga itu sembari melangkah mundur memberi jalan.
Neil pun berjalan melewati penjaga tersebut diikuti oleh Nick. Sang penjaga bertubuh gempal itu tampak mengawasi Nick dengan tajam, seolah sedang memindai wajah baru yang dibawa oleh Neil. Akan tetapi Nick tidak mempedulikannya. Pemuda itu hanya berjalan lurus di belakang Neil, melewati lorong sempit yang di kanan kirinya berjajar jeruji besi.
Nick mencoba mengamati ruangan gelap di balik jeruji besi. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa di dalam sana berisi anak-anak kecil yang meringkuk ketakutan dengan kaki yang dirantai menggunakan bola besi besar yang berat. Ruangan lainnya berisi orang yang lebih dewasa, para pemuda lusuh yang terlihat lemah penuh luka. Ada juga yang berisi wanita-wanita muda yang merintih dan terisak pelan ketakutan.
“Jangan lakukan apa pun sekarang. Sebaiknya kau tidak menarik perhatian dengan mencoba menghancurkan penjara ini. membebaskan para budak secara terang-terangan hanya akan memicu kekacauan yang tidak bisa kita tangani, Nick,” gumam Neil setengah berbisik.
Nick hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah. Bagaimana bisa manusia mengurung sesama mereka dan menyiksanya sampai seperti ini? Sementara para monster berkeliaran di luar sana, manusia justru saling menindas di tempat ini. Sungguh ironis.
Sebelum berpindah ke lokasi pelelangan, mata Nick tertumbuk pada sesosok perempuan berambut emas yang duduk bersimpuh di sebuah ruangan penjara. Ruangan itu kosong dan hanya berisi satu orang perempuan itu. Sosoknya begitu mencolok karena warna rambut emasnya yang berkilau seolah mengeluarkan cahaya dari tiap helai-helainya. Kulit perempuan itu juga sangat putih dan terkesan mengeluarkan pendar cahaya remang di sekeliling tubuhnya.
Nick terpaku sejenak. Ia belum pernah bertemu langsung dengan kaum dari sosok tersebut. Namun pemuda itu segera mengenali telinga runcingnya yang banyak dibahas dalam buku-buku kuno di perpustakaan Calada. Perempuan itu adalah seorang elf.
Tatapan Nick tampaknya disadari oleh sang perempuan elf tersebut. Ia mendongak pelan dan balas menatap Nick langsung ke arah kedua mata pemuda itu. Mereka berpandangan selama beberapa detik. Tatapan perempuan elf itu begitu dalam, tenang dan tajam. Tidak ada ketakutan atau keraguan yang tercermin dalam matanya, meski seluruh tubuhnya terikat oleh rantai besi yang dimantrai.
Momen intens itu hanya berlangsung selama beberapa saat karena kemudian Neil kembali menghampiri Nick.
“Kurasa dia adalah sajian utama di pelelangan ini. Seorang gadis elf. Dengan ikatan sihir hitam, elf sekalipun tidak akan bisa membebaskan diri dari penjara ini. Sungguh sial nasib gadis itu,” komentar Neil mengikuti arah pandangan Nick.
“Ayo kita masuk ke ruang pelelangan,” ajak Neil. Nick pun akhirnya meninggalkan sang perempuan elf tersebut di dalam penjara dingin yang gelap. Sang elf masih terus memandangi Nick hingga punggung pemuda itu lenyap di balik pintu kayu menuju ruang pelelangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments