“Nicodemus … putraku. Kau … sudah besar,” ucap Ratu Celestia menahan air mata yang menggenang di kedua matanya yang cantik.
Sosok wanita itu terasa begitu akrab. Keberadaannya seperti melengkapi potongan puzzle yang hilang dari hati Nick. Ia merasa tergenapi. Hatinya dipenuhi kerinduan dan rasa haru yang luar biasa besar. Tanpa sadar kedua mata Nick pun turut meneteskan air mata. Ia tak kuasa menahan diri. Seluruh eksistensi Nick luruh di hadapan sosok ibu kandungnya yang sudah lama ia lupakan.
Kini ingatan akan dirinya mulai terbuka, lantas mengalir deras membanjiri kepala Nick. Ia ingin berlari ke arah ibunya. Ibu yang telah mengandung, dan melindungi Nick dengan nyawanya sendiri. Sosok inilah yang akhirnya bisa melengkapi imajinasi Nick selama ini tentang sang ibu kandung.
“Ibu … aku … ,” desah Nick pilu.
Sungguh, ia rela menukar segala keberuntungannya untuk bisa melihat sang ibu di depan matanya seperti ini. Andaikan bisa, Nick tidak ingin keluar dari tempat ini. Biarlah ia melepas kerinduan akan sosok ibu yang sudah direnggut darinya dengan kejam itu.
“Kemarilah, Nick. Ibu merindukanmu. Ibu ingin memelukmu,” pinta Ratu Celestia dengan berlinang air mata.
Nick ragu. Ia melangkahkan satu kakinya mendekat. Bolehkah ia menjadi egois dan memilih ibunya dari pada orang-orang lain di luar sana?
Satu langkah lagi semakin dekat. Nick ingin berada dalam pelukan ibunya dan mengungkapkan rasa terima kasihnya yang begitu besar. Ibunya telah menyelamatkan nyawa Nick, menukarnya dengan nyawanya sendiri.
Nick juga ingin meminta maaf karena selama ini ia telah kehilangan memori masa kecilnya. Ia melupakan sosok sang ibu yang telah mengandungnya, bahkan mengorbankan nyawa untuknya. Rasa bersalah itu membuat dada Nick menjadi sesak oleh air mata. Ia mulai terisak, menangis seperti anak kecil.
Bolehkah … bolehkah aku menyambut pelukan ibuku? Pinta Nick dalam hati.
Tiga langkah lagi hingga ia bisa meraih tubuh ibunya. Nick nyaris tidak bisa menahan diri. Namun kemudian sosok Calada pun muncul dalam kelebatan ingatannya. Meski bukan ibu kandungnya, tetapi Calada telah merawatnya dengan baik. Sang naga menyayangi Nick seperti anaknya sendiri, memperlakukannya dengan lembut sekaligus mengajarinya untuk bisa menjadi kuat.
Calada bukan sekadar ibu, melainkan juga menjadi pengganti sosok ayah bagi Nick. Kelembutan kasih sayangnya yang keibuan, dipadukan dengan ketegasan yang penuh kedisiplinan untuk membentuknya dengan tangguh.
Nick bersyukur, karena dalam hidupnya ia telah memiliki dua ibu yang luar biasa. Ia berjanji dalam hatinya bahwa sampai mati pun ia tidak akan pernah melupakan hutang budi yang telah dia terima baik dari Celestia maupun Calada.
Akhirnya, berkat pemahaman tersebut, Nick pun kembali ke kesadarannya. Satu-satunya hal yang patut disyukuri sekarang adalah fakta bahwa ia bisa mengingat kembali sosok ibu kandungnya. Itu sudah cukup. Perjalanan Nick masih panjang setelah ini. Demi dua orang wanita hebat dalam hidupnya itu, Nick akan mengabdikan dirinya untuk orang-orang yang menderita. Ia harus bisa melewati ujian tersebut dan memberikan keadilan bagi Ratu Celestia. Orang-orang jahat itu harus menerima bayaran dari perbuatannya.
“Ibu, terima kasih karena telah menunjukkan sosok ini padaku. Terima kasih telah melindungiku dengan mengorbankan nyawa ibu sendiri. Maafkan aku karena aku pernah melupakan kenangan saat bersama ibu. Mulai sekarang, wajah ibu akan selalu kuingat. Pengorbanan ibu akan menjadi kekuatan bagiku. Terima kasih, Ibu. Aku menyayangimu,” ucap Nick pada sosok Ratu Celestia yang berdiri di hadapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments