Pertemuan Kembali

“Kau … bahkan sudah sangat tua ketika aku lahir. Dengan usia seperti itu, bisa-bisanya kau jatuh dalam tipuan murahan orang-orang dari pasar gelap itu. Secara teknis kau sudah nenek-nenek!” seru Neil tidak terima.

“Elf punya standar usia mereka sendiri, Neil. Aku sering membaca literature tentang bangsa mereka ketika tinggal bersama ibu di gua naga. Seratus dua puluh tiga bagi seorang elf itu kurang lebih sama dengan manusia berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Apa aku benar, Aerin?” sambuh Nick kemudian.

Aerin mengangguk mantap. “Seharusnya kau belajar lebih rajin, Neil. Contohlah Nick. Dia tidak hanya pandai bertarung. Pengetahuannya juga luas dan dia sangat cerdas,” cela gadis itu pada Neil.

Neil menghela napas dengan malas. “Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal semacam itu. Hidupku hanya penuh dengan pertarungan dan pembunuhan,” gumamnya kemudian.

“Kita hampir sampai,” potong Nick kemudian.

Ketiga orang itu kini sudah berada di mulut gua, pintu masuk menuju kediaman Calada sang naga. Nick memimpin jalan untuk memasuki tempat tersebut. Ruang tamu hangat dengan perapian yang menyala terang menyambut mereka. Tidak ada siapa pun di sana, tetapi Nick bisa merasakan kehadiran Calada di dekat situ.

“Kau pulang, Nick?” Sekonyong-konyong suara Calada muncul dari sisi ruangan.

Naga wanita itu muncul dari pintu bulat tak bersekat yang mengarah ke ruang makan. Calada berdiri menyambut putranya dan dua teman perjalanan Nick yang lain dalam sosok manusia berwajah cantik dengan aura kuat yang membuat siapa pun merasa segan. Meski begitu, Nick sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan kekuatan Calada tersebut. Alih-alih, pemuda itu justru menghambur ke pelukan ibunya bak anak kecil yang baru kembali ke kampung halaman.

“Lama tidak melihatmu, Ibu. Kau tampak sehat,” ujar Nick yang kini sudah sejengkal lebih tinggi dari Calada.

Sang naga menepuk-nepuk punggung Nick dengan penuh kasih. “Para monster mengabarkan kepulanganmu. Mereka berlari kesana-kemari dengan panik sejak kau menginjakkan kaki di pulau ini,” ujar Calada sambil melepaskan pelukannya.

“Ah, jadi karena itu kau sudah menyiapkan makanan kesukaanku?” sahut Nick yang sudah mencium aroma sup kental kesukaannya.

“Aku juga menyiapkan masakan itu untuk teman-temanmu,” ujar Calada sembari mengerling ke arah Neil dan Aerin yang masih berdiri canggung di ujung ruangan.

“Ah, maaf, aku lupa memperkenalkan kalian. Ibu, ini Neil Graham. Dia mantan ksatria dari kerajaan Tiberias. Manusia sepertiku. Lalu ini Aerin, dari suku elf,” ucap Nick memperkenalkan dua temannya.

“Terima kasih sudah berkunjung jauh-jauh ke tempat ini. Dan terima kasih karena sudah menjadi teman, Nick,” sambut Calada ramah.

“Kami sudah banyak dibantu oleh Nick. Karena itu kamilah yang harus berterima kasih,” jawab Neil sopan.

“Nick adalah pemuda yang luar biasa. Anda membesarkannya dengan baik.” Aerin turut memuji.

Setelah ramah tamah selama beberapa saat, mereka pun akhirnya duduk bersama di meja makan dan menikmati hidangan buatan Calada. Meski telah hidup ratusan tahun sebagai seorang naga, tetapi kemampuan memasak Calada memang tidak ada duanya. Terlebih setelah membesarkan Nick, sebagai seorang anak manusia, kemampuan memasak Calada pun menjadi semakin baik.

Seusai makan bersama, Neil dan Aerin dipersilakan untuk beristirahat di kamar yang sudah di sediakan. Sementara itu, Nick tinggal bersama ibunya untuk membantu membereskan ruang makan.

