“Apa yang terjadi?” tanya Nick kemudian.
“Seperti yang kau tahu, aku berakhir di pasar gelap. Aku sangat bodoh sampai bisa mempercayai manusia-manusia itu. Mereka menjebakku, berkata bahwa akan membantuku menyembunyikan identitas sebagai elf, agar aku bisa berkeliling di kota-kota manusia dengan aman. Tapi rupanya aku justru dikurung dengan segel sihir yang menahan kekuatanku,” geram Aerin tampak marah. Matanya berkilat-kilat karena dendam.
Nick sedikit babnyak bisa memahami kemarahan Aerin. Tak heran jika elf itu begitu menghindarinya setelah mengalami masa-masa suram seperti itu. Tentu saja tidak akan mudah bagi Aerin untuk mempercayainya. Sebaiknya Nick tidak memaksanya.
“Aku akan pergi berburu untuk mencari makanan,” ujar Neil kemudian. Sang prajurit bayaran itu pun melesat pergi dengan pedangnya, berniat mencari rusa atau babi hutan yang gemuk.
Nick ditinggalkan berdua saja dengan Aerin. Masih sambil merawat luka di kaki Aerin dengan lembut, Nick pun mencoba untuk melanjutkan percakapan.
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Nick kemudian.
Aerin beringsut di atas batu yang dia duduki. “Aku ingin kembali ke sukuku. Tapi aku takut mereka tidak akan menerimaku lagi,” jawab gadis elf itu muram.
Nick mendongak, menatap wajah Aerin yang muram. Rasa simpati tumbuh di hatinya. “Kau tidak punya tempat untuk kembali?”
Aerin mengangguk lemah. “Semacam itu,” ungkapnya penuh kepedihan.
“Aku tidak akan memaksa, tapi kalau kau merasa nyaman, kau bisa ikut dengan kami,” tutur Nick kemudian.
Aerin menatap Nick lekat-lekat, mencoba menyelidiki motivasi pemuda di hadapannya. Akan tetapi gadis elf itu tidak menemukan apa-apa. Nick berbicara tanpa paksaan, tidak juga berusaha untuk membujuknya. Hanya penerimaan, yang tidak menghakimi.
Belum sempat Aerin menjawab, Nick sudah bangkit berdiri. Ia sudah selesai membebat luka di kaki sang gadis elf. Keduanya pun tidak lagi saling bicara karena setelah selesai mengobati Aerin, pemuda itu pun sudah disibukkan dengan kegiatan membasuh diri di sungai.
Dengan lugas, Nick sudah langsung melepas baju atasnya, menampilkan otot tubuh bagian atasnya yang proporsional dan penuh otot liat. Aerin buru-buru membuang muka saat melihat Nick membuka bajunya begitu saja. Pemuda itu langsung menceburkan diri ke sungai, sementara Aerin berusaha memalingkan pandangan dengan wajah memerah.
Lima belas menit kemudian, Neil datang sambil memanggul seekor rusa yang sudah mati dengan belati menancap di lehernya. Rupanya sang prajurit bayaran itu sudah berhasil mendapatkan buruan gemuk untuk makan siang rombongan mereka.
Menyaksikan Nick yang mandi tanpa basa-basi di depan Aerin, membuat Neil buru-buru menegurnya. “Bagaimana bisa kau mandi depan seorang gadis!” seru pria itu sambil melemparkan daging rusa yang dibawanya.
Nick menoleh dengan santai. Ia lantas mulai berjalan ke tepian dengan tubuh dan rambut yang basah. “Aku tidak melepas semua pakaianku. Lagi pula apa yang bisa dilihat dari tubuh seorang pria?” tukas Nick mengambil sehelai kain yang biasa dia gunakan untuk mengeringkan tubuh.
“Bukan itu masalahnya. Kau membuat Aerin merasa tidak nyaman. Bersikaplah dengan benar,” tegur Neil sembari berkacak pinggang.
Aerin sementara itu hanya tertunduk menahan rasa canggung yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Akhirnya, setelah keributan kecil itu, rombongan tersebut pun mulai menguliti dan membakar daging rusa yang dibawa oleh Neil.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Nick? Kau sudah melihat bagaimana buruknya benua ini dalam kekuasaan raja lalim itu. apa kau benar-benar akan membiarkannya?” tanya Neil membuka percakapan.
