Nick mulai menyusuri sungai Philias yang kering kerontang. Perjalanannya sangat sunyi dan gelap. Ia melompati batu-batu besar di dasar sungai dan melesat dengan cepat menuju hulu sungai tempat mata air seharusnya berada. Tidak mungkin mata air itu kering tanpa sebab apa-apa. Pasti ada sesuatu yang menghalanginya.
Setelah beberapa waktu menyusuri sungai kering tersebut, perjalanan Nick mulai menanjak menaiki bukit terjal. Masih tidak ada tanda-tanda keberadaan sumber mata air di sana, alih-alih Nick justu menemukan seekor monster cacing raksasa yang gemuk teronggok di dasar sungai. Sontak pemuda berambut perak itu pun berhenti.
Kini ia menemukan penyebab mata air itu tersumbat. Rupanya seekor monster gemuk tinggal di sana. Nick bermaksud untuk segera membunuh monster cacing pemalas itu dengan Turpin, pedangnya. Akan tetapi kemudian ia sadar bahwa penyebab wabah penyakit di desa itu mungkin berasal dari sang monster.
Sepertinya awal mula sebelum terjadi wabah, cacing ini bertubuh lebih kecil dan tinggal di mata air tempat sungai mengalir. Air sungai yang tercemar diminum oleh warga desa tanpa sadar hingga akhirnya monster raksasa itu tumbuh besar dan menyumbat aliran sepenuhnya.
Apabila Nick dengan sembrono membunuhnya tepat di mata air itu berada, maka bisa jadi seluruh aliran air akan tercemar oleh racun dalam lendir sang cacing. Nick harus bisa membuat cacing ini bergerak menjauh dari mata air.
Nick mencoba melakukan serangan-serangan kecil agar sang monster terusik dan berpindah tempat. Namun cacing pemalas itu hanya menggeliat-menggeliat pelan tanpa bergerak dari posisinya. Tubuh monster itu licin karena dipenuhi lendir beracun berbau busuk. Nick juga tidak bisa menusuknya terlalu dalam karena kalau ia tidak berhati-hati, darah monster yang juga beracun bisa terciprat mengenainya.
Pemuda itu berpikir keras, memutar otak untuk menarik perhatian monster cacing itu. Nick pun mendapat ide. Predator utama monster cacing itu adalah Pisqu, seekor monster burung raksasa bermata enam dengan empat sayap berwarna hitam. Jika Nick bisa memancing Pisqu datang, monster itu akan secara alami memangsa cacing gemuk ini untuk makanannya.
Maka, Nick pun segera melesat ke dalam hutan untuk mencari sarang Pisqu yang biasanya ada di puncak-puncak bukit tinggi. Mata air itu saja sudah berada di sebuah bukit tertinggi. Di sekitar sana pasti ada satu sarang Pisqu yang bisa dimanfaatkan oleh Nick.
Pemuda itu melompati puncak-puncak bukit dengan mudah. Setelah berkeliling selama beberapa waktu, monster yang dia cari pun ditemukan. Sebuah sarang Pisqu raksasa terlihat di puncak sebuah bukit yang tinggi. Seekor burung raksasa bersayap hitam mendekam di atas sangkar dari tumpukan batang-batang kayu yang dijalin menjadi satu.
Pisqu adalah monster pemarah. Ia tidak suka kalau sarangnya diganggu. Karena itu mudah sekali menarik perhatian sang burung raksasa bermata sepuluh itu. Nick tinggal menyerangnya dengan Turpin dan sang burung pun langsung terbangun.
Pedang besar Nick berhasil melukai sayap sang burung. Akan tetapi luka kecil itu saja tidak cukup untuk melemahkannya. Karena Pisqu terbang melesat sembari berkaok marah. Ia lantas menukik ke arah Nick dan berniat untuk melenyapkan pemuda yang seperti serangga di mata sang monster.
Nick memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kembali melesat ke arah mata air. Ia harus membawa burung raksasa tersebut ke tempat monster cacing berada. Sembari melompati perbukitan, Nick beberapa kali harus menghindari serangan cakar tajam Pisqu. Burung yang murka itu beberapa kali mencoba menerjang Nick dengan cakar-cakarnya. Nick harus berguling menghindar agar tidak tertangkap. Tanah tempat burung itu menerjang hancur berkeping-keping hingga menimbulkan longsor di lereng bukit.
