Aerin

Pada akhirnya, Nick pun mengalah. Bersama Neil, mereka berdua kabur dari kota itu menuju ke selatan. Nick kembali menyusuri hutan untuk menuju ke sebuah kota lain yang dikuasai oleh pihak kuil Dewa.

Nick dengan pasrah mengikuti Neil yang entah kenapa terus bersikeras berada di sisinya sepanjang waktu. Meski Nick tetap merasa belum yakin bahwa dirinya adalah putra mahkota yang dimaksud oleh Neil, tetapi pada akhirnya pemuda itu membiarkan saja sang pembunuh bayaran menganggapnya seperti itu.

Mereka terus berjalan kabur hingga sampai di sebuah hutan belantara yang berada di area pegunungan. Neil mengajak mereka beristirahat lebih dulu di sebuah padang landai yang dekat dengan sungai kering. Malam sudah larut dan kedua pria itu pun harus mengisi perut mereka. Seekor babi hutan gemuk berhasil ditangkap oleh Neil. Ia memanggangnya di atas api sembari menghangatkan tubuh.

“Apa perjalanannya masih panjang?” tanya Nick kemudian.

“Cukup jauh. Mungkin sekitar tujuh hari lagi baru kita sampai ke perbatasan kota itu,” jawab Neil sembari mengiris sedikit daging babi yang sudah matang. “Ngomong-ngomong kau akan membiarkan dia terus mengikuti kita?” lanjut Neil tiba-tiba.

Nick langsung memahami arah pembicaraan Neil. Sejak keluar dari kota Linden tadi mereka berdua langsung sadar bahwa ada sosok yang tengah mengikuti. Akan tetapi karena Nick atau pun Neil juga tahu bahwa sosok tersebut bukan berasal dari pihak ksatria Duke, mereka pun membiarkannya saja. Toh sang penguntit itu juga tidak terasa mengancam.

“Turunlah. Kau perlu makan setelah seharian berjalan sejauh ini,” ucap Nick tanpa menoleh.

Sesaat, tidak ada gerakan atau pun suara yang menyahut. Namun tepat setengah menit kemudian, sebuah sosok berjubah gelap turun dari atas pohon tak jauh dari tempat Nick dan Neil beristirahat.

Sosok itu mengenakan jubah lusuh dan berjalan dengan bertelanjang kaki. Meski begitu, di balik jubah lusuh tersebut, tersembunyi kulit yang bersinar dan rambut perak berkilau dengan telinga runcing. Itu adalah elf yang tadi kabur dari rumah lelang!

“Duduk dan makanlah,” kata Nick mengulangi perintahnya.

Perempuan elf itu berjalan ragu ke arah dua pria yang telah menyelamatkannya itu. Pada akhirnya ia pun ikut duduk bersama mereka dan Neil segera mengulurkan sepotong daging babi yang sudah matang. Elf itu pun segera memakannya pelan-pelan.

“Kenapa kau mengikuti kami? Apa kau tidak punya tempat tujuan lain?” tanya Neil dengan mulut penuh.

Gadis elf itu tidak menjawab dan hanya terus makan dengan wajah tertutup tudung jubah. Neil hanya menghela napas pelan lantas membiarkan elf itu makan dengan tenang. Ketiganya pun tenggelam dalam keheningan yang canggung.

“Kenapa menyelamatkanku?” Akhirnya gadis elf itu membuka mulutnya. Neil langsung menatap Nick karena pertanyaan itu memang ditujukan pada pemuda itu.

“Aku akan melakukan hal yang sama kalaupun bukan kau yang terangkap,” jawab Nick acuh.

Gadis elf itu sepertinya tidak puas. Ia melirik Nick dengan penuh kecurigaan. “Lantas sejak awal kenapa kalian berada di rumah lelang?” lanjutnya

Nick mendengkus pendek. “Kalau kau tidak suka silakan pergi. Untuk apa mengikuti kami hanya untuk bersikap menyebalkan seperti itu,” ujarnya tajam.

Sang gadis elf pun terdiam. Akhirnya ia pun hanya melanjutkan makan malamnya, lantas tertidur tak lama setelah itu.

“Dia benar-benar tidak punya rasa waspada,” komentar Neil kemudian. “Sepertinya elf ini masih muda. Apa mungkin dia terpisah dari kelompoknya? Setahuku kaum elf benar-benar tertutup dari dunia luar,” lanjutnya sembari menatap sang gadis elf bertubuh kecil itu. ia bergelung nyaman di atas rumput sembari ditutupi dengan jubah lusuh.

Nick menghela napas panjang. Ini kali pertamanya bertemu langsung dengan kaum elf. Menurut Calada, kaum elf adalah bangsa yang jarang bersinggungan dengan ras lainnya. Mereka bermartabat tinggi dan cenderung menghindari konflik. Entah ada kisah apa di balik kehidupan gadis efl ini sampai-sampai ia bisa tertangkap dan dijual di pasar budak. Nick memutuskan untuk membiarkan saja gadis itu sejauh ia tidak mengganggu siapa pun.

Esok paginya, Nick dan Neil pun melanjutkan perjalanan. Gadis elf yang belum diketahui namanya itu mengikuti dalam diam. Ia berjalan di belakang kedua laki-laki itu masih tanpa mengenakan alas kaki apapun. Nick melirik kaki gadis itu yang sudah tergores di sana-sini.

Pemuda itu pun kemudian mengulurkan tangannya pada gadis elf itu. “Aku akan menggendongmu,” ujar Nick tanpa maksud tertentu.

Sontak elf itu pun menolak tegas. Dengan wajah memerah gadis itu berseru marah. “Dasar mesum! Apa kau mau mencari kesempatan karena aku sedang lemah? Jangan macam-macam! Meski kekuatanku belum pulih sepenuhnya tapi aku tetap seorang elf!” pekik gadis itu sembari menunjuk-nunjuk marah.

Nick hanya menghela napas dengan malas. Matanya melirik ke arah kaki gadis elf itu. “Kakimu terluka. Aku cuma bermaksud membantumu agar lukanya tidak semakin parah. Tapi terserah kau saja,” jawab pemuda itu lantas kembali berbalik tak peduli.

Wajah gadis itu semakin memerah. Dengan malu ia pun turut melirik kakinya yang sudah berdarah-darah. “A, aku baik-baik saja!” pekiknya sambil lanjut berjalan mengikuti Nick dan Neil.

Akan tetapi, semangat itu rupanya tidak bertahan lama. Setelah berjalan selama beberapa waktu, gadis itu pun mulai melambat karena menahan rasa sakit. Alhasil, tanpa bertanya lagi, Nick langsung berinisiatif untuk langsung membopong gadis itu begitu saja.

Gadis elf itu awalnya meronta dan menolak. Namun pada akhirnya, ia pun menurut saja berada dalam pelukan Nick.

“Siapa namamu?” tanya Nick sembari berjalan.

“Aerin,” jawab gadis itu pendek.

Nick menatap gadis elf itu sembari tersenyum simpul. “Nick,” jawabnya kemudian.

“Di depan sana ada sungai kecil. Kita bisa merawat lukanya di sana,” usul Neil kemudian.

Dan benar saja, tak lama setelah mereka berjalan, sebuah sungai kecil mengalir membelah hutan. Nick menurunkan Aerin di sebuah batu besar di sisi sungai. Sembari duduk di atas batu, Aerin membiarkan Nick membasuh kakinya dan mulai merawat luka-lukanya. Neil memberikan gulungan kain untuk membebat luka gadis itu.

Nick mengeluarkan salep ramuan obat luka yang memang selalu dia bawa untuk berjaga-jaga. Dengan lembut pemuda itu pun merawat luka Aerin sementara Neil berburu untuk makan siang. Gadis elf itu mengamati Nick yang membantunya dengan tulus. Hatinya pun tergerak untuk mulai membuka diri.

“Manusia-manusia itu menculikku saat aku berada di luar batas wilayah suku elf,” kata Aerin memulai kisahnya. Nick mendengarkan dengan seksama sembari masih membebat luka di kaki Aerin dengan hati-hati.

“Aku ingin menjelajah dunia ini, melihat kota-kota lain yang menakjubkan di luar suku elf. Tapi orang-orang itu, para manusia itu menipuku,” lanjutnya dengan geram.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!