Keretak kayu terbakar dari api unggun yang digunakan untuk membakar daging menyelimuti jeda sebelum Nick menjawab. Ia memang sudah melihat cukup banyak penderitaan di dunia manusia. Meski ia tahu bahwa yang sudah dia lihat sejauh ini belumlah semuanya. Mungkin masih banyak lagi kegelapan yang melingkupi kehidupan manusia di seluruh benua itu.
Akan tetapi, Nick masih belum bisa sembarangan bertindak. Fakta bahwa ia adalah keturunan penguasa Tiberias masih belum sepenuhnya membuatnya percaya. Selama ini Nick tumbuh sebagai putra sang naga, Calada. Ia tidak memiliki kenangan tentang masa kecilnya sebelum itu. Karenanya, peran sebagai pewaris tahta yang tiba-tiba disandangkan padanya, masih belum sepenuhnya membuat Nick yakin. Atas alasan itulah ia juga ragu jika tiba-tiba harus melakukan perebutan kekuasaan dengan orang yang tidak ia ketahui dengan baik.
“Aku akan kembali ke dataran dataran jauh,” ungkap Nick kemudian.
Sontak Neil pun terkejut. Pria itu sampai nyaris menjatuhkan kayu penyodok yang digunakan untuk membolak balik daging rusa panggang.
“Dataran jauh? Kau akan kembali ke sarang naga? Anda … akan meninggalkan Tiberias begitu saja? Melepaskan semua tanggung jawab Anda sebagai pewaris?” ratap Neil yang tanpa sadar mulai berbicara begitu sopan kepada Nick.
Nick menghela napas pelan. “Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin memastikan sesuatu dulu dengan ibuku. Beliau pasti bisa memberiku jawaban atas banyak hal yang belum kuketahui. Setelah segalanya sudah cukup jelas, aku akan memutuskan langkah selanjutnya,” terang pemuda itu panjang.
Neil mendesah lega. “Yah, kurasa itu hal yang bagus. Para naga juga terkenal akan kebijaksanaan mereka. Tentunya ibumu akan memberi nasehat yang berguna bagi kita,”ungkapnya sambil mengendurkan otot ketegangan.
“Pewaris tahta? Naga? Siapa sebenarnya kalian?” celetuk Aerin yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
Sesaat Nick dan Neil saling bertatapan. Sejak awal mereka memang tidak berniat menyembunyikan identitas mereka dari Aerin. Toh gaids elf itu memang tidak memiliki siapa pun untuk berkonspirasi melawan mereka berdua. Karena itulah Neil akhirnya menceritakan kondisi mereka pada Aerin, tentu saja setelah mendapat persetujuan dari Nick.
“Bagaimana aku bisa mempercayi ucapan kalian?” tanya Aerin penuh selidik.
“Dari awal kami tidak berniat membicarakan ini denganmu. Terserah kau mau percaya atau tidak,” tukas Nick ringan.
“Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin naga masih hidup. Seluruh ras mereka sudah pergi sejak lama,” gumam Aerin lebih pada dirinya sendiri.
Neil, di samping itu, hanya menarik napas panjang sambil memikirkan cara agar tidak terjadi masalah di masa depan gara-gara sang gadis elf yang baru mereka kenal tersebut.
“Aku tahu, hal ini pasti mengejutkan. Siapa pun yang mendengar kisah tersebut pasti akan berpikir kalau itu hanyalah bualan. Kami tidak memaksamu untuk percaya, atau bahkan pergi bersama kami. Kau sudah bebas sekarang. Karena itu kau bisa pergi kemana pun kau ingin. Kau tidak perlu mengikuti kami lagi,” ujar Neil mencoba memilih kata dengan hati-hati.
Nick melirik sekilas ke arah sang prajurit bajaran bebadan tegap. Tampaknya Neil memang tidak terlalu menyukai pendatang baru di kelompok mereka. Meski begitu, bagaimana bisa dia mengabaikan seorang gadis yang sedang terluka seperti itu? Namun, pada akhirnya Nick pun memutuskan untuk tidak berkomentar. Sekarang semuanya terserah pada Aerin. Ia memang bersimpati pada gadis elf itu. Akan tetapi, bukan berarti Nick boleh memaksanya melakukan hal yang tidak dia inginkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments