Pemakaman Massal

Nick tertegun selama beberapa saat. Kematian pria itu membawa sebuah memori masa kecilnya dulu. Ibunya juga meninggal saat memeluknya. Kini seorang pria juga mati dalam pelukannya. Apakah manusia memang bisa mati semudah itu. Perasaan Nick berubah kacau. Antusiasme yang sebelumnya membuat pemuda itu bersemangat untuk melihat dunia manusia, kini perlahan surut. Dunia manusia ternyata jauh dari bayangannya.

Akhirnya, dengan muram, Nick pun membopong tubuh lemas itu ke tempat yang lebih lapang. Ia berniat membersihkan tubuh pria tua itu tetapi tidak menemukan air di mana pun. Hanya air dari bekalnya saja yang tersisa. Akhirnya Nick pun menggunakan air tersebut untuk setidaknya membasuh wajah pria itu dari darah dan kotoran. Nick juga mengganti pakaian pria itu dengan bajunya sendiri yang dia bawa sebagai ganti. Nick membawa dua potong baju ganti. Memberikan salah satunya tidak akan membuatnya kekurangan pakaian.

Setelah menyelesaikan semua ritual tersebut, akhirnya Nick menggali kubangan yang cukup dalam di tanah kering. Ia menguburkan pria tadi sesuai dengan tata cara yang diajarkan Calada kepadanya. Kata ibu naganya itu, prosesi penguburan tersebut adalah adat dari manusia, mengingat para naga biasanya dikuburkan dalam gua-gua mereka bersama harta karun yang sudah dikumpulkan.

Hari sudah petang ketika akhirnya Nick selesai memakamkan jasad pria tak dikenal itu. Ia kembali berkeliling desa. Kini beberapa warga desa tidak lagi bersembunyi ketakutan. Alih-alih mereka justru mengintip penasaran pada sosok pemuda yang telah menguburkan jasad salah satu penduduk. Meski begitu, belum ada yang berani mendekati Nick.

Sepanjang berjalan menyusuri desa, ternyata ada lebih banyak jasad-jasad lain yang dibiarkan begitu saja di sudut-sudut desa. Jasad itu sudah kaku, bahkan beberapa sudah membusuk, tanpa diberi balsam pengawet sedikit pun.

Nick begitu miris melihat kondisi itu. Jasad-jasad yang diabaikan itu justru berbahaya karena bisa membawa lebih banyak penyakit. Namun Nick juga tidak bisa menyalahkan para penduduk desa. Sebagian besar warganya pun sakit-sakitan dan tidak berdaya. Mereka kelaparan serta kehausan hingga untuk bisa bertahan hidup sendiri pun sudah sulit. Karena itulah mereka tidak bisa mengurusi orang-orang yang sudah mati.

Akhirnya, tanpa banyak bicara lagi, Nick pun mulai mengerahkan tenaganya untuk mulai mengurus mayat-mayat tersebut, yang tersebar diseluruh penjuru desa. Ada yang di sudut pasar, di pinggir jalan utama, bahkan di dalam sebuah rumah terbengkalai.

Dengan penuh kesabaran dan tanpa mengenal lelah atau pun rasa jijik, Nick menggotongi mayat itu satu persatu ke tempat tanah lapang yang sebelumnya dia gunakan untuk memakamkan pria pertama. Karena tidak ada air bersih di desa tersebut, Nick pun membawa gentong besar dan melesat kembali memasuki hutan monster.

Ada sebuah danau di dalam hutan monster, tak jauh dari desa itu. Danau tersebut sebenarnya adalah muara dari sungai yang melewati desa. Namun entah mengapa sungai di desa itu justru kering, sementara air danau tetap melimpah.

Nick memiliki kecepatan yang luar biasa, hasil dari latihannya selama puluhan tahun. Dengan kemampuan tersebut, ditambah kekuatannya yang besar, Nick berhasil membawa bergentong-gentong air ke dalam desa. Satu persatu dia bersihkan mayat-mayat tersebut, kecuali yang sudah membusuk. Nick lantas menggali banyak kubangan. Total ada empat puluh tiga liang kubur dia buat untuk seluruh mayat yang dia temukan.

Pria, wanita, tua, muda, bahkan anak-anak, semuanya mati dengan gejala yang sama. Kulit penuh bekas bisul bernanah. Mulut mengeluarkan darah dan tubuh kurus ceking nyaris tak berdaging. Semuanya ia kuburkan melalui prosesi ritual yang berurutan, tidak terlewat satu pun. Itu adalah bentuk penghormatannya bagi kehidupan.

Saat pagi menjelang, semua mayat berhasil dikebumikan. Empat puluh empat gundukan tanah berjajar rapi di pinggir desa. Kini muncul semakin banyak orang yang mengintip Nick. Pemuda itu sudah melepaskan seluruh armornya, hingga menampakkan tubuhnya yang liat berotot. Peluh yang membasahi wajah serta tubuhnya membuat Nick tampak lebih hidup dari sebelumnya. Padahal pagi itu udara begitu dingin, tetapi setelah bekerja semalaman, tubuh Nick terasa gerah dan kotor. Dia perlu mandi.

Tiba-tiba seorang laki-laki tua berjanggut putih mendekati Nick. Kakek tua itu berjalan terbungkuk-bungkuk dengan bertumpu pada tongkat kayu yang sudah reyot. Wajahnya tirus dan terlihat tidak sehat. Meski begitu, sang kakek tetap memaksakan langkahnya yang terseret-seret untuk mendekati Nick. Nick buru-buru menyongsong pria tua itu, agar dia tidak perlu berjalan terlalu jauh.

“Anak muda … ,” ucap kakek tua itu parau.

“Nama saya Nick, Kek. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Nick sembari memapah laki-laki tua itu dengan lembut.

“Bolehkah kau membagi airmu untuk kami? Bukan hanya orang-orang yang mati yang perlu air, Nak … ,” ucap kakek tua itu.

Hati Nick terenyuh mendengar permintaan sederhana sang kakek. Kenapa tidak tepikirkan olehnya sejak tadi bahwa para penduduk desa yang masih hidup ini juga sangat kehausan.

“Silakan minum sepuasnya, Kek. Semua orang boleh meminum air itu. Kalau habis, saya akan mengambilkannya lagi. Tapi sebaiknya jangan berebut. Semua orang akan mendapat air, jangan khwatir,” sahut Nick cepat.

Kakek tua itu mengangguk lemah lantas melambaikan tangannya ke arah para penduduk yang mengintip di belakangnya. Satu persatu orang-orang itu pun berjalan keluar sambil membawa wadah kayu masing-masing. Nick pun membagi-bagikan air kepada mereka.

Semua warga desa akhirnya bisa melepaskan dahaga mereka. Setiap kali air yang ada di gentong nyaris habis, Nick mengambilnya lagi ke tengah hutan monster. Pemuda itu sekaligus memetik berkeranjang-keranjang buah-buahan yang bisa dimakan. Seluruh penduduk pun bisa mengisi perut mereka.

Warga desa itu sudah tidak banyak, mengingat sebagian besar dari kerabat mereka sudah meninggal karena wabah. Karena itu tidak butuh waktu lama bagi Nick untuk segera membuat seluruh warga terpuaskan dahaga dan rasa laparnya.

Kakek tua yang mengajak bicara Nick tadi ternyata adalah tetua desa bernama Harold. Harold baru berusia 44 tahun, tetapi seluruh sari kehidupannya sudah terenggut sehigga ia kini tampak seperti sudah berusia tujuh puluhan. Harold muda memiliki kekuatan warisan dari leluhurnya yang adalah tetua desa, yaitu kemampuan penyembuh. Namun karena wabah kutukan, serta kekeringan dan kelaparan yang melanda sejak dua puluh tahun yang lalu, seluruh kekuatan Harold pun tersedot habis hingga membuatnya terlihat sangat tua. Meski begitu kemampuan itulah yang bisa membuatnya bertahan hidup sampai sekarang.

“Berkat kedatanganmu, desa ini mungkin bisa diselamatkan, Anak Muda. Aku sudah mencapai batasku, dan kalau kau tidak datang, mungkin desa kami akan segera lenyap,” ujar Harold setelah memulihkan tenaganya.

Seluruh warga desa kini tengah berkumpul di alun-alun. Hari sudah senja, tetapi semua orang tampak lebih ceria sekarang.

“Apakah ada yang bisa kubantu lagi, Harold?” tanya Nick menawarkan bantuannya. Rasanya sekedar membawakan gentong air atau beberapa keranjang buah-buahan tidak akan menyelesaikan permasalahan di desa tersebut.

“Sebenarnya masalah di desa ini akan selesai kalau air sungai Philias ini mengalir lagi. Setidaknya kami bisa mulai bercocok tanam dan melanjutkan hidup dengan makanan serta air yang bersih. Wabah penyakit mungkin tak terhindarkan, tapi jika memiliki tubuh yang sehat, aku mungkin bisa membuat ramuan obatnya,” ujar Harold muram.

“Kalau begitu, izinkan aku untuk membantu desa ini, Harold. Aku akan membuat sungai itu mengalir lagi,” janji Nick kemudian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!