Dua puluh tahun berlalu. Nick sudah tumbuh menjadi pemuda yang kuat baik secara fisik maupun mental. Calada mengajarkan berbagai hal kepada putra angkatnya tersebut. Mulai dari pekerjaan remeh seperti membersihkan rumah hingga yang paling berbahaya seperti memburu monster.
Pagi itu Nick bangun seorang diri. Calada tidak terlihat di mana pun meski Nick sudah mencari ke setiap sudut rumah mereka. Gua tempat tinggal Calada sangat nyaman. Tempat itu dibangun di perut bukit besar dengan banyak ruangan bercabang yang dihubungkan oleh lorong-lorong berdinding batu.
Selama hidup bersama Calada, Nick sudah menjelajahi seluruh isi di dalamnya. Meski disebut gua, tetapi seluruh ruangannya sangat nyaman ditinggali. Ada kamar Nick yang berada di sisi terluar, memliki sepasang jendela bulat kecil yang melubangi dinding bukit. Lalu masuk ke dalam, ada bermacam ruangan lainnya seperti dapur dan perapian, ruangan tempat menyimpan bahan makanan. Ada juga ruang belajar dengan perpustakaan yang penuh buku dengan rak-rak setinggi hampir sepuluh meter.
Sebagian besar ruangan berupa gudang yang berisi berbagai macam senjata manusia, elf bahkan dwarf. Tak lupa terdapat sebuah ruangan yang paling besar tepat di tengah semua cabang: ruang harta karun. Kabarnya kaum naga menyukai segala hal yang berkilau seperti emas dan permata. Ruangan harta karun milik Calada menjadi buktinya.
Ruangan tersebut sangat besar dengan berbukit-bukit tumpukan harta. Mahkota, perhiasan. Permata segala macam Kristal dan benda berharga teronggok di dalam sana tanpa berkurang satu pun. Calada sesekali berubah menjadi wujud naganya lantas bergelung nyaman di atas tumpukan harta tersebut. Katanya benda-benda berkilau itu adalah tempat tidur ternyaman bagi naga. Sungguh selera yang mahal.
Bagian yang paling disukai Nick adalah ruangan menempa senjata. Sebuah tungku besar dibangun di ruangan tersebut, berikut seluruh peralatan untuk membuat senjata. Meja tempa atau yang sering disebut paron, palu tempa dan berbagai bahan-bahan material berkualitas tersedia di tempat itu.
Meskipun sebagai manusia Nick tidak memiliki kualitas sihir yang besar untuk membuat senjata berelemen, tapi Calada membiarkannya untuk membuat mainan-mainan kecilnya sendiri. Hingga suatu ketika, karena Nick memperlihatkan kemampuan berpedang yang di atas rata-raa, Calada mulai serius untuk membuatkan Nick pedang dengan energi sihir naga.
Calada memberikan sebuah permata sihirnya yang paling berharga dari ruang harta sebagai materi utama pembuatan pedang. Sesekali sang naga juga menyalurkan esensinya untuk memperkuat pedang yang ditempa sendiri oleh anak angkatnya. Setelah bekerja selama sembilan bulan lamanya, pedang besar itu pun jadi. Nick memberinya nama Turpin.
Pedang besar dari mithril, logam ringan yang sangat kuat berwarna perak, lebih keras dari baja atau besi manapun. Mithril disebut juga logam langit karena kekuatannya yang tidak tertandingi. Ditambah dengan esensi naga dan permata sihir, Turpin pun nantinya akan menjadi pedang terkuat di seluruh benua.
“Sebenarnya ibu pergi kemana? Dia tidak meninggalkan sarapan untukku,” gumam Nick setelah selesai membasuh diri di danau dekat gua mereka.
Pemuda itu mengenakan lagi pakaiannya yang dia tanggalkan di tepi danau. Tubuhnya yang bertelanjang dada memperlihatkan otot-otot liat dan kekar. Nick bukan lagi anak kecil penakut yang gemetaran setiap mendengar suara monster. Kini ia telah menjadi pemuda gagah yang sangat kuat. Rambutnya yang berwarna keperakan sudah tumbuh hingga sepanjang punggung. Tatapannya tajam, dengan bola mata abu-abu yang berkilat waspada.
Hutan hari itu cukup sunyi. Tidak ada suara burung yang biasanya berkicau riuh saat pagi menjelang. Nick menangkap kegajilan tersebut lantas meraih pedang besarnya yang tergeletak di atas batu besar.
Sebuah suara keresak memancing perhatiannya. Nick memutar tubuhnya dengan waspada sembari menghunus Turpin. Pedang itu berkilat keemasan karena ditimpa cahaya matahari pagi. Tak berselang lama, bunyi keresak daun kering yang tergilas itu terdengar semakin keras dan dekat. Semak-semak di hadapan Nick pun terbelah dan memunculkan seekor monster ular berkepala dua.
Kepala ular itu berdiri tegak setinggi lima meter dan mendesis ganas sambil berusaha untuk menyerang Nick. Pemuda tersebut menghindar dengan lincah sehingga salah satu kepala ular itu hanya berhasil mematuk tanah kosong. Serangan sang ular menghasilkan lubang di sebesar kawah.
“Kenapa monster ini rajin sekali sampai berburu saat hari masih pagi,” gerutu Nick setelah mendarat di atas batu besar.
Ia mengamati ular raksasa itu. Panjangnya mungkin sekitar lima puluh meter dengan tubuh selebar batang pohon. Nick berdecak kesal karena harus membuang energi di pagi hari padahal ia tengah kelaparan.