Sejauh ini Nick berhasil menghindar dengan selamat. Mata air sudah terlihat di depan mata ketika mendadak, sang burung raksasa memutuskan untuk mengubah strategi serangannya. Pisqu itu langsung menukik dengan paruhnya, dan berusaha menerkam Nick yang tengah berlari. Nick yang waspada tanpa sengaja menatap sepuluh mata Pisqu tersebut dan sontak tubuhnya pun membeku.
Sepuluh mata Pisqu memiliki efek sihir membekukan lawannya. Seharusnya Nick menghindari kontak mata agar tidak terkena efek sihirnya. Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur. Tubuh Nick tidak bisa digerakkan, dan berhenti begitu saja. Sang Pisqu sudah berada begitu dekat dengannya. Nick mungkin tidak akan selamat.
Meski begitu, Nick telah berlatih keras untuk menghadapi situasi hidup dan mati. Dengan sekuat tenaga, ia pun memaksa tubuhnya untuk jatuh berguling ke jurang yang ada di sebelahnya. Tepat ketika paruh Pisqu sudah tinggal beberapa inci dari tubuhnya, Nick berhasil menjatuhkan diri dengan tubuhh yang kaku. Sayang bahu kirinya robek karena terkena paruh sang burung raksasa tersebut.
Sembari menaha rasa sakit, Nick merasakan tubuhnya terus berguling hingga menubruk pepohonan yang tumbuh di lereng jurang. Perlu waktu beberapa saat hingga akhirnya Nick berhasil melepaskan diri dari sihir pembeku. Pemuda itu pun mendarat di dasar jurang dengan bunyi krak keras. Sepertinya ada beberapa tulangnya yang patah.
Akan tetapi Nick tidak mempedulikan rasa sakit itu. Ia kembali bangkit dan segera melanjutkan misinya. Sang burung bersayap hitam masih terbang berputar-putar sembari berkoak murka. Burung itu mencari Nick dari atas langit, berusaha untuk memastikan bahwa serangga pengganggu tersebut sudah benar-benar lenyap.
Nick mencoba memanjat bukit dan memastikan Pisqu melihat cacing raksasa di mata air. Akan tetapi sepertinya keberuntungan akhirnya berpihak pada Nick. Burung itu rupanya memutuskan kalau Nick sudah mati. Karena itu ia pun tidak lagi mencari-carinya. Alih-alih, perhatian sang burung tertumbuk pada seekor monster cacing gemuk yang menggeliat-geliat gelisah di mata air. Monster cacing itu menyadari kedatangan predator pemangsanya dan mulai mencoba untuk bersembunyi.
Namun usahanya sudah terlambat. Dari ketinggian, Pisqu sudah melihat mangsa yang menggiurkan. Secara instingtif burung itu pun segera menyambar cacing gemuk tersebut sebagai makan malamnya. Monster cacing berusaha melepaskan diri dengan menggeliat-geliat keras. Akan tetapi cengkeraman Pisqu jauh lebih kuat. Dengan cepat Pisqu membawa pergi cacing raksasa tersebut kembali ke sarangnya.
Nick berdiri di puncak bukit menyaksikan segalanya berlangsung. Ia menatap kepergian sang burung yang membumbung tinggi hingga tak terlihat lagi. Di sisi lain, mata air tempat cacing raksasa itu berendam akhirnya tidak lagi tersumbat. Airnya membuncah hebat bagai banjir bandang, mengisi seluruh aliran sungai sampai ke hilir. Semua sisa racun dari monster cacing tersebut tersapu bersih berkat kuatnya debit air yang mengalir.
Nick menghela napas lega. Tubuhnya ambruk terduduk di atas tanah puncak bukit. Kini, setelah misinya tersebut selesai, barulah rasa sakit di seluruh tubuhnya terasa menusuk. Bahu kirinya robek dengan luka menganga yang cukup dalam. Darah mengalir deras hingga membasahi seluruh armornya yang sudah pecah. Kaki kananya patah dan bengkok ke arah yang tidak wajar. Sementara seluruh permukaan kulitnya sudah lecet-lecet akibat tersayat ranting pohon saat dia jatuh ke dasar jurang.
Meski begitu, Nick cukup puas. Luka-luka kecil itu hanyalah pengorbanan yang tidak seberapa dibandingkan keselamatan para penduduk desa. Manusia-manusia pertama yang baru dia temui setelah bertahun-tahun ia tinggal bersama naga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Dikha Kadi
harusnya sih "sarang" bukan sangkar
2023-03-28
0