Naga Penyelamat

Setidaknya ada empat ekor orc yang membawa Ratu Celestia dan putranya ke dataran jauh. Mereka menggunakan sihir hitam untuk membuka portal sihir dari istana kerajaan Tiberias ke sebuah dataran gersang yang sangat panas. Empat orc itu melemparkan sang ratu begitu saja hingga jatuh tersungkur memeluk putranya Nicodemus. Setelah itu keempatnya kembali memasuki portal ke istana dan menghilang begitu saja.

Ratu Celestia yang sedari tadi menahan air matanya demi menjaga martabat, akhirnya menangis. Ia memeluk Nicodemus yang masih kecil itu tanpa suara. Namun sang putra mahkota yang sedari tadi hanya diam menonton pun turut meledak tangisannya.

“Sstt … putraku. Tidak apa-apa. Jangan menangis,” bisik sang ratu sembari menimang Nicodemus kecil. Suara tangisan anak itu bisa memancing kedatangan monster buas.

Ratu Celestia lantas bangkit berdiri dan mencoba mencari tempat berlindung. Mereka pun tiba di sebuah gua dangkal yang ada di tepi hutan. Di sanalah Ratu Celestia mulai merawat putranya dengan penuh penderitaan.

Hari-hari berlalu. Sang ratu bertahan dengan memakan buah-buahan yang dia petik di hutan lalu minum air dari sungai yang mengalir tak jauh dari sana. Ancaman monster membuatnya selalu waspada. Setiap malam ia harus bersembunyi dengan gemetaran karena suara raungan monster yang mengerikan, atau jejak langkah hewan buas. Tak jarang sang ratu dan putranya nyaris terbunuh karena berpapasan dengan seekor monster buas. Akan tetapi secara ajaib mereka berhasil selamat.

Sayangnya, kondisi yang menyedihkan itu lambat laun menyedot semangat hidup Ratu Celestia. Ia semakin kurus dan tak terawat. Rasa putus asa mendera sang ratu dan meskipun ia tahu bahwa ia harus bertahan demi putranya, tetapi takdir tidak bisa dilawan.

Tepat dua bulan setelah dibuang di dataran jauh, Ratu Celestia pun jatuh sakit. Nicodemus kecil menjadi rewel karena kelaparan dan kesepian. Sang ratu tetap berusaha mencari makan dengan sisa-sisa energinya. Namun hari itu, beliau sungguh tidak bisa bangun dari tempatnya berbaring.

Sang ratu menangis sambil mengelus pipi putranya yang juga dipenuhi air mata. Nicodemus kecil sudah berubah kurus dan dekil. Meski begitu kasih sang ratu tidak pernah berkurang. Dengan pedih sang ratu mengusap air mata putranya.

“Putraku, Nicodemus. Maafkan ibumu karena tidak bisa melindungimu. Ibu sangat menyayangimu, Nak. Tapi … ibu mungkin tidak bisa menjagamu lagi … . Tolong … siapa pun … lindungi putraku,” isak sang ratu lemah. Air matanya terus berlinang menyadari bahwa waktunya sudah tidak lama lagi.

Sang ratu terbatuk dan darah segar keluar dari mulutnya. Nicodemus kecil yang belum mengerti kondisi ibunya hanya terus menangis dan menangis hingga memancing datangnya para monster. Di detik detik terakhir hidupnya, sang ratu hanya bisa memeluk putranya dan meninggal karena penyakit aneh yang dia derita.

Nicodemus menangis semalaman di dalam gua. Beragam monster mendekati gua tersebut dan mulai mencium bau darah. Mereka berbondong-bondong merangsek masuk untuk berusaha memangsa dua manusia yang ada di sana. Namun karena banyaknya monster yang mendekat, mereka justru saling berkelahi karena berebut masuk ke dalam gua.

Nicodemus gemetar ketakutan di dalam pelukan ibunya yang sudah tiada. Anak kecil itu menyaksika bagaimana para monster saling bunuh di luar sana. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Bau anyir darah dan geraman serta raungan para monster mewarnai malam itu.

Sekonyong-konyong, sebuah kepakan sayap kuat terdengar mendekat, disusul oleh semburan napas api dari langit. Para monster yang berkelahi di mulut gua sontak menghentikan pertarungan mereka dan menyadari adanya ancaman yang lebih berbahaya. Mereka yang masih selamat lari terbirit-birit ke dalam gua, sementara sisanya sudah hangus terbakar oleh semburan api.