“Kau pikir cuma kau yang keparan, dasar ular busuk!” serunya sembari menyongsong sang monster dengan pedang terhunus.
Ular itu mendesis marah dan mencoba mematuk Nick sekali lagi. Namun pedang besar Nick memiliki kekuatan tak terbatas. Dalam satu kibasan, pemuda itu berhasil memenggal salah satu kepala sang monster ular. Darah berwarna hijau terciprat ke segala arah. Monster ular itu menggeliat kesakitan dan melata menjauhi Nick.
“Aku baru selesai mandi, Monster Sialan,” kecam Nick yang tubuhnya turut terkena cipratan cairan hijau.
Sang monster ular yang ketakutan kembali mendesis. Ia mencoba melata kabur, tetapi Nick yang sudah kepalang emosi mengejarnya dan kembali menghunuskan Turpin. Monster tersebut lantas menyemburkan bisa berupa cairan asam yang langsung membakar rumput dan pepohonan di sekitarnya. Nick berhasil menghindar di saat yang tepat.
“Aku akan membuatmu menjadi menu sarapan hari ini,” geram Nick sembari menggenggam erat gagang pedangnya.
Detik berikutnya pemuda tersebut melompat secepat kilat ke arah monster ular yang terluka. Gerakannya begitu cepat hingga tidak dapat diikuti oleh mata sang monster. Tanpa disadari, Nick sudah berada di atas kepala monster ular itu dengan pedang terangkat.
Sambil meraung keras, Nick menghujamkan Turpin tepat di tengah kepala monster tersebut, hingga membelahnya menjadi dua. Lagi-lagi darah hijau yang lengket menyembur keluar dan mengenai seluruh tubuh Nick. Monster itu terguling jatuh dan tewas hanya dalam dua serangan.
“Jadi hari ini kita akan makan daging ular? Sejujurnya ular dan naga adalah kerabat jauh. Tapi aku tidak keberatan kalau kau yang memasak sarapan.” Sebuah suara perempuan muncul dari balik punggung Nick.
Pemuda itu menarik napas panjang sambil menyeka wajahnya yang terciprat darah monster. “Kenapa kau mengirim monster jelek ini? Dia bahkan cuma punya dua kepala. Hydra seharusnya berkepala tiga. Sepertinya dia tidak sehat. Apa dagingnya enak dimakan?” tanyanya masih sedikit kesal.
“Akhir-akhir ini jarang ada monster yang mau berkeliaran di sekitar sini. Semua karena ulahmu yang berburu terlalu sering. Sejak memiliki Turpin kau jadi punya hobi yang aneh. Seharusnya kau menyisakan beberapa ekor untuk berkembang biak. Aku bahkan tidak bisa makan giant boar lagi karenamu,” keluh perempuan itu sembari melipat tangan dan berjalan mendekati bangkai ular raksasa.
Nick tampak menyesal. Akhir-akhir ini dia bosan karena tidak banyak hal yang bisa dia lakukan selain berburu. Semua buku di perpustakaan naga sudah habis dia baca. Ia juga tidak lagi berminat untuk menempa senjata sejak memiliki Turpin.
“Maafkan aku, Ibu. Kalau begitu, biar aku yang memasak sarapan.” Nick menyarungkan lagi pedangnya yang sudah dia cuci dengan air danau. Pemuda itu lantas mendekati bangkai ular raksasa lalu mengangkatnya dengan satu tangan. Makanan ini mungkin hanya bertahan sampai siang. Para naga punya nafsu makan yang besar, terutama setelah membawa seekor hydra dari padang gersang kemari.
“Itu ide yang bagus, Nick,” sahut perempuan yang ternyata adalah Calada, ibu angkat Nick. Sang naga yang tengah berwujud manusia itu tersenyum hangat menatap anak angkatnya. “Kurasa sebentar lagi kita akan berpisah,” ujarnya sembari berjalan di sebelah Nick.
Pemuda itu menoleh menatap ibunya dengan bingung. “Apa maksud Ibu? Ibu mau pergi ke mana?” tanyanya.
Calada tersenyum tipis. Anak yang dia besarkan dua puluh tahun ini memang sudah dewasa, tetapi karena masa kecilnya dipenuhi trauma, Nick menjadi begitu bergantung padanya. Nick kecil menyaksikan kematian kedua orang tuanya yang begitu tragis. Karena itu sekarang, setelah dewasa, Nick menjadi begitu protektif pada Calada. Padahal seekor naga jelas jauh lebih kuat dari makhluk mana pun.
“Bukan aku yang akan pergi. Tapi kau, Nick,” ucap Calada lembut.
Nick mengernyit bingung. “Aku?”
Calada mengangguk menanggapi. “Sudah saatnya kau kembali pada kaummu, Nick. Kau harus tetap ingat bahwa kau adalah seorang anak manusia.” Calada tidak ingin Nick berakhir seperti dirinya. Kesepian dan sendirian. “Kembalilah ke dunia manusia,” lanjutnya tegas.
Nick nyaris menjatuhkan tubuh ular yang dipanggulnya. Namun pemuda itu berhasil menguasai diri. Meski begitu, ia tidak menjawab lagi kata-kata Calada. Nick berjalan dalam diam sambil menyeret tubuh sang ular raksasa hingga meninggalkan jejak panjang di tanah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
Aspia Roza
Nick yang ada dibayangkanku setelah baca bab ini adalah Flynn Rider di Tangled😆
2023-03-30
0