“Kau pulang dengan cepat, Nick. Apa dua manusia membuatmu bosan?” tanya Calada di tengah-tengah aktivitas mereka. Sejujurnya Calada bisa membereskan ruangan tersebut dengan sihir. Namun sejak bersama Nick, naga itu mengubah kebiasaannya demi mengajarkan pada putranya hidup sebagai manusia yang tidak memiliki kemampuan sihir.

“Entah apakah aku bisa berkata bahwa aku menikmatinya. Ada banyak hal di dunia manusia yang tidak kumengerti. Sebagian besar di antaranya hanya berisi penderitaan,” ungkap Nick mengenang perjalanan singkatnya yang dipenuhi gambaran kesengsaraan dan kekejaman manusia.

Calada tersenyum hangat. Ia pun menghampiri putranya yang tengah menata kain kota-kotak menutupi meja makan. Dengan lembut, Calada mengusap pipi Nick yang tampak bermuram durja.

“Itulah uniknya manusia. Mereka punya banyak sisi yang menarik. Dengan penderitaan, mereka mengenal kebahagiaan. Karena kesengsaraan, mereka pun bisa memiliki pengharapan. Dan adanya kekejaman, membuat mereka mencari kebaikan. Aku ingin kau mempelajari hal-hal itu, Nick. Hidup para manusia itu cukup singkat jika dibandingkan dengan bangsa lainnya. Tapi justru karena itulah kalian memiliki beragam pengalaman yang begitu dinamis,” ujar Calada mulai menuturkan kebijaksanaannya.

Nick tertunduk. “Aku mencoba melakukan yang terbaik untuk membantu mereka. Tapi rasanya itu tidak cukup. Ketidakadilan terjadi di mana-mana. Alih-alih monster, para manusia itu justru berperang dan menindas sesamanya. Aku tidak mengerti, Ibu. Kenapa mereka melakukan hal buruk pada kaumnya sendiri. Mereka bahkan menculik makhluk lain untuk disiksa. Aerin, elf itu – .”

“Ibu tahu kisahnya,” potong Calada. “Aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal di dunia manusia kalau kau memang tidak menginginkannya. Sekarang, setelah kau mengalami sendiri kehidupan di luar sana, kau boleh memilih, tetap tinggal di sini bersamaku, atau belajar hidup bersama para manusia.” Sang naga tersebut membiarkan Nick berpikir.

Pemuda itu terdiam sejenak. Ia tahu bahwa Calada pasti akan berkata demikian. Pada akhirnya, Nick-lah yang harus memutuskan bagaimana ia akan menjalani hidupnya. Tinggal bersama Calada di tempat ini memang cukup tenang dan menyenangkan. Namun, segalanya hanya akan menjadi membosankan lambat laun.

Nick mencoba merenungi nasehat Calada tentang kehidupan para manusia. Melihat bagaimana orang-orang di luar sana begitu menderita, membuat hati Nick tergerak. Ia tidak ingin melihat lebih banyak penderitaan lagi. Ia tahu bahwa dirinya punya kemampuan untuk membantu orang-orang di luar sana. Jika ia memilih untuk menyerah sekarang, mungkin orang-orang itu benar-benar akan kehilangan harapan sama sekali.

Haruskah ia membantu mereka? Namun itu artinya ia juga harus melawan para manusia yang lain. Dan di dalam sistem  terorganisir bernama kerajaan, Nick seorang diri mungkin tidak akan bisa melawannya, sebesar apa pun kekuatannya. Pertarungan melawan manusia, jelas berbeda dengan pertarungan melawan monster.

Pada akhirnya, Nick pun mencoba untuk menanyakan hal yang paling mengganjal di hatinya. “Neil berkata bahwa aku adalah keturunan raja sebelumnya. Dan ibuku, yang telah tiada, adalah ratu yang dibuang ke dataran jauh. Aku … punya tanggung jawab untuk memulihkan kerajaan manusia dan merebut kembali tahta yang dicuri. Itu yang dia katakan,” ungkap Nick melepaskan beban di hatinya.

Calada terdiam sejenak. Ia tak lantas menjawab dan hanya mengamati Nick dengan ekspresi yang sulit dimengerti.

“Ibu? Apa itu benar? Selama ini ibu tidak pernah menceritakan tentang asal usulku … .” Kalimat Nick terpotong karena Calada mendadak berbalik pergi meninggalkan Nick sendirian di tengah kebingungan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!