Tak lama kemudian seekor naga raksasa setinggi dua belas meter mendarat di mulut gua. Kepalanya yang besar melongok ke dalam dan mendapati seorang anak laki-laki kecil yang gemetar ketakutan dalam pelukan jasad seorang wanita. Naga itu pun mengubah wujudnya menjadi sesosok manusia perempuan berambut gelap. Kulitnya seputih mutiara dengan bola mata emas yang berkilat-kilat.

Dengan hati-hati naga yang sudah berwujud seperti manusia itu pun masuk ke dalam gua. Rambut hitamnya yang sepanjang punggung tergerai lembut dan berkilau tertimpa sinar bulan. Nicodemus sudah berhenti menangis sejak tadi. Ia hanya meringkuk gemetaran di dalam pelukan tubuh ibunya yang sudah kaku.

“Kenapa ada anak manusia di sini?” gumam sang naga.

Nicodemus tidak menjawab dan hanya mengintip sedikit dari sela-sela pelukan ibunya. Naga itu berjongkok dan mengamati Nicodemus dengan seksama. Ia tengah mempertimbangkan untuk membawa anak itu atau membiarkannya saja. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bertemu dengan manusia. Mungkin seribu atau dua ribu tahun yang lalu. Kaumnya sudah lama meninggalkan tanah ini. Dan dia sendiri masih melanjutkan kultivasi untuk bisa bergabung dengan kaum naga yang lain di dimensi yang lebih tinggi.

Akan tetapi kultivasinya terusik oleh energi monster yang berkumpul di satu titik. Saat ia mencoba melihat apa yang terjadi, kini ia justru menemukan seorang anak manusia dan ibunya yang sudah meninggal.

“Apa kau mau kubawa ke desa manusia terdekat?” tanya naga itu sembari mengulurkan tangannya.

Nicodemus gemetar semakin hebat. Rasa takutnya sudah mencapai batas toleransi. Saat sang naga mencoba menyentuh tubuhnya, Nicodemus justru jatuh pingsan.

Bunyi keretak kayu terbakar membangunkan Nicodemus. Ia merasa tubuhnya begitu hangat dan nyaman. Nicodemus membuka matanya dan mengerjap beberapa kali. Dilihatnya ia berada di sebuah ruangan berdinding batu yang remang-remang. Ia tengah berbaring di sebuah tempat tidur beralaskan kasur empuk yang lembut, tetapi sedikit berbau jamur. Beruntung aroma kaldu yang nikmat membuat bau kasur itu tidak terlalu mengganggu. Nicodemus yang terangsang oleh aroma sedap itu pun bangun dari tidurnya.

“Itu kasur bulu angsa. Sudah lama aku tidak memakainya karena sudah jarang memakai wujud ini. Jadi mungkin sedikit berbau apak,” suara seorang perempuan terdengar di sisi ruangan, membuat Nicodemus terlonjak kaget.

Ia mendapati seorang perempuan cantik berambut hitam dengan mata emas tengah membawa semangkuk sup untuknya. Nicodemus kembali meringkuk ketakutan.

“Jangan takut. Apa kau tidak lapar? Aku mungkin sudah lama tidak memasak. Tapi makanan buatanku tetap layak untuk dimakan. Ini cobalah dulu,” ujar perempuan itu sembari duduk di sebelah Nicodemus.

Anak kecil itu tetap meringkuk ketakutan sambil bersembunyi di balik selimut. Sang perempuan naga itu dengan sabar mengusap kepala Nicodemus yang gemetaran. Aroma kaldu tercium semakin kuat dan membuat perut Nicodemus berbunyi karena lapar. Naga itu mendengkus pendek lalu bangkit dari tempat tidur.

“Baiklah. Aku akan meletakkan makanannya di meja. Kau bisa makan setelah aku pergi,” kata naga itu lantas bersiap untuk pergi.

Akan tetapi tangan kecil Nicodemus mencengkeram ujung gaun biru sang naga. Ia berbalik dan melihat Nicodemus sudah mengintip dari balik selimut.

“Apa kau mau kusuapi?” tanya naga itu ramah. Nicodemus mengangguk pelan.

Sang naga tersenyum lalu kembali duduk di sebelah Nicodemus. “Namaku Calada. Siapa namamu?” tanya Naga itu kemudian.

“Ni … Nick,” sahut Nicodemus dengan suara cedal yang menggemaskan.

Sejak saat itu, Calada membesarkan Nick seperti anaknya